Kayu Api

259 Words
Kayu Api "Jeni, coba pergi cari kayu api di kebun!" Perintah ibunya segera dilakukannya. Gadis sumbing itu segera pergi tanpa diminta dua kali. Sifatnya yang ceria dan rajin seperti ini sangat menyenangkan hati ibunya. "Jangan lupa bawa dengan kelapa juga." Jeni melangkah ke arah kebun orangtuanya yang berjarak dua kilometer dari rumahnya. Di ujung setapak ia bertemu dengan Dargo. Anak lelaki itu kembali mengejeknya seperti biasa. Ia menahan diri untuk tidak membalas gangguan dari Dargo tentang wajahnya yang jelek. Sejak ia berteman dengan Ryu, Dargo hanya mengganggunya saat dilihatnya Ryu tidak ada. Jeni hampir mencapai kebunnya ketika ia bertemu Ryu yang berjalan dari arah depan. Entah mengapa hatinya berbunga tiap kali melihat lelaki terbelakang itu sekarang. "Saya mau cari kayu api di kebun, kau mau ikut?" Ryu terlihat ragu-ragu. Jeni ingin agar Ryu ikut maka ia menarik tangan lelaki terbelakang itu agar mengikutinya. Keduanya merasa bahagia. Ryu mengikuti langkah gadis itu meski tertatih-tatih. Senyumnya terus tersungging di bibirnya. Sepasang mata seorang perempuan setengah baya memperhatikan mereka dengan takjub. Pertemanan antara pemuda terbelakang dan gadis kecil berbibir sumbing terasa begitu absurb baginya. Kilatan matanya yang licik menandakan bahwa pikirannya sedang merencanakan sesuatu yang busuk. Kedua makhluk yang sedang menikmati aura pertemanan itu benar-benar menikmati waktu mereka. Sama-sama memunguti kayu -kayu kering ditemani ayah Jeni yang turut pula membantu anaknya. Ayah Jeni tidak pernah merasa risau ketika Ryu berada di dekat Jeni. Ia tahu bahwa lelaki terbelakang itu memuja putri kecilnya dan bahwa perasaan lelaki itu kurang lebih sama dengan perasaannya sendiri. Mereka adalah para lelaki yang akan menjadi pelindung Jeni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD