BAB 2

3333 Words
Kringg … kriiing … kriiingg … Suara jam waker milik Maura sudah berbunyi setengah jam yang lalu, namun ia masih saja mendengkur dari balik selimut tebalnya. Ia tidak ingat kalau dirinya memiliki janji dengan Alice untuk datang ke kantor tepat jam tujuh pagi. Maura semakin mendekurkan tubuhnya saat suara alarm jam wakernya masih terus berbunyi. Bugh … Ia terjatuh dari atas ranjangnya bersamaan dengan suara deringan ponselnya yang terletak di sebelah telinganya. “Aiiishh … gue cuma butuh tidur, ini siapa lagi? Masih pagi udah ganggu aja!” pekik Maura tidak terima karena tidur paginya terganggu. Dengan perasaan gundah ia mengambil ponselnya yang masih terus berdering, ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga penglihatannya kembali normal. Maura menjawab panggilan teleponnya tanpa melihat nama pemanggil terlebih dahulu. “Oii … lo enggak lihat ini masih pagi apa? Gue cuma butuh tidur!” cetus Maura memulai percakapan panggilan teleponnya. “MAURA!! INI SUDAH JAM BERAPA? KENAPA KAMU MASIH BELUM DATANG KE KANTOR?! DATANG SEKARANG ATAU GAJI KAMU AKAN SAYA POTONG LIMAPULUH PERSEN!!” pekik Alice geram saat ia mengetahui Maura yang baru bangun tidur. Seketika bola mata Maura membulat sempurna saat mendengar Alice memarahinya. Dengan sigap ia mengambil jam wakernya di atas nakas. Damn! Shit! Udah jam setengah tujuh! Semoga masih sempat! “Ii-iya Mba, ini Maura sudah di parkiran apartemen.” “Maura jangan sampai telat, saya tahu kalau kamu sedang berboho— ” ucapan Alice terhenti saat Maura memutuskan panggilan teleponnya sepihak. Maura yang masih mengenakan piyama mandi—dikarenakan semalaman ia bekerja dan tidak sempat mengganti pakaiannya—langsung melompat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Maura meraih handuknya yang berada di sudut ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat giginya, tanpa mandi. Dalam waktu 7 menit Maura sudah selesai melakukan semuanya, ia sudah mencuci wajahnya dan juga sudah selesai menyikat giginya. Lalu ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian kerjanya. Pagi yang terburu-buru ini Maura akan memakai pakaian sopan—dikarenakan pagi ini ia akan menghadiri rapat dengan klien penting. Maura memakai kemeja putih yang dibalut dengan jas berwarna merah marun lalu dipadukan dengan rok mini berwarna hitam pekat—sehingga menampilkan kakinya yang jenjang, dan ditambah dengan sepatu heels berwarna yang sama dengan rok mininya. Untuk make up pada wajahnya terkesan sangat natural, sedikit bedak dan lipstick tipis berwarna soft pink. Maura menyanggul rambutnya asal. Alis badai manja yang selalu menempel pada wajahnya—pagi ini tidak terlihat, Maura sengaja tidak memakai pensil alis dan blush on. Maura meraih tas dan ponselnya yang terletak pada meja rias setelah itu ia segera mengunci pintu utama apartemennya dan segera berlari menuju lift. Saat ini ia benar-benar sedang berada di dalam masalah, karena apa? Karena ia sudah hampir telat dan yang pasti Alice akan memarahinya dengan embel-embel akan memotong gaji bulanannya. * Ternyata sampai di kantor, Maura masih memiliki waktu 10 menit sebelum ia menekan sensor pada finger print untuk mengisi daftar kehadiran. Maura langsung masuk ke dalam kantor dengan langkah yang tergesa-gesa karena takut dengan kemarahan Alice yang memuncak. Ia segera meletakkan ibu jarinya pada sensor finger print. Maura Kenesia, succsess! You have eight minutes for drink a glass of coffee. Begitulah kalimat yang tertera pada layar finger print tersebut. Kantor ini memiliki peraturan—barang siapa yang telat mengisi daftar kehadiran maka gaji mereka akan dipotong sebesar sepuluh persen. Kejam bukan? Tentu saja. Tetapi di balik ini semua, tentu saja Alice mempunyai alasan mengapa ia membuat peraturan seperti ini. Yang pertama; agar para pegawainya bisa belajar disiplin. Yang kedua; agar lebih menghargai waktu. Dan yang ketiga; agar menjadi seseorang dengan kepribadian yang baik. Setelah selesai mengisi daftar kehadiran, Maura segera pergi ke tempat mesin kopi otomatis yang terletak pada sudut lobi—lebih tepatnya beberapa meter dari finger print. Maura langsung menggesekan card ATM-nya dan menekan tombol berwarna hijau untuk mengeluarkan cairan kopi caramel mocha. Sama seperti biasanya, sebelum Maura menandaskan minumannya—Maura selalu menghirup aromanya terlebih dahulu. Ia tompangkan hidungnya yang mancung pada ujung bibir cangkir tersebut. Aroma mocha yang lebih mendominasi langsung menyeruak ke dalam pernapasannya. Sepertinya hari ini adalah hari paling sial di dalam hidup Maura. Baru saja ia hendak berjalan menuju sofa yang terletak dekat pintu masuk, namun tanpa sengaja Maura menabrak tubuh seseorang dengan menumpahkan semua isi kopinya hingga mengenai pakaian orang tersebut. Maura sedikit tercenang kemudian ia menelan salivanya secara paksa. Ia memperhatikan suatu kotoran bercak cokelat telah menodai seragam pria tersebut. Kemeja putih yang dikenakan pria itu kini sudah sangat jorok, bahkan jas mahal miliknya juga terkena noda kopi itu. Sekali lagi Maura menelan salivanya secara paksa—sebelum ia mendongak dan melihat sang empunya. “So-sorr—” ucapan Maura terhenti saat manik matanya saling bertumbuk dengan manik mata sang pemilik kemeja putih yang tidak sengaja tertumpah kopi miliknya. Mampus gue …! batinnya. “Kalau jalan yang benar dong! Lihat nih! Jas sama kemeja gue kotor lo buat!” pria itu membuka kedua tangannya sangat lebar agar Maura dapat melihat dengan jelas, apa yang sudah ia perbuat dengan pakaian pria itu. “Ervin?” tanya Maura ragu seraya mengernyitkan dahinya. “Ini beneran lo, Vin?” “Lo tau nggak, kalo pagi ini gue ada meeting, bego!” jeda bebera detik, “dan sekarang lo udah ngehancurin semuanya! Siapa sih atasan lo? Ha?! Gue mau laporan ke atasan lo biar gaji lo yang enggak seberapa itu dipotong limapuluh persen!” sanggah Ervin tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan Maura beberapa detik yang lalu. “Maaf, sini biar gue bersihkan aja jas sama kemeja lo … maaf,” keluh Maura seraya menyodorkan diri untuk membersihkan jas Ervin dengan tisu yang baru saja ia ambil dari dalam tas selempangnya. “Nggakusah! Entar jas gue rusak lo buat! Dasar wanita sinting, lo tau enggak kalau jas gue ini mahal? Ha?! Dasar sinting!” Ervin menghela napas untuk kesekian kali. “Gue mau jumpai atasan lo sekarang. Siapa nama atasan lo? Em … Alice, iya Alice!” Sabar Maura … yang sinting itu dia, bukan lo! Jaga sikap Maura, demi gaji lo … mengalah bukan berarti kalah Ra…, batin Maura dalam hati saat Ervin mengatainya dengan embel-embel ‘sinting’. “Pliss … jangan dong, plisss … gue belum bayar uang sewa apartemen, malah utang gue masih banyak lagi. Gue bersihkan aja deh jas lo, yaah …,” mohon Maura dengan wajah memelasnya ditambah lagi dengan bola mata yang berbinar. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, Maura tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan jurus jitunya, yaitu; puppy eyes. “Sinting! Gue enggak bakal ngaruh dengan muka melas lo itu! Minggir,” bentak Ervin meskipun di dalam lubuk hatinya ia tidak tega melihat seorang wanita harus memelas seperti ini kepada seorang pria, sekalipun pria itu adalah dirinya. Damn! Sudah tiga kali lo ngatain gue, sinting?! Catet, sudah tiga kali!! Yang keempat kali dapat kuis berhadiah lo, Vin! Dan yang ke lima, lo bakalan hidup tanpa kepala! Buliran bening kini mengambang pada pelupuk mata Maura, kedip sedetik saja bisa dipastikan airmatanya akan mengalir. “Lo enggak kasihan sama gue, apa? Gue cuma anak yatim piatu yang hidup seorang diri di kota perantauan, semuanya gue lakukan serba sendiri.” Maura memperindah aktingnya dengan meneteskan airmatanya itu. “Gaji gue enggak sebanding dengan penghasilan lo perbulan, terus lo mau minta Mba Alice buat potong gaji gue? Limapuluh persen lagi … mau makan apa gue nanti? Mau tinggal di mana?” kali ini sepertinya akting Maura berhasil—terlihat dari mimik wajah Ervin yang kini berubah menjadi prihatin. “Hm … gue cuma mau ganti jas kok, santai aja….” Ervin memaksakan mengulum senyum kepada Maura. Setelah itu ia beranjak dari lobi. Kena lo ‘kan … hahaha, welcome to my drama, Vin, batin Maura penuh kemenangan. Selepas masalahnya dengan Maura, Ervin melangkahkan kakinya menuju depan lobi untuk menghampiri asistennya dan mengambil pakaian kerja cadangan yang selalu ia sediakan di dalam mobil. Setelah ia menerima pakaiannya yang satu lagi, Ervin segera berjalan menuju toilet untuk mengganti pakaiannya yang kotor. Sesampainya di toilet, Ervin langsung melucutkan jas dan kemeja putih yang sebelumnya ia kenakan. Terpampang jelas betapa kekarnya badan milik Ervin. Yap … saat ini ia sedang shirtless. Untung saja di dalam toilet tidak ada orang, jadi Ervin bisa dengan leluasa mengganti bajunya tanpa khawatir menjadi sorotan mata para pria pencinta sesama jenis. Memang orang-orang selalu menatapnya seperti seekor singa yang bertemu dengan mangsanya, sangat intens … bahkan mampu membuat Ervin merasa geli sendiri. Bulu-bulu halus yang memperindah d**a milik Ervin yang kekar kini telah tertutupi dengan kemeja berwarna biru muda yang juga dibalut dengan jas bewarna biru dongker. Sangat pas, celana sopan yang sedikit ketat berwarna hitam sangat kontraks dengan sepatunya yang mengkilap. Setelah selesai sesi mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru, Ervin menelepon asistennya untuk mengambil pakaian kotornya di dalam toilet. Setelah itu Ervin melanjutkan langkah kakinya menuju ruang rapat yang terletak di lantai tiga. Satu fakta tentang Ervin; pria macho yang paling takut kalau naik lift, maka dari itu Ervin selalu memilih menaiki tangga daripada harus naik lift. Pernah sih Ervin naik lift, tetapi harus ada seseorang yang menemaninya. * “Baiklah, rapat akan segera saya mulai.” Alice menarik napas seraya melihat dokumen-dokumen yang tadi malam Maura kirimkan kepadanya melalui Email. “Saya sebagai ketua Pembina rapat ini, sebelumnya akan menyampaikan beberapa kalimat sebelum kita memasuki tujuan utama dari dibentuknya rapat ini.” Alice kembali menyapu pandangannya ke seluruh meja—namun ada satu kursi yang masih kosong. Pasti Maura telat, batinnya. Namun belum sempat Alice membuka suara, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pada pintu utama ruang rapat. Semua orang yang berada di tempat yang sama—mengalihkan pusat perhatian mereka menuju sumber suara. Seseorang yang baru saja masuk adalah Maura, ia masuk dengan seringaian lebar bak seekor kuda yang sedang tersenyum. Belum sempat Maura menjatuhkan bokongnya pada sebuah kursi—ia langsung mendapatkan delikan mata dari Alice. “Maaf semuanya, saya telat, maaf ….” Suasana kembali hening, dan semua mata kembali tertuju ke arah Alice, namun tidak dengan Maura, karena ia baru saja sadar kalau di ruangan ini ternyata ada seorang pria yang berhasil membuatnya gila kepayang, beberapa hari yang lalu. Ada Ervin. “Baiklah langsung saja, dalam rapat ini Alice’s Design kedatangan tamu yakni CEO Hotel Piramidaya. Hotel yang memiliki banyak cabang disetiap provinsi di Indonesia. Langsung saja saya persilahkan dengan segala hormat, Bapak Ervin Kiel untuk menjelaskan konsep apa yang ingin anda ambil dalam pendesainan hotel anda yang terletak di Jakarta Selatan,” ucap Alice dengan nada lantang dan tegas. Astaga … dia klien gue? Omaaiigoot … asiikk, ketemu tiap hari sama si Dewa Yunani versi modern, batin Maura penuh semangat. Dengan senyuman yang mengembang, Ervin menyapu pandangannya ke setiap pegawai Alice yang mewakili rapat ini, begitu juga dengan beberapa anggotanya. “Baiklah, sebelumnya saya mau mengucapkan banyak terimakasih kepada saudari Alice yang sudah menyambut kedatangan saya dan rekan kerja saya dengan begitu baik.” Jeda beberapa detik sebelum ia masuk ke dalam topik utama. “Jadi, kali ini saya ingin melihat sesuatu yang berbeda dari hotel-hotel saya sebelumnya. Saya ingin mengambil konsep nature and classic. Jadi, dalam artian, saya ingin semua perabot terbuat dari bahan jenis kayu dan untuk memperindahnya saya ingin setiap ruangan diberi nuansa alam, seperti dengan sentuhan-sentuhan bunga dan dedaunan.” Jeda tiga detik, “jadi intinya saya ingin sesuatu yang berbeda dengan hotel saya kali ini.” Semua orang yang berada di dalam ruang rapat berdecak kagum atas pemaparan Ervin yang begitu tegas dan berwibawa, terutama konsep yang ia pilih sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Maura maupun Alice. Jadi, ini seperti peluang besar bagi Alice untuk memperluas kemampuan dirinya begitu juga dengan TIMnya dalam melakukan tugas yang diperintahkan oleh Ervin. Selain mendapatkan upah yang sangat menggiurkan, tetapi Alice dan rekannya juga akan mendapatkan sebuah pelajaran yang baru lagi. Karena sebelumnya, cuma Ervin saja yang meminta perusahaan Alice’s Design untuk mengambil konsep classic yang dipadukan dengan nature. Setelah Ervin kembali duduk, Alice juga kembali membuka suara. Ia sedikit membasahi tenggorokannya. “Baiklah, terimakasih atas pemaparan ide anda.” Jeda beberapa detik, “semua ide yang anda minta akan diatur oleh Designer Profesional dari perusahaan saya, yakni… Maura Kenesia.” Semua orang kembali bertepuk tangan tetapi Maura masih diam dan fokus memandangi wajah Ervin—tepatnya pada bibir—namun seketika Ervin menoleh ke arahnya, jadi mau tidak mau Maura harus membuang wajahnya ke arah yang lain. “MAURA KENESIA!” pekik Alice penuh penekanan. Sontak Maura langsung sadar dari kenakalan yang ia perbuat selama rapat dimulai sampai saat ini. Ia hanya mengangguk-anggukan kepala meskipun ia tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan Alice maupun Ervin pada sesi rapat dimulai. “Iya, Mba … siap!” “Baiklah kalau begitu rapat saya tutup dengan rasa hormat saya mengucapkan terimakasih karena sudah mempercayai perusahaan kami untuk mendesain ulang keseluruhan hotel anda.” Alice menjabat tangan Ervin kemudian rekan kerja Ervin, begitu juga sebaliknya. Namun Maura bagai tersambar petir saat kulit telapak tangannya kini bersentuhan dengan telapak tangan Ervin. Begitu hangat dan menggetarkan jiwa. Maura benar-benar malu saat Ervin menyunggingkan senyumnya kepada Maura, ia tidak tahu harus berbuat apa. Bibir Ervin benar-benar menggoda imannya. “Hai, sepertinya kita akan menjadi rekan kerja selama enam bulan ke depan … salam kenal,” ucap Ervin dengan suaranya yang serak. Deg … “Ha-hai … i-iya.” Ini cowok kok aneh, sebentar cuek tapi dalam sekejap bisa berubah jadi baik. Gue rasa kayaknya dia punya penyakit kelainan, deh. Mungkin. * Setelah rapat usai, Maura segera merapikan berkas-berkas sketsa kasar yang berserakkan di atas mejanya. Setelah semuanya ia rasa rapi, sedetik kemudian Maura sadar kalau sepanjang rapat ia tidak mendengar apa yang diucapkan Ervin—maka sekarang ia harus segera menjumpai Ervin untuk bertanya langsung konsep apa yang Ervin pilih pada saat rapat tadi. Ia segera berlari keluar dari ruang rapat. Ternyata, jodoh itu tidak bakal lari kemana—karena buktinya Ervin baru saja keluar dari toilet dan kebetulan juga, Maura baru saja keluar dari ruang rapat, jadi saat ini posisi mereka sedang berpas-pasan di koridor lantai tiga. Hening beberapa saat … “Pak, saya boleh minta waktu anda sedikit?” tanya Maura ragu, setelah itu ia memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya—menunggu jawaban Ervin bagaikan menunggu sebuah bola berubah bentuk menjadi segitiga. Ervin mengadahkan wajahnya lalu tersenyum, “boleh, ada apa ya?” Kembali hening. Tenggorokan Maura seperti tersendat saat melihat wajah Ervin sedekat ini, bahkan ia dapat melihat betapa superseksinya bibir Ervin. Setelahnya ia kembali menelan salivanya secara paksa. Tahan nafsu Ra … dia rekan kerja lo, jangan sampe khilaf Ra …. “Udah selesai mandanginnya?” Ervin memetik jarinya di depan wajah Maura—membuat sang empunya langsung menoleh lalu menunduk. Bisa dipastikan kalau saat ini pipi Maura benar-benar merah. “Ma-maaf … sa-saya cuma mau nanya konsep apa yang anda ambil pada saat rapat tadi. Maaf kalo sa—” ucapan Maura terhenti saat Ervin membuka suaranya. “Gue tahu kalau sepanjang rapat berlangsung lo cuma memperhatikan wajah gue, bukan apa yang gue katakan.” Ervin membalikkan badannya. “Enggak enak ngomongin pekerjaan di tengah koridor. Bagimana kalau kita ngobrolnya di kafe depan sana?” Maura berjalan beberapa langkah. “Yaudah, ayukk ….” Baru saja Ervin ingin melangkahkan kakinya memijak anak tangga pertama, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat Maura kembali bersuara. Kaki Ervin mengambang di atas namun beberapa detik kemudian posisi kakinya kembali seperti semula. “Kenapa dari tangga? Dari lift aja, lebih cepat lagi.” “Erm … dari tangga aja, kalau dari lift nunggu pintunya terbuka lama.” Ervin menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ting … “Itu udah terbuka, yuk ….” Maura refleks menarik lengan Ervin menuju pintu lift. Jangan kayak pengecut Vin, lo ngerusak perawan anak orang berani, ini cuma naik lift aja lo takut? Pliiss … Vin, gengsi! Ada cewek di sebelah lo! Dengan langkah sedikit ragu, Ervin melangkah masuk ke dalam lift. Kakinya mulai bergetar saat pintu lift tertutup. Kakinya semakin bergetar saat lift mulai bekerja. Wajah Ervin langsung pucat pasih. Ia tidak mungkin merengek seperti anak kecil di hadapan seorang wanita—apalagi wanita itu adalah rekan kerjanya sendiri, cantik pula. Maura yang sadar dengan tingkah Ervin yang aneh langsung tersenyum lalu mencoba membuka suara, “anda kenapa, Pak?” “Nope!” Ting … Saat pintu lift sudah terbuka tetapi Ervin masih saja berdiam diri di dalam lift. Dia masih shock, bahkan kakinya juga masih sedikit gemetar. Detik kemudian jantung Ervin serasa ingin lompat dari sarangnya, ini benar-benar untuk terakhir kalinya ia akan naik lift. Namun tiba-tiba Ervin mencengkram pergelangan tangan Maura begitu kencang, hingga membuat denyut nadi Maura seperti berhenti bekerja. Cengkraman Ervin layaknya seekor singa yang menahan pembrontakan dari mangsanya. Maura menautkan dahinya lalu mencoba untuk kembali bertanya kepada Ervin, “anda kenapa, Pak? Kita sudah sampai di bawah.” “Gu-gue tra-trauma naik lift.” Maura kembali tersenyum saat mengetahui fakta lain dari Ervin. Ternyata dia selain takut landing, tapi juga takut naik lift. Lucu aja, masa cowok macho takutnya sama yang begituan. Dengan sekuat tenaga, Maura mencoba melepaskan cengkraman Ervin dari pergelangan tangannya, setelah berhasil terlepas, Maura segera menarik lengan Ervin secara paksa untuk keluar dari kabin lift. Sesampainya di depan pintu lift—lantai satu—Maura melihat pergelangan tangannya, yang kini kembali bercak merah akibat cengkraman Ervin yang begitu kencang. Ingat, sudah dua kali Ervin melakukan hal ini kepada Maura. Maura menatap Ervin dengan sinis tetapi malah dibalas dengan senyuman. Iya, senyuman khas milik Ervin. Lesung pipi dan gigi gingsul—senyuman yang mampu memikat perhatian para setiap wanita. “Anda tidak ingin meminta maaf?” tanya Maura seraya menghalang jalan Ervin dengan berdiri di hadapannya. “Jangan sok formal gitu deh … tadi aja pakai lo-gue sekarang pake saya-anda, ketuaan untuk umur lo saat ini!” cetus Ervin lalu menyingkirkan tubuh Maura dari hadapannya, lalu ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tidak terima sampai di sini aja, Maura kembali menghalangi jalan Ervin. Bahkan kini jarak mereka hanya sepuluh sentimeter saja. “Lo enggak mau minta maaf? Setelah kemarin lo buat tangan gue lecet terus pergi gitu aja tanpa minta maaf, dan sekarang juga?!” “Kalo lecet, bawa ke bengkel ketok magic aja! Ribet banget sih hidup lo!” untuk kedua kalinya, Ervin menyingkirkan tubuh Maura dari hadapannya, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju petugas Valey. Lucu juga nih cewek, bisalah ya …. Sedangkan Maura, ia juga melakukan hal yang sama, ia hanya bisa diam dan pasrah, setelah itu mengikuti langkah Ervin dari arah belakang seraya mengumpat dalam hati. Ervin benar-benar b******k. Tidak punya hati. Dingin seperti es. * Setelah lelah berdebat dengan Ervin selama empat jam lamanya dan ujung-ujungnya hanya Ervin yang selalu menjadi pemenangnya. Jadi, Maura memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur—setidaknya Ervin tidak mengganggu pikirannya lagi. Malam ini saja, karena Ervin sudah cukup membuat emosinya meningkat hari ini. Drrrtt … Maura segera membuka matanya dan meraih ponselnya yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Ia raih benda canggih tersebut, lalu melihat siapa yang mengirimnya pesan malam-malam seperti ini. 08227337xxxx Besok malam dtang ke acara party gue yaa… besok acaranya di ballroom hotel yg mau direnov sma tim lo itu. Di Jaksel, datang ya… Ervin. Bola mata Maura langsung melebar dengan sempurna, ternyata sesuatu yang ia harapkan untuk tidak mengganggunya malam ini justru mengirimkannya pesan. Bahkan mereka saja belum saling bertukar nomor telepon. Lantas, dari mana Ervin bisa mendapatkan nomor teleponnya? Mba Alice? Tidak mungkin. w******p? Apalagi. Sosial media? Hohoho … kayaknya gue enggak sealay itu sampai-sampai promosi kontak. “Ervin? Dapat nomor gue dari mana?” Maura bangkit dari rebahannya, lalu menatap layar ponselnya beberapa saat. Balas, enggak, balas, enggak, balas, enggak. Setelah cukup lama ia bergelut dengan pikirannya sendiri, Maura memutuskan untuk tidak membalas pesan Ervin. “Gue besok datang aja deh, siapa tau ada banyak cogan, lumayan cuci mata.” Tidak beberapa lama, kembali masuk satu pesan baru pada ponsel milik Maura. 08227337xxxx Pakai gaun ya… dandan yang cantik! Gue nggak mau liat muka lo kayak nenek2 makan daun sirih, contohnya kayak tadi siang! Oya, acaranya jam 8 pm. “s**t … f**k! Pake ngatain segala lagi,” umpat Maura. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD