Herman, Apakah Tubuhku Tidak Menarik?

1234 Words
"Jangan Anita..." Kata Herman sambil menahan tangan Anita yang semakin menarik gaunnya ke bawah. "Aku bersedia membuktikannya Herman !" Tandas Anita. "Aku percaya... aku percaya sepenuhnya terhadapmu sayang. Kenakanlah kembali gaunmu itu." Tetapi Anita tidak mengindahkan kata-kata Herman. Terpaksa Herman membenahi gaun gadis itu seperti semula. Anita hanya tertunduk dengan berlinangan air mata. "Aku tak ingin m*****i cintaku yang suci Nita. Karena cinta itu sebenarnya bukanlah nafsu, melainkan perasaan yang ingin memiliki, ingin dibelai dengan kasih sayang dan membahagiakan orang yang dicintai. Seperti aku yang ingin memilikimu, ingin membelai dengan kasih sayangku dan ingin membahagiakanmu Nita. Aku telah memiliki cinta itu dengan sempurna." Kata Herman mantap. Anita menatap mata Herman yang memancar-kepolosan, jujur dan rendah hati. Maka 66 gadis itu menjatuhkan kembali kepalanya di dada bidang Herman. Air mata Anita yang membasahi pipinya dihusap oleh sapu tangan Herman pelan sekali. Gadis itu memejamkan matanya, meresapi kelembutan kasih sayang Herman. "Anita, ijinkanlah aku datang ke rumahmu untuk membuktikan bahwa aku bersungguh- sungguh ingin mempersuntinginu." "Jangan...," keluh Anita dengan nafas sesak. "Kenapa jangan Anita?" Desak Herman. "Kuharap pengertianmu dalam soal ini Herman. Jangan kau rusak segalanya yang sudah hampir sama-sama kita rasakan. Aku tak ingin segalanya akan jadi berantakan." Ucap Anita dengan mata bingung. Wajahnya berubah cemas dan tertekan. "Aku bersungguh-sungguh kepadamu, namun kau selalu menolak setiap kali kunyatakan ingin datang ke rumahmu. Katakanlah alasanmu yang sebenarnya Nita." "Kau masih juga mengulangi pertanyaan yang bagiku sulit untuk kujawab Herman. Akan kuserahkan semua yang kau kehendaki atas diriku, asalkan jangan kau bertanya lebih banyak mengenai aku." "Baiklah, kita bermain tonil tanpa cinta. Sebab kau lebih senang berperan sebagai seorang gadis yang penuh misteri, Kau lebih mengutamakan permainan yang mengasyikkan ketimbang makna dari sebuah cinta yang luhur. Mulai sekarang aku akan melakukannya, Nita." Ujar Herman setengah kecewa. Herman langsung memeluk tubuh gadis itu dan menghujani dengan ciuman hangat. Anita pasrah dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Di dalam hati gadis itu merintih, jangan pisahkan kami sebelum kenyataan yang tak diharapkan oleh Anita datang merenggutnya. Pelukan Anita semakin erat melingkar di leher Herman. Dan untuk beberapa saat perasaan Anita bagaikan terbang ke langit ke tujuh. Ketika mereka mendengar suara tawa orang di balik semak-semak, baru Herman menghentikan ciuman itu. Kurang ajar!, rutuk hatinya. Anak-anak kecil itu sejak tadi mengintipnya di balik semak- semak. Maka berlarian anak-anak kecil itu saat mata Herman melotot. Sementara Anita menahan senyum. Senja mulai menyelimuti permukaan langit. Dan banyak pengunjung di pantai itu telah pergi. Anita mengajak Herman untuk meninggalkan tempat itu. Walau sebenarnya hubungan mereka masih diliputi kabut misteri. Yah... lebih baik bermain tonil6. Lebih baik menghilangkan perasaan yang menyiksa karena cinta. Toh apapun yang sudah dipikirkan masak- masak oleh Herman belum nampak jalan menuju kepastian. Hubungannya dengan Anita masih ditutupi kabut misteri yang banyak mendatangkan tanda tanya. Di pagi itu Herman telah menunggu Anita di terminal Banteng sudah cukup lama, dia seperti dilanda kegelisahan. Pada jam yang telah ditentukan, ternyata gadis itu belum muncul jua. Dua jam telah berlalu bagai tertatih-tatih. Dirasa oleh Herman waktu dua jam menunggu terlalu lama dan membosankan. Dia rasanya sudah tidak betah lagi menunggu kedatangan gadis itu lebih lama, ingin dia meninggalkan tempat itu. Namun keresahan di dadanya timbul, bagaimana seandainya dia datang? Herman seperti tercencang oleh detik-detik yang berlalu. Setiapkali dia melontarkan pandangan kearah bis yang berhenti di terminal itu, tak kunjung nampak jua gadis yang ditunggunya itu. Alangkah lambatnya waktu bergerak, alangkah pusingnya kepala Herman saking bingungnya mengawasi orang-orang yang berlalu-lalang. Itu dia, kata hati Herman... oooo bukan. Itu lagi juga bukan. Bentuk yang sama namun wajah yang berbeda. Alangkah bisingnya terminal ini. Untuk berkencan saja musti susah- susah seperti ini, bayangkan!. Haiiii...mata Herman berubah berseri-seri dan jantungnya berdetak kencang, ketika melihat gadis yang ditunggunya turun dari bis kota. Herman buru-buru berlari menghampiri gadis itu. "Sudah lama menungguku?, maaf jika aku terlambat memenuhi janji." Kata Anita dengan wajah merah. "Tak heran jika di Indonesia jamnya mulur seperti karet." Gumam Herman tersenyum. Anita ikut tersenyum pula. Sebuah bis kota nyelonong memasuki terminal dan hampir saja menyeruduk pantat Herman. Kondektur bis kota berteriak mendongkol melihat Herman dan Anita berlari ke pinggir sambil bergandengan. "Di sini bukan tempatnya pacaran nyung! isa- bisa mampus ke tubruk bis kauuu!!." "s****n!." Gerutu Herman ketika sudah menepi. Beberapa orang sempat memperhatikan Herman dan Anita. Ada yang merasa iri, ada pula yang merasa senang melihat pasangan remaja yang ideal itu. Bergegas Herman menarik tangan Anita. sebab dia tahu mereka sedang menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sekitarnya. "Ke mana kita Her?" Tanya Anita bermanja. "Ke Puncak," sahut Herman sambil menggandeng tangan Anita menuju bis kota jurusan Cililitan. Di dalam bis kota yang melaju Anita banyak membisu, sebab penumpang bis itu kelewat penuh. Bukan main manusia yang akan pulang mudik di hari minggu itu, sehingga bis kota jurusan Cililitan senantiasa penuh oleh penumpang. Untung saja bis yang mereka tumpangi menuju ke Bandung yang lewat puncak sekalipun penuh, Herman dan Anita mendapat tempat duduk. Sepanjang perjalanan menuju ke Puncak kepala Anita disandarkan ke bahu Herman. Bis yang mereka tumpangi telah melewati bukit-bukit Cipanas dan sebentar lagi akan sampai ke Puncak. Anita melirik Herman. mereka saling bertatapan mesra sekali, sama-sama tersenyum, aaah... hidup b******a memang indah dan mengasyikkan. "Kenapa kau diam saja Anita?" tegur Herman. "Ah, aku lagi malas ngobrol." Balas Anita manja. "Kelihatannya kau sedang memikirkan sesuatu." "Aaaaah, tidak!" "Dari sinar matamu aku tahu." "Aku tidak memikirkan apa-apa." Anita mengalihkan pandangan, matanya menatap bukit-bukit yang sebagian puncaknya tertutup kabut. Dan warna hijau sejuk membias ke permukaan bukit-bukit itu. Pohon teh di pinggir jalan yang di-lalui bis itu tumbuh dengan subur. Pemandangan di sini memang teramat menyenangkan. Indah untuk dinikmati dengan hawa yang sejuk menyertainya. Tubuh Anita mulai merasa dingin dan Herman tahu jika gadis yang duduk di sebelahnya gemetaran badannya. Herman lantas memeluk tubuh Anita. "Dingin?" tanya Herman. "Ee eh" Anita menjawab dengan meng- anggukkan kepala. Bis kota yang mereka tumpangi telah sampai ke Puncak. Herman dan Anita bergegas turun dari bis itu. Villa-villa berdiri megah di atas perbukitan hijau. Di sana- sini banyak pohon cemara menjulang tinggi dan meliuk pelan kala angin meniupnya. Rumput di sekitar kaki kedua remaja itu menepuk tumbuh dengan subur dan rapi. Kebanyakan rumput-rumput itu basah oleh kabut yang membeku dan berubah menjadi cairan. Sinar matahari tidak mampu menerobos kabut yang berarak di angkasa. Kedua remaja itu menelusuri bukit-bukit yang jauh dari keramaian orang. Langkah Anita berayun-ayun di dalam pelukan Herman. Sementara kepala gadis itu menyandar di d**a Herman, tangannya yang kanan membelit pinggang lelaki itu. Meski kedua remaja itu sudah jauh dari tempat keramaian, masih juga menjumpai sepasang remaja yang tengah bercumbu dan saling berciuman di bawah pohon cemara. Tak jarang hati Anita tergetar disaat melihat kedua tubuh manusia yang berlainan jenis saling menindih berdekap erat dan b******u. Sedang bagi Anita semakin pasrah dalam pelukan Herman. Sehingga dia berjalan hanya dengan merasakan bahwa gelora cinta membara di dadanya. Desahan nafasnya sama dengan desahan nafas Herman, bahkan degupan jantungnya sama dengan degup jantung Herman. Keresahan menerjang-nerjang perasaan Anita. Selama Ini dia sangat mendambakan kehangatan itu hanya dengan berpura-pura. Tapi sekarang perasaan itu telah menuntutnya, namun dia tak tahu bagaimana melampiaskannya. Maka Anita hanya dapat menghela nafas panjang. "Kau capai Nita?" Tanya Herman lembut. Gadis itu menggelengkan kepala dengan nafas yang tersendat-sendat. Di bawah rerimbunan pohon mereka menghentikan langkah. Kedua remaja itu duduk dan melepaskan lelah. Udara sejuk cukup membantu rasa capai yang dialami, kedua remaja itu. Keringat yang keluar dari pori- pori tidak sebanyak kala berjalan di sengat matahari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD