Maura tersadar saat ponselnya berdering, menandakan ada seseorang yang mengirim pesan singkat melalui aplikasi LINE di ponselnya. Ia sangat malas melakukan aktivitas apapun setelah kejadian kemarin malam di kafe. Terlebih lagi hari ini dia harus bekerja dan harus bertemu dengan Ervin. Mendengar namanya saja membuat Maura pusing tujuh keliling atas sikapnya yang aneh. Suka berubah-ubah dalam jangka waktu yang singkat.
Kali ini ego Maura harus mengalah. Suara deringan ponselnya kini bunyi berkali-kali, hingga menyebabkan konsentrasinya terganggu. Rasa penasaran muncul dibenaknya, namun rasa kesal masih terasa dihatinya ketika kejadian kemarin malam menghantui pikirannya. Penuh bercikan darah yang keluar dari bibir Asraf, belum lagi suara kekacauan yang telah Ervin perbuat. Hari ini Maura setres, pusing, butuh ruang. Maura meraih ponselnya yang berada di dalam tas selempang kesayangannya.
Asraf? Dia tau ID LINE gue dari mana? Tanya Maura dalam hatinya.
Dahinya pun mulai berkerut saat membuka pesan dari Asraf, entah mengapa jantungnya mendadak berdegup dengan hebat. Ini bukan kali pertama ia merasakan momen seperti ini, tetapi saat ini rasanya berbeda. Seperti ada getaran yang mengharuskannya untuk tersenyum setelah membaca perkalimat yang tertera pada layar ponsel.
Asraf Regan:
Pagi menjelang siang, Ra.
Pagi Maura Kenesia.
Maura? Pagi Maura, lo lagi sibuk ya?
Mau meet up kagak?
Maura Kenesia:
Ini beneran Asraf? Dapat id gue darimana?
Asraf Regan:
Nomor lo yang lama masih gue simpen, terus waktu buka line tiba-tiba kontak hp gue tersinkron gitu ke line. Yaudah muncul deh id lo.
Maura menggigit bibir bawahnya saat mengetahui satu fakta kalau Asraf masih menyimpan nomor ponselnya hingga kini. Jika dipikir-pikir, dulu Maura memberikan nomor ponselnya kepada Asraf waktu kelas sebelas—ternyata pria itu sungguh-sungguh atas pernyataannya kalau ia tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Vani. Satu hal itu mampu membuat Maura bernapas lega, karena mungkin ia tidak akan dicap sebagai w************n karena telah merebut kekasih sahabat sendiri.
Maura Kenesia:
Iyadeh. Ada apa Raf?
Tumben lo ngechat gue Biasanya jaman SMA kagak pernah ngechat sebelum gue yang duluan chat.
Asraf Regan:
Gak ada, cuma kangen aja sama lo. Kagak boleh bgt gue ngechat.
Lagi-lagi Maura menggigit bibir bawahnya—menahan agar ia tidak berteriak saat ini. Satu kata itu—kangen—mampu membuat Maura b*******h untuk lebih fokus pada dinding chat dengan pria itu.
Maura Kenesia:
Garing candaan lo.
Betewe gue lagi bete nih. Boleh kok, tiap hari pun kgk apa
Asraf Regan:
Bete kenapa? Ohiya makan siang bareng gue yuk.
Mumpung masih lama di jakarta.
Maura Kenesia:
Boleh tuh. Di kafe semalem aja ya.
Asraf Regan:
Yaudah nanti gue jemput. Kantor lo dimana?
Maura Kenesia:
Jangan-jangan, gak usah dijemput. Nanti kalo ketauan Ervin berabe. Betewe gue minta maaf soal kemarin malam ya.
Asraf Regan:
Bukan salah lo kok. Emang cowok yang kemarin pacar lo ya?
Kenapa Asraf malah nanya kek gini? Dia tersinggung? Batin Maura.
Maura Kenesia:
Enggak kok.
Nanti gue ceritain sama lo, yaudah kalo gitu gue lanjut kerja ya.
Asraf Regan:
Iya! Semangat cantik!!
Terukir sebuah senyuman di bibir mungil Maura saat Asraf memberikan semangat dengan embel cantik di akhir kalimat. Dua kata yang mampu membuat Maura kembali bersemangat. Gimana tidak? Orang yang selalu membuat harinya berbunga pada zaman SMA kini memberikannya semangat—yang lebih dari sekadar bercanda. Meskipun Maura tidak terlalu yakin kalau Asraf serius atas pesannya itu, tetapi bagi Maura itu lebih dari sekadar pujian.
Maura Kenesia:
Jgn lupa jam 1 siang!
Setelah menyudahi percakapan dengan Asraf melalui LINE, kini Maura kembali melanjutkan pekerjaannya. Mencoba untuk fokus tetapi tidak bisa, Maura masih nge-fly dengan pesan dari Asraf. Pikirannya gagal fokus. Maura memutuskan untuk men-stalking media sosial milik Asraf. Dan setelahnya ia menyimpan beberapa foto Asraf untuk menjadi mood bosternya kalau sedang bosan. Tanpa izin dari sang pemilik.
*
Maura sudah menunggu kehadiran Asraf sepuluh menit yang lalu. Di meja ada dua minuman yang sama, yakni; jus belimbing, jus kesukaan Maura. Menunggu kehadiran Asraf membuat tenggorokannya kering, dan cuaca yang panas seperti ini sangat cocok untuk menyantap minuman dingin apalagi yang asam. Selain itu karena Maura masih mengingat betul kalau dirinya dan Asraf sama-sama menyukai jus belimbing asam.
Selagi menunggu Asraf yang belum juga datang, Maura melanjutkan kegilaannya, yakni; memandangi foto Asraf yang superseksi. Maura sedang memandangi foto Asraf yang baru saja selesai nge-gym. Tubuhnya yang berkeringat menambah kesan seksi yang mampu menodai mata para wanita, seperti Maura yang sudah berpikiran kotor sejak tadi. Pada foto tersebut, Asraf sedang bertelanjang d**a, sehingga menampilkan perutnya yang kotak-kotak bagaikan tumpukan roti sobek. Asraf dan Ervin memiliki kesamaan dalam postur badan, bahkan tubuh mereka juga sama-sama dipenuhi dengan bulu-bulu halus di sekujur d**a.
Lantas Maura terkejut atas kehadiran Asraf yang datang secara tiba-tiba. Asraf duduk di hadapannya, menatap Maura penuh curiga. Menduga ada sesuatu yang disembunyikan Maura di balik ponselnya. "Hayoo ... lihatin apa lo?" pekik Asraf yang mengagetkan Maura.
"Enggak, enggak ada. Apaan sih." Nada suara Maura terdengar gugup. Wajahnya panik. Ia menjadi salah tingkah sendiri, menggaruk tengkuk belakang yang sama sekali tidak gatal. Setelah itu Maura langsung memasukan ponselnya ke dalam tas—takut Asraf akan merampas ponselnya dan ketahuan semua yang sudah ia lakukan dengan ponsel tersebut. "Lo. Lo mau pesan makanan apa?"
"Gue masih curiga. Lo abis lihatin apa? Ha? Ha?" tanpa menggubris pertanyaan Maura, justru Asraf menggoda wanita itu seraya menaik-turunkan kedua alisnya. Setelah itu ia tertawa geli saat melihat wajah Maura berubah menjadi panik.
"Paansih. Udah ah bahas yang lain." Maura menekukkan bibirnya, cemberut.
Karena takut Asraf akan mengetahui wajahnya yang sudah memerah, lantas Maura langsung membuang wajahnya ke arah lain. Maura sama sekali tidak berbakat dalam berbohong, karena setiap kali ia berbohong maka aura wajahnya, lah, yang membongkar semua kebohongan yang sudah ia perbuat.
"Cie ngambek ...." Asraf mencolek dagu Maura. Kontan wajah Maura semakin memerah, tampak seperti sebuah tomat. Berdekatan dengan Asraf, sepertinya akan membuat Maura lebih cepat menutup usia—bagaimana tidak? Sentuhan Asraf seolah-olah seperti petir yang membuat detak jantungnya sering tidak stabil. "Gue curiga sama kecantikan lo. Kok bikin gue senyam-senyum sendiri sih?"
Karena tidak ingin Asraf mengetahui gejolak asmaranya, Maura cuma bisa tersenyum simpul lalu bersikap lebih santai. "Ah elo mah, gue kagak bakal kesemsem sama gombal recehan lo ...," balas Maura sambil tertawa geli kala melihat ekspresi wajah Asraf yang berubah.
"Gue beneran muji lho! Enggak ngegombal." Asraf menggeleng-gelengkan kepala. "Emangnya gue anak bocah labil apa."
Maura memasang wajah secantik mungkin, dengan dagu yang terangkat dan senyuman manis yang dibalut dengan lipstick red cherry. "Gue dari dulu sampe sekarang tetap cantik kali, asli tanpa operasi pakai plastik minimarket."
Asraf langsung tertawa setelah mendengar candaan Maura mengenai operasi. "Iyadeh yang cantik itu. Tapi lebih cantik kalo senyum, senyum dong cantik ...." Kontan Maura langsung tersenyum malu. Wajahnya semakin memerah.
"Udah ah, gue malu. Lo mah paling bisa bikin orang kegeeran, dasar gembel!"
"Gombal Maura lo mah suka silap, entar gue silap jadi tikus mau?"
"Itu sulap! Paansih enggak jelas banget deh, iihhh ." Maura terkekeh pelan, meskipun plesetan Asraf sudah basi tetapi bagi Maura plesetan itu tetap lucu kalo Asraf yang melakukannya.
Asraf, Asraf coba aja dulu lo peka, siapa yang sebenarnya sayang sama lo. Batin Maura.
Mendadak suasana menjadi senyap dan menegangkan. Asraf menatap Maura begitu intens, setiap sorot matanya mencoba menerobos sela-sela pupil mata Maura. Tatapannya seolah berkata; bahagia banget bisa ketemu lo lagi.
Asraf menggenggam tangan Maura, dirasakannya sensasi hangat menggetarkan jiwa. Asraf beralih pada wajah Maura, disapunya helaian rambut Maura yang sedikit berantakan dengan salah satu tangannya. "Gue kangen banget sama lo, gue bahagia banget bisa jumpa lo lagi, jangan pergi tinggalin gue lagi, ya ...."
"Gue juga senang. Bisa ketemu sama lo, bisa bercanda kayak gini, bisa sedekat kayak gini. Gue enggak pernah pergi, tapi lo yang selalu menghindar," ujar Maura. Matanya berlinang, namun detik berikutnya buliran bening itu kini terjatuh dari pelupuk matanya. Pipinya basah, meskipun begitu Maura mencoba untuk tetap tersenyum—menandakan kalau dirinya baik-baik saja.
Asraf segera menghapus airmata itu, menyingkirkannya agar Maura tetap terlihat cantik. Salah satu tangannya mengelus lembut pipi Maura. "Gue enggak pernah menghindar dari lo. Gue hanya mencoba untuk tidak menyakiti hati lo, maafin gue yang terlalu egois, gue menyesal telah memilih orang yang salah."
Kini Maura yang menggenggam tangan Asraf. "Gue yang terlalu naif, gue yang enggak jujur dari awal kalo gue ci—" ucapan Maura terhenti saat seorang pria datang secara tiba-tiba dari arah belakang lalu menonjok Asraf.
Buggh ...
Satu pukulan membuat Asraf terhempas ke lantai sekaligus terantuk meja. Bibirnya yang masih lebam kini bertambah satu di bagian pelipis matanya. Wajah Ervin memerah, napasnya tersengal, urat ototnya menegang, tatapannya bengis. Dia menarik tangan Maura dan langsung menyeret wanita itu menuju parkiran.
Maura mencoba untuk melawan pergerakan Ervin, tetapi apa adaya, tenaga Ervin lebih kuat daripada tenaganya. Dan untuk yang ketiga kalinya Ervin memberikan bercak merah pada pergelangan tangan Maura. Itu cukup menyakitkan untuk seseorang yang baru saja Maura kenal—bahkan sudah berani mengatur hidupnya.
Ervin membuka pintu mobil dan memaksa Maura untuk masuk ke dalam. Dia mendorong Maura dan langsung menutup pintu mobil penumpang, setelahnya ia segera memasuki kursi kemudi.
"Lo gila! Lo setres! Asraf enggak pernah buat masalah sama lo tapi lo udah dua kali buat masalah sama dia!" pekik Maura. Volume suaranya naik satu tingkat. Kali ini Maura benar-benar marah. "Gak punya hati banget sih lo, dia itu teman gue Vin. Emang gue gak boleh berteman dengan dia? Lo itu gak ada hak buat ngelarang gue Vin. Lo benar-benar kejam, gue benci sama lo!" Kini Maura meneteskan airmatanya. Nada suaranya kembali melemah.
Ervin tidak mempedulikan Maura yang sedari tadi memakinya. Ervin menginjak pedal gas—nyaris kandas. Mobil Range Rover yang ia kendarai kini berlaju dengan kecepatan 90km/jam di keadaan yang cukup sepi. Ervin juga tidak peduli dengan lengannya yang sudah nyeri akibat dipukul oleh Maura berkali-kali.
"Ervin taik! Turunin gue sekarang atau enggak gue akan loncat," ancam Maura dengan posisi yang sudah memegang knop pintu.
"Yaudah lompat aja, kemungkinan ada dua hal yang lo rasain setelah itu. Patah tulang atau mati di tempat."
Maura mengerang kesal, setelahnya ia memilih untuk bungkam, sebab tidak ada guna lagi berdebat dengan Ervin—karena ujungnya ia akan kalah dengan pria itu. Maura menelungkupkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Menyesal karena sudah memulai hubungan rekan kerja dengan Ervin, dan satu hal yang tidak habis Maura pikirkan, yakni; Ervin begitu nekat menonjok seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.
Tidak terasa perjalanan sudah berlalu selama setengah jam dan kini mobil Ervin sudah memasuki kawasan puncak. Suhu di dalam mobil semakin sejuk, pemandangan yang sudah lama tidak Maura lihat. Dia terlalu sibuk bekerja sehingga lupa untuk merefresh otaknya. Terakhir kali Maura mengunjungi puncak pada umur 10 tahun.
Rasa kesalnya kini mulai mereda setelah mengetahui satu hal yang indah di hadapannya. Sesuatu yang tidak dapat ia temukan di kota.
*
Kini mereka berdua tengah duduk disebuah kursi yang berada di pinggir danau. Kursi yang didesain khusus untuk dua orang saja. Mereka masih memandang danau hijau itu. Suasana masih hening, Ervin memberi waktu sejenak agar perasaan Maura sedikit lebih tenang.
Setelah merasa aman, Ervin menyenderkan kepalanya dibahu Maura—membuat sang empunya sedikit terkejut. Ervin juga menggenggam tangan Maura. Lantas Maura semakin bingung dibuatnya, ia merasa kalau Ervin mendadak berubah menjadi sangat manja. Sikap Ervin yang suka berubah-ubah membuatnya semakin curiga dengan pria tersebut—seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari masa lalunya.
"Gue jadi arogan kayak gini karena gue punya taruma masa lalu.”
Maura sedikit terperengah lalu kembali santai seperti semula.
"Trauma takut take off sama naik lift?" Maura tertawa saat Ervin menggelitik perutnya.
"Gue trauma dengan seorang wanita. Gue enggak pernah percaya sama wanita, tapi tiap gue dekat lo gue ngerasain ada yang berbeda."
"Terus wanita jalang yang sering lo tiduri, dan ... yah ... Sekertaris lo itu? Kurang puas hingga buat lo egois kayak gini dan buat gue sengsara dengan tingkah lo yang aneh!"
Ervin menghela napas panjang, "mereka itu bagaikan tumpukan jarum di atas jerami, enggak ada guna dan enggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan lo yang seperti berlian di tumpukan jerami." Ervin membetulkan posisi duduknya kembali tegak. "Gue cuma enggak mau lo termakan gombalan cowok b******k itu."
"Tau darimana lo kalo dia b******k? Lo kenal dia juga enggak," sanggah Maura yang tidak terima karena Ervin baru saja mengatakan b******k kepada cinta pertamanya itu.
"Waktu pertama gue ngelihat dia nyamperin lo. Tatapan cowok itu berbeda, nggak kayak tatapan pria pada umunya. Dia tuh kayak manfaati lo aja." Ervin menghela napasnya lalu melempar sebuah batu kecil ke dalam danau.
"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu? Emangnya lo enggak takut kalo persepsi lo itu salah dan justru persepsi lo itu bisa aja mengarah pada diri lo sendiri?"
"Enggak mungkin persepsi gue salah," balas Ervin sambil kembali melempar batu kecil ke dalam danau.
"Apa buktinya kalo persepsi lo itu enggak salah?"
Kali ini Ervin memfokuskan arah pandanganya tertuju kepada Maura. "Karena gue cowok," timpal Ervin. "Gue takut ngelihat cewek baik kayak lo akan jatuh pada orang yang salah. Gue terlalu takut ngelihat lo berada di dekatnya."
"Kenapa lo harus takut?" tanya Maura lagi. Tetapi kali ini sambil memandang Ervin intens.
"Karena sesungguhnya cowok b***t kayak gue enggak selamanya bengis. Gue masih punya hati, gue masih punya pikiran. Siapa yang suka lihat cewek baik kayak lo harus bernasib sama dengan teman kencannya yang lain."
Maura terdiam. Mulutnya kaku untuk membalas pernyataan Ervin. Seolah-olah ucapan Ervin barusan seperti tumpukan pasir yang menyumbat kerongkongan Maura. Tanpa disadari oleh keduanya, kini raut wajah Maura berbeda, ada semburat merah di sana.
Tuh kan ... sekarang lo manis banget, tapi tadi lo emosional. Kenapa sih Vin? Heran gue lihat perubahan sikap lo yang datang secara tiba-tiba, batin Maura berkata.
***