Malam itu butik sudah sepi, lampu kamar kecil di lantai atas menyala temaram, menyoroti Ayu yang duduk di tepi ranjang lipatnya. Ponsel pemberian Jonathan tergenggam erat di tangan, layar gelap tapi bayangan foto itu masih membekas jelas di benaknya. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya. Isakannya tertahan, seolah ia berusaha tidak mengeluarkan suara, tapi dadanya bergetar hebat. “Kenapa … kenapa jadi begini …” bisiknya lirih, tercekik oleh tangis. Ayu menggenggam ponsel itu semakin erat, lalu mendekapkannya ke d**a, seolah ingin menghancurkannya tapi tak sanggup. Rasa takut, malu, dan marah bercampur jadi satu, membuat tubuhnya semakin lemah. Tanpa sadar, Ayu terlelap dalam posisi setengah rebah. Ponsel di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan suara pelan, layar yang menyala

