Bab 9

1607 Words
Hari ini sungguh terasa luar biasa. Aku berbaring di atas kasur empuk, selimut hangat menutupi setengah tubuhku. Di sampingku, Kenan duduk bersandar pada headboard, fokus menatap layar laptopnya. Cahaya dari layar itu memantul di wajahnya, membuat ekspresinya terlihat lebih serius dari biasanya. Aku menoleh pelan, memperhatikannya beberapa detik. "Ken…" "Iya," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku tersenyum tipis, meskipun dia tidak melihatnya. "Terima kasih banyak, ya." Kali ini jemarinya berhenti mengetik. Ia menoleh ke arahku, alisnya sedikit terangkat, seolah bertanya tanpa suara. "Iya, sama-sama," ucapnya akhirnya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. Hening sebentar menyelimuti kami. Hanya suara ketikan pelan yang kembali terdengar. "Oh iya," lanjutnya tiba-tiba, "besok aku ke Singapura. Lima hari." Aku sedikit terkejut, meski berusaha tetap terlihat biasa. "Urusan apa?" "Bisnis," jawabnya singkat. Lalu ia menatapku lebih dalam. "Apa kamu mau ikut?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Entah kenapa, kali ini aku tidak butuh waktu lama untuk menjawab. "Tidak." Kenan tidak langsung merespon. Ia hanya menatapku beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahku. "Kenapa?" tanyanya akhirnya. Aku menghela napas pelan, lalu memalingkan wajahku ke langit-langit kamar. "Aku ingin di sini saja… Aku juga punya banyak hal yang ingin aku urus." Kenan menutup laptopnya perlahan, lalu berbaring di sampingku. Jarak kami kini begitu dekat, bahkan aku bisa merasakan hangat tubuhnya. "Seperti butik itu?" tanyanya. Aku mengangguk kecil. "Iya… aku ingin serius dengan itu." Ia tersenyum tipis. "Bagus." Satu kata, tapi cukup membuat hatiku terasa hangat. Tangannya tiba-tiba meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat. "Lima hari itu tidak lama," ucapnya pelan. Aku menoleh ke arahnya. "Tapi tetap saja… terasa lama." Kenan terkekeh kecil. "Kamu akan baik-baik saja." Aku diam. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang muncul—bukan takut, bukan juga sedih… hanya seperti ada sesuatu yang akan berubah. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan cahaya hangat yang membuat suasana terasa… berbeda. Kenan baru saja pulang lebih awal, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak membawa laptop atau pekerjaan. Hanya aku… dan dia. Aku duduk di tepi ranjang, sementara Kenan berdiri di dekat jendela. Tatapannya sempat keluar, lalu perlahan beralih padaku. Ada sesuatu di matanya—lebih dalam, lebih hangat… dan membuat jantungku berdegup tak beraturan. "Zea," panggilnya pelan. "Iya…" ia melangkah mendekat. Satu langkah… dua langkah… hingga akhirnya berdiri tepat di depanku. Tangannya terangkat, menyentuh pipiku dengan lembut. Refleks, aku menahan napas. "Kamu cantik," ucapnya lirih. Kalimat sederhana itu entah kenapa membuatku gugup luar biasa. Kenan tidak memberi waktu untuk berpikir. Ia menarikku perlahan hingga berdiri, lalu tanpa terburu-buru, memelukku. Hangat. Aman. Tapi juga… membuatku semakin sadar akan jarak yang hampir tidak ada di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Atau mungkin itu detak jantungku sendiri. "Ken…" suaraku hampir bergetar. Ia tidak menjawab. Hanya sedikit menjauh, menatapku, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Dan dalam hitungan detik… Bibir kami bertemu. Lembut. Hati-hati. Seolah ia masih memberi ruang jika aku ingin mundur. Namun aku tidak langsung menjauh. Aku membalasnya… pelan, ragu… tapi nyata. Tangan Kenan semakin erat di pinggangku. Suasana berubah menjadi lebih intens. Nafas kami mulai tidak beraturan, dan jarak itu semakin hilang. Ia mulai memperdalam ciumannya. Dan di saat itulah— Aku tersadar. Panik itu datang tiba-tiba. Bayangan, ketakutan, dan semua hal yang belum siap aku hadapi langsung memenuhi pikiranku. "Ken… tunggu…" Aku mendorongnya pelan. Kenan langsung berhenti. Tidak memaksa. Tidak melanjutkan. Ia menatapku, napasnya masih berat. "Kamu kenapa?" tanyanya pelan. Aku menunduk. Tanganku gemetar tanpa bisa dikendalikan. "Aku… aku takut…" Aku bahkan tidak berani menatapnya. "Takut apa?" suaranya lebih lembut sekarang. Aku menggeleng cepat. "Aku belum siap… untuk… sejauh itu." Kalimat itu terasa berat keluar dari bibirku. Beberapa detik terasa sangat lama. Aku pikir dia akan kecewa. Atau marah. Atau… menjauh. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenan menghela napas pelan, lalu tanpa berkata apa-apa, menarikku kembali ke dalam pelukannya. Kali ini berbeda. Tidak ada tekanan. Tidak ada keinginan yang memaksa. Hanya… pelukan yang menenangkan. "Zea," ucapnya pelan di atas kepalaku, "kita tidak harus terburu-buru." Aku terdiam. "Kalau kamu belum siap, kita berhenti di sini." Aku perlahan mengangkat wajahku, menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Beneran…?" ia mengangguk. "Iya." Tangannya mengusap rambutku dengan lembut. "Aku nggak mau kamu takut karena aku." Kalimat itu… Entah kenapa langsung membuat dadaku terasa sesak, tapi juga hangat di saat yang sama. Aku memeluknya lebih erat. "Maaf" "Jangan minta maaf," potongnya pelan. "Ini tentang kita… bukan soal buru-buru." --- Pagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan belum benar-benar membuka mata saat suara langkah kaki terdengar samar di dalam kamar. Cahaya matahari masih malu-malu masuk lewat celah tirai, tapi suasana sudah terasa berbeda. Sepi… tapi juga tergesa. Aku membuka mata perlahan. Dan di sana—Kenan sudah rapi dengan setelan kerjanya. Koper kecil terletak di dekat pintu, seolah menegaskan bahwa ia benar-benar akan pergi hari ini. Aku langsung bangun, sedikit panik. "Ken… aku belum sempat buat sarapan…" Suaraku terdengar pelan, penuh rasa bersalah. Kenan menoleh, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa." ia melangkah mendekat, berdiri di samping ranjang. "Aku pergi dulu, Zea. Jaga diri kamu selama aku pergi…" Aku menatapnya, masih dengan rasa bersalah yang belum hilang. "Ada Joni yang siap bantu kamu," lanjutnya. "Baik, Ken… kamu hati-hati di sana." "Tentu." Entah kenapa… rasanya ada yang mengganjal. Mungkin karena semalam. Mungkin karena aku merasa belum menjadi istri yang cukup baik. Sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi— Kenan mencondongkan tubuhnya. Dan… Ia mengecup keningku dengan lembut. Sangat singkat. Tapi cukup membuatku terdiam. *Jangan terlalu banyak mikir," ucapnya pelan. Aku menatapnya, sedikit terkejut. Seolah dia tahu isi kepalaku. "Aku pergi cuma lima hari." Aku mengangguk pelan. "Iya…" ia mengambil kopernya, lalu berjalan menuju pintu. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, seolah ragu sesaat. Namun akhirnya ia tetap melangkah keluar. Dan pintu itu tertutup. Pelan… tapi terasa sangat nyata. Aku menghela napas panjang, lalu menatap ke arah pintu yang tadi ditutupnya. "Lima hari ya, Ken…" Aku tersenyum kecil, meski hati terasa aneh. Aku turun dari kasur dengan langkah pelan. Kamar terasa begitu sunyi tanpa suara Kenan. Tidak ada lagi ketikan laptopnya, tidak ada napas beratnya di sampingku… hanya aku sendiri dengan pikiran yang masih berantakan sejak semalam. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa kosong yang tiba-tiba datang. Tanpa banyak berpikir, aku berjalan menuju kamar mandi. Air hangat langsung menyentuh kulitku saat shower dinyalakan. Aku memejamkan mata, membiarkan air itu mengalir, seolah ikut membawa pergi semua kegelisahan yang masih tersisa. Bayangan semalam kembali muncul. Tentang bagaimana aku hampir… tapi kemudian memilih mundur. Tentang bagaimana Kenan tidak memaksaku. Dan justru itu yang membuat hatiku terasa semakin berat. "Aku kenapa sih…" gumamku pelan. Aku memeluk tubuhku sendiri, berdiri di bawah guyuran air. Bukan karena tidak mau. Tapi… aku benar-benar belum siap. Beberapa menit kemudian, aku mematikan shower dan meraih handuk. Setelah selesai, aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri. Tok… tok… Suara ketukan pintu membuatku sedikit terkejut. "Nona, sudah ditunggu nyonya besar di bawah." Aku menoleh ke arah pintu, masih berdiri di dekat kamar mandi dengan tubuh yang belum sepenuhnya kering. "iya, sebentar… aku pakai handuk dulu!" seruku sedikit terburu. "Baik, nona." langkah kaki pelayan itu menjauh. Aku menghela napas pelan, lalu segera meraih handuk dan melilitkannya di tubuhku. Rambutku masih basah, meneteskan air ke bahu dan punggungku. "Kenapa pagi-pagi begini sudah dipanggil…" gumamku pelan. tanpa berlama-lama, aku kembali ke kamar, membuka lemari dan mengambil pakaian yang nyaman tapi tetap rapi. Tanganku bergerak cepat, tapi pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Nyonya besar… Aku segera menuruni anak tangga. Langkahku sempat terhenti saat melihat dua sosok perempuan duduk di ruang tamu. Tidak banyak orang. Hanya mereka berdua. tapi entah kenapa… suasananya justru terasa lebih menekan. Seorang perempuan paruh baya duduk dengan anggun, tatapannya langsung mengarah padaku—tajam, dingin, dan penuh penilaian. Di sampingnya, seorang perempuan muda yang wajahnya mirip kenan menyilangkan tangan, menatapku dari ujung kepala sampai kaki dengan jelas-jelas merendahkan. aku tidak perlu berpikir lama. Yang satu… mamahnya Devan. Yang satu lagi… pasti kakaknya. “Oo…” suara perempuan paruh baya itu akhirnya terdengar. “Jadi ini perempuan yang dinikahi kenan?” Dia tidak berdiri. Tidak menyambut. Bahkan tidak tersenyum. Hanya menatapku seolah aku sesuatu yang kotor. Aku menelan ludah. “Selamat siang…” ucapku pelan, mencoba tetap sopan. Namun belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, perempuan muda di sampingnya terkekeh pelan. “Serius, Ma?” katanya sinis. “Ini pilihan kenan? Selera dia turun jauh banget.” Aku terdiam. Kata-katanya langsung menusuk tanpa ampun. “Diam kamu,” ujar mamahnya, tapi bukan untuk membelaku. Nada suaranya justru terdengar sama dinginnya. lalu tatapannya kembali padaku. “Kamu…” katanya pelan, namun penuh tekanan. “Perempuan kismin yang berani-beraninya masuk ke keluarga kami.” tanganku mengepal tanpa sadar. Aku ingin membalas… tapi aku tahu posisiku. Aku menarik napas pelan. “Saya… istri Kenan,” jawabku, berusaha tetap tenang meski suaraku sedikit bergetar. Kakaknya langsung tertawa kecil, jelas mengejek. “Istri?” ulangnya. “Jangan bangga dulu. Status itu bisa hilang kapan aja.” Hatiku mencelos. Mamahnya berdiri perlahan. Langkahnya pelan tapi terasa seperti ancaman yang nyata saat dia mendekatiku. Dia berhenti tepat di depanku. Tatapannya lurus, tanpa sedikit pun rasa menerima. "Dengar baik-baik,” ucapnya dingin. “Kamu mungkin sudah menikah dengan kenan…” Dia mendekat sedikit, suaranya semakin rendah. “Tapi itu tidak berarti kami akan menerimamu.” Aku terdiam. Tidak ada satu pun kehangatan di rumah ini. Tidak ada senyuman. Tidak ada penerimaan. Hanya penolakan… yang bahkan tidak mereka sembunyikan. Kakaknya kembali bersuara dari belakang. “Kalau aku jadi kamu,” katanya santai tapi menusuk, “aku udah tahu diri dan pergi dari rumah ini.” Aku menutup mata sejenak. Menahan semuanya. Lalu perlahan aku membukanya kembali. “Aku tidak akan pergi,” ucapku pelan, tapi kali ini lebih tegas. “Karena aku di sini istri kenan.” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD