BAB 5

2082 Words
Malam ini kafe tempat Ervin dan Maura janjian sedang dipadati oleh penduduk Ibu Kota. Sebagian besar pengunjung kafe didominasi oleh anak remaja, lalu diikuti dengan beberapa pasang keluarga. Pantas saja kafe ini sangat ramai, selain fasilitasnya sangat lengkap nan mewah namun harga makanan maupun minuman juga sangat terjangkau. Beberapa pasang mata sedari tadi melirik ke arah Ervin. Mulai dari kaum hawa sampai kaum tanda tanya. Sebagian besar yang memperhatikan gerak-gerik Ervin adalah seorang wanita. Bagaimana tidak? Pria itu selalu terlihat seksi di mata setiap orang. Khusus untuk malam ini, Ervin hanya mengenakan kaos putih polos berleher vneck yang ia balut dengan jaket kulit bewarna hitam, tak luput celana jeans berwarna yang sama dengan jaketnya juga ikut meriahkan penampilan Ervin malam ini. Sudah lima puntung rokok telah habis Ervin hisap, namun sampai sekarang Maura tak kunjung datang juga. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan Maura sudah telat satu jam. For your information; Ervin adalah tipikal pria yang perfectionist. Ia tidak suka dan akan memaki orang tersebut yang telah melanggar perintahnya. Tamatlah riwayatmu, Maura! "Kemana anak itu? Udah jam segini tetapi belum datang juga!" gerutu Ervin kesal sembari mengecek ponselnya yang tak kunjung dapat pemberitahuan dari Maura. Saking sudah kesal, Ervin kembali menghubungi Maura namun hasilnya tetap sama, tidak ada tanggapan dari wanita itu. Kemana sih? Perasaan tadi siang masih mantau anak-anak tapi sekarang enggak kelihatan batang hidungnya! Ervin mematikan rokoknya dengan paksa hingga nikotin yang terbakar langsung padam. Setelah itu, ia kembali mengambil sebatang rokok dan menghidupkannya. Cara ia menghidupkan rokok dan menghisap benda kecil itu—mampu membuat para wanita terpesona melihatnya. * Di tempat yang lain, seorang wanita yang masih berpakaian lengkap tengah berbaring lungai di atas kasur. Separuh tubuhnya tertutupi dengan selimut dan terus mendengkur saat hawa dingin dari AC menyerangnya. Wanita itu, Maura, ia masih tertidur nyenyak sedangkan Ervin sudah menunggunya lebih dari satu jam. Awalnya ia hanya berniat untuk mengistirahatkan badan sejenak, agar malamnya ia tidak terlalu lelah. Namun saat asik membaca majalah, rasa kantuk langsung menyerangnya. Mau tak mau, Maura tidak bisa melawan rasa kantuknya dan memilih tidur. Wanita yang ceroboh. Bugh ... Sontak ia langsung terbangun dari tidurnya setelah terjatuh dari atas kasur. Akibat suhu AC yang sangat dingin, Maura terus mendengkur dan tidak sadar kalau dirinya sudah berada di tepi kasur. Ia mengucek matanya seraya menguap lebar. 25 panggilan tak terjawab dari Lajang Tua x_x 15 pesan masuk dari Lajang Tua x_x "Astaga gue telat! Mampus dah!" Maura langsung bangkit dan berlari menuju toilet. Ia tidak mau berurusan dengan Ervin jika ujungnya hanya ada perdebatan. Maura mencuci muka dan menyikat giginya tanpa mengganti pakaian. Setelahnya ia memakai sedikit bedak dan lipstick. Lalu ia berlari menuju parkiran dengan tergesa-gesa. Maura tidak ingin membuat Ervin semakin marah karena kelakuannya. Saat ini ia benar-benar berada di dalam posisi yang tersial! Di mana Maura sudah bisa menebak apa yang akan Ervin katakan tentang dirinya. Wanita ceroboh! Wanita plin-plan. Wanita tidak disiplin. Dan wanita-wanita lainnya. Sepanjang perjalanan Maura tidak berhenti mengecek ponselnya takut Ervin akan kembali mengancamnya. Pria itu begitu sadis, dan tidak segan berbicara kasar pada siapapun, tipikal pria yang bossy. Maura tidak ingin terlibat dalam perbuatan keki tersebut. Meskipun ia menyukai Ervin namun ia tidak pernah sudi untuk menyerahkan perawannya kepada Ervin tanpa ada status yang terkait. Drrrtt... drrtt... "Halo, Vin. Maaf gue telat!!" "Gak usah ngeles lo! Cepetan datang atau PE-RA-WAN lo bakal gue lenyapkan!" balas Ervin menakutkan. Orang-orang yang berada di sekeliling Ervin memberikan tatapan aneh sekaligus takut kepadanya. Sebagaimana dia terlihat seperti seorang penjahat kelamin, namun sebagian dari mereka memiliki pola pikir tersendiri karena mereka berpikir kalau Ervin adalah pria yang sukarela memberikan orang-orang kesempatan untuk merasakan juniornya secara gratis. "G-gue be-bentar lagi nyam—." Tuut ... tuutt ... Ervin mematikan sambungan teleponnya sepihak. "Cowok m***m! Kenapa harus ngancam gue kayak gitu?! Dia gila apa? Emang gue bonekanya yang bisa disuruh-suruh," pekik Maura sembari memukul kemudi mobilnya. * Maura sudah sampai di parkiran kafe, namun sebelum turun dari kursi kemudi, Maura membenarkan posisi rambutnya agar tidak berantakan. Setelahnya ia menghela napas pasrah karena sebentar lagi ia akan dicaci maki oleh Big Boss. Dan sebelum benar-benar turun dari mobil, Maura mencoba memasang ekspresi kasihan agar Ervin kembali luluh seperti kejadian sebelumnya. Ia turun dari mobil dan sedikit membenarkan posisi roknya yang naik ke atas. Setelah merasa cukup puas, Maura melanjutkan langkahnya ke dalam kafe. Baru memasuki langkah pertama, orang-orang sudah memperhatikannya dengan saksama. Terlebih lagi para sekumpulan anak remaja yang meneriakinya agar mau bergabung dengan mereka. Maura mengutuk penampilannya hari ini. Ia menyesal karena sudah salah memakai kostum. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, hingga pupil matanya menangkap sesosok pria berbadan tegap dengan rambut yang tersisir rapi ke belakang. Dalam jarak satu meter, Maura dapat menghirup aroma parfum Ervin. Aroma yang selalu bisa mengembalikan moodnya. Dengan langkah yang gugup sekaligus merangkup menjadi takut, Maura berjalan lebih dekat dengan sosok pria tersebut. Wajah Ervin terlihat sangat kesal, bibirnya tertekuk, dan sorot matanya tajam. Rahang Ervin mengeras saat mengetahui kehadiran Maura di hadapannya. Dirinya seolah seperti seekor singa yang sedang berhadapan dengan mangsanya. "So-sorry Vin. Gu-gue tadi ketiduran." Maura menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Ervin disaat seperti ini. Merasakan atmosfer di sekitarnya saja sudah membuat Maura serasa ingin bunuh diri saat itu juga. "Gila lo ya?! Gue nungguin lo satu jam lebih dan lo cuma minta maaf?! Lo nggak professional banget sih?!" pekik Ervin geram. Suaranya yang serak seksi membuat sepenjuru kafe menoleh ke arah meja mereka. Terlebih lagi Maura yang dapat merasakan hembusan napas Ervin yang menggebu-gebu. "Gue sms lo datang jam tujuh dan sekarang udah jam setengah sembilan! Lo mau buat gue mati terduduk karena nungguin lo yang enggak muncul-muncul, iya? Ha!" "Gue kecapean Vin. Lagian gue juga udah datang, 'kan?" "Kecapean lo bilang? Dari pagi sampe siang kerjaan lo cuma duduk-duduk doang, minum kopi sambil makan roti, lo bilang capek? Gue nggak suka sistem kerja lo kalo kayak gini caranya!" wajah Ervin semakin memerah, urat lehernya menegang. Tampak dari wajahnya yang menyelimuti kekesalan terhadap Maura. "Pendusta lo!" Maura semakin menundukkan kepalanya, orang-orang semakin memperhatikan mereka. Ervin tipikal cowok agresif yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar, baginya kehidupan hanya panggung sandiwara maka dari itu ia tidak pernah mempercayai seseorang. Dan satu lagi, jangan pernah membantah perkataan Ervin. Jangan. "Kenapa nangis lo? Belum gue apa-apain udah nangis?! Gini mental seorang Designer professional?! Sekali dibentak langsung nangis! Manja banget lo!" Ervin mengangkat dagu Maura dengan kasar. Kedua tangannya mengusap rambut Maura yang menutupi sebagian wajahnya. "Lo enggak perlu nangis supaya buat gue luluh sama lo!" Airmata Maura semakin deras meluncur dari permukaan kelopak matanya. Hatinya begitu sakit saat mendengar hujatan Ervin yang sangat kasar. Kali ini ia benaran menangis karena sudah terlanjur sakit hati atas perkataan Ervin. Ingat ia benaran nangis, bukan berakting seperti kejadian yang lalu. Tiba-tiba raut wajah Ervin mulai berubah, tampak jelas dari wajahnya yang tidak tega melihat Maura menangis seperti itu, apalagi kini mereka menjadi bahan pembicaraan seantero kafe. Ia pun menghapus airmata Maura lalu tersenyum seadannya. "Jangan nangis, gue tadi khilaf saking kesal dengan lo. Lain kali jangan telat, maafin gue." Maura speechless, matanya menatap kosong ke arah Ervin. Seketika hatinya berdebar saat telapak tangan itu menyentuh wajahnya. Hal yang selalu didambakan para wanita, terlebih lagi Maura yang seumur hidupnya tidak pernah berpacaran. Pria itu juga semakin membuat Maura bingung atas tingkah lakunya yang terkadang menyebalkan namun dapat berubah dalam sekejap menjadi sangat baik. "Maafin gue juga. Janji gak bakal telat lagi," balas Maura lirih, dengan mata yang menatap Ervin sendu. "Sekali lagi lo telat! Tanpa aba-aba gue langsung lenyapkan perawan lo, paham?" tanya Ervin dengan tatapan genit. "Gue cincang lo kalo sampe nyebut kata haram itu!" cetus Maura dengan bola mata yang mendelik sempurna. Ervin tertawa terpingkal hingga mengeluarkan sedikit airmata. "Canda gue," balas Ervin setelah tertawanya reda. "Lo itu ngeselin tapi ...." Maura sengaja menggantungkan ucapannya agar Ervin penasaran. "Tapi Apa?" "Ada deh mau tau aja atau mau tau banget?" Maura menaik-turunkan alis matanya. "Jangan sok misterius deh, gue tau apa maksud lo," balas Ervin tak kala misterius. "Emang apaan?" tanya Maura penasaran. "Gak mau ah. Takut lo pingsan." "Iss ... apaansih Vin? Sekarang lo yang sok misterius. Menjijikan!" Maura memeletkan lidahnya, lalu ia tersenyum sumringah, "gue laper, Vin." "Yaudah pesen." Setelah seorang Pelayan datang dan mencatat semua pesanan Maura pada buku kecil miliknya, lalu sang Pelayan itu kembali ke dapur untuk memberikan catatan pesanan Maura. Lantas, kepergian Pelayan tersebut hanya membuat mereka berdua saling pandang-memandang tanpa tahu arti dari sorot mata keduanya. Namun pada saat saling memandang satu sama lain, Maura dikejutkan dengan seseorang. Seseorang yang pernah menjadi alasannya untuk betah berada di sekolah hingga petang, seseorang yang selalu membuatnya senyam-senyum sendiri sebelum tidur, yang pasti seseorang dari masa lalunya. Malam ini Maura dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya, cinta yang telah direbut oleh sahabatnya sendiri. Pria yang kini memiliki banyak perubahan. Kulitnya tidak seputih waktu zaman SMA dulu namun tidak terlalu hitam, singkatnya seperti kulit pria pada umumnya. Kini pria itu tidak mengenakan behel yang menjaga giginya, wajah pria itu juga tidak semulus seperti dulu lagi. Pria yang sudah tumbuh dewasa dengan sekujur brewok dan tubuh yang atletis. Pria yang nyaris buat Maura pingsan saat itu juga. Dan bahkan Maura sampai tidak mengenali pria di hadapannya saking tampan seperti Justin Timberlake. Ternyata selera Maura suka yang brewokan dengan badan yang atletis. Pria yang kini berada di hadapannya tatkala seksi dari Ervin. Bahkan jika disandingkan, mereka berdua tampak seperti model majalah Mens Healty. “Maura, kan? Ini Maura yang dulu sekolah di SMA Cendana?" Tanya pria tersebut seraya mengingat memori masa lalunya. Maura yang terperengah mendadak terbangun dari lamunannya lalu ia mengamati sosok pria itu, hingga pada saatnya ia ingat dengan jelas suara serak tersebut. "Asraf? Ini beneran lo?" pekik Maura antusias lalu disambut dengan pelukan hangat dari Asraf—pria keturunan Arab-Indonesia—pelukan yang selama ini ia dambakan sebelum tidur, namun kini menjadi kenyataan. "Aroma parfum lo masih yang lama, ya Bulgari Man," ujar Maura sambil terkekeh geli. Asraf menatap pancaran wajah Maura yang berbinar seraya membalas senyuman wanita itu. "Lo masih inget ternyata. Sumpah kangen banget gue sama lo!" "Gue juga. Apa kabar lo dengan Vani? Kalian udah married?" Maura diam sesaat. Ia menyadari kalau pertanyaan itu hanya membuat hatinya teriris dan kembali mengingat masa lalu itu, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak tahu harus bertanya apa, sehingga hanya pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya. Asraf tidak menjawab pertanyaan Maura. Ekspresi wajahnya mendadak berubah masam, matanya sedikit berlinang, penuh kekecewaan dari sorot matanya. Asraf menghela napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Maura. "Gue ditinggal nikah sama Vani." Jeda tiga detik, "waktu itu ... seminggu lagi kami akan menikah, tetapi pada malam harinya gue dapat sms dari Vani. Dia bilang kalo dirinya sudah menikah sebelum gue melamarnya." Suara Asraf mendadak melemah. Suasana haru kini menyelimuti mereka berdua, berbeda dengan Ervin yang masih diam dan menyimak percakapan dua insan itu seraya menghisap rokoknya. "Tapi hubungan lo sama Vani masih baik-baik aja, 'kan?" Maura kembali bertanya sambil menawarkan Asraf untuk duduk di sebelahnya. "Dia mutusin untuk lost contact dengan gue." Ervin kembali emosi setelah melihat Maura yang sudah melupakan kehadirannya ketika pria ini datang. Tangannya mengepal mantap, siap menonjok siapa saja. Dia menatap sinis ke arah Asraf, sorot matanya menunjukan kalau dirinya tidak menyukai kehadiran Asraf. Sangat, sangat, tidak menyukainya! Menurut Ervin—pria ini hanya sebagai pengganggu dari acara makan malamnya dengan Maura. Karena sudah tidak tahan lagi menahan amarahnya, Ervin langsung mencampakkan puntung rokoknya yang masih menyala ke arah Asraf, kemeja kotak-kotak yang Asraf kenakan langsung terbakar dan menyisakan bolongan kecil. Masih belum puas, Ervin melayangkan kepalan tangannya tepat di bibir Asraf, kontan pria itu langsung terhuyung ke lantai. Tidak ada pembalasan dari Asraf, kepalanya terasa sangat pusing untuk membalas bogeman Ervin. Lagi-lagi Ervin membuat kekacauan. Kafe menjadi berisik dengan suara teriakan—karena terkejut atas apa yang dilakukan Ervin. Sekumpulan anak remaja lelaki semakin meriahkan perkelahian ini dengan melakukan taruhan 'siapa yang akan menjadi pemenangnya'. Sedangkan Maura masih tidak percaya dengan perlakuan Ervin yang tiba-tiba menonjok wajah Asraf yang sama sekali tidak memiliki masalah apapun dengannya. "ERVIN! BERHENTI!" teriak Maura bersama airmata yang bercucuran. Dia menghampiri Asraf dan membantunya untuk berdiri. Setelah itu Maura menghampiri Ervin yang masih tersengal. "Dasar cowok gila! Sebentar lo baik, sebentar lo mengerikan! Dia itu teman SMA gue, dan lo nonjok dia yang sama sekali enggak kenal sama lo! Lo itu pengecut," pekik Maura. "Lo ber—" ucapan Ervin langsung dipotong oleh Maura. "Apa lo mau ngancam gue lagi? Ha?! Gak bakal takut gue! Paham lo?" setelahnya Maura pergi meninggalkan mereka berdua. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD