Setelah Kenan berangkat kerja, rumah yang begitu besar itu terasa aneh bagiku. Sunyi, terlalu rapi, dan… bukan seperti rumah yang biasanya kutinggali.
Aku berdiri di ruang tengah, memandangi sekeliling. Semua sudah bersih, bahkan sebelum aku sempat melakukan apa pun.
Lima orang asisten rumah tangga berlalu-lalang dengan cekatan, membuatku merasa… tidak dibutuhkan.
Aku menghela napas panjang.
“Terus aku harus ngapain…?” gumamku pelan.
Tiba-tiba salah satu ART mendekat dengan sopan.
“Non Zea, kata Tuan Kenan Anda harus ke salon.”
Aku langsung menoleh cepat.
“Salon?” ulangku kaget.
"Iya, Non.”
Aku meneguk ludah. Jujur saja, kata “salon” terdengar asing bagiku.
Selama ini, kalau rambutku panjang atau mulai bercabang, Arumi yang selalu merapikannya. Itu pun cuma potong seadanya di kamar, tanpa ribet.
Aku jadi sedikit gugup.
“Apa… harus sekarang?” tanyaku ragu.
"iya, mobil sudah disiapkan, Non.”
Aku hanya bisa diam beberapa detik. Dalam hati, aku bertanya-tanya… Kenan ini sebenarnya mau mengubahku jadi apa?
Tak lama kemudian, aku sudah duduk di dalam mobil mewah milik Kenan.
Tanganku menggenggam tas kecilku erat, seperti orang yang akan menghadapi sesuatu yang besar.
Sesampainya di salon, mataku langsung membulat.
Tempatnya begitu elegan—dengan kaca besar, lampu terang, dan aroma wangi yang asing.
Aku melangkah pelan, hampir takut salah pijak.
"Selamat datang, Kak,” sapa salah satu pegawai dengan ramah.
Aku hanya tersenyum kaku.
“I-iya…”
Belum sempat aku mengatakan apa-apa, pegawai itu sudah seperti tahu semuanya.
“Kak Zea ya? Sudah di-booking sama Tuan Kenan.”
aku makin terdiam.
"Silakan duduk, Kak. Kita mulai dari hair treatment dulu ya.”
Aku duduk dengan canggung di kursi besar menghadap cermin. Saat melihat pantulan diriku sendiri, aku jadi sadar… mungkin memang aku terlihat sangat sederhana di dunia Kenan.
Rambutku yang biasa saja, wajah tanpa perawatan khusus, dan gaya yang jauh dari kata ‘mewah’.
"Relaks saja ya, Kak,” ujar pegawai itu sambil mulai menyentuh rambutku.
Aku mengangguk pelan.
Air hangat mulai menyentuh kulit kepalaku. Aneh… tapi nyaman. Jemari mereka begitu terlatih, membuatku tanpa sadar memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan diperlakukan seperti ini.
Perlahan, rasa gugupku berubah jadi tenang.
Mungkin… ini tidak seburuk yang kubayangkan.
Di dalam hati, aku tersenyum kecil.
“Kenan… kamu sebenarnya lagi nyiapin aku jadi apa sih…” gumamku pelan, hampir seperti bisikan.
Setelah selesai perawatan rambut dan kuku, aku pikir semuanya sudah cukup. Jujur saja, aku sudah merasa sangat “berbeda” dari diriku yang biasanya.
rambutku terasa lebih halus, kuku-kukuku rapi dan mengilap—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlalu kupikirkan.
Aku baru saja berdiri dari kursi ketika Entin, salah satu ART Kenan, kembali mendekat.
"Non Zea, kita lanjut ke klinik kecantikan ya,” ucapnya lembut.
Langkahku langsung terhenti.
“Klinik?” Aku menatapnya kaget. “Aduh Entin, gak usah… aku gak pernah masuk ke dalam klinik seperti itu.”
Aku menggeleng pelan, merasa tidak nyaman hanya dengan membayangkannya.
Entin terlihat ragu sesaat, tapi kemudian ia menunduk sedikit.
“Non… nanti saya bisa dipecat Tuan Kenan kalau Non Zea gak nurut.”
Aku langsung menoleh cepat.
“Pecat?” ulangku kaget.
"Iya, Non,” jawabnya pelan. “Tuan Kenan itu sangat tegas… dingin. Kalau sudah kasih perintah, harus dilaksanakan.”
Aku terdiam.
Ada rasa tidak enak yang tiba-tiba muncul di dadaku.
“Tapi…” Entin kembali bicara, kali ini dengan nada sedikit heran. “Aneh juga, Non. Kalau sama Non Zea, Tuan Kenan sangat lembut. Saya belum pernah lihat beliau selembut itu ke siapa pun.”
aku terpaku.
Ucapan itu membuat pikiranku berputar.
Kenan… lembut?
Aku teringat caranya berbicara padaku, cara dia menatap, bahkan cara dia mengatur semuanya tanpa pernah benar-benar memaksaku secara langsung… tapi tetap membuatku tidak punya pilihan.
Aneh.
Aku menghela napas panjang, lalu menatap Entin.
“Ya sudah… kita ke sana,” ucapku pelan.
Wajah Entin langsung terlihat lega.
“Baik, Non.”
Tak lama kemudian, aku kembali duduk di dalam mobil. Kali ini perasaanku jauh lebih campur aduk.
Sesampainya di klinik kecantikan, suasananya bahkan lebih mewah dari salon tadi. Dinding putih bersih, aroma yang menenangkan, dan orang-orang dengan penampilan yang begitu… sempurna.
Aku langsung merasa kecil.
Langkahku melambat.
“Non…” Entin menatapku seakan memberi semangat.
Aku menelan ludah, lalu mencoba berjalan masuk.
“Selamat datang, Kak Zea,” sapa resepsionis dengan ramah.
Lagi-lagi… namaku sudah dikenal.
“Silakan, semuanya sudah dijadwalkan oleh Tuan Kenan.”
Aku hanya bisa mengangguk kaku.
Di dalam ruangan perawatan, aku duduk di ranjang kecil dengan jantung berdebar. Tanganku saling menggenggam, dingin.
“Tenang ya, Kak. Kita cuma perawatan ringan kok,” ujar salah satu terapis.
Aku mengangguk pelan, meski sebenarnya masih gugup.
Saat wajahku mulai disentuh dengan lembut, saat perawatan itu dimulai, perlahan aku mencoba memejamkan mata.
Mungkin… ini memang dunia Kenan.
Dan tanpa kusadari, aku sedang ditarik masuk ke dalamnya.
Di sela-sela pikiranku, satu pertanyaan terus terngiang—
Kenapa Kenan melakukan semua ini untukku?
Bukan hanya mengubah penampilanku… tapi juga seolah ingin mengubah seluruh hidupku
****