Herman Kamu Di Mana

1204 Words
"Kenalkah anda dengan Herman?." "Ya, saya teman baiknya." Sahut Didik setengah menyelidik. "Merasa keberatankah anda bila saya minta kesediaan anda untuk menyampaikan, bahwa ada teman yang mencarinya?" "Oooo, tidak. Tunggu sebentar saya akan rae- manggilnya/" Didik bergegas menuju ke perpustakaan untuk menemui Herman. Biasanya lelaki itu paling senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku di perpustakaan. Ternyata dugaan Didik tidak meleset, lelaki yang tengah dicarinya itu sedang membaca buku. Didik langsung mencabut buku yang sedang dibaca oleh Herman. "Berhenti dulu membacanya!," bentak Didik mengagetkan Herman. "Kau tidak mempunyai etiket kesopanan sebagai mahasiswa Didik!." Hardik Herman sambil melototkan mata. Dia benar-benar marah diperlakukan dengan cara demikian. Herman bergegas bangkit dan siap 56 memukul muka Didik. Tetapi Didik tersenyum tenang. "Jadi orang tidak boleh cepat marah." Kata Didik bergurau. "Kau keterlaluan!." "Sabar mek." Didik berkata lunak. "Nggak usyah pakai mek-mekan. Apa perlumu sekarang!." "Duh galaknya persis anjing lagi bunting." Ledek Didik. "Apa kau katakan aku anjing lagi bunting?, bisa ku tonjok mulutmu yang monyong itu!." "Duuuh begitu aja marah, abang kalau marah ca?ep deh." Ucap Didik menirukan logat banci yang slebor. Tangan Didik mencowel kemayu ke dada Herman. Lelaki yang sedang marah itu jadi tertawa. "s****n!" Gerutu Herman memaki. "Ada orang mencarimu. Herman. Dia menunggu di depan pintu gerbang." Kata Didik. "Siapa?" "Lihat sendiri." "Cewek apa cowok?" "Banci slebor." Sahut Didik sambil tertawa. "Kamu jangan ngaco Dik, aku serius nih," tandas Herman. "Ternyata kalau benar yang dulu pernah kau bicarakan kepadaku mengenai seorang gadis yang cantiknya selangit, dialah yang kini mencarimu!" "Kau tidak ngjbul?. baik aku akan segera menemuinya." Herman bergegas hendak pergi, namun Didik menahannya. "Eiiiit!...tunggu dulu. Ternyata matamu memang hebat dalam menilai seorang gadis. Dia begitu cantik dan anggun." Kata Didik jujur. "Taik kucing!" Sergah Herman sambil melangkah pergi. "Kalau dia tak kau butuhkan lagi, serahkan saja kepadaku. Aku benar-benar telah jatuh hati padanya!." Teriak Didik sebelum Herman jauh meninggalkannya. "Biar disambar geledek kalau kau mencintainya!." Balas Herman memaki. Sementara Didik tertawa berderai dan hati Herman mendongkol. Langkah Herman semakin dipercepat agar cepat sampai ke pintu gerbang. Ketika dia telah keluar dari induk universitas, matanya menangkap tubuh seorang gadis berdiri anggun di bawah terik sinar matahari yang memanggang. Rambutnya yang hitam legam sebatas bahu disapu angin hingga lepas terurai. Alangkah cantiknya gadis pujaannya itu. Apakah Herman sangat mencintai gadis itu. Setelah langkah Herman mendekati gadis yang sejak tadi berdiri menunggu, hatinya menjadi gusar. "Herman...," tegur Anita lunak. "Ya?" Sahut Herman tergagap. Mata mereka saling bentrok agak lama dan di hati masing-masing berdesir perasaan nikmat. "Kita sudah lama tidak saling jumpa Herman." Kata Anita parau. Herman hanya mengangguk sambil mengulum bibirnya yang kering. 59 Anita tak bisa berbuat banyak di depan Herman. Kalau sejak dari rumah tadi dia ingin berkata banyak dan mungkin langsung memeluk lelaki itu, namun di sini dia hanya bisa berdiri canggung: Tanpa bisa mencetuskan apa-apa yang dibawa dari rumah dengan kerinduan. Di bawah teriknya sinar matahari mereka sama-sama berdiri mematung. Baru setelah Didik menegur mereka, kesadaran akan kecanggungan nya punah seketika. "Di zaman apollo ini kok masih ada orang pacaran mirip Siti Nurbaya ya?" Sindir Didik bergurau. "Hece!, Banci selebor kutonjok mulutmu baru kapok ya?!." Balas Herman menghardik. Didik tertawa terbahak-bahak sembari melarikan motor nya kencang-kencang. Suara knalpot motor itu cukup membisingkan telinga Herman dan Anita. Keduanya lantas saling bertatapan mesra sekali. "Adakah waktumu untuk menemaniku berjalan-jalan Herman?" "Aku selalu bersedia meluangkan waktuku untuk menemanimu ke mana saja." Ucap Herman datar. Wajah Anita berseri-seri. Kedua insan itu melangkah pergi meninggalkan pintu gerbang. Matahari yang bersinar terik membuat kening Anita dibasahi keringat. Sebetulnya Herman ingin rasanya menghusap keringat di kening gadis itu. Tapi ada rasa kecanggungan untuk melakukannya; karena dia takut ditolaknya. Setelah agak jauh dari induk universitas, Anita menyetop taxi. Dia menurut saja ketika tangannya ditarik oleh Anita masuk ke dalam mobil. Di jok belakang mereka duduk bersisian. Mobil membewa mereka ke sebuah pantai, dimana mereka pernah berduaan di tempat itu. Selesai membayar ongkos taxi, mereka menelusuri pinggiran pantai. Tapi kali ini Herman tidak berbuat seperti yang lalu, sambil berjalan dia memeluk tubuh Anita yang padat berisi. Melainkan berjejer dengan jarak sekitar dua puluh senti. Hanya kadang kala kulit mereka sering bersentuhan. Dan setiap kali kulit mereka bersentuhan di hati masing-masing berdesir perasaan nikmat dan bahagia. Anita mengajak Herman duduk jauh dari keramaian. Tepatnya di bawah pohon mahoni yang berdaun rindang mereka duduk sambil berteduh. Angin pantai yang bertiup dengan sedikit campuran uap garam menjadikan kulit jadi mudah berminyak. Ombak di laut yang tak pernah berhenti menjilati pasir-pasir sungguh menyenangkan setiap mata yang melihat. Termasuk kedua remaja yang tengah duduk di bawah pohon mahoni ini. "Kau tidak membenciku bukan, Herman?" Tanya Anita lembut. "Aku tak pernah membenci kepada siapa pun, termasuk engkau." "Terima kasih Herman." "Anita..." Panggil Herman lunak. Gadis itu menoleh ke wajah Herman yang tampan. "Aku tak habis mengerti tentang kemauan mu. Katakanlah dengan terus terang apa alasanmu menyembunyikan segala kemunafikanmu. Kau tidak akan mengibaratkan diriku sebagai boneka permainanmu bukan? Karena aku menghendaki suatu permainan yang berakhir dengan baik. Kalau toh ini hanya merupakan tonil janganlah sampai terpotong sebelum cerita itu berakhir dengan sempurna. Aku tahu. baik di dunia pentas ataupun di arena kehidupan nyata hanya ada dua kemungkinan. Hidup atau mati, berhasil atau gagal. Sekarang kuminta kesediaanmu untuk mengungkap kan apa yang telah terjadi atas dirimu. Aku telah siap untuk menerima manis atau pahitnya kenyataan." Kedua mata gadis itu menjadi hangat, butir- butir air mata bening mengambang di kelopaknya. Lalu menetes pelan jatuh ke pipinya. "Aku masih ingin bertemu denganmu, bisa selalu bersamamu, maka aku merasa berat untuk mengatakan semua problem yang kualami. Aku takut kau pergi dariku Herman." Kata Anita tersendat-sendat. "Kau terlalu egois Anita. Kau hanya memikirkan tentang kepuasan diri sendiri tanpa mau berpaling pada perasaanku yang seperti terombang-ambing dalam ketidakpastian. Apakah kau hanya akan mencencang batinku, sementara tubuhku kau anggap boneka permainanmu? Ooooooh... alangkah kejamnya." Desah Herman. Anita menjatuhkan kepalanya di dada Herman dan menangis tersedu-sedu. Herman tidak membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Rambutnya yang hitam legam terurai itu dibelainya lembut penuh kasih sayang. Meski hati Herman keras bagaikan baja, dia merasa terharu mendengar tangis Anita yang dirasa memilukan. Akankah Anita mengatakan kenyataan yang sebenarnya?, tapi dia takut kehilangan lelaki ini. Dia terkatup tak berkata hanya isak tangisnya yang memecah-keheningan di situ. Anita merasa terlindung dan aman dalam pelukan lelaki itu. Bukankah selama ini Anita memimpikan kenyataan yang seperti sekarang? Ya, hidup yang dilaluinya terasa jauh dari hamparan kasih sayang. Sedangkan apa yang dialami selama ini hanyalah kemunafikan belaka. "Air matamu belum cukup untuk memberi jawaban yang pasti Nita. Jika kau malu untuk mengatakan, bahwa selama ini yang kau cari kemewahan dengan berkencan bandot-bandot tua, aku tidak mau perduli. Yang penting bagiku kau mau berterus terang dan membalas cintaku dengan tulus. Itu saja Nita." Tandas Herman. Anita mendorong tubuh Herman sehingga pelukan lelaki itu terlepas. Dengan mata yang berli- nang-linang, Anita menatap Herman tajam-tajam. "Herman, kata-katamu menyakiti hatiku," ketus Anita. Tangis Anita semakin pilu. "Aku tidak bermaksud demikian Nita. Justru aku telah berkata dengan kejujuran yang kumiliki. Buatku sekalipun kau seorang janda beranak lima, atau mungkin seorang p*****r jalanan, aku tetap mencintaimu. Tetap ingin mengawinimu, kau mengerti Nita?" Anita membuka rousliting5 gaunnya ke bawah, sehingga tubuhnya dibagian dada terpampang menantang di mata Herman. "Akan ku buktikan jika tubuhku masih suci Herman." Ujar Anita. 5 resleting
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD