Cemburu

384 Words
Cemburu Sejak Dargo menyatakan perasaannya, Jeni tidak tenang di kelas. Berkali-kali ia mendapati Dargo mencuri pandang ke arahnya. Kelas jadi lebih hening, karena bocah tambun yang terkenal usil itu menjadi pendiam. "Dargo, coba kerjakan tugas ini di papan! " pernah suatu ketika bocah itu disuruh maju ke depan kelas. "Ya, Jeni! " jawabnya tiba-tiba setengah melamun. Sontak seluruh kelas riuh dengan gelak tawa. "Oh, sedang memikirkan Jeni rupanya kau, Nak? " tanya Bu guru sambil tersenyum. "Sudah, lupakan sebentar! Selesaikan soal matematika nomor dua dulu, ya?! " Jeni geram dengan tingkah Dargo. Sambil mengerjakan soal di papan, sempat-sempatnya melirik ke arah dirinya. Terus ditertawakan, membuat Jeni tak tahan lagi. "Wah, sekarang Dargo yang terkena peletnya! " Beberapa teman perempuan bermulut usil, tak ragu menggodanya juga. "Dasar penyihir kecil berbibir sumbing! " tambhah yang lain. Hampir saja Jeni kehilangan kesabarannya jika ia tak ingat konsekuensi yang akan didapatnya jika ia sampai menghadap Ibu Kepala Sekolah. Dargo seakan tak mengerti perasaannya. Bocah itu terus mengikutinya ke mana pun ia pergi. Jeni jengah dengan keadaan ini. Ia pun memutuskan untuk tidak masuk sekolah. "Kenapa? " tanya Ryu dengan bahasa isyarat. "Aku malas, di sekolah terus diejek teman-teman karena ulah Dargo! " ungkapnya pada lelaki terbelakang yang tengah duduk di sampingnya. "Dargo bilang dia suka padaku dan terus mengikutiku meskipun aku sudah berkali-kali melarangnya! " Jeni bercerita pada Ryu. Pemuda terbelakang itu memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, tanda bahwa ia sedang berpikir keras. Meskipun Jeni bicara banyak hal, namun lelaki terbelakang itu hanya mengingat bahwa ada anak lelaki yang mencintai Jeni. Ia merasa dadanya panas. Ryu belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ia ingin Jeni hanya untuknya. Ia mulai membelai kepala Jeni perlahan. Merengkuh tubuh gadis kecil itu dalam pelukannya, menggesek-gesekan hidungnya ke pipi Jeni. Seketika Jeni paham bahwa Ryu tak ingin Jeni menyukai orang lain. Jeni membalas pelukan Ryu dengan hangat. Menciumi rahang kokoh lelaki itu, mengirimkan sensasi nikmat yang mulai menjalari tubuh Ryu. Lelaki itu mulai meremas panggul gadis kecil itu. Jeni yang sudah pernah disentuh oleh Ryu merasakan dejavu. Gadis itu bergeming, membiarkan Ryu terus meletakan jemarinya di panggulnya, memprovokasi lelaki itu dengan ciuman-ciuman ke leher Ryu. Lelaki terbelakang itu mengerang pelan, napasnya mulai berat. Mengikuti kata hatinya, Ryu kini menggendong Jeni di panagkuannya. Kecemburuannya pada Dargo membuat Ryu tidak dapat menahan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD