Kedekatan
Sejak saat itu keduanya menjadi tak terpisahkan. Hubungan yang aneh tersebut memang menjadi perbincangan warga kampung namun keluarga Jeni tidak merasa terganggu dengan hal tersebut.
"Kenapa kau biarkan pemuda terbelakang itu terus mengikuti putrimu ke mana-mana?" Pernah sekali waktu, istri kepala kampung bertanya kepada ibu Jeni. "Tidak apa-apa. Mereka selalu mengobrol di rumah. Saya dan suami selalu memantau mereka." Ibu Jeni berkilah.
Ia sudah sering mendapat pertanyaan yang sama. "Apa kau tidak kuatir nanti putrimu kenapa-napa?" Ibu Jeni mengerutkan keningnya sambil membilas pakaian yang sedang dicucinya. "Maksud ibu?" Wanita tua itu mendekat, sekarang ia membungkuk dan berbisik. "Bagaimana kalau dia hamil?" Ibu Jeni memandangi wanita tua itu keheranan. 'Mengapa pikiran mereka sampai seperti itu? Mungkinkah ada sesuatu yang aku lewatkan?' Sejenak ia mematung kemudian buru-buru pulang setelah berpamitan pada wanita tua dan tidak lupa membela putrinya. "Ibu jangan bicara sembarangan, anakku tidak akan berkelakuan seperti itu."
Kebetulan sekali ia mendapati Jeni dan Ryu yang sedang bercengkrama di teras rumah. Ia menyuruh keduanya mengobrol di ruang tamu karena alasan yang tidak dimengerti keduanya. Ryu dan Jeni tidak berkeberatan pindah ke ruang tamu, asal mereka tidak dilarang untuk bertemu.
"Dargo kemarin menggodaku lagi. Katanya wajahku bertambah jelek sekarang." Jeni berceloteh kepada Ryu. Pemuda itu seakan paham perkataan Jeni. Tinjunya mengepal, ia membalas perkataan Jeni dengan kata-kata yang tak jelas. "Jangan kau pukul dia. Nanti bapaknya mencari engkau dan memukulmu!" Ryu mengangguk sebentar lalu kembali memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti biasa.
Ryu menyentuh wajah Jeni sekilas dan mengatakan bahwa baginya Jeni sangat cantik. Hanya Jeni yang bisa memahami Ryu. "Terima kasih Ryu. Hanya kau yang memujiku cantik. Meski tidak benar, tapi aku sangat -sangat bahagia." Jeni membalas perkataan Ryu.
Keduanya tak menyadari bahwa percakapan mereka didengarkan oleh ibu Jeni yang memang sangat penasaran. Wanita itu tertunduk dalam diam. Rupanya memang benar kata suaminya, Jeni dan Ryu sama -sama tidak memiliki sahabat dan mereka saling menemukan dengan cara yang aneh.
Ibu Jeni teringat masa-masa ketika putrinya sangat ketakutan melihat Ryu. Ingin rasanya ia kembali ke masa itu lagi. Waktu itu Jeni hanyalah gadis kecil yang perlu ditenangkan namun kini ibu Jeni merasa, anak gadisnya mulai belajar membuka hati terhadap lawan jenisnya. 'Ya, Tuhan! Mengapa harus Ryu?' batinnya.