Aku tak menjawab pertanyaan Ummi. Kembali memejamkan mata sesaat. Senyum Rania terus membayang di pelupuk mata. Tatapan teduhnya, suara lembutnya, ketabahannya selalu membuatku tenang dan nyaman. Sungguh jika tak ada dia di sisi, aku mungkin sudah seperti dulu hampir kehilangan arah dan salah melangkah. Namun kini, aku benar-benar merasa bersalah karena sudah melibatkan dia dalam hidupku yang penuh kekurangan. Mungkinkah dia benar-benar bahagia bersamaku seperti yang selalu diucapkannya? Atau itu hanya secuil ungkapannya untuk sekadar menyenangkan hatiku saja? "Azka! Kamu dengar ummi, kan?" bentakan itu membuatku kembali terjaga. Kulihat ummi sudah berada beberapa langkah di depanku. Dia berdiri di sana dengan tatapan penuh tanya. Dari kejauhan kulihat abah setengah berlari mengha

