"Jangan Anita..." Kata Herman sambil
menahan tangan Anita yang semakin menarik
gaunnya ke bawah.
"Aku bersedia membuktikannya Herman !"
Tandas Anita.
"Aku percaya... aku percaya sepenuhnya
terhadapmu sayang. Kenakanlah kembali gaunmu
itu."
Tetapi Anita tidak mengindahkan kata-kata
Herman. Terpaksa Herman membenahi gaun gadis
itu seperti semula. Anita hanya tertunduk dengan
berlinangan air mata.
"Aku tak ingin m*****i cintaku yang suci
Nita. Karena cinta itu sebenarnya bukanlah nafsu,
melainkan perasaan yang ingin memiliki, ingin
dibelai dengan kasih sayang dan membahagiakan
orang yang dicintai. Seperti aku yang ingin
memilikimu, ingin membelai dengan kasih sayangku
dan ingin membahagiakanmu Nita. Aku telah
memiliki cinta itu dengan sempurna." Kata Herman
mantap.
Anita menatap mata Herman yang
memancar-kepolosan, jujur dan rendah hati. Maka 66
gadis itu menjatuhkan kembali kepalanya di dada
bidang Herman. Air mata Anita yang membasahi
pipinya dihusap oleh sapu tangan Herman pelan
sekali. Gadis itu memejamkan matanya, meresapi
kelembutan kasih sayang Herman.
"Anita, ijinkanlah aku datang ke rumahmu
untuk membuktikan bahwa aku bersungguh-
sungguh ingin mempersuntinginu."
"Jangan...," keluh Anita dengan nafas sesak.
"Kenapa jangan Anita?" Desak Herman.
"Kuharap pengertianmu dalam soal ini
Herman. Jangan kau rusak segalanya yang sudah
hampir sama-sama kita rasakan. Aku tak ingin
segalanya akan jadi berantakan." Ucap Anita
dengan mata bingung. Wajahnya berubah cemas
dan tertekan.
"Aku bersungguh-sungguh kepadamu,
namun kau selalu menolak setiap kali kunyatakan
ingin datang ke rumahmu. Katakanlah alasanmu
yang sebenarnya Nita."
"Kau masih juga mengulangi pertanyaan yang
bagiku sulit untuk kujawab Herman. Akan
kuserahkan semua yang kau kehendaki atas diriku,
asalkan jangan kau bertanya lebih banyak mengenai
aku."
"Baiklah, kita bermain tonil tanpa cinta.
Sebab kau lebih senang berperan sebagai seorang
gadis yang penuh misteri, Kau lebih mengutamakan
permainan yang mengasyikkan ketimbang makna
dari sebuah cinta yang luhur. Mulai sekarang aku
akan melakukannya, Nita." Ujar Herman setengah
kecewa.
Herman langsung memeluk tubuh gadis itu
dan menghujani dengan ciuman hangat. Anita
pasrah dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Di
dalam hati gadis itu merintih, jangan pisahkan kami
sebelum kenyataan yang tak diharapkan oleh Anita
datang merenggutnya. Pelukan Anita semakin erat
melingkar di leher Herman. Dan untuk beberapa
saat perasaan Anita bagaikan terbang ke langit ke
tujuh.
Ketika mereka mendengar suara tawa orang
di balik semak-semak, baru Herman menghentikan
ciuman itu. Kurang ajar!, rutuk hatinya. Anak-anak
kecil itu sejak tadi mengintipnya di balik semak-
semak. Maka berlarian anak-anak kecil itu saat
mata Herman melotot. Sementara Anita menahan
senyum.
Senja mulai menyelimuti permukaan langit.
Dan banyak pengunjung di pantai itu telah pergi.
Anita mengajak Herman untuk meninggalkan
tempat itu. Walau sebenarnya hubungan mereka
masih diliputi kabut misteri.
Yah... lebih baik bermain tonil6. Lebih baik
menghilangkan perasaan yang menyiksa karena
cinta. Toh apapun yang sudah dipikirkan masak-
masak oleh Herman belum nampak jalan menuju
kepastian. Hubungannya dengan Anita masih
ditutupi kabut misteri yang banyak mendatangkan
tanda tanya.
Di pagi itu Herman telah menunggu Anita di
terminal Banteng sudah cukup lama, dia seperti
dilanda kegelisahan. Pada jam yang telah
ditentukan, ternyata gadis itu belum muncul jua.
Dua jam telah berlalu bagai tertatih-tatih. Dirasa
oleh Herman waktu dua jam menunggu terlalu lama
dan membosankan. Dia rasanya sudah tidak betah
lagi menunggu kedatangan gadis itu lebih lama,
ingin dia meninggalkan tempat itu. Namun
keresahan di dadanya timbul, bagaimana
seandainya dia datang? Herman seperti tercencang
oleh detik-detik yang berlalu. Setiapkali dia
melontarkan pandangan kearah bis yang berhenti di
terminal itu, tak kunjung nampak jua gadis yang
ditunggunya itu. Alangkah lambatnya waktu
bergerak, alangkah pusingnya kepala Herman
saking bingungnya mengawasi orang-orang yang
berlalu-lalang. Itu dia, kata hati Herman... oooo
bukan. Itu lagi juga bukan. Bentuk yang sama
namun wajah yang berbeda. Alangkah bisingnya
terminal ini. Untuk berkencan saja musti susah-
susah seperti ini, bayangkan!.
Haiiii...mata Herman berubah berseri-seri
dan jantungnya berdetak kencang, ketika melihat
gadis yang ditunggunya turun dari bis kota. Herman
buru-buru berlari menghampiri gadis itu.
"Sudah lama menungguku?, maaf jika aku
terlambat memenuhi janji." Kata Anita dengan
wajah merah.
"Tak heran jika di Indonesia jamnya mulur
seperti karet." Gumam Herman tersenyum. Anita
ikut tersenyum pula. Sebuah bis kota nyelonong
memasuki terminal dan hampir saja menyeruduk
pantat Herman. Kondektur bis kota berteriak
mendongkol melihat Herman dan Anita berlari ke
pinggir sambil bergandengan.
"Di sini bukan tempatnya pacaran nyung! isa-
bisa mampus ke tubruk bis kauuu!!."
"s****n!." Gerutu Herman ketika sudah
menepi.
Beberapa orang sempat memperhatikan
Herman dan Anita. Ada yang merasa iri, ada pula
yang merasa senang melihat pasangan remaja yang
ideal itu. Bergegas Herman menarik tangan Anita.
sebab dia tahu mereka sedang menjadi pusat
perhatian semua orang yang ada di sekitarnya.
"Ke mana kita Her?" Tanya Anita bermanja.
"Ke Puncak," sahut Herman sambil
menggandeng tangan Anita menuju bis kota jurusan
Cililitan.
Di dalam bis kota yang melaju Anita banyak
membisu, sebab penumpang bis itu kelewat penuh.
Bukan main manusia yang akan pulang mudik di hari
minggu itu, sehingga bis kota jurusan Cililitan
senantiasa penuh oleh penumpang. Untung saja bis
yang mereka tumpangi menuju ke Bandung yang
lewat puncak sekalipun penuh, Herman dan Anita
mendapat tempat duduk. Sepanjang perjalanan
menuju ke Puncak kepala Anita disandarkan ke
bahu Herman. Bis yang mereka tumpangi telah
melewati bukit-bukit Cipanas dan sebentar lagi
akan sampai ke Puncak. Anita melirik Herman.
mereka saling bertatapan mesra sekali, sama-sama
tersenyum, aaah... hidup b******a memang indah
dan mengasyikkan.
"Kenapa kau diam saja Anita?" tegur Herman.
"Ah, aku lagi malas ngobrol." Balas Anita
manja.
"Kelihatannya kau sedang memikirkan
sesuatu."
"Aaaaah, tidak!"
"Dari sinar matamu aku tahu."
"Aku tidak memikirkan apa-apa."
Anita mengalihkan pandangan, matanya
menatap bukit-bukit yang sebagian puncaknya
tertutup kabut. Dan warna hijau sejuk membias ke
permukaan bukit-bukit itu. Pohon teh di pinggir
jalan yang di-lalui bis itu tumbuh dengan subur.
Pemandangan di sini memang teramat
menyenangkan. Indah untuk dinikmati dengan
hawa yang sejuk menyertainya. Tubuh Anita mulai
merasa dingin dan Herman tahu jika gadis yang
duduk di sebelahnya gemetaran badannya. Herman
lantas memeluk tubuh Anita.
"Dingin?" tanya Herman.
"Ee eh" Anita menjawab dengan meng-
anggukkan kepala.
Bis kota yang mereka tumpangi telah sampai
ke Puncak. Herman dan Anita bergegas turun dari
bis itu. Villa-villa berdiri megah di atas perbukitan
hijau. Di sana- sini banyak pohon cemara menjulang
tinggi dan meliuk pelan kala angin meniupnya.
Rumput di sekitar kaki kedua remaja itu menepuk
tumbuh dengan subur dan rapi. Kebanyakan
rumput-rumput itu basah oleh kabut yang
membeku dan berubah menjadi cairan. Sinar
matahari tidak mampu menerobos kabut yang
berarak di angkasa. Kedua remaja itu menelusuri
bukit-bukit yang jauh dari keramaian orang.
Langkah Anita berayun-ayun di dalam
pelukan Herman. Sementara kepala gadis itu
menyandar di d**a Herman, tangannya yang kanan
membelit pinggang lelaki itu. Meski kedua remaja
itu sudah jauh dari tempat keramaian, masih juga
menjumpai sepasang remaja yang tengah
bercumbu dan saling berciuman di bawah pohon
cemara. Tak jarang hati Anita tergetar disaat
melihat kedua tubuh manusia yang berlainan jenis
saling menindih berdekap erat dan b******u.
Sedang bagi Anita semakin pasrah dalam pelukan
Herman. Sehingga dia berjalan hanya dengan
merasakan bahwa gelora cinta membara di
dadanya. Desahan nafasnya sama dengan desahan
nafas Herman, bahkan degupan jantungnya sama
dengan degup jantung Herman.
Keresahan menerjang-nerjang perasaan
Anita. Selama Ini dia sangat mendambakan
kehangatan itu hanya dengan berpura-pura. Tapi
sekarang perasaan itu telah menuntutnya, namun
dia tak tahu bagaimana melampiaskannya. Maka
Anita hanya dapat menghela nafas panjang.
"Kau capai Nita?" Tanya Herman lembut.
Gadis itu menggelengkan kepala dengan
nafas yang tersendat-sendat. Di bawah rerimbunan
pohon mereka menghentikan langkah. Kedua
remaja itu duduk dan melepaskan lelah. Udara
sejuk cukup membantu rasa capai yang dialami,
kedua remaja itu. Keringat yang keluar dari pori-
pori tidak sebanyak kala berjalan di sengat
matahari.