Prolog
Jingga mentari sore menerobos masuk melalui deretan kaca bening yang langsung menembus ke kelas 12A. Semilir angin di sore hari lumayan kencang, namun tak masuk ke dalam, karena tertahan dinding-dinding yang bergeming diam. Riuh terdengar suara siswa-siswi yang berbaur dengan candaan. Tak lupa pula ejekan mereka sertakan.
Semua murid kelas 3 SMAN Eurora, sudah tak sabar untuk menyambut hari kelulusan besok hari. Penantian yang menghabiskan waktu tiga tahun lamanya akan terbayar keesokan paginya hanya dengan mendengar kata 'lulus' saja. Senyum di bibir semua murid yang berada di kelas 12A itu terus saja mengembang, tak ada satupun murid yang memasang raut wajah datar.
Lelaki berwajah tampan dengan rambut hitam legam yang disugar ke atas itu terlihat sedang sibuk mondar-mandir mengecek barang-barang yang sudah selesai dikerjakan. Dengan teliti, manik hitam nan tajam itu mengukur setiap ukuran antara satu balon dengan balon lainnya. Bahkan, ia sempat memakai rumus IPA hanya untuk memastikan bahwa semua balonnya berukuran sama.
Acara kelulusan yang akan digelar hanya mengusung tema sederhana. Seperti acara pengambilan raport biasa, karena terkendala oleh virus Corona.
"Edward! Sini!" seorang gadis yang mengenakan rok span di atas lutut itu melambai-lambaikan tangannya.
Edward Eguardo. Lelaki pemilik manik hitam yang merasa terpanggil itu gegas menghampiri seorang gadis manis yang terus saja melambai kearahnya.
"Ih! Buruan!" rengek gadis mungil ber-hoodie abu-abu yang agak kebesaran itu.
Edward Eguardo-Edo berlari kecil menghampiri gadis yang sekarang sudah mengerucutkan bibir mungilnya.
"Kenapa? Ada yang rusak? apa ada yang sobek?" Edo melirik meja yang penuh dengan pernak-pernik hasil kerjaan gadis ber-hoodie abu itu dengan teliti.
"Ih! Edooo!" gadis itu mendengus sambil menghentakkan kaki di tempat dengan mimik muka kesal. Namun, terlihat menggemaskan.
"Kenapa cintaku...." Edo menangkupkan kedua tangannya pada pipi tembem gadis yang ia klaim sebagai adiknya.
"Jangan itu mulu yang diperhatiin!!"
"Terus mau kamu apa? Hm?"
Gadis mungil itu mendengus kesal, dadanya naik turun tak karuan. Bukan karena deg-degan, melainkan karena sikap acuh sang lelaki yang sekarang sedang menangkupkan kedua tangan pada pipi gembul nya.
Gadis itu menunjukkan jari telunjuknya yang sedikit berdarah."Jari aku ke tusuk jarum... Emut!" pinta gadis itu manja.
Edo terkekeh pelan, gadis cantik di depannya ini sungguh menggemaskan.
"Gak mau! Kamu pasti habis ngupil, kan?" goda Edo, ia mencolek hidung mancung milik sang gadis.
"Ih! Edward gak boleh gitu... Aku marah nih!" kedua alis gadis mungil itu terus saja bertaut dengan bibir yang mengerucut.
"Udah jangan cemberut mulu. Aku jadi kepengen karungin kamu."
Edo meraih telunjuk yang mengeluarkan setitik darah itu, lalu mengemutnya pelan.
"Edwald cocuit bingits! Kalungin acu cekalang, aku ikhlas." bicara gadis mungil itu dengan nada suara yang imut.
Edo melepaskan jari telunjuk yang sedang diemutnya. Ia beralih menatap manik teduh milik sang gadis.
"Kalo kamu aku karungin sekarang, siapa lagi yang mau bantu aku buat bikinin pernak-pernik ini coba? Kan kamu doang yang bisa."
"Iya deh iya. Sama Edward, apasi yang enggak?" dengan jahilnya, gadis itu tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
"Kamu cac-."
"Lastri!" panggilan salah satu siswa langsung memotong ucapan Edo yang belum terucap dengan sempurna.
"Kenapa si?! Gangguin orang yang lagi bercanda aja!" kesal gadis ber-hoodie abu yang merasa terpanggil itu.
Siswa laki-laki dengan tulisan ketua OSIS yang melingkar di lengan kanannya itu menghampiri-Lastri dan Edo.
"Tolong ambilin pipet di laboratorium yang biasa gue pake." titah Alvaro-Ketua OSIS SMAN Eurora.
"Kan banyak anak yang lagi nganggur! Kenapa harus si Witri, sih?!"
Anak-anak yang lain akan memanggil gadis ber-hoodie abu itu dengan nama Lastri. Berbeda dengan Edo, ia sudah memanggil gadis mungil itu dengan nama Witri di hari pertama mereka bertemu.
"Dia yang paling hapal sama pipet punya gue."
"Lo aja yang ngambil." balas Edo tak terima.
"Gue masih ada urusan di ruang OSIS," Alvaro meninggalkan ruang kelas 12A itu dengan acuh. Bahkan, ia sudah pergi sebelum Edo mengutarakan kembali suaranya.
"Alvaro anjing!" geram Edo.
Witri menepuk pundak Edo pelan." Gak usah dipikirin. Kak Alvaro emang kayak gitu orangnya."
"Lo yakin mau ngambil benda sialan itu sendirian?"
Witri mengangguk." Acu bukan anak kecil, acu bica cendili."
"Jangan bercanda!" kesal Edo. Meskipun laboratorium berada tak jauh dari kelasnya, entah kenapa ia merasa tak enak hati. Hatinya seolah tak tenang jika membiarkan Witri pergi sendiri.
"Aku beneran. Edward harus merhatiin setiap persiapan yang udah selesai, jangan bikin aku malu, okey?"
"Hm...."
"Jangan cemberut gitu, nanti Edward yang beneran aku karungin."
"Iya, ini enggak." Edo menerbitkan sebuah senyuman dengan sedikit paksaan.
"Tos dulu." Witri mengangkat tangannya yang sudah mengepal. Edo menyambutnya dengan senyum yang hambar.
"Babay, ba-by. Aku pergi dulu."
Gadis dengan tinggi 150cm itu mulai meninggalkan kelas 12A tempat Edo berada, tepatnya di lantai empat. Laboratorium juga berada di lantai yang sama, gadis itu hanya perlu berbelok sedikit saja untuk sampai pada tempat tujuannya.
"Tumben gak dikunci." gumam Witri.
Laboratorium biasanya hanya terbuka satu kali dalam seminggu, karena pelajaran sains memang hanya diadakan empat kali dalam sebulan. Seharusnya hari ini ruangan itu terkunci, karena pelajaran sains sudah terlewat pada hari Rabu kemarin. Sempat hinggap pikiran negatif di benak Witri, namun gadis itu segera menepisnya jauh.
Ctak
Lampu berwarna putih terang langsung menyinari seluruh ruangan, Witri memandang sekitar lalu mulai memasuki ruangan yang khas dengan bau zat kimia itu. Tak ada yang aneh, juga tak ada yang mencurigakan. Namun, hatinya lagi-lagi bimbang.
"Dimana?" mata lentiknya mulai menyusuri setiap meja yang ada, siapa tahu terselip di sana.
Lima belas menit berlalu, pipet itu belum kunjung ketemu. Padahal, gadis itu dengan telaten sudah menyusuri setiap meja, bahkan lantai yang ada, entah terselip di mana benda kecil yang sedang di carinya itu.
Mata lentiknya kini beralih menatap lemari kaca yang bertuliskan 'DANGER' di depannya. Matanya mulai menyusuri setiap botol yang tersusun rapi di dalam lemari kaca.
"Ah! Ketemu!" gadis itu menunjuk antusias salah satu botol bergambar pecah-pecah.
Gadis itu membuka lemari kaca yang lebih besar darinya dengan pelan. Sayangnya ia tak mengerti arti tulisan 'Danger' yang menutupi sebagian kaca di depannya itu.
"Ini cairan apa?" ia bermonolog kebingungan. Gadis itu ragu, antara mau mengambilnya atau tidak.
Dengan segenap keberanian yang ia punya, tangan mungil gadis itu terulur mengambil botol tak bernama juga tak berwarna itu.
BRAKK
Angin kencang yang berhembus langsung membanting pintu ruang laboratorium yang Witri buka lebar-lebar tadi. Gebrakan pintu yang langsung tertutup membuat gadis ber-hoodie abu itu terjengkit kaget, lantas dengan tak sengaja tangannya malah menjatuhkan sebuah botol berisikan cairan yang ia pegang.
________________
_________
Teriakan para siswi berhasil mengalihkan atensi Edo yang awalnya sibuk mengecek setiap persediaan yang sudah siap.
Derap langkah siswa-siswi yang berlarian semakin membuat ricuh suasana koridor yang awalnya tenang.
Tolong!
Ada kebakaran!
Edo melongok lalu memberhentikan salah seorang siswi berkacamata yang memang sedang berlari di depan kelasnya.
"Ada apa? Tumben rame banget?" Edo bertanya santai dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya.
"A-ada kebakaran." gadis itu tergagap.
Alis Edo bertaut. "Dimana?"
"L-laboratorium."
Edo membelalakkan matanya, tanpa bertanya lagi ia langsung berlari menuju ruangan yang tadi gadis mungilnya tuju.
Asap mengepul keluar dari dalam ruangan laboratorium yang pintunya tertutup rapat. Para anggota OSIS dengan sigap mengeksekusi satu-persatu murid yang sedang berada di lantai koridor itu.
Edo menerobos kerumunan sebagian siswa yang menghalangi jalannya.
"Alvaro!" teriak Edo.
"Kenapa ini?"
Alvaro dengan santainya malah mengedikkan bahu." Gue gak tau, tiba-tiba aja ada suara ledakan dari dalem disusul sama kepulan asap."
Bukan itu ekspresi dan jawaban yang Edo inginkan.
"Wi-witri mana? Witri?!" tanya Edo dengan perasaan yang sudah tercampur aduk. Hanya nama Witri yang saat ini terlintas di benaknya.
"Lastri? Gue gak tahu."
Buakk
Edo menghajar siswa laki-laki yang bergelar ketua OSIS itu hingga tersungkur ke belakang.
"Lo berani sama gua!" Alvaro berteriak, lelaki itu bangkit lalu mengelap lelehan darah di sudut bibirnya.
Edo melotot garang, ia mencengkram kasar kerah baju Alvaro.
"LO YANG NYURUH WITRI BUAT KE RUANG LABORATORIUM!!" bentak Edo murka. Giginya menggertak kuat hingga menonjolkan urat-urat di area rahang tegasnya.
"G-gue kira, Lastri gak jadi pergi." gugup Alvaro.
"ANJING LO!" Edo berlari menghampiri pintu laboratorium yang sudah mulai terbakar.
Alvaro mencekal tangan Edo." Jangan Do! Kalo di buka, ruangan itu bakalan meledak."
Edo tak perduli, ia menepis kasar tangan Alvaro.
"Kalo Lo gak mau! Mundur sana! Lo ketua OSIS paling goblok yang pernah gue tau. Lo cuman bisa nyuruh doang, tapi gak mau tanggung jawab."
"Awas aja kalo sampe Witri ada di dalem." Edo menekankan setiap ucapannya. Wajahnya terlihat datar juga tajam, membuat Alvaro yang hendak mencekal tangan Edo kembali, malah tak jadi. Nyalinnya langsung menciut saat melihat raut wajah Edo yang selama ini tak pernah dilihatnya. Alvaro memilih berlari meninggalkan Edo yang masih berdiri di ruang laboratorium.
"Lo gak ada di sana kan?" gumam Edo.
Bunyi sirine mobil pemadam kebakaran nyaring memasuki area halaman sekolah. Pasukan berbaju oranye dengan sigap langsung menarik selang untuk memadamkan api yang sedang berkobar. Namun, sepertinya kedatangan mereka kalah cepat dengan gerakan tangan Edo. Lelaki itu sudah duluan membuka ruangan yang sudah sepenuhnya terbakar.
Duarr
Blarr
Ledakan langsung terdengar bertepatan dengan terbukanya pintu ruang laboratorium, disusul suara api yang menghempaskan tubuh Edo ke belakang. Edo terpental menabrak dinding kokoh yang bergeming diam di belakangnya, namun ia segera bangkit meskipun bajunya sudah setengah terbakar.
Sayangnya, kali ini tuhan sedang tak berpihak pada Edo. Belum sempat laki-laki itu masuk ke dalam, kepalanya sudah dihantam duluan oleh runtuhan pintu yang sudah terbakar.
Edo terkapar, darah segar mengalir perlahan mengenai wajahnya. Ia masih bisa merasa ketika dirinya melayang di udara seperti ada orang yang sedang mengangkat tubuhnya. Dan setelahnya, ia tak ingat apa-apa.