Di ruang keluarga yang sepi, Jessica duduk lesu di sofa. Sorot matanya resah, jarinya mengetuk pelan cangkir teh di tangannya. Di hadapannya, Dewi—ibu Jonathan—menatap menantunya dengan penuh perhatian. “Tante …” suara Jessica bergetar, menahan emosi. “Aku merasa Jonathan … Aku yakin dia diam-diam terus menemui Ayu.” Dewi tidak langsung menjawab. Alisnya sedikit terangkat, tapi wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi terkejut. Ia hanya menghela napas panjang, seolah sudah menduga. “Hmm …” gumam Dewi sambil menyesap tehnya. “Kalau benar begitu, berarti firasatku selama ini tidak salah, Jonathan …menyukai gadis itu.” Jessica menatap mertuanya dengan panik. “Tante juga merasa begitu kan?” Dewi menaruh cangkirnya perlahan. “Aku harap dia tidak benar-benar menyukai Ayu, bisa jadi dia

