Telapak tangan Herman mengalirkan bara
cinta yang tidak lagi tulis seperti sediakala.
Melainkan sudah berbaur dengan gairah nafsu yang
membakar darahnya kala meremas jemari Anita.
Apalagi saat lengan Herman melingkar ke leher
gadis itu, segalanya menimbulkan pijar-pijar yang
memanaskan darahnya. Anita memejamkan mata
dengan bibir yang terkuak siap menerima kecupan
lelaki itu. Hidung Herman mulai menyentuh pipi
Anita dan bibir mereka lantas saling melumat
mesra. Sulit untuk dihitung sudah berapa kali bibir
Herman menerjang-nerjang bibir Anita yang kenyal
bagai kelopak bunga mawar itu. Dekapan Herman
semakin erat, hingga nafas Anita dirasakan sesak.
Tangan Herman menjalar-jalar keseluruh tubuh
gadis itu. Ketika hinggap pada benda lunak vang
membusung di bagian d**a. Anita tergial dan
merintih manja. Pelan tapi mantap telapak tangan
Herman meremasnya dan tubuh gadis itu melilit-lilit
sambil menpeluh. Keringat yang keluar dari pori-
pori mereka tidak lagi keringat biasa, melainkan
keringat b****i yang mengejangkan seluruh otot
tubuhnya.
Sementara mereka telah lupa dengan alam
sekitarnya yang indah. Kedua tubuh itu bergulingan
di atas rumput hijau penuh gairah nafsu yang tak
bisa-dikendalikan lagi, Eilinan-pihnan, gigitan,
isapan berlangsung terus tanpa mau perduli. Suara
rintihan panjang yang dibarengi isak tangis
memecah keheningan tempat itu. Bukit-bukit yang
menjulang tinggi sempat menjadi saksi kedua anak
manusia melakukan perbuatan dosa. Daun-daun
yang telah kering saling berjatuhan ke bumi. Bunga
pun yang telah lama layu gugur dari tangkainya.
Sementara kuncup bunga yang baru mengembang
telah dihisap madunya oleh si kumbang.
*** Anita melangkah masuk ke dalam rumah dengan
sekujur badan yang letih. Keringat dingin
membasahi sekujur badannya. Rumah yang mewah
dengan segala bentuk perabotan lux dirasa terlalu
lenggang dan sepi. Di rumah semewah ini bagi Anita
tak jauh merupakan tempat untuk berteduh saja.
Sebab dirinya sama sekali tidak merasakan bahagia
menempati rumah itu. Bila saja rumah ini milik
Herman dan lelaki itu bisa selalu bersamanya
menempati, alangkah bahagianya. Pagi bersama,
siang bersama, malam bersama dan bila
keinginannya untuk mengulangi perbuatan seperti
tadi siang di Puncak, tidaklah terlampau sulit.
Mungkin sampai letih.
Dan sekarang pun Anita masih merasakan
tubuhnya letih. Kakinya buat melangkah terasa
lunglai dan sedikit nyeri pada bagian pangkal paha.
Mata dia terus merebahkan dirinya di tempat tidur
yang berkasur busa. Sejenak dia membayangkan
kejadian yang baru saja dialami tadi. Begitu
indahnya. Sampai-sampai dia melupakan semua
problem yang selama ini membelenggunya.
Kemudian Anita menatap langit-langit
kamarnya yang terbuat dari eternit kembang
berwarna hijau muda. Bayangan wajah Herman
terlintas. Anita tiba-tiba tersentak, baru sadar jika
lelaki itu telah berhasil mengetahui rumahnya. Di
waktu Herman mengantar sampai di depan rumah,
Anita masih terbawa oleh perasaan pasrah. Seolah-
olah dia tak ingat kata-katanya sendiri jika Herman
tidak boleh mengetahui tempat tinggalnya. Tapi apa
yang mau dikata lagi. semuanya sudah terlanjur.
Dan semuanya bakal ditanggung resikonya.
Cuma yang senantiasa dikawatirkan oleh
Anita. Herman akan meninggalkannya setelah tahu
keadaan dirinya yang sebenarnya. Anita sangat
mengharap agar hal itu tidak akan terjadi pada diri
Herman. Cintanya terhadap lelaki hu sudah tidak
bertepi lagi. Mungkin Anita rela mengorbankan apa
saja asalkan lelaki itu tidak akan meninggalkannya.
Semoga saja Herman seorang lelaki yang mau
mengerti kelemahan diriku. Dan mau mengerti
persoalan yang membelengguku, itu saja yang
kuharap. Katanya tanpa suara
.badan Anita lunglai Jau capai. Rasa kantuk menekan kelopak matanya. Sekarku, yang
dibutuhkan Anita hanya guling dan bantal. Dia tak
mau ambil pusing lagi kejadian esok hari dan hari-
hari mendatang. Seandainya Herman berbaring di
sisinya, ah... barangkah capai ini tidak mungkin
terasa seperti ini.
*** Keesokan harinya Anita bangun tidur kelewat siang.
Jarum jam dinding yang tergantung di tembok
kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas.
Tubuhnya yang semalam dirasa lunglai dan capai
sudah hilang semua. Namun ketika dia hendak
melangkah turun dari tempat tidur, pangkal
pahanya dirasa nyeri dan linu. Terpaksa Anita
terhenyak di pinggir pembaringan untuk beberapa
lama. Dengan setengah dipaksakan gadis itu
berjalan ke kamar mandi. Mbok Ginem heran
melihat perubahan tuan putrinya yang nampak
pucat wajahnya. Langkah-langkahnya agak
mengalami kesulitan. Lantas mbok Ginem
tersenyum dikulum.
Setelah tubuh Anita tersiram air. barulah dia
merasa tubuhnya segar kembali. Semua kelesuan
pada tubuhnya hilang seketika. Selesai mandi Anita
mengenakan pakaian T-shirt berwarna kuning
menyala dan celana blue jeans, berjalan ke meja
makan. Dia makan tidak terlalu banyak, sebab dia
tak ingin tubuhnya menjadi gemuk. Dengan
langkah-langkah lunak Anita menuju kearah garasi
mobil. Derit-derit hak sepatunya yang tinggi
terdengar jelas kala menginjak ubin teraso di teras
rumah.
"Aku pergi mbok." Kata Anita kepada
pembantu rumahnya.
"Ya non." Sahut mbok Ginem sambil
mengangguk hormat.
Siang itu langit bergumpal-gumpal awan
hitam yang menghalangi sinar matahari menyengat
bumi. Musim hujan di bulan Februari ini hampir
tidak memberikan peluang bagi sang surya untuk
memancarkan sinarnya yang rakus. Mobil Honda
Civic berwarna kuning kontras dengan pengemudi
nya yang mengenakan T-shirt kuning pula, melaju di
antara mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan raya.
Siang itu Anita ingin membeli kosmetik di proyek
Senen. Akan tetapi diwaktu mobilnya melewati
jalan Salemba, mata Anita sempat terbentur
sesosok tubuh yang dikenalnya berdiri dibawah
halte bis. Tangan kanannya memegang map lusuh
dan matanya selalu mengamati bis kota yang lewat
di depannya. Anita cepat-cepat menginjak rem,
mobil pun-segera berhenti.
"Herman!." Panggil Anita sambil menggapai-
gapaikan tangan.
Lelaki yang berdiri di bawah halte bis itu
menatap penuh tanda tanya. Siapa gerangan yang
memanggilnya itu? Padahal Herman merasa selama
ini dia tidak pernah mempunyai kenalan seorang
gadis yang memiliki mobil, kalau toh ada
kebanyakan mereka itu sombong-sombong.
Dengan setengah ragu-ragu Herman berjalan
menghampiri mobil itu. Seorang gadis berkaca mata
coklat duduk di belakang kemudi. Anggun dan
cantik. Siapakah dia? itu saja yang selalu
berkecamuk di benak Herman saat mendekati
mobil. Setelah dekat di pintu mobil barulah Herman
tahu bahwa gadis yang duduk di belakang stir itu
adalah Anita. Duuuh cantiknya. Duuuh anggunnya.
Kata hati Herman penuh kekaguman.
"Ayo naik, kuantar sampai ke tempat tujuan-mu."
Kata Anita tersenyum ramah.
"Tapi..." Sahut Herman terhenti sembari
menatap map lusuh yang dibawanya. Herman
merasa ragu-ragu.
"Jangan banyak alasan Her, naiklah." Desak
Anita sambil membuka pintu mobil untuk Herman.
Lelaki itu terpaksa menurut perintah gadis itu.
Mobil Honda Civic itu melaju lagi sesudah Herman
naik dan duduk di sisi Anita.