Terlihat sebuah ruangan bernuansa cokelat dan krem yang setiap dindingnya dihiasi dengan stiker Teddy Bear—sedang berisik dengan suara umpatan seorang wanita. Sebuah ruangan di mana Maura menghabiskan waktunya untuk tidur. Namun tidak untuk kali ini, kamarnya sangat berantakan—mulai dari kaos yang berserakan di lantai, kemeja yang terletak di atas kasur, handuk yang menggantung pada ujung kaki kasur, sampai beberapa pakaian kotor yang lainnya tidak tersusun rapi pada tempatnya. Semuanya berantakan, mulai dari bawah kolong tempat tidur, di atas nakas, di balik pintu, bahkan di balkon juga ada.
Apakah Maura seorang wanita? Tentu saja, iya! Tetapi semua ini terjadi dikarenakan ia yang tidak memiliki banyak waktu untuk membersihkan apartemennya. Maura selalu pergi pagi dan pulang malam hari—sesampainya di rumah ia langsung mandi, setelah itu tidur.
Saat ini, Maura sedang sibuk mencari pakaian yang pas untuk ia kenakan ke acara party yang Ervin maksud. Sebelumnya Ervin sudah mengingatkan untuk mengenakan gaun, tetapi ia begitu bingung harus memilih gaun mana yang pas untuk acara tersebut—mengingat terlalu banyak gaun yang ia miliki.
Kalo gue pake mini dress ini entar gue dikira mau cari perhatian lagi. Tapi kalo gue pake gaun yang ini … entar malah salah acara. Sebenarnya ada acara apasih? Malah partynya udah mau mulai lagi ….
“Aduuuhh … yang mana sih?” Maura kini mulai memasuki walk in closet untuk mencari gaun lamanya.
Seketika pandangan Maura teralihkan pada sebuah long dress bewarna merah marun. Gaun peninggalan Mamanya dulu, iya … Mamanya sudah meninggal enam tahun yang lalu—Mamanya meninggal karena terkena serangan jantung, sedangkan Papanya sudah menikah lagi dengan wanita jalang yang telah membuat Mamanya meninggal.
Waktu itu, kejadiannya saat Mamanya Maura—Desty—melihat secara langsung apa yang sudah suaminya—Tyo—lakukan. Suaminya terpergok sedang making love dengan wanita lain. Perempuan mana yang suka diselingkuhin? Perempuan mana yang setuju kalau pendampingnya harus berbagi cinta dengan wanita lain?! Dan Desty tidak menginginkan hal itu.
Waktu itu Maura masih berumur 17 tahun, di mana ia masih menduduki bangku kelas tiga SMA. Desty dapat kabar dua hari sebelumnya dari sang Kakak, kalau Ibunya sedang terjangkit penyakit yang mematikan. Sang Ibu sudah terjangkit penyakit kanker p******a selama lima tahun, namun belakangan ini penyakit tersebut sudah memasuki stadium 4.
Desty yang begitu khawatir dengan kondisi Ibunya langsung mengajak Maura untuk menemaninya pulang ke pulau Jawa. Tyo tidak ikut dengan mereka dengan alasan, ia sedang repot menghadapi komplinan dari para klien kantornya. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Desty mempercayai sang suami—yang sejak awal sudah memiliki niat jahat.
Ternyata saat Desty dan Maura sedang berada di pulau Jawa, Tyo menghabiskan waktunya bersama dengan sang p*****r—selingkuhannya. Mereka berbuat m***m sesukanya, tanpa ada rasa peduli sedikit pun di hati Tyo atas kehadiran Desty yang telah menemani kehidupannya selama 20 tahun.
Hingga pada akhirnya, Tyo mencoba untuk membawa selingkuhannya menginap di rumah. Sesampainya di rumah, tanpa ba-bi-bu Tyo langsung mengajak selingkuhannya ke dalam kamar. Mereka berdua mulai bergelut tanpa selehai benang pun. Bahkan sosok Desty tak terlintas sama sekali di dalam pikiran Tyo. Ia benar-benar tidak peduli kalau kasur yang ia jadikan sebagai alasnya saat berhubungan intim dengan selingkuhannya ini adalah kasur di mana Desty menghabiskan waktunya untuk beristirahat.
“Aahh … ouuh … f**k me babe.”
Saat itu juga ternyata Desty dan Maura baru saja sampai di rumah—mengingat Desty yang lupa membawa obat penenang jantungnya. Maura segera berlalu menuju kamarnya sedangkan Desty—tanpa rasa curiga sama sekali ia membuka knop pintu kamarnya.
Kriet …
Ternyata sebuah kepercayaan penuh yang Desty beri kepada Tyo hanya sebuah angin yang berlalu. Bahkan Tyo tega melakukan hal yang tidak lazim seperti ini di dalam rumahnya sendiri, apalagi Tyo yang masih berstatus suami dari hubungan pernikahannya dengan Desty.
Desty melihat adegan itu dengan mata-kepalanya sendiri. Betapa hancurnya perasaan sang perempuan saat mengetahui lelaki pujaannya bermain di belakangnya. Mendadak penyakit jantung Desty kumat, tubuhnya kejang-kejang, sorot matanya berwarna merah padam. Tidak terasa, buliran bening kini mulai menetes dari pelupuk mata. Desty semakin mencengkram d**a sebelah kirinya, mencoba untuk mengatasi betapa sakit yang ia rasakan. Tyo yang sadar akan kehadiran Desty segera meraih pakaiannya dan memakainya, begitu juga dengan wanita jalangnya. Setelah mereka berdua sudah memakai pakaian lengkap, Tyo segera memerintahkan selingkuhannya untuk segera pulang sebelum Maura melihatnya.
Maura yang mendengar suara keributan dari lantai dasar, segera turun dari kamarnya. Sesampainya di bawah, ia juga melihat dengan mata-kepalanya sendiri bahwa ada seorang wanita asing keluar dari kamar orangtuanya—dan setelah itu sorot mata Maura langsung tertuju ke arah Desty yang sudah tidak bernyawa tengah tergeletak di atas ubin.
Ia segera menghampiri Desty dan Tyo. Tak terasa buliran bening kini mulai menetes dari pelupuk mata Maura, bagaimana tidak? Seorang wanita terhebat yang Maura miliki kini sudah tidak bernyawa lagi.
Dengan sigap, Maura langsung mengangkat kepala Desty dan menompangkannya pada paha.
Kini sorot matanya berpindah kepada sang Papa. Sama sekali tidak ada sorot penyesalan pada pupil mata Tyo, bahkan wajahnya terlihat acuh tak acuh—tidak peduli dengan Desty yang sudah tidak bernyawa.
“Mama kenapa, Pa?”
Dengan santai, Tyo menghidupkan rokoknya lalu menghembuskan asapnya perlahan, “Mama kamu meninggal, jantungnya kumat. Udah gih sana panggil ambulan, Papa tidak ingin melihat mayatnya membusuk di rumah ini.”
“Maksud Papa apa? Kenapa Papa bisa ngomong seperti itu? Emangnya Mama ada berbuat salah dengan Papa? Ha?!” jeda beberapa detik, “disaat Papa sakit siapa yang merawat Papa? Wanita jalang itu? Enggak ‘kan Pa … Mama selalu ada buat Papa, Mama selalu ada buat kita semua, bahkan disaat keluarga kita sedang terpuruk Mama selalu memberi dukungan buat kita semua agar tetap tabah.”
Satu hisapan lagi Tyo membuang asapnya ke arah wajah Maura, lalu menyentil ujung puntung rokok tersebut agar nikotin yang terbakar terhempas dari sarangnya—tetapi Tyo membuang nikotinnya tepat di atas wajah Desty. “Kamu itu masih kecil, enggak tau urusan orang dewasa, udah buruan panggil ambulan!”
Perasaan Maura serasa diterbangkan ke atas awan lalu dicampakkan begitu saja ke dasar bumi. Hancur? Tentu saja. Rasanya seperti terbelah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak mungkin bisa disatukan kembali. Maura menghapus airmatanya lalu menghela napasnya. “Maura udah dewasa, Pa … Maura bisa bedakan mana yang buruk mana yang baik. Maura baru sadar kalau ternyata selera m***m Papa MURAHAN! Papa lebih selera dengan w************n yang sering nongkrong di pinggir jalan daripada dengan wanita soleha yang selalu menjadi perlindungan bagi keluarga kita.”
TAR …
Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Maura, membuat sang empunya sedikit meringis kesakitan, lalu beberapa detik kemudian Maura tertawa. “Hahaha … oh, kenapa Pa? Papa enggak suka? Dia itu WANITA JALANG! Dan Papa lebih suka menikmati v****a yang sudah sering dipakai dengan banyak lelaki. Haha ….”
TAR …
Satu tamparan kini kembali terlontar, lalu Tyo membuang puntung rokoknya dan menekannya pada ubin—hingga apinya padam. “Jaga mulut kamu, Maura! Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbicara tidak sopan seperti itu. Ini akibatnya karena Desty sudah terlalu memanjakan kamu!”
Maura kembali tertawa getir, “Heh … jaga omongan anda, karena di sini pengecutnya adalah anda! Dan sekarang anda sudah mengajarkan saya bagaiman caranya membenci diri anda! Cih,” cetus Maura tak kalah sinis, lalu ia segera berlalu menuju kamarnya dan menelepon ambulan.
Enam bulan setelah pemakaman Desty telah berlalu, Tyo memutuskan untuk menikah lagi dengan selingkuhannya. Bahkan kini Maura diterlantarkan begitu saja, Tyo sudah tidak menganggap Maura sebagai anaknya. Selama itu juga, Maura mulai menjalani kehidupan yang pahit, selalu dihina oleh teman-teman sekolahnya, dan saat itu juga Maura mulai berlajar mandiri. Dari situlah Maura mulai belajar arti kehidupan. Kalau bukan jodoh mau diapain lagi? Bukan hanya sepasang kekasih saja bisa putus bahkan hubungan pernikahan juga bisa bercerai, sekalipun sudah bersama-sama lebih dari 20 tahun.
Seorang wanita bergaun merah marun baru saja keluar dari walk in closet. Gaun itu begitu pas dengan tubuhnya yang langsing. Kulitnya yang putih sangat kontraks dengan gaun merah marun itu. Perfect.
Maura memandang pantulan dirinya pada sebuah cermin berukuran satu setengah meter. Sedetik kemudian ia tersenyum, merasa begitu mirip dengan Mamanya waktu masih muda dulu.
*
Saat hendak ingin melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu lift, tiba-tiba ponsel Maura berbunyi. Ia segera masuk ke dalam lift dan setelahnya mengangkat panggilan telepon dari Ervin.
“Halo … ada apa Vin?”
“Lo jangan bawa mobil karena supir gue udah jemput lo di depan lobi,” pekik Ervin sekeras mungkin—karena posisinya saat ini sedang berada di sebelah DJ.
Kayaknya udah mau mulai deh partynya.
“Lo tau darimana alamat apartemen gue?”
“Sekarang temuin supir gue, masuk ke dalam mobil, duduk yang kalem.” Jeda beberapa detik, “dan jangan pake pertanyaan! Paham?”
“Tap—” ucapan Maura langsung dipotong oleh Ervin dengan nada suaranya yang meningkat satu oktaf.
“LAKUKAN!!”
*
Maura turun dari mobil dengan seanggun mungkin. Ia berjalan begitu gontai, dengan tubuh yang langsing dan seksi—kini Maura menjadi pusat perhatian. Saat langkah pertamanya sudah memasuki ruangan party, Maura langsung diserang dengan dentuman musik yang begitu keras. Orang-orang yang berada di sekeliling Maura langsung berbisik dengan suara tertawa merendahkan.
“Astaga, acara kayak gini, nih cewek pake long dress. Dikira ada yang nikah apa,” cetus seorang wanita yang sedang bergosip ria bersama ketiga temannya. Dan setelahnya, Maura diserang dengan suara tertawaan.
Hampir saja ia melakukan kesalahan. Maura hampir melemparkan heels miliknya ke wajah wanita tersebut. Untung saja, Ervin satu langkah lebih cepat—langsung menahan pergerakan Maura.
Ervin mendekatkan bibirnya pada telinga Maura—membuat sekumpulan gadis-gadis itu berteriak tidak jelas. “Jangan diambil hati. Lo cantik kok pake gaun ini, jadi jangan malu ataupun minta pulang buat ganti baju. Dan kalaupun lo ngebrontak, gue tetap enggak bakalan ngasih lo izin.” Ervin segera menarik tangan Maura menuju sofa yang berada di dekat meja bar.
Ervin terlihat sangat tampan. Memakai kemeja safari bewarna putih dengan dua kancing yang terbuka. Kemeja itu terlihat begitu sempit, membuat struktur tubuh Ervin tercetak jelas. Seperti biasa, Ervin begitu sangat seksi. Lengan bajunya ia gulung setengah, sehingga menampilkan otot-otot tangannya yang kekar.
“Mau minum Wine?” tawar Ervin dengan suara yang sedikit keras.
“Dikit aja. Gue enggak mau mabok malam ini.”
“Joshepin … ambil sebotol Wine untuk wanita cantik ini,” titah Ervin kepada bodyguard tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Maura.
*
Sebelumnya Ervin sudah permisi untuk keluar sebentar, namun Maura tidak menggubrisnya. Ia sudah berlarut dalam perbincangan serunya dengan teman-teman Ervin. Bahkan Maura tidak menyadari kalau keberadaan Ervin sudah tidak ada lagi di mini room tersebut.
“Lo rekan kerja Ervin?” tanya Roy—salah satu teman komunitas Ervin.
Maura menenggak Wine miliknya yang tinggal setengah. “Ya … begitulah.”
“Hati-hati lo, Ervin itu anaknya nakal. Gue Cuma ngingatin doang,” sambung Jessica—tunangannya Roy—setelah itu ia juga ikut menenggak Wine miliknya.
Sontak Maura membelalakan bola matanya, karena menurutnya ini sebuah kesempatan besar untuk mengetahui sifat buruk yang ada pada diri Ervin. “Maksud lo? Nakal gimana?” ia menautkan dahinya, mencoba untuk menyempurnakan aktingnya agar tidak terkesan seperti seorang penggemar rahasia.
“Nanti juga lo bakal tau,” timpal Roy sambil memandang area tempat ia duduk. “Betewe, Ervin di mana?”
*
Maura berjalan menuju toilet untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Ternyata dampak dari Wine tidak dapat diterima oleh perutnya—mungkin karena ia belum ada mengisi perutnya dengan nasi seharian ini. Langkahnya sedikit tergesa-gesa karena ia hampir saja memuntahkan semuanya di koridor.
Setelahnya sampai di toilet, Maura mengeluarkan semuanya dengan sekali muntahan saja.
“Hooeekk ….”
Perutnya terasa keram dan dadanya terasa terhimpit. Perutnya terus-terusan berontak ingin mengeluarkan semua isinya, tetapi setelah dicoba hanya air liur saja yang keluar dan beberapa air Wine—yang baunya terhirup tidak sedap. Setelah itu, Maura mencuci mulutnya dan kembali keluar menuju ballroom.
Langkahnya terhenti saat ia tidak sengaja mendengar suara desahan yang membuat bulu roma Maura berdiri. Namun rasa penasarannya lebih besar daripada rasa ketidaksukaannya. Maura memberanikan diri untuk menghampiri ruangan kecil itu, ruangan yang terletak tidak jauh dari toilet—mungkin itu gudang penyimpanan—dengan langkah seribu, ia mendekatkan telinganya pada pintu tersebut. Ternyata ada empat nada suara yang berbeda, dan dalam sedetik Maura menyimpulkan kalau ada tiga orang wanita dan satu orang pria di dalamnya.
Pintu itu tidak tertutup terlalu rapat, sehingga Maura memiliki kesempatan untuk mengintip dari celah pintu. Dan … damn! Ternyata ada Ervin di dalam. Ralat, ada Ervin yang sedang digerliya oleh tiga orang wanita. Para wanita itu dengan sukarela menjajahkan tubuh mereka secara percuma kepada Ervin.
Salah satu wanita yang hanya mengenakan bra dan celana dalam sedang beraksi dibagian bibir seksi Ervin. Bibir yang didambakan Maura kini telah sirna. Berbeda dengan wanita berambut panjang itu, ia beraksi dibagian s**********n Ervin. Entah apa yang dilakukan wanita itu, intinya dia terlihat sangat murahan dan menjijikan. Jika kedua wanita itu menikmati tubuh Ervin, tetapi wanita yang satunya lagi menikmati belaian Ervin pada payudaranya.
“Auhh … f**k me, plisss ….”
“Vin, oughh … is a big d**k, man!”
“Come on, b***h!”
Maura langsung berlari meninggalkan ruangan itu, sehingga ia menjadi sorotan utama para tamu yang hadir. Dengan sepatu heels yang ia pegang dengan tangannya—Maura mencoba secepat mungkin masuk ke dalam lift sebelum para bodyguard Ervin mengejarnya. Setelahnya di dalam lift, Maura menyimpulkan kalau itu adalah s*x party. Mendengar namanya saja, sudah membuat bulu roma Maura kembali berdiri.
Ting!
Setelah pintu lift terbuka, ia langsung keluar dari lobi hotel dengan posisi sepatu heels yang masih ia tenteng. Sesampainya di outdoor Maura melihat ada sebuah taksi yang berada tak jauh dari posisinya. Ia kembali berlari dan menyelonong masuk ke dalam taksi sebelum bodyguard Ervin menangkapnya.
“Kemana, Mba?”
“Apartemen Cemara.”
Maura menghela napas lega setelah taksi yang ia tompangi sudah berjalan keluar dari Hotel Piramidaya. Ia melihat ke arah kaca belakang, ternyata tidak ada reaksi apapun dari bodyguard Ervin.
“Untung aja …,” gumam Maura lalu memejamkan matanya. “Ternyata semua pria itu sama aja! Sama-sama b***t! Untung si Ervin kagak liat gue,” pekik Maura sekenanya dan tidak menyadari kalau supir taksi itu juga seorang pria.
*
Wanita berumur duapuluh empat tahun ini masih terus menatap pantulanya pada sebuah cermin di meja rias. Masih jelas bayangan-bayangan keki itu. Mana mungkin Maura bisa melupakan kejadian itu.
Itu beneran Ervin atau hanya halusinasi gue aja? Kok bisa-bisanya dia dapat tiga orang wanita sekaligus untuk memuaskan hasratnya? Terus kenapa dia ngajak gue ke party itu? Oohh... apa jangan-jangan waktu dia nawarin Wine ke gue, supaya gue mabok terus jadi ajang belaiannya? Iiih... apaan sih, kenapa jadi mikirin dia. Maura masih terus bertengkar dalam benaknya.
Dengan segera mungkin Maura langsung membersihkan make up-nya dan segera meluncur ke atas tempat tidur. Dia berjalan dengan langkah yang tertatih, dikarenakan betisnya pegal gara-gara sesi kejar-kejaran dengan bodyguard b******k itu.
Baru saja ingin memejamkan mata, seketika ponsel milik Maura berdering, menandakan ada sebuah pesan masuk. Dia meraih ponsel itu, melihat siapa pengirim pesan tersebut.
Ervin? Batin Maura.
Awalnya dia tidak ingin membaca pesan tersebut namun rasa penasaran mampu mengalahkan egonya. Dia membuka pesan itu.
Ervin sekseh
Ra, lo kenapa pulang tanpa pamit sama gue? Kalo enggak kan gue bisa nyuruh Jhos ngatar lo pulang.
Gdnight Ra...
Yaapp … setelah Ervin pertama kali kirim sms kepadanya, Maura langsung menyimpan nomor pria tersebut dengan nick name yang sangat, sangat, sangat, alay.
Maura bergidik ngeri saat membaca kalimat yang terakhir. Bulu romanya langsung berdiri, tiba-tiba ia merasa ada yang aneh dengan Ervin. Maura mencampakkan ponselnya dan mengambil laptopnya—untuk mencari tahu tentang biografi seorang Ervin Kiel.
Maura membuka Google dengan keyword, 'Ervin Kiel'. Dalam waktu singkat, langsung banyak berita tentang Ervin. Berita yang belum tentu benar, namun sang penulis langsung menyimpulkan tentang kehidupan Ervin.
1. CEO muda dan tampan ternyata belum memiliki seorang istri.
2. Biografi seorang CEO of Hotel Piramidaya 'Ervin Kiel'.
3. Ervin Kiel lebih menyukai wanita yang pandai diranjang daripada wanita pandai memasak.
Rasa penasaran tentang Ervin semakin menggebu-gebu dibenaknya. Maura lebih tertarik membaca biografi Ervin dibanding dengan berita simpang-siur seperti itu. For your information; Maura seorang wanita yang realitas.
Nama: Ervin Kiel
Tanggal lahir: Medan, 03 Agustus 1986
Umur: 30 tahun
Karir: CEO of Hotel Piramidaya
Status: Single
Harta: 4 triliun
“Apa?! Ervin sudah berkepala tiga?” pekik Maura seketika. “Oh my no... hartannya 4 triliun? Banyak pake begete.” Maura menghela napasnya. “Dia masih single? Gila aja!! Seorang CEO seksi masih single diumur 30 tahun? Hot gossip.”
***