Keluarga besar Jeni resah. Tatapan para ibu menyalahkan pasangan suami istri itu. "Harusnya yang seperti ini bisa dihindari jika saja mereka mau mendengarkan ketika aku mengatakan bahwa kedekatan Jeni dan Ryu berbahaya!" Wanita tua yang masih keluarga dekat ibu Jeni melotot pada perempuan yang telah melahirkan Jeni. Kain sarung bermotif kuda yang dikenakannya tampak masih baru. Ia sengaja mengenakannya dalam acara adat seperti ini.
"Bagaimana pun kita perlu menuntut pihak keluarga Ryu -demi pemulihan nama baik anak perempuan kita!" Seorang Bapak tua berjanggut putih berbicara sambil mengelus janggutnya. "Jika tidak, di masa depan, ia akan sulit mendapatkan suami!", tambah lelaki tua itu lagi. Kedua orang tua Jeni pun menjelaskan duduk perkaranya, bahwasanya Jeni belum dinodai oleh Ryu. Pemuda terbelakang itu hanya menggerayangi tubuh putri kecilnya mereka. Penjelasan keduanya disertai airmata yang berlinang. Penyesalan selalu datang terlambat.
Setelah pembicaraan yang cukup alot, akhirnya sidang keluarga memutuskan bahwa mereka harus menuntut satu ekor kerbau bertanduk panjang sebagai silih atas perbuatan Ryu yang tidak senonoh dan Ryu diminta untuk pergi meninggalkan kampung. Jeni yang mendengarkan keputusan tersebut, berlinang airmata -namun gadis itu tetap diam seribu bahasa selama sidang-sesuai nasihat sang ibu. Jeni tahu ia pun harus pergi meninggalkan kampung tersebut segera setelah kepergian Ryu. Adat di kampung harus ditegakkan sebaik-baiknya demi menjaga tatanan kehidupan masyarakat agar tetap tertib dan aman.
Gong dibunyikan keras-keras ketika rombongan keluarga Jeni berjalan beriringan menuju kediaman Ryu. Gadis kecil itu malu dengan perbuatannya. Hanya di antara ia dan Ryu- Jeni tahu bahwa dialah yang selalu menyulut api gairah pemuda terbelakang itu. Perasaan bersalah dan malu menderanya tanpa ampun. Inilah hari terakhirnya bertemu Ryu. Lelaki terbelakang itu menarik tali yang terikat pada leher kerbau dan menambatkannya di samping halaman rumah Jeni -setelah itu ia berjalan keluar kampung sejauh kaki membawanya. Jeni hanya mampu memandang punggungnya sambil terus menangisi sahabatnya -kekasih hatinya-berdoa agar Ryu selalu dilindungi arwah leluhurnya