Dua Cincin

1284 Words

“Ayu … aku nggak bisa menahan diri,” bisiknya lirih. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Ayu dengan lembut. Ayu terdiam, tubuhnya menegang. Ada rasa bersalah menyusup, rasa yang ia sendiri tak pahami. Kenapa aku kaku begini? Bukankah seharusnya aku bahagia? Bukankah seharusnya aku menerima cintanya dengan ikhlas? Dia baik, dia tulus … kenapa hatiku terasa berat? Raka mendekat perlahan, wajahnya makin dekat. Hembusan napasnya terasa di bibir Ayu. Jangan … bisik batinnya, tapi bibirnya tak sanggup mengucapkan. Tangannya justru meremas sprei erat, seakan mencari pegangan. Bayangan wajah Jonathan sekilas muncul, tajam dan dingin—dan itu membuat dadanya makin sesak. Degup jantung Ayu makin kencang, seolah hendak meledak. Tidak … ini salah … batinnya berteriak. Tapi tubuhnya seakan membeku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD