Bahagia
Ryu sangat menikmati kopi buatan ibu Jeni. Ia mendengarkan ibu Jeni yang terus berceloteh tanpa henti seakan ia benar-benar memahami perkataannya.
"Jeni, kau senang sekarang? Ryu sudah mau minum ae koka lagi, berarti dia akan selalu datang ke sini." Jeni mengangguk. Tersungging senyum tulus di wajahnya yang memerah. Syukurlah ibunya tidak sempat melihat ia mencium lelaki itu.
Pikirannya tentang kejadian yang baru saja berlalu membuat wajahnya bersemu merah. Ryu menatapnya diam-diam dengan gayanya yang khas, mengirimkan pesan agar ia mendekat padanya.
Sepeninggal ibu Jeni, kedua insan yang baru saja merasakan kedekatan mereka yang berbeda, duduk berdekatan, Jeni memberanikan diri menyentuh lengan Ryu, sementara lelaki itu membiarkan Jeni bersandar di dadanya yang hangat.
Ryu menemani Jeni mencuci di sungai kecil di ujung kampung. "Kenapa kau menyentuhku seperti tadi?" Pertanyaan Jeni dijawab Ryu dengan tatapan memuja kemudian ia menunduk dalam-dalam, mengira Jeni akan memarahinya. Ia yakin Jeni menyukainya, mengapa gadis itu kemudian mempertanyakannya kembali, hal itulah yang tak dipahaminya.
Jeni mencipratkan air ke wajah Ryu, memaksa agar lelaki itu mengangkat wajahnya. "Aku tidak marah, hanya saja itu pertama kalinya seorang lelaki menyentuhku." Mendengar itu, perlahan Ryu mengangkat wajahnya, bergerak masuk ke sungai kecil tempat Jeni duduk berendam sambil membersihkan tubuhnya.
Ryu ingin mengatakan banyak hal yang ada di kepalanya, sayangnya ia harus berusaha keras untuk itu. Ia memeluk tubuh Jeni yang sama sekali tidak berontak. Kali ini Ryu mencium pipi gadis itu dan berceloteh bahwa ia menyukai Jeni, atau begitulah yang bisa diterjermahkan Jeni.