Bab 5

726 Words
Setelah mandi, aku berdiri cukup lama di depan cermin. Rambutku masih sedikit basah, menetes pelan ke bahu. Entah kenapa, pagi ini terasa berbeda. Mungkin karena ini hari pertamaku benar-benar menjalani hidup sebagai istri Kenan… atau mungkin karena aku sendiri belum terbiasa dengan semua ini. Aku menarik napas pelan, lalu keluar kamar. Niatku sederhana—turun ke dapur, menyiapkan sarapan. Setidaknya itu yang biasa aku lakukan dulu. Sesederhana membuat telur dadar, roti panggang, atau kopi hangat. Hal kecil yang terasa… nyata. Namun, langkahku langsung terhenti begitu sampai di bawah. Aku membeku di anak tangga terakhir. Meja makan panjang itu sudah tertata rapi. Bukan hanya rapi… tapi sempurna. Berbagai hidangan tersusun indah—roti, telur, buah, bahkan makanan yang terlihat seperti menu hotel bintang lima. Dan yang lebih membuatku canggung, beberapa pelayan berdiri di sana, seolah menunggu perintah. Aku menelan ludah. "Selamat pagi, Nona Zea." Sontak semua orang menunduk hormat. Aku refleks mundur sedikit, jantungku berdegup aneh. "A-aku… cuma mau bikin sarapan," ucapku pelan, hampir tidak terdengar. Salah satu dari mereka tersenyum sopan. "Semua sudah kami siapkan, Nona. Silakan duduk." Aku menatap meja itu lagi. Lalu ke mereka. Lalu ke tanganku sendiri. Kenapa rasanya… aneh? Aku berjalan pelan menuju kursi, duduk dengan kaku. Rasanya seperti bukan aku yang ada di sini. Seperti aku hanya tamu di kehidupan orang lain. Baru saja aku ingin menyentuh sendok, suara langkah kaki terdengar. Kenan. Aku menoleh. Dia sudah rapi, dengan kemeja yang membuatnya terlihat… terlalu sempurna untuk pagi hari. "Udah bangun?" tanyanya santai sambil menarik kursi di depanku. Aku mengangguk pelan. "Iya…" Dia melirik meja, lalu kembali padaku. "Kenapa? Gak ada yang cocok?" Aku menggeleng cepat. "Bukan… ini terlalu banyak." Kenan tersenyum tipis, seolah itu hal biasa. "Kamu harus mulai terbiasa." Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku terasa sedikit sesak. Terbiasa? Apa aku bisa? Aku menunduk, memainkan ujung sendok. "Aku cuma mau masak sendiri tadi…" Kenan berhenti sejenak. Tatapannya berubah, sedikit lebih dalam. "Kamu gak perlu capek-capek. Di sini semua ada yang urus." Aku mengangkat kepala, menatapnya. "Tapi aku mau." Hening. Untuk pertama kalinya, suasana terasa berbeda. Bukan canggung… tapi seperti ada sesuatu yang tidak sama antara dunia kami. Kenan menyandarkan punggungnya, menatapku beberapa detik lebih lama. "Kalau itu yang kamu mau… nanti bilang aja ke mereka." Aku sedikit terkejut. "Beneran?" Dia mengangguk pelan. "Asal kamu gak maksa diri." Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat tipis. Kecil, tapi tulus. Mungkin… aku belum sepenuhnya nyaman di sini. Tapi setidaknya, aku masih bisa jadi diriku sendiri. Dan mungkin… perlahan, tempat ini juga bisa terasa seperti rumah. Aku dan Kenan duduk berhadapan di meja makan yang terlalu panjang untuk hanya kami berdua. Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar pelan, mengisi keheningan yang entah kenapa terasa canggung. Aku beberapa kali melirik ke arahnya. Kenan terlihat santai, fokus dengan sarapannya. Sementara aku… sibuk mengumpulkan keberanian. Aku menarik napas pelan. "Ken…" panggilku hati-hati. Dia mengangkat wajahnya, menatapku sekilas. "Hm?" Aku menelan ludah. "Boleh nggak… aku tetap bekerja?" Sendok di tangannya berhenti. Hening. Detik itu terasa lebih lama dari seharusnya. "Tidak perlu," jawabnya singkat. "Kamu duduk diam di rumah." jawaban itu langsung membuat dadaku terasa berat. "Tapi Ken…" suaraku mengecil, "aku nggak mau cuma di rumah." Aku menatapnya, mencoba membuatnya mengerti. Aku bukan tipe orang yang bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Kenan menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya. "Udah aku siapkan butik mewah untuk kamu, Zea." Aku langsung terdiam. "A-apa?" suaraku refleks meninggi, kaget. Jantungku berdegup cepat. Butik? Untuk aku? Kenan menatapku datar, seolah itu hal biasa. "Kamu pikir aku nggak tahu kamu suka desain?" Aku benar-benar kehilangan kata-kata. Tanganku perlahan mengepal di atas meja. Kenapa dia bisa tahu? Mimpi yang selama ini cuma berani aku simpan sendiri… punya butik, punya tempat untuk semua desainku, semua ide yang bahkan belum sempat aku wujudkan. Tanpa sadar, mataku sedikit berkaca-kaca. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Ken… itu terlalu besar," ucapku pelan. "Aku belum siap." Kenan menggeleng. "Kamu bakal siap." Nada suaranya yakin. Terlalu yakin. Aku menatapnya lagi. "Kenapa kamu lakukan ini?" tanyaku lirih. Kali ini dia tidak langsung menjawab. Tatapannya menahan milikku beberapa detik, sebelum akhirnya ia berkata pelan— "Karena aku mau kamu tetap jadi diri kamu." Deg. Jantungku seperti berhenti sesaat. Semua kata-kata yang tadi ingin aku ucapkan… hilang begitu saja. Aku tersenyum kecil, walau masih terasa tidak percaya. Mungkin hidupku berubah terlalu cepat. Dari seseorang yang harus berjuang sendiri… menjadi seseorang yang mimpinya diwujudkan tanpa diminta. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD