Aku membereskan tempat memasak dengan cepat, tanganku masih basah oleh air cucian dan sisa bumbu yang menempel di sela-sela jari. Dapur itu belum benar-benar rapi, tapi suaraku sudah dipanggil lagi bahkan sebelum semuanya selesai. "Alea!!, buatkan minum sepuluh orang!" suara nyaring itu menggema dari arah ruang tamu. Aku menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri yang mulai lelah. "Iya, Kak Adel," seruku, berusaha terdengar patuh meski d**a terasa sesak. Tanpa membuang waktu, aku segera mengambil gelas-gelas dari rak. Satu, dua, tiga… sampai sepuluh. Jemariku bergerak cepat, sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Air panas kutuang, gula kuaduk, kopi dan teh kusiapkan sesuai perkiraan selera mereka—meskipun tak pernah ada yang benar-benar menghar

