Selesai perawatan, aku masih merasa sedikit canggung dengan semua yang baru saja terjadi. Wajahku terasa lebih segar, rambutku lebih rapi, bahkan kukuku terlihat begitu cantik. Tapi tetap saja… rasanya seperti bukan aku.
Belum sempat aku benar-benar menikmati perasaan itu, Entin sudah kembali menarik tanganku dengan semangat.
“Non Zea, kita ke mall ya. Ada beberapa hal yang harus dibeli,” ujarnya ringan, seolah ini hal biasa.
"Mall?” ulangku pelan.
Aku bahkan belum pernah masuk ke mall sebesar itu sebelumnya.
Begitu sampai, mataku langsung disambut lampu-lampu terang dan deretan toko mewah. Lantai mengkilap, aroma parfum mahal, dan orang-orang berpakaian rapi membuatku semakin merasa kecil.
Aku menggenggam ujung tas dengan gugup.
“Non Zea, apa saja yang kamu butuhkan, ambil saja,” kata Entin sambil tersenyum.
Aku langsung menoleh cepat.
“Entin, udahlah… ini terlalu berlebihan,” seruku pelan, hampir seperti memohon.
Belum sempat Entin menjawab—
“Terlalu berlebihan, ya?”
Suara itu.
Dalam sekejap aku membeku.
Perlahan aku menoleh ke belakang… dan benar saja.
Kenan berdiri di sana.
Tegap, rapi, dan seperti biasa… dingin. Tapi entah kenapa, kehadirannya selalu terasa kuat, seolah seluruh ruangan ikut diam.
“Ti-tidak Zea,” jawabnya tenang, membetulkan ucapanku.
Aku menelan ludah.
“Kamu… dari kapan di sini?”
"Dari saat kamu mulai menolak,” jawabnya singkat.
Astaga.
Berarti dia mendengar semuanya.
Aku langsung menunduk, merasa salah.
“Ken, aku cuma—”
"kamu istriku,” potongnya tegas.
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
"Apa yang kamu pakai, kamu gunakan, itu mencerminkan aku,” lanjutnya sambil melangkah mendekat.
Aku bisa mencium aroma parfumnya sekarang. Dekat sekali.
“Tapi aku gak terbiasa seperti ini…” suaraku melemah.
Kenan terdiam sejenak, menatapku dalam.
Untuk pertama kalinya… tatapannya tidak sepenuhnya dingin.
“Aku juga tidak terbiasa… punya seseorang yang harus aku perhatikan,” ucapnya pelan.
Aku tertegun.
Kalimat itu sederhana… tapi entah kenapa membuat dadaku terasa hangat.
“Tapi sekarang aku punya,” lanjutnya.
Hening.
Entin yang dari tadi berdiri di samping langsung tersenyum kecil, seperti puas melihat situasi ini.
Kenan lalu mengalihkan pandangannya ke Entin.
"Bantu dia pilihkan yang terbaik.”
"Baik, Tuan,” jawab Entin cepat.
Kenan kembali menatapku.
“Dan kamu—” katanya.
Aku refleks menegang.
“Jangan menolak lagi.”
Nada suaranya tetap tegas… tapi kali ini tidak terasa menekan.
lebih seperti… menjaga.
Aku menghela napas pelan, lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Iya…”
Untuk pertama kalinya… aku tidak benar-benar merasa keberatan.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berdiri di depan cermin ruang ganti, mengenakan dress yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Cantik.
Terlalu cantik… untuk seseorang sepertiku.
Aku menatap bayanganku sendiri lama.
“Non Zea?” panggil Entin dari luar.
“Iya…” jawabku pelan.
Aku membuka tirai.
Begitu aku keluar—
Langkahku langsung terhenti.
Kenan berdiri di sana.
Menatapku.
Dan kali ini… dia tidak berkata apa-apa.
Hanya diam.
Matanya menelusuri dari ujung kepala sampai kaki, membuatku salah tingkah.
"A-aneh ya?” tanyaku gugup.
Detik berikutnya—
“Cantik.”
Satu kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Dan entah kenapa…
pipiku langsung terasa panas.
Aku buru-buru menunduk, tidak berani menatapnya lagi.
Kenan tersenyum tipis, matanya masih menatapku penuh arti.
“Aku tak salah pilih istri,” serunya pelan, tapi cukup membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Aku langsung memalingkan wajah, menahan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
“Kenan, apaan sih…” gumamku, setengah malu, setengah kesal.
Dia justru terlihat santai, seolah ucapannya tadi bukan sesuatu yang besar.
“Ayo, kita lanjutkan lagi. Beli pakaian kamu,” lanjutnya sambil berbalik.
“Semua yang dulu kamu pakai… berikan saja ke panti.”
Langkahku langsung terhenti.
Aku menatap punggungnya dengan kaget.
“Tapi Ken… ini terlalu mahal. Bahkan cuma untuk satu dress saja…” suaraku mengecil.
kenan berhenti berjalan.
Perlahan dia menoleh ke arahku. Tatapannya tidak dingin seperti biasanya—lebih tenang, tapi tetap tegas.
“Zea,” panggilnya.
Aku refleks menatapnya.
“Kamu masih menganggap dirimu yang dulu,” ucapnya.
Aku terdiam.
“Padahal sekarang… kamu sudah punya tempat yang berbeda.”
Aku menggigit bibir pelan. Kata-katanya tidak sepenuhnya salah… tapi tetap saja sulit untukku menerima semua ini begitu saja.
"Aku gak mau terlihat berlebihan, Ken…” bisikku jujur.
Kenan menghela napas pendek, lalu melangkah mendekat. Kali ini jaraknya benar-benar dekat, membuatku sedikit mundur tanpa sadar.
"Berlebihan menurut kamu,” katanya pelan,
"tapi itu biasa di duniaku.”
Aku terdiam lagi.
“Dan sekarang… itu juga jadi duniamu.”
Deg.
Aku menunduk.
Kenan mengangkat daguku perlahan dengan jarinya, memaksaku menatapnya.
“Dengar,” ucapnya lebih lembut,
“aku gak sedang memaksamu berubah jadi orang lain.”
tatapannya dalam… tidak bisa aku hindari.
“Aku cuma ingin kamu mendapatkan yang seharusnya kamu dapatkan.”
Hening.
Untuk beberapa detik, aku hanya bisa menatapnya tanpa kata.
Entah kenapa… ada sesuatu dalam nada suaranya yang terasa tulus.
“Tapi… aku masih Zea yang sama,” kataku lirih.
Kenan tersenyum kecil.
“Dan aku suka Zea yang itu.”
Jantungku langsung berdebar tidak karuan.
Dia lalu menurunkan tangannya, berbalik santai seolah pembicaraan tadi bukan sesuatu yang besar.
"Sekarang,” katanya,
“pilih.”
Aku menghela napas panjang… lalu tanpa sadar, sudut bibirku ikut terangkat sedikit.
“Iya, Tuan Kenan…” jawabku setengah bercanda.
Kenan berhenti sebentar, lalu melirik ke belakang.
“Jangan panggil aku ‘tuan’ di sini.”
“Terus panggil apa?” tanyaku refleks.
Dia tersenyum tipis.
“Panggil yang lebih pantas.”
Aku mengerjap bingung.
“Seperti?”
Kenan mendekat sedikit, suaranya merendah di dekat telingaku—
“Suami.”
Deg.
Wajahku langsung memanas.
“Kenan!” seruku spontan, benar-benar tidak siap.
Di samping, Entin langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
Sementara Kenan… hanya tersenyum puas, lalu berjalan pergi begitu saja.
****