Bab 10

1405 Words
"Oo, istri Kenan!!" Aku tersentak. Tubuhku terdorong ke belakang saat kakaknya mendorong bahuku tanpa peringatan. Hampir saja aku terjatuh jika tanganku tidak sigap menahan meja di samping. jantungku berdegup kencang. "Astaghfirullah… mah," ucapku lirih, refleks. Meski hatiku bergetar, aku tetap mencoba bersikap sopan. Namun yang kudapat hanya tatapan semakin tajam. "Cih! Jangan panggil aku mamah!" bentaknya, suaranya penuh hinaan. "Aku tidak sudi punya menantu yang tidak selevel dengan anakku!" Kata-kata itu… seperti pisau yang langsung menusuk dadaku. Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Kakaknya terkekeh pelan, jelas menikmati situasi ini. "Lihat, Mah… perempuan seperti ini yang dipilih Kenan? Dari mana dia? Pasti cuma numpang hidup, ya?tanganku mengepal di sisi tubuh. Harga diriku terasa diinjak-injak. Namun aku menahan diri. Aku tidak boleh menangis di depan mereka. "Aku… tetap istri Kenan," ucapku akhirnya, pelan namun tegas. Meski suaraku sedikit bergetar, aku berusaha berdiri tegak. Tatapan mereka berubah. Bukan melembut… justru semakin tajam. "Berani sekali kamu menjawab!" bentak Mamah Kenan sambil melangkah mendekat. "Jangan kira hanya karena kamu sudah menikah dengannya, kamu bisa langsung diakui di rumah ini!" Aku mundur satu langkah tanpa sadar. "Aku tidak peduli bagaimana caramu mendapatkan Kenan," lanjutnya dingin, "tapi selama aku masih hidup, kamu tidak akan pernah aku anggap sebagai menantu." Sunyi. Kalimat itu menggantung di udara, berat… menyakitkan. Dadaku terasa sesak. Namun kali ini aku tidak mundur lagi. Aku mengangkat wajahku, menatap mereka meski rasa takut masih menggerogoti. "Kalau begitu… izinkan saya membuktikan," ucapku pelan. kakaknya langsung tertawa sinis. "Membuktikan? Dengan apa? Kamu bahkan tidak pantas berdiri di rumah ini!" Aku menarik napas dalam. "Mungkin sekarang saya memang tidak selevel," kataku jujur, "tapi bukan berarti saya akan selamanya seperti ini." Mamah Kenan menatapku lama, seolah menilai… lalu mencibir. "Kita lihat saja," katanya dingin. "Kalau kamu memang istri Kenan, sekarang kamu kerjakan semuanya!" Sentakan itu membuatku kembali tersadar dari lamunanku. Suara Mamah Kenan—tidak, wanita itu—terdengar tegas, penuh perintah, tanpa sedikit pun memberi ruang untuk menolak. "Tapi mah…" ucapku ragu. "Panggil aku nyonya!" potongnya tajam, membuatku langsung terdiam. Aku menunduk sejenak, menahan rasa sesak di d**a. "Baik… nyonya," ucapku akhirnya, meski terasa berat di lidah. "Tapi saya harus ke butik." "Butik?" Suara tawa langsung pecah dari kakak Kenan. Tawanya nyaring, penuh ejekan, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat lucu. "Hahaha… butik?" ulangnya sambil menatapku dari ujung kepala hingga kaki. "Butik dari kakak aku saja kau bangga!" Kalimat itu seperti tamparan. Aku menggenggam ujung bajuku, menahan emosi yang mulai merambat naik. "Itu bukan—" aku mencoba menjelaskan, tapi lagi-lagi dipotong. "Sudah!" bentak nyonya Kenan. "Aku tidak peduli kamu punya butik atau apa pun itu!" ia melangkah mendekat, menatapku dengan dingin. "Selama kamu di rumah ini, kamu harus tahu posisi kamu." Deg. Kalimat itu membuat napasku terasa berat. "Kamu bukan siapa-siapa di sini," lanjutnya tanpa belas kasihan. "Kalau kamu mau dianggap, mulai dari bawah. Kerjakan semua pekerjaan rumah." Aku terdiam. Semua pekerjaan…? Tatapanku tanpa sadar beralih ke sekeliling rumah besar itu. Bahkan untuk berjalan dari ujung ke ujung saja sudah terasa melelahkan, apalagi mengurus semuanya sendiri. "Tapi… biasanya ada ART—" "Aku sudah menyuruh mereka libur," potongnya santai, seolah itu hal biasa. Aku menatapnya, tak percaya. "Kenapa?" tanyaku lirih. Akhirnya, senyum tipis terbit di bibirnya. Bukan senyum hangat… tapi senyum penuh arti. "Karena aku ingin melihat… seberapa pantas kamu jadi istri anakku." Sunyi kembali menyelimuti. Kakak Kenan menyandarkan tubuhnya dengan santai, masih dengan senyum meremehkan. "Ayo, tunjukkan kemampuanmu," katanya sinis. "Atau kamu cuma bisa numpang nama saja?" Dadaku naik turun menahan emosi. Harga diriku kembali diinjak. Namun kali ini… aku tidak ingin terlihat lemah. Aku mengangkat wajahku perlahan. "Baik, nyonya," ucapku pelan, tapi jelas. "Saya akan kerjakan." Mereka tampak sedikit terkejut, mungkin tidak menyangka aku akan menurut. "Tapi…" lanjutku, menatap lurus ke arah mereka, "saya tidak akan berhenti menjadi diri saya sendiri." Kakak Kenan mendecak kesal. "Sok kuat." "Sekarang kau harus masak banyak. Hari ini akan ada teman arisanku. Aku mau lihat seberapa pantas kau menjadi istri Kenan." perintah itu jatuh begitu saja, tanpa jeda, tanpa rasa peduli. Aku menatapnya, berusaha mencerna. "Tapi, nyonya… aku—" "Sssst!" Ia mengangkat tangannya, menghentikan ucapanku. "Tidak akan ada yang membantumu. Semua ART sudah cuti lima hari… selama Kenan di Singapura." Deg. Jadi ini sudah direncanakan. Bukan kebetulan. Aku benar-benar ditinggalkan sendirian… untuk diuji. tatapanku perlahan beralih ke dapur yang luas itu. Bersih, rapi, dan… terasa asing. Bahkan aku belum pernah benar-benar memasak dalam skala besar seperti ini. "Kenapa diam?" suara kakak Kenan menyela, santai tapi menusuk. "Takut gagal di depan tamu? Atau memang tidak bisa apa-apa?" Aku menggigit bibir bawahku. "Tamu Mama itu bukan orang sembarangan," lanjutnya lagi. "Jangan sampai kamu mempermalukan keluarga ini." Keluarga ini… Ironis. Aku bahkan belum dianggap bagian darinya. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Baik, nyonya," ucapku akhirnya, pelan namun jelas. "Saya akan masak." Alis wanita itu terangkat, seolah menantang. "Jangan hanya bicara. Aku ingin hasil." Aku mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik menuju dapur. Langkahku terasa berat, tapi aku tidak berhenti. Setiap langkah… seperti menguatkan tekadku. Sesampainya di dapur, aku langsung membuka lemari bahan makanan. Isinya lengkap—daging, sayuran, bumbu, semuanya tersedia. Tapi tetap saja… Ini bukan tentang bahan. Ini tentang pembuktian. Tanganku sedikit gemetar saat mulai mengambil bahan satu per satu. Kepalaku mulai berpikir cepat—menu apa yang harus aku buat? Berapa banyak orang yang akan datang? Apa mereka akan menyukai masakanku? Aku menutup mata sejenak. Aku memejamkan mata sejenak. Ingatan itu datang begitu saja… Dapur sederhana di panti. Asap tipis dari wajan besar. Suara riuh anak-anak yang tidak sabar menunggu makanan. Dan… Bu Panti yang berdiri di sampingku, tersenyum sambil mengajariku satu per satu. "Kalau masak untuk banyak orang, bukan cuma rasa yang penting, tapi juga hati," ucapnya dulu. Perlahan aku membuka mata. Ya… aku ingat. Bumbu, takaran, bahkan cara mengatur waktu memasak agar semuanya matang bersamaan. Semua masih tersimpan rapi di kepalaku. Aku menarik napas dalam, lalu mulai bergerak. Tanganku kini lebih mantap. Aku mengambil bahan yang ada di kulkas—ayam, daging, sayuran, dan berbagai bumbu dapur. Semuanya kupilih dengan cepat, tanpa ragu. Pisau di tanganku mulai bekerja. Memotong. Meracik. Menyiapkan. Dapur yang tadi terasa asing… kini perlahan terasa akrab. Wajan mulai panas. Minyak mendesis saat bumbu pertama masuk. Aroma harum langsung menyebar, memenuhi ruangan. Aku bergerak cepat, mengingat urutan yang pernah diajarkan. Satu menu selesai. Lalu menu lain menyusul. Tanganku bekerja tanpa henti, tapi kali ini… tidak lagi gemetar. Aku mulai menikmati setiap prosesnya. Seolah aku kembali menjadi diriku yang dulu. yang kuat. Yang terbiasa berjuang tanpa bergantung pada siapa pun. Keringat menetes di pelipis, tapi aku hanya mengusapnya sekilas. Tidak ada waktu untuk lelah. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum tamu datang. Beberapa saat kemudian, meja dapur mulai dipenuhi berbagai hidangan. Warna-warni makanan terlihat menggoda—dari yang berkuah hingga yang kering, semuanya tertata rapi. Aku menatap hasilnya. Dadaku naik turun. Lelah… tapi ada kepuasan yang perlahan tumbuh. Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar. Tamu-tamu itu… sudah datang. "Udah siap, kan?" seru Adelin dari ambang pintu dapur, suaranya terdengar tidak sabar. Aku menoleh, berusaha tetap tenang meski jantungku berdegup cepat. "Udah, Kak," jawabku pelan. ia melangkah masuk, matanya langsung menyapu seluruh hidangan yang tersaji di meja. Tatapannya tajam, seolah mencari celah untuk menjatuhkanku. "Coba aku cicipi dulu," katanya sambil mengambil sendok. "Kalau nggak enak, awas kamu." Ancaman itu diucapkan dengan santai, tapi cukup membuat perutku terasa melilit. "Iya, Kak…" seruku lirih. Aku berdiri diam, memperhatikan setiap gerakannya. Sendok itu masuk ke salah satu hidangan. Ia meniupnya sebentar, lalu memasukkannya ke mulut. Waktu terasa melambat. Aku menahan napas. Menunggu. Adelin mengunyah perlahan. Ekspresinya datar—terlalu datar hingga aku tidak bisa menebak apa pun. Deg. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Ia menelan makanannya, lalu menaruh sendok itu kembali ke meja dengan suara pelan.Aku menggenggam ujung bajuku. "Jadi…?" tanyaku hati-hati. Adelin menatapku. Lama. Lalu— "Cih." Satu suara itu langsung membuat dadaku jatuh. "Masih bisa dimakan," katanya akhirnya, dengan nada meremehkan. "Tapi jangan berharap aku akan memuji." Aku terdiam. Entah kenapa… ada sedikit lega yang menyusup di hatiku. Setidaknya… tidak gagal. "Tapi ingat," lanjutnya sambil menyilangkan tangan, "tamu Mama itu pilih-pilih. Jangan sampai kamu bikin malu." "Iya, Kak," jawabku pelan. ia berbalik, lalu melangkah keluar dari dapur tanpa berkata apa-apa lagi. Aku menghembuskan napas panjang yang sejak tadi kutahan. tubuhku terasa lemas seketika. Namun aku tidak boleh lengah. Aku segera merapikan hidangan, memastikan semuanya terlihat sempurna. Karena sebentar lagi— Penilaian yang sebenarnya akan dimulai. Dan kali ini… bukan hanya dari satu orang. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD