Dargo
Pagi ini dia mulai berulah lagi. Bocah lelaki bertubuh tambun dan berkulit hitam itu menarik kuncir rambut Jeni. Awalnya Jeni diam saja, lama-lama gadis itu mulai kesal dan berusaha menghindar, tetapi karena Dargo terus menggodanya, akhirnya tinjunya melayang, menghantam mata kiri Dargo.
Keduanya duduk bersebelahan di hdapan ibu kepala sekolah. "Dia yang memulai, Bu!" Dargo menarik napas panjang dan berkata," tapi mata saya sakit sekali kena tinju sedangkan kepalanya tidak apa-apa." Jeni menoleh ke arah Dargo. Mata kiri bocah itu mulai lebam. Rupanya pukulannya tadi, keras mengenai matanya. 'Ah, biar dia rasakan! Supaya tidak menggangguku lagi,' pikir gadis itu.
"Sudah! Kalian berdua tidak perlu bertengkar lagi. Ibu tak mau melihat Dargo mengganggu Jeni dan sebaliknya, Jeni juga tidak boleh kasar pada Dargo seperti ini lagi." Ancaman keras dari ibu kepala sekolah membuat keduanya ciut. Beliau akan meminta kedua orang tua masing-masing anak untuk datang ke sekolah jika keduanya tidak berbaikan kembali.
Jeni memilih tersenyum kembali pada Dargo daripada harus melihat ayahnya yang sudah lelah bekerja di ladang harus datang ke sekolah menangani masalahnya. Senyum yang sedikit dipaksakan itu rupanya sudah cukup memuaskan bagi ibu kepala sekolah.
"Mengapa kau membenciku?" Jeni melirik dan bertanya pada anak-anak lelaki itu. Dargo hanya memandangnya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya. "Aku tak suka melihat kau berkawan dengan Ryu!" Jeni menyipitkan matanya. "Kenapa tak suka? Kau takut padanya, bukan?" Kali ini Dargo tak lagi menjawab. Ia memilih duduk diam. Jeni menyerah. Keduanya lelah menunggu bel sekolah berbunyi. Anak-anak lain sudah mondar-mandir sambil memandang mereka penuh tanya.
"Saya tidak benci Jeni!" Dargo memberanikan diri bicara setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia tahu Jeni akan menganggapnya aneh. Anak perempuan berbibir sumbing itu memandangnya penuh tuduhan. "Aku tak percaya, " desis Jeni sambil mengembuskan napasnya keras-keras. "Saya... saya suka Jeni, " suara tertahan Dargo akhirnya terdengar juga. "Bohong! " sergah Jeni. Anak perempuan itu melotot ke arah Dargo, namun bocah itu hanya terdiam dan menunduk. Kemudian tawa Jeni membahana. "Hahaha... Kau tak bisa membohongiku, Dargo! " Setelah puas tertawa ia berpaling ke arah Dargo yang masih diam. Jeni menelan ludahnya. "Ka-ka-kau... serius? Tidak serius, toh?! " Jeni kini ragu. Dargo menggeleng lemah. "Saya sudah suka kau dari dulu, soalnya kau lucu!" tandas bocah tambun tersebut. Kali ini mulut Jeni menganga. Ia tak mempercayai pendengarannya.
Jeni masih ingin menuntut penjelasan Dargo, namun bocah itu sudah keburu ditarik temannya, diajak pulang. "Ayo! Buat apa duduk dengan gadis aneh itu!" Jeni hanya bisa memandangi punggung Dargo dengan pasrah. Tatapannya masih tak percaya. "Bagaimana mungkin musuhnya ternyata menyukainya? Mungkinkah Dargo merencanakan sesuatu dengan berbohong padanya seperti itu? " Jeni tak ingin berpikir lagi. Ia segera melangkah perlahan.