Apartemen Maura terdengar sangat berisik, dipenuhi suara gesekan, pukulan, dan tepukan. Itu bukan suara seseorang yang sedang berkelahi, melainkan Maura yang sedang membersihkan kamarnya. Sudah seminggu lebih ia tidak membersihkan kamarnya. Kamar yang awalnya berantakan, kini mulai terlihat lebih nyaman dari sebelumnya. Bantal dan guling sudah tersusun rapi di atas ranjang bewarna putih bersih. Handuk yang biasanya tergeletak di lantai kini sudah tergantung di balik pintu kamar mandi, begitu juga dengan piyama mandi. Semua sudah tersusun rapi pada tempatnya.
Setelah ia lihat kamar sudah tampak rapi dan bersih, Maura langsung memberi tanda checked pada ponselnya. Tentu saja untuk catatan kecilnya agar jadwal selanjutnya bisa ia pergunakan dengan baik. Maura memiliki sistem dalam kehidupannya, yakni; kapan ia akan membersihkan apartemen, kapan ia akan membeli kebutuhan dapur, kapan ia membeli perlengkapan kerja serta kebutuhan sehari-hari, dan kapan-kapan yang lainnya.
Kamar tidur | checked, 06:05 am
Kamar sudah selesai dibersihkan, kini ia beralih pada ruang tamu. Ruang tamu Maura cukup bersih karena sang empunya jarang sekali berada atau sekedar duduk di ruang tamu, jadi ia hanya menyapu lantainya saja, dan menyedot debu yang menempel pada sofa hitam legamnya. Setelah limabelas menit menyapu seisi ruang tamu, Maura kembali mengambil ponselnya untuk melihat apa saja yang sudah ia bersihkan.
Dapur | checked, 05:35 am.
Toilet | checked, 05:45 am.
Kamar tidur | checked, 06:05 am.
Ruang tamu | checked, 06:20 am.
Sekitar kurang lebih satu jam, Maura sudah selesai membersihkan seluruh ruangan apartemennya. Setelah selesai bersih-bersih kini perutnya terasa sangat lapar—mengingat semalaman Maura belum ada makan nasi sedikitpun, hanya beberapa bungkus makanan ringan dan minuman dingin saja.
Ia berjalan menuju dapur. Pagi hari ini ia akan memasak omelet—salah satu makanan kesukaannya sejak kecil. Maura paling suka makan omelet pakai kecap atau cuka. Ia mengambil tiga butir telur dan dua potong sosis dari dalam lemari es. Setelahnya ia mencampurkan adonan—antara telur dan sosis yang sudah ia potong dadu. Selanjutnya, Maura menghidupkan kompor lalu menuang semua adonan omelet ke dalam wajan.
Setelah selesai memasak omelet Maura mendengar suara ketukan yang cukup keras—dengan pukulan bertubi-tubi—dari arah pintu utama apartemen. Ia mengernyitkan dahinya, selama ini Maura tidak pernah kedatangan tamu untuk waktu yang sepagi ini.
Tok ... tok ... tok ...
Siapasih yang datang pagi-pagi? Ada-ada aja, orang lagi sibuk ini malah bertamu. Pikir Maura.
Maura mematikan kompornya dan berjalan menuju pintu utama. Tanpa ada rasa curiga sama sekali Maura membuka knop pintu, dan ... surprise ... yang mengunjunginya bukanlah seorang Satpam ataupun Resepsionis, melainkan seorang pria tampan dan gagah perkasa. Pria yang sudah berpakaian rapi, lengkap dengan kemeja biru muda dan jas biru dongker. Rambutnya ia beri sedikit gel—yang membuat rambutnya terlihat klimis—lalu ia sisir rapi ke belakang. Brewoknya kini sudah tercukur rapi tetapi tidak botak, masih menyisahkan beberapa senti. Superseksi.
Pria di hadapannya adalah pria yang selalu membuka kedua kancing kemeja safarinya. Pria yang Maura kenal dengan sangat jelas. Melihat wajah Maura yang terkejut, justru pria tersebut menyunggingkan senyumannya dengan deretan gigi yang tersusun rapi.
"Ervin?" tanya Maura dengan ekspresi bingung sekaligus kaget. Ia menautkan kedua alis matanya. Menatap tidak percaya sosok Ervin yang masih terus tersenyum.
"Pagi. Setangkai bunga mawar yang masih segar mewakili aktivitas lo yang padat," timpal Ervin dengan senyuman khas miliknya. Begitu damai dan tentram. Lalu Ervin menyerahkan setangkai bunga mawar itu kepada Maura.
Setelah bunga mawar itu sudah berada di genggamannya, lantas Maura langsung menghirupnya dalam-dalam hingga kelopak bunga mawar itu terhisap dengan tarikan napasnya, "ahh ... wangi banget, pasti ini lo semprot pakai parfum, yakan? Kan?" Maura menaik-turunkan alis matanya.
"Emang kenapa? Lo suka?" balas Ervin dengan wajah datar.
Maura menganggukan kepalanya seraya kembali menghirup bunga mawar tersebut. For your information; Maura sangat menyukai mawar merah, apalagi kalau baru saja di petik secara langsung.
"Lo terlalu menghayatinya dodol! Pasti lo nyium bunga ini sambil bayangin gue. Yakan?" cetus Ervin dengan nada suara yang angkuh.
"Apaansih, lo yang dodol! Dasar cowok enggak jelas!" balas Maura tak mau kalah, lalu ia membuka pintunya sedikit lebar. "Gue baru selesai masak omelet, lo udah sarapan?"
"Belum, sengaja datang kemari supaya makan gratis." Ervin tertawa geli, hingga kelopak matanya menyipit dan menampilkan lubang kecil pada kedua pipinya.
Kini Ervin sudah duduk di meja bar sambil memandangi Maura yang sedang menyiapkan masakannya. Pandangan Ervin memiliki arti ketertarikan. Ia kagum dengan Maura, selain cantik, ternyata wanita itu juga pandai memasak. Ervin tambah b*******h saat aroma omelet kini menyeruak ke pernapasannya.
Calon istri idaman. Dah cantik, pintar, kayaknya pintar ngurus keluarga nih. Tapi sayang, cengeng. Gimana kalau misalnya gue ketahuan ML sama cewek lain, bisa bunuh diri kali. Batin Ervin sambil senyam-senyum sendiri.
Maura yang baru saja meletakkan masakannya di atas meja bar kembali menautkan kedua alis matanya. Bingung dengan Ervin yang mendadak senyam-senyum sendiri, padahal belum ada setengah jam ia meninggalkan Ervin di meja bar.
"Senyam-senyum sendiri, makin enggak jelas aja lo!" pekik Maura sembari mewadahkan nasi dan omelet untuk Ervin. "Udah nih makan, cium aromanya aja udah enak apalagi kalo lo makannya sambil ngelihatin gue, beh... chef Farah Quinn, lewat!" ujar Maura menyombongkan diri. "Numpang lewat maksudnya ...."
"Lo kata bus! Dasar dodol!" timpal Ervin dengan smirk devil yang berhasil membuat Maura berhenti tertawa.
"Nggak usah banyak bacot lo! Buruan makan, atau lo gue usir sekarang!" Maura membuang wajahnya ke arah lain. "Gue jamin, ini omelet terenak yang pernah lo makan, serius!"
"Ohya? Gue rasain ya." Ervin menyuapkan omelet—yang sudah ia potong kecil—ke dalam mulutnya. Dia mengunyah beberapa kali dengan ekspresi seperti artis kuliner yang ada di televisi. "Mmh... omeletnya enak, tapi lebih enak lagi kalo disuapin sama yang masak." Ervin menatap Maura genit.
Seketika ada semburat merah yang terlihat jelas pada pipi Maura layaknya kepiting rebus. Dengan malu-malu, ia membalas godaan Ervin. "Apaansih, gue nanti baper tau." Semakin terlihat pancaran wajah Maura yang sedang salah tingkah. "Ohiya, apartemen gue, 'kan, di lantai duapuluh tiga, terus lo tadi kemari naik tangga atau naik lift? Bukannya lo trauma sama lift, ya?" Maura sengaja mengalihkan pembicaraan karena takut semburat merah di wajahnya semakin tampak dengan jelas.
Ervin yang sedang mengunyah nasi langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Maura. Lehernya terasa perih. "Ohoouk ... hook." Saking panik, Maura langsung menyodorkan segelas air untuk Ervin, lalu ia meneguk air tersebut dengan satu napas. "Aahh ... hampir aja." Kini Ervin masih menetralisirkan pernapasannya setelah bertarung dengan tumpukan nasi yang menyumbat tenggorokannya. "Gue tadi naik tangga," jawab Ervin santai lalu melanjutkan sarapannya.
Kini gantian, malah Maura yang tersedak, lantas ia terkejut dengan jawaban Ervin. Naik tangga sampai lantai duapuluh tiga capeknya bukan main, tapi Ervin kok kelihatan biasa-biasa aja. Pikir Maura. "Gue enngak percaya lo naik tangga. Pasti lo nyewa orang supaya nemenin lo naik lift, benarkan?" tanya Maura intimidasi hingga akhirnya Ervin hanya manggut-manggut sambil terkekeh.
"Siapa yang lo sewa? Cewek?" nada suara Maura terdengar seperti seseorang yang sedang terbakar api cemburu. Meskipun mereka tidak terkait hubungan apapun—selain rekan kerja—tetapi siapa sangka kalau Maura telah menyukai Ervin sejak pertama kali mereka bertemu. Hanya menyukai, itupun Maura masih ragu dengan perasaannya.
"Resepsionis, lagian cantik banget, bikin gemas kayak pingin digigit," celoteh Ervin semakin tidak jelas.
*
Kini mereka sedang berada di perjalanan menuju Hotel Piramidaya yang berlokasi tidak terlalu jauh dari kawasan apartemen Maura. Hari ini Maura tidak membawa mobil karena tadi pagi Ervin datang dengan maksud ingin menjemput Maura untuk pergi bersama dengannya. Selama perjalanan, Ervin tidak berhenti memandang Maura yang kini sedang melamun—melihat pemandangan dari luar kaca mobil—namun entah apa yang ada dipikiran wanita itu, yang pasti Maura terlihat sangat cantik hari ini.
Rambut dicepol asal, dengan make up senatural mungkin. Hari ini, Maura mengenakan kemeja putih polos dengan bahan rampel d**a. Hanya sedikit sentuhan dari lipstick merah muda yang Maura pakai namun berhasil menggoyahkan gejolak seks pada diri Ervin untuk mencium bibir mungil itu. Sangat menggoda.
Tak terasa, mobil mereka sudah memasuki kawasan Hotel Piramidaya, Ervin memberhentikan mobilnya tepat di depan lobi hotel. Ngomongin soal mobil, hari ini Ervin sengaja tidak membawa Supir karena ia ingin menghabiskan waktunya seharian bersama Maura. Mungkin karena Ervin merasa bersalah atas kejadian beberapa hari yang lalu.
Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Ervin membukakan pintu penumpang dan menuntun Maura keluar dari dalam mobil, lalu Ervin memberikan kunci mobilnya kepada Petugas Valey.
"Kang Agus, tangkap!" pekik Ervin seraya mencampakan kunci mobilnya dengan Kang Agus. Hari ini wajah Ervin terlihat sangat bahagia, tidak seperti biasanya yang selalu jutek kepada siapapun.
Ervin sepertinya baru saja kesambet Romantic Ghost. Saat memasuki lobi hotel tiba-tiba tangan Ervin menyambar telapak tangan Maura. Ia menggenggam erat tangan Maura, bahkan terkesan seperti tangan tersebut hanya miliknya seorang. Semua orang yang sedang berada di tempat yang sama dengan mereka lantas terkejut sekaligus bingung dengan sikap Ervin hari ini, begitu juga dengan Maura, ia merasakan kalau Ervin memiliki kepribadian ganda. Sebentar romantis, dan dalam sedetik bisa berubah menjadi sangat menyeramkan.
"Lo kenapa sih? Lepas enggak, malu dilihatin karyawan lo," dumel Maura pelan—hingga hanya ia dan Ervin yang dapat mendengar—padahal dalam hatinya ia senang banget karena bisa gandengan dengan Ervin, namun gengsi selalu hadir di saat yang tidak tepat.
Ingat! gengsi wanita itu lebih tinggi daripada menara Eiffel.
Semakin Maura berontak untuk melepaskan tangannya dari genggaman Ervin, justru semakin erat Ervin menggenggam tangannya. "Kan, udah gue bilang, kalo gue enggak mau lihat cewek baik kayak lo jatuh pada orang yang salah. Tapi sekarang lo jatuh pada orang yang tepat."
Senyuman terukir begitu indah pada bibir mungil Maura. Saat ini ia merasa hatinya seperti dipenuhi oleh beribu bunga mawar dan kupu-kupu. Maura yang awalnya malu-malu dengan kelakuan Ervin, kini dengan mantap ia membalas genggaman tangan Ervin begitu erat.
Karena ruangan kerja Ervin dan Maura berada di lantai yang berbeda—Ervin di lantai 20 sedangkan Maura berada di lantai 17—jadi Maura memutuskan untuk mengantar Ervin terlebih dahulu.
Tingg ...
Ketika pintu lift sudah terbuka, tetapi Ervin masih tidak percaya dengan Maura yang berjanji akan mengantarnya ke lantai 20.
"Tenang aja, ada gue kok. Kira-kira lo takut peluk gue aja," ucap Maura tanpa pikir panjang. Dari perkataannya barusan ia terkesan seperti sedang mempromosikan diri.
Ervin tersenyum dan sekarang malah dia yang terlihat lebih bersemangat, tetapi... saat lift sudah mulai bekerja nyali Ervin kembali menciut. Wibawa seorang Ervin Kiel berubah 180 derajat saat berada di dalam lift.
*
Hotel Piramidaya siang ini kedatangan tamu, seseorang yang ingin bertemu dengan Maura. Bukan Alice, tetapi seorang pria. Bukan Papanya juga melainkan Asraf. Wajah Asraf belum sembuh betul dagi bogeman Ervin, masih sedikit lebam dan membiru, terutama di pelipis matanya. Namun apa yang dilakukan pria ini di Hotel Piramidaya? Sepertinya akan ada perang dunia ketiga.
Siang ini, Asraf memakai baju sopan, kemeja merah marun dan celana formal bewarna hitam. Sangat tampan. Ia berjalan memasuki hotel—menuju meja Resepsionis untuk bertanya keberadaan ruangan Maura.
"Permisi, ruangan Maura Kenesia ada di lantai berapa, ya?"
"Maaf anda siapa dan dari pihak mana?" tanya Resepsionis—Olive—kembali tanpa mengindahkan pertanyaan dari Asraf.
"Saya Asraf, temannya Maura."
"Tapi maaf, saya tidak bisa kasih tahu anda. Mba Maura bilang saat ini ia sedang sibuk."
"Sebentar saja. Atau tidak coba kamu telepon dia, terus bilang kalau saya ingin bertemu dengannya di lobi."
"Maaf, Mba Maura juga sedang tidak ingin diganggu."
Asraf masih belum terima dengan jawaban Olive, dia masih terus memaksa Olive agar memberitahu keberadaan ruangan Maura kepadanya. Tetapi, pada saat pintu lift terbuka, terlihatlah sosok Ervin dan Maura yang sedang bergandengan tangan. Maura tidak menyadari kehadiran Asraf tetapi Ervin menyadarinya.
Seketika Ervin melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Maura lalu ia berlari menghampiri Asraf yang masih terus memaksa Olive. Satu pukulan melayang tepat di hidung Asraf. Hidungnya nyaris patah, namun cairan berwarna merah dan kental itu tiba-tiba mengalir begitu deras dari hidung Asraf. Lobi hotel kini menjadi ricuh, para Pegawai, Kurir Bangunan, dan Satpam—semuanya hanya menyaksikan perkelahian tersebut.
Tidak sampai di situ saja, karena Ervin kembali melayangkan pukulannya pada rahang Asraf, hingga pria itu kembali terhuyung dan sikunya sedikit terbentur dengan lantai. Asraf menyeka darah dari hidungnya, lalu langsung bangkit dari lantai dan membalas bogeman Ervin. Dia menonjok tepat bibir Ervin—hingga benda kenyal itu pecah dan mengeluarkan sedikit darah yang kental.
Maura yang melihat perkelahian itu hanya bisa menangis, melihat dua orang pria yang berkelahi hanya karena meperebutkan dirinya. "STOP! Gue bilang stop!" pekik Maura menginterupsi sembari melap airmatanya. "Kalian kenapa sih? Tingkah kalian itu seperti anak-anak tau nggak? Gue benci lihat lo berdua!"
Ervin berjalan mendekati Maura lalu menghapus airmata wanita itu. "Lepasin! Gue benci sama lo Vin. Gue jijik lihat lo! Kenapa harus dengan kekerasan untuk menunjukan kekesalan lo? Kenapa? Lo sama aja Vin," jerit Maura sembari memukul d**a bidang Ervin.
"Gue enggak suka lihat dia dekatin lo," balas Ervin.
"TAPI GUE ENGGAK SUKA LIHAT SIKAP LO KEK GINI!" setelahnya Maura langsung pergi dari hadapan mereka berdua, dan menyetop sebuah taksi yang kebetulan mangkal tidak jauh dari Hotel Piramidaya.
***