Denda

352 Words
Denda Keributan di rumah kediaman Jeni segera menyebar. Beritanya sampai juga di telinga keluarga besar Ryu. Kabarnya bahwa Jeni "disentuh" oleh Ryu. Pemuda terbelakang itu tak menjawab satu pun pertanyaan dari anggota keluarga besarnya. "Bagaimana ini? Tak disangka ia mempermalukan kita dengan kelakuannya yang tidak masuk akal! " Lelaki yang dituakan dalam keluarga besar Ryu angkat suara dalam sidang keluarga itu. "Sebelum keluarga perempuan itu menuntut kita, sebaiknya kita yang berinisiatif pergi ke sana untuk meminta maaf!", tambahnya lagi. Beberapa lelaki tua yang duduk sambil melinting rokok di atas tikar yang terbuat dari daun koli itu - terlihat mengangguk-angguk. Masing-masing larut dalam pikirannya. Semua menyadari bahwa dalam adat kampung mereka-denda yang akan dituntut pihak perempuan akan sangat besar. Hewan besar berupa kerbau beberapa ekor harus ada dan juga berlembar-lembar kain tenun sesuai tuntutan dari pihak keluarga perempuan. " Kita perlu mengambil langkah terlebih dahulu untuk meminta maaf! Tapi, kita perlu bertanya pada Ryu seperti apa kelakuannya pada hari itu!" Beberapa pemuda yang usianya sepantaran dengan Ryu melirik pemuda terbelakang itu dana mendekatinya, memintanya memperagakan apa yang terjadi pada hari itu, namun Ryu bergeming. Ia semakin dalam menundukan kepalanya. Ia hanya teringat wajah Jeni yang pasti sedang ketakutan sekarang. Ia sempat mendengar beberapa orang bicara bahwa Jeni dipukul oleh kedua orang tuanya. Akhirnya Ryu mau juga memperagakan apa yang telah dilakukannya pada Jeni meski dipenuhi rasa malu, semua ini dilakukannya ketika ia diancam bahwa keluarga akan menyeret Jeni ke hadapan sidang. Sidang ribut dengan tawa dan celetukan tak senonoh dari keluarga besar. Ada yang merasa lucu namun lebih banyak yang marah pada Ryu. Mereka mengenalnya sebagai pemuda terbelakang sehingga tak mungkin rasanya ia bisa melakukan hal seperti itu terhadap seorang gadis pun apalagi ini gadis kecil yang normal. Kesimpulan telah diperoleh yakni bahwa Ryu tidak sampai b********h dengan gadis kecil itu. Sidang adat memutuskan bahwa mereka cukup menunggu saja tuntutan dari pihak Jeni karena keduanya belum melakukan pelanggaran adat yang berat- maka pihak wanita tidak terlalu banyak menuntut. Beberapa lelaki memberi penguatan pada Ryu dengan menepuk bahunya dan mengacak-acak rambutnya. Bagaimana pun lelaki terbelakang ini punya hasrat yang sama terhadap perempuan yang disukainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD