BAB 4

1988 Words
Dengan jiwa raga yang sehat, Maura sudah melupakan kejadian kemarin malam. Jadi hari ini ia bersama tim kerjanya memutuskan untuk datang langsung ke Hotel Piramidaya. Maura hanya ingin melakukan penelitian tentang hotel tersebut, mencari furniture yang cocok dengan tema classic and nature belum lagi nanti akan ada sedikit pembangunan untuk membuat sebuah taman kecil. Semuanya harus diselesaikan dari sekarang, agar ke depannya sesuai dengan perencanaan Alice’s Design. Pagi ini, Maura mengenakan kemeja putih polkadot dengan model kerah stand collar. Maura memadukannya dengan rok mini berwarna krem serta heels bewarna yang sama dengan rok tersebut. Kaki jenjang Maura terlihat menawan jika memakai sepatu heels. Sangat seksi, begitulah yang sering pria katakan mengenai betis Maura. Maura dan tim kerjanya baru saja memasuki sebuah hotel yang sangat besar. Hotel yang berdiri tegak setinggi 50 lantai. Perkiraan Maura untuk mendesain hotel ini butuh waktu delapan bulan lebih. Belum lagi ia harus menempah beberapa furniture, lukisan, pajangan, bunga dan masih banyak lagi. Maura memiliki 100 kurir bangunan dan 15 anggota Designer Interior untuk membantunya mempercantik hotel tersebut. Untuk saat ini hanya separuh dari sekian banyak kurir yang Maura bawa. Sebelum ia dan timnya mulai bekerja, Maura harus membicarakan permasalahan konsep furniture dan keperluan lainnya. Semua sudah Maura persiapkan dari tiga hari yang lalu. Setumpuk sketsa kasar yang membuat Maura harus bekerja 24 jam nonstop, demi mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, dan yang pasti ia mengharapkan bonus tambahan dari Alice. Beberapa orang sudah memenuhi meja panjang bewarna hitam, kecuali Ervin. Dia masih ada urusan lain dengan tumpukan dokumennya. Belakangan ini Ervin sering mendapatkan komplinan dari costumer hotelnya yang berada di kota Medan. Belum lagi dia harus mengurus pegawainya yang konon katanya mencuri beberapa keuntungan dari saham hotelnya yang berada di kota Bandung. Sama halnya dengan Maura, Ervin juga kurang tidur belakangan ini. Sekitar sepuluh menit mereka semua menunggu kehadiran Ervin di ruang rapat, namun tidak beberapa lama yang diceritakan baru saja masuk ke dalam ruang rapat—panjang umur. Rasa takut akan kejadian kemarin kini telah sirna setelah melihat Ervin yang baru saja menduduki kursinya. Wajah maskulinnya mengingatkan Maura akan film Tentara Romawi. Baju Ervin terlihat begitu sempit, hingga membuat otot-ototnya menonjol dari balik kemeja biru dongkernya. Terutama dibagian d**a yang selalu Maura kagumi, dua kancing kemeja terbuka sudah menjadi ciri khas Ervin dalam berbusana. Maura dapat melihat wajah murung Ervin. Kelopak matanya menghitam—menandakan kalau semalaman Ervin kurang tidur. Saking sibuknya, Ervin sampai tidak sempat mencukur brewoknya yang kini sudah mulai memanjang. Maura tidak berhenti fokus pada bibir seksi itu, lekukkan bibir yang menawan bagi Maura. Bibir yang tidak perawan lagi tetapi masih saja menggoda—itulah yang saat ini ada di pikiran Maura. “Selamat pagi semuanya, maaf saya telat.” Ervin tersenyum ramah kepada semua hadirin. Matanya berhenti sejenak menatap Maura—namun langsung berhasil membuat jantung Maura berhenti sejenak dan kembali bekerja dengan sangat cepat. Tatapannya seolah-olah seperti alat pacu jantung. Tidak ada yang spesial, namun bola matanya yang berwarna hitam legam mampu membuat semua wanita bertekuk lutut padanya. Maura mulai membuka data presentasinya pada sebuah laptop di hadapannya, lalu menampilkan beberapa sketsa kasar yang hampir sempurna pada sebuah monitor melalui projector. Ia memberi banyak pilihan pada sketsa itu, mulai dari pemilihan warna cat, lukisan, bunga, furniture, pajangan, dan masih banyak lagi. Ervin sampai bingung harus memilih yang mana, karena semua pilihan itu sama bagusnya. Ervin melupakan sesuatu yang baru saja Maura presentasikan, ia hanya memandangi wanita itu. Namun, entah sejak kapan, ia baru menyadari kalau dirinya menyukai ketegasan Maura saat sedang serius seperti ini. Ervin semakin tertarik untuk mengenal Maura lebih jauh. Dan sampai sekarang ‘pun Ervin masih belum bisa melepaskan bayang-bayangan Maura saat—ia mengenakan gaun merah marun, kemarin malam. Maura mengingatkan Ervin pada sosok Maminya. Tapi sayang, Ervin tidak memiliki banyak waktu untuk menjenguk Mami dan Papanya di kota Medan. For your information; Ervin asli kelahiran kota Medan namun ia tumbuh besar di Jakarta. Tetapi, sekarang kedua orangtuanya memilih untuk menetap di kampung halaman, Sumatera Utara. “Baik, selaku pemilik Hotel Piramidaya, Bapak Ervin silahkan berikan tanggapan anda atas pemaparan saya tadi,” ujar Maura dengan senyuman kakunya namun ia langsung menyembunyikan hal itu dengan pembawaan yang sedikit tenang. Sangat professional. Ervin menelan ludahnya sebelum ia membuka suara. “Saya sangat menyukai konsep anda. Tetapi menurut saya, untuk furniture yang lebih classic sebaiknya menggunakan meubel dari kayu daripada logam. Jadi usul saya lebih baik menggunakan furniture kayu jati, terutama untuk meja, kursi, lemari, tempat tidur, itu recomended banget.” Ervin memberi jeda. “Overall perfect.” Ervin menyunggingkan senyumannya, berhasil membuat Maura dan kaum hawa yang berada di ruang rapat—pada menggigit bibir bawah mereka masing-masing. “Baik sedikit ada perubahan pada bagian furniture-nya tetapi menurut saya itu usulan yang bagus. Terlebih lagi kalau kita mendapatkan kualitas kayu nomor satu, itu membantu banget.” Maura membereskan dokumennya. “Baiklah, sepertinya konsep kita sudah 100 persen sempurna, kini hanya tunggu proses pengerjaannya saja. Ohiya, saya harap anda tidak akan mengganti konsep saat proses pengerjaan sudah berjalan. Terimakasih.” Maura membalas salaman Ervin setelah rapat usai. * Ruang rapat sudah sepi, hanya bersisa Maura yang masih merapikan dokumennya. Ervin sudah balik ke ruang kerjanya, begitu juga dengan TIM Maura—mereka sudah kembali ke kantor Alice’s Design. Setelah melihat wajah Ervin tadi, kini Maura sudah dapat melupakan peristiwa keki itu. Meskipun ia yakin seratus persen kalau Ervin memiliki alasan tersendri—mengapa ia nekat berbuat m***m dengan tiga orang wanita sekaligus. Di tempat umum lagi! Saat Maura sedang menyusun beberapa dokumennya, seperti ada yang mengganjal dibenaknya. Maura mencoba memastikan sesuatu yang membuat dirinya gelisah. Ia membongkar kembali tumpukan sketsa kasar miliknya. Satu persatu ia cek, namun hatinya masih gelisah setelah selesai mengecek tumpukkan kertas tersebut. “Shiiit … sketsa toilet kebawa sama Ervin,” pekik Maura. Ia jadi keringat dingin setelah mengetahui sketsa toilet ada pada Ervin, bukan karena ia takut sketsa itu bakalan dibuang atau dirobek, namun yang ia takutkan bagaimana meminta sketsa itu kepada Ervin setelah kejadian kemarin malam. Ia memantapkan diri dengan menarik napas sudah lebih dari lima kali, namun yang keenam kalinya Maura seperti mendapat sebuah ilham. Ia keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju lift. Namun entah mengapa, justru yang terbayang di pikirannya adalah wajah lugu Ervin yang ketakutan saat naik lift, Maura masih mengingat persis kejadian itu. Ruangan Ervin di lantai 20? Lantas, saat rapat bubar dia naik lift atau tangga darurat? Gak mungkin aja naik tangga, dari lantai 10 ke lantai 20? Its joke!! Gumam Maura dalam hati sembari tersenyam-senyum sendiri. Ternyata ketakutannya sirna setelah terbayang wajah lugu pria itu. Bahkan sampai sekarang, Maura masih belum percaya kalau ternyata pria semacho Ervin bisa takut naik lift, tidak hanya itu saja karena pria itu juga takut dengan pesawat yang hendak mendarat. Tiing … Saat pintu lift terbuka namun Maura tidak melihat Sekertaris Ervin di depan ruangannya. Lantai 20 terlihat sangat sepi dan senyap, tidak terdengar suara apapun selain derap langkah kaki Maura. Bulu romanya seketika berdiri saat hembusan AC pada koridor lantai 20 menyerang tubuh mungilnya. Ia mempererat memeluk tubuhnya sendiri dan menghembuskan napas untuk yang kesekian kali. Awalnya Maura ragu untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan Ervin. Namun entah dapat keberanian dari mana, Maura tetap yakin menghampiri ruangan Ervin untuk mengambil sketsa itu. Meskipun hanya sebuah sketsa toilet, tetapi itu sangat berharga untuk kelangsungan karirnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Maura meyakinkan dirinya untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan Ervin yang terletak di ujung koridor. Lantai 20 terbagi menjadi dua bagian, yang pertama khusus untuk kamar para pengunjung dan selebihnya untuk ruangan pribadi Ervin. Antara kamar pengunjung dan ruangan pribadi Ervin hanya dibatasi dengan tembok besar yang kokoh. Maura melihat pintu ruangan Ervin sedikit terbuka, sehingga dapat mengeluarkan suara dari dalam—jika berada satu meter lebih dekat dari ruangan tersebut. Maura mendengar suara erangan seorang wanita di dalam sana. Maura semakin mendekatkan telinganya pada pintu, dan kini ia dapat mendengar dengan jelas—aktivitas yang terjadi di dalam sana. Memang sedkit lancang, tetapi Maura begitu penasaran dengan suara erangan itu. Ia mengintip dari sela-sela pintu, dan … Maura melihat Ervin yang sedang berhubungan intim dengan Sekertarisnya sendiri, pemandangan yang tidak lazim bagi Maura. Dan berhasil membuatnya terkejut, saat ia melihat Ervin dan Sekertarisnya telanjang bulat. Persis seperti kejadian kemarin malam! Hanya saja kemarin malam wanitanya ada tiga sedangkan saat ini hanya ada satu, Sekertaris pula. “Astaga …!” jerit Maura cukup keras. Ervin yang dapat mendengar suara Maura dari luar, langsung menyingkirkan Lusi—Sekertaris—dari pangkuannya. Ervin panik sekaligus malu. Siapa yang tidak terkejut, saat sedang asik berhubungan intim justru malah ketangkap basah dengan orang lain, sama rekan kerja pula. Setelah Ervin mengenakan pakaiannya kembali, ia langsung menghampiri Maura yang nyaris kabur memasuki lift. "MAURA! BERHENTI!" kulit wajah Ervin mulai memerah, ia benar-benar sangat marah dengan Maura—si wanita t***l yang suka kepo dengan aktivitas yang sedang dilakukan Ervin. Mati gue, dasar t***l. Gumam Maura pada dirinya sendiri. Seketika langkah Maura terhenti. Ia dapat merasakan hawa-hawa panas disekujur tubuhnya. Atmosfer di sekelilingnya ‘pun mulai tidak sedap, ada sesuatu yang membuat perasaannya ketakutan luar biasa. “Lancang banget lo!!” Ervin mendekatkan tubuhnya ke arah Maura. Selangkah demi selangkah Maura berjalan mundur hingga ia tersudut pada dinding. Tubuh mereka hampir tak berjarak, d**a bidang Ervin kini menyentuh p******a Maura, dan semakin kuat Ervin menindihnya maka semakin sesak yang Maura rasakan. Ingat! Tubuh mereka sudah menempel, layaknya sosis dan roti hotdog! “Mm-ma-maf... gu-gue enggak tahu lo la-lagi gi-gituan …,” balas Maura gagu. Ervin mendekatkan bibirnya pada daun telinga Maura. Ia menempelkan bibirnya yang lembab tepat di daun telinga Maura. Terasa geli saat hawa napas Ervin menyeruak ke dalam lubang pendengarannya. “Awas aja kalo masalah ini sampe menyebar. Berani lo gossipin gue, sekarang juga perawan lo hilang! Paham?!” Maura mengangguk. Tidak berani melawan demi masa depannya. “Ii-iyya! … sekarang gu-gue boleh pergi?” raut wajahnya semakin ketakutan, ia benar-benar takut saat membayangkan Ervin benaran melakukan hal yang baru saja diucapkannya—merenggut perawan Maura. “Enggak! Gue harus memastikan dulu kalo elo itu enggak kibulin gue!” pupil matanya menatap Maura dengan sengit. “Gu-gue selalu menepati jan-janji.” “Kalo sempat gue dengar lo gossipin gue, ingat! PERAWAN lo bakal hilang dalam waktu 10 detik!” Ervin menekankan volume suaranya pada kata 'perawan'. Dan … dalam sekejap, Maura kembali menenggak salivanya secara paksa. Tidak terbayang olehnya, kalau Ervin bisa merenggut perawannya hanya dalam sepuluh detik. Kini yang ada di pikiran Maura adalah ‘nih cowok penjahat kelamin’. Ervin melepaskan Maura dari dekapannya. Ada rasa bahagia di benak Maura namun juga ada rasa takut. Dia bahagia karena bisa sedekat ini dengan Ervin namun ia takut karena Ervin begitu sadis layaknya seorang psikopat. * “Sial! Cowok m***m! Hampir gue jadi bahan pelampiasan hasrat terselubung lo!! Ervin taiiik!!” Maura berteriak-teriak tidak jelas selama satu jam yang lalu. "Ervin p*****l! Lajang tua kesepian! Gue benci! Gue nyesel ngelihat lo telanjang! Mata gue enggak perawan lagi!” Maura mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia baru menyadari dan menyesali karena telah menyukai pria sadis seperti Ervin. Drrrtt … drrrt … drrrt … Maura langsung terdiam saat merasakan ponselnya bergetar. Ervin? Shiit!! Benak Maura setelah membaca nama pemanggil yang tertera pada layar ponselnya. “Ha-halo …?” sapa Maura terbata. Ia masih takut akan ancaman sadis itu. “Besok jumpai gue di kafe tempat kemarin kita berbincang! Enggak pake komentar, enggak ada protes, gue cuma nyuruh lo datang jam 7 malam! TITIK!” Tuutt … tuutt … “Dasar cowok gila! Ervin gila …!” pekik Maura sembari mencampakkan ponselnya ke atas kasur hingga terjatuh melalui sela-sela kasur. Setelahnya Maura menutupi wajahnya dengan bantal, ia menangis, ia menyesal telah menyukai pria sesadis Ervin. Namun tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran untuk mengubah nick name Ervin pada kontak ponselnya. Ia turun dari kasur dan berjongkok untuk mengambil ponselnya yang terjatuh di bawah kolong tempat tidur. Setelah mendapatkan kembali benda canggih itu, Maura segera mencari kontak Ervin dan mengubah namanya. Lajang Tua x_x ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD