Ke Puncak

995 Words
Telapak tangan Herman mengalirkan bara cinta yang tidak lagi tulis seperti sediakala. Melainkan sudah berbaur dengan gairah nafsu yang membakar darahnya kala meremas jemari Anita. Apalagi saat lengan Herman melingkar ke leher gadis itu, segalanya menimbulkan pijar-pijar yang memanaskan darahnya. Anita memejamkan mata dengan bibir yang terkuak siap menerima kecupan lelaki itu. Hidung Herman mulai menyentuh pipi Anita dan bibir mereka lantas saling melumat mesra. Sulit untuk dihitung sudah berapa kali bibir Herman menerjang-nerjang bibir Anita yang kenyal bagai kelopak bunga mawar itu. Dekapan Herman semakin erat, hingga nafas Anita dirasakan sesak. Tangan Herman menjalar-jalar keseluruh tubuh gadis itu. Ketika hinggap pada benda lunak vang membusung di bagian d**a. Anita tergial dan merintih manja. Pelan tapi mantap telapak tangan Herman meremasnya dan tubuh gadis itu melilit-lilit sambil menpeluh. Keringat yang keluar dari pori- pori mereka tidak lagi keringat biasa, melainkan keringat b****i yang mengejangkan seluruh otot tubuhnya. Sementara mereka telah lupa dengan alam sekitarnya yang indah. Kedua tubuh itu bergulingan di atas rumput hijau penuh gairah nafsu yang tak bisa-dikendalikan lagi, Eilinan-pihnan, gigitan, isapan berlangsung terus tanpa mau perduli. Suara rintihan panjang yang dibarengi isak tangis memecah keheningan tempat itu. Bukit-bukit yang menjulang tinggi sempat menjadi saksi kedua anak manusia melakukan perbuatan dosa. Daun-daun yang telah kering saling berjatuhan ke bumi. Bunga pun yang telah lama layu gugur dari tangkainya. Sementara kuncup bunga yang baru mengembang telah dihisap madunya oleh si kumbang. *** Anita melangkah masuk ke dalam rumah dengan sekujur badan yang letih. Keringat dingin membasahi sekujur badannya. Rumah yang mewah dengan segala bentuk perabotan lux dirasa terlalu lenggang dan sepi. Di rumah semewah ini bagi Anita tak jauh merupakan tempat untuk berteduh saja. Sebab dirinya sama sekali tidak merasakan bahagia menempati rumah itu. Bila saja rumah ini milik Herman dan lelaki itu bisa selalu bersamanya menempati, alangkah bahagianya. Pagi bersama, siang bersama, malam bersama dan bila keinginannya untuk mengulangi perbuatan seperti tadi siang di Puncak, tidaklah terlampau sulit. Mungkin sampai letih. Dan sekarang pun Anita masih merasakan tubuhnya letih. Kakinya buat melangkah terasa lunglai dan sedikit nyeri pada bagian pangkal paha. Mata dia terus merebahkan dirinya di tempat tidur yang berkasur busa. Sejenak dia membayangkan kejadian yang baru saja dialami tadi. Begitu indahnya. Sampai-sampai dia melupakan semua problem yang selama ini membelenggunya. Kemudian Anita menatap langit-langit kamarnya yang terbuat dari eternit kembang berwarna hijau muda. Bayangan wajah Herman terlintas. Anita tiba-tiba tersentak, baru sadar jika lelaki itu telah berhasil mengetahui rumahnya. Di waktu Herman mengantar sampai di depan rumah, Anita masih terbawa oleh perasaan pasrah. Seolah- olah dia tak ingat kata-katanya sendiri jika Herman tidak boleh mengetahui tempat tinggalnya. Tapi apa yang mau dikata lagi. semuanya sudah terlanjur. Dan semuanya bakal ditanggung resikonya. Cuma yang senantiasa dikawatirkan oleh Anita. Herman akan meninggalkannya setelah tahu keadaan dirinya yang sebenarnya. Anita sangat mengharap agar hal itu tidak akan terjadi pada diri Herman. Cintanya terhadap lelaki hu sudah tidak bertepi lagi. Mungkin Anita rela mengorbankan apa saja asalkan lelaki itu tidak akan meninggalkannya. Semoga saja Herman seorang lelaki yang mau mengerti kelemahan diriku. Dan mau mengerti persoalan yang membelengguku, itu saja yang kuharap. Katanya tanpa suara .badan Anita lunglai Jau capai. Rasa kantuk menekan kelopak matanya. Sekarku, yang dibutuhkan Anita hanya guling dan bantal. Dia tak mau ambil pusing lagi kejadian esok hari dan hari- hari mendatang. Seandainya Herman berbaring di sisinya, ah... barangkah capai ini tidak mungkin terasa seperti ini. *** Keesokan harinya Anita bangun tidur kelewat siang. Jarum jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas. Tubuhnya yang semalam dirasa lunglai dan capai sudah hilang semua. Namun ketika dia hendak melangkah turun dari tempat tidur, pangkal pahanya dirasa nyeri dan linu. Terpaksa Anita terhenyak di pinggir pembaringan untuk beberapa lama. Dengan setengah dipaksakan gadis itu berjalan ke kamar mandi. Mbok Ginem heran melihat perubahan tuan putrinya yang nampak pucat wajahnya. Langkah-langkahnya agak mengalami kesulitan. Lantas mbok Ginem tersenyum dikulum. Setelah tubuh Anita tersiram air. barulah dia merasa tubuhnya segar kembali. Semua kelesuan pada tubuhnya hilang seketika. Selesai mandi Anita mengenakan pakaian T-shirt berwarna kuning menyala dan celana blue jeans, berjalan ke meja makan. Dia makan tidak terlalu banyak, sebab dia tak ingin tubuhnya menjadi gemuk. Dengan langkah-langkah lunak Anita menuju kearah garasi mobil. Derit-derit hak sepatunya yang tinggi terdengar jelas kala menginjak ubin teraso di teras rumah. "Aku pergi mbok." Kata Anita kepada pembantu rumahnya. "Ya non." Sahut mbok Ginem sambil mengangguk hormat. Siang itu langit bergumpal-gumpal awan hitam yang menghalangi sinar matahari menyengat bumi. Musim hujan di bulan Februari ini hampir tidak memberikan peluang bagi sang surya untuk memancarkan sinarnya yang rakus. Mobil Honda Civic berwarna kuning kontras dengan pengemudi nya yang mengenakan T-shirt kuning pula, melaju di antara mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan raya. Siang itu Anita ingin membeli kosmetik di proyek Senen. Akan tetapi diwaktu mobilnya melewati jalan Salemba, mata Anita sempat terbentur sesosok tubuh yang dikenalnya berdiri dibawah halte bis. Tangan kanannya memegang map lusuh dan matanya selalu mengamati bis kota yang lewat di depannya. Anita cepat-cepat menginjak rem, mobil pun-segera berhenti. "Herman!." Panggil Anita sambil menggapai- gapaikan tangan. Lelaki yang berdiri di bawah halte bis itu menatap penuh tanda tanya. Siapa gerangan yang memanggilnya itu? Padahal Herman merasa selama ini dia tidak pernah mempunyai kenalan seorang gadis yang memiliki mobil, kalau toh ada kebanyakan mereka itu sombong-sombong. Dengan setengah ragu-ragu Herman berjalan menghampiri mobil itu. Seorang gadis berkaca mata coklat duduk di belakang kemudi. Anggun dan cantik. Siapakah dia? itu saja yang selalu berkecamuk di benak Herman saat mendekati mobil. Setelah dekat di pintu mobil barulah Herman tahu bahwa gadis yang duduk di belakang stir itu adalah Anita. Duuuh cantiknya. Duuuh anggunnya. Kata hati Herman penuh kekaguman. "Ayo naik, kuantar sampai ke tempat tujuan-mu." Kata Anita tersenyum ramah. "Tapi..." Sahut Herman terhenti sembari menatap map lusuh yang dibawanya. Herman merasa ragu-ragu. "Jangan banyak alasan Her, naiklah." Desak Anita sambil membuka pintu mobil untuk Herman. Lelaki itu terpaksa menurut perintah gadis itu. Mobil Honda Civic itu melaju lagi sesudah Herman naik dan duduk di sisi Anita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD