"Kenalkah anda dengan Herman?."
"Ya, saya teman baiknya." Sahut Didik
setengah menyelidik.
"Merasa keberatankah anda bila saya minta
kesediaan anda untuk menyampaikan, bahwa ada
teman yang mencarinya?"
"Oooo, tidak. Tunggu sebentar saya akan rae-
manggilnya/"
Didik bergegas menuju ke perpustakaan
untuk menemui Herman. Biasanya lelaki itu paling
senang menghabiskan waktunya dengan membaca
buku di perpustakaan. Ternyata dugaan Didik tidak
meleset, lelaki yang tengah dicarinya itu sedang
membaca buku. Didik langsung mencabut buku
yang sedang dibaca oleh Herman.
"Berhenti dulu membacanya!," bentak Didik
mengagetkan Herman.
"Kau tidak mempunyai etiket kesopanan
sebagai mahasiswa Didik!."
Hardik Herman sambil melototkan mata. Dia
benar-benar marah diperlakukan dengan cara
demikian. Herman bergegas bangkit dan siap 56
memukul muka Didik. Tetapi Didik tersenyum
tenang.
"Jadi orang tidak boleh cepat marah." Kata
Didik bergurau.
"Kau keterlaluan!."
"Sabar mek." Didik berkata lunak.
"Nggak usyah pakai mek-mekan. Apa
perlumu sekarang!."
"Duh galaknya persis anjing lagi bunting."
Ledek Didik.
"Apa kau katakan aku anjing lagi bunting?, bisa ku
tonjok mulutmu yang monyong itu!."
"Duuuh begitu aja marah, abang kalau marah
ca?ep deh." Ucap Didik menirukan logat banci yang
slebor. Tangan Didik mencowel kemayu ke dada
Herman. Lelaki yang sedang marah itu jadi tertawa.
"s****n!" Gerutu Herman memaki.
"Ada orang mencarimu. Herman. Dia
menunggu di depan pintu gerbang." Kata Didik.
"Siapa?"
"Lihat sendiri."
"Cewek apa cowok?"
"Banci slebor." Sahut Didik sambil tertawa.
"Kamu jangan ngaco Dik, aku serius nih,"
tandas Herman.
"Ternyata kalau benar yang dulu pernah kau
bicarakan kepadaku mengenai seorang gadis yang
cantiknya selangit, dialah yang kini mencarimu!"
"Kau tidak ngjbul?. baik aku akan segera
menemuinya."
Herman bergegas hendak pergi, namun Didik
menahannya.
"Eiiiit!...tunggu dulu. Ternyata matamu
memang hebat dalam menilai seorang gadis. Dia
begitu cantik dan anggun." Kata Didik jujur.
"Taik kucing!" Sergah Herman sambil
melangkah pergi.
"Kalau dia tak kau butuhkan lagi, serahkan
saja kepadaku. Aku benar-benar telah jatuh hati
padanya!." Teriak Didik sebelum Herman jauh
meninggalkannya.
"Biar disambar geledek kalau kau mencintainya!."
Balas Herman memaki. Sementara Didik tertawa
berderai dan hati Herman mendongkol.
Langkah Herman semakin dipercepat agar
cepat sampai ke pintu gerbang. Ketika dia telah
keluar dari induk universitas, matanya menangkap
tubuh seorang gadis berdiri anggun di bawah terik
sinar matahari yang memanggang. Rambutnya yang
hitam legam sebatas bahu disapu angin hingga
lepas terurai. Alangkah cantiknya gadis pujaannya
itu. Apakah Herman sangat mencintai gadis itu.
Setelah langkah Herman mendekati gadis yang
sejak tadi berdiri menunggu, hatinya menjadi gusar.
"Herman...," tegur Anita lunak.
"Ya?" Sahut Herman tergagap.
Mata mereka saling bentrok agak lama dan di
hati masing-masing berdesir perasaan nikmat.
"Kita sudah lama tidak saling jumpa
Herman." Kata Anita parau.
Herman hanya mengangguk sambil
mengulum bibirnya yang kering. 59
Anita tak bisa berbuat banyak di depan
Herman. Kalau sejak dari rumah tadi dia ingin
berkata banyak dan mungkin langsung memeluk
lelaki itu, namun di sini dia hanya bisa berdiri
canggung: Tanpa bisa mencetuskan apa-apa yang
dibawa dari rumah dengan kerinduan.
Di bawah teriknya sinar matahari mereka
sama-sama berdiri mematung. Baru setelah Didik
menegur mereka, kesadaran akan kecanggungan
nya punah seketika.
"Di zaman apollo ini kok masih ada orang
pacaran mirip Siti Nurbaya ya?" Sindir Didik
bergurau.
"Hece!, Banci selebor kutonjok mulutmu
baru kapok ya?!." Balas Herman menghardik. Didik
tertawa terbahak-bahak sembari melarikan motor
nya kencang-kencang. Suara knalpot motor itu
cukup membisingkan telinga Herman dan Anita.
Keduanya lantas saling bertatapan mesra sekali.
"Adakah waktumu untuk menemaniku
berjalan-jalan Herman?"
"Aku selalu bersedia meluangkan waktuku
untuk menemanimu ke mana saja." Ucap Herman
datar.
Wajah Anita berseri-seri. Kedua insan itu
melangkah pergi meninggalkan pintu gerbang.
Matahari yang bersinar terik membuat kening Anita
dibasahi keringat. Sebetulnya Herman ingin rasanya
menghusap keringat di kening gadis itu. Tapi ada
rasa kecanggungan untuk melakukannya; karena
dia takut ditolaknya. Setelah agak jauh dari induk
universitas, Anita menyetop taxi.
Dia menurut saja ketika tangannya ditarik
oleh Anita masuk ke dalam mobil. Di jok belakang
mereka duduk bersisian. Mobil membewa mereka
ke sebuah pantai, dimana mereka pernah berduaan
di tempat itu. Selesai membayar ongkos taxi,
mereka menelusuri pinggiran pantai. Tapi kali ini
Herman tidak berbuat seperti yang lalu, sambil
berjalan dia memeluk tubuh Anita yang padat
berisi. Melainkan berjejer dengan jarak sekitar dua
puluh senti. Hanya kadang kala kulit mereka sering
bersentuhan. Dan setiap kali kulit mereka
bersentuhan di hati masing-masing berdesir
perasaan nikmat dan bahagia.
Anita mengajak Herman duduk jauh dari
keramaian. Tepatnya di bawah pohon mahoni yang
berdaun rindang mereka duduk sambil berteduh.
Angin pantai yang bertiup dengan sedikit campuran
uap garam menjadikan kulit jadi mudah berminyak.
Ombak di laut yang tak pernah berhenti menjilati
pasir-pasir sungguh menyenangkan setiap mata
yang melihat. Termasuk kedua remaja yang tengah
duduk di bawah pohon mahoni ini.
"Kau tidak membenciku bukan, Herman?"
Tanya Anita lembut.
"Aku tak pernah membenci kepada siapa
pun, termasuk engkau."
"Terima kasih Herman."
"Anita..." Panggil Herman lunak.
Gadis itu menoleh ke wajah Herman yang tampan.
"Aku tak habis mengerti tentang kemauan
mu. Katakanlah dengan terus terang apa alasanmu
menyembunyikan segala kemunafikanmu. Kau
tidak akan mengibaratkan diriku sebagai boneka
permainanmu bukan? Karena aku menghendaki
suatu permainan yang berakhir dengan baik. Kalau
toh ini hanya merupakan tonil janganlah sampai
terpotong sebelum cerita itu berakhir dengan
sempurna. Aku tahu. baik di dunia pentas ataupun
di arena kehidupan nyata hanya ada dua
kemungkinan. Hidup atau mati, berhasil atau gagal.
Sekarang kuminta kesediaanmu untuk mengungkap
kan apa yang telah terjadi atas dirimu. Aku telah
siap untuk menerima manis atau pahitnya
kenyataan."
Kedua mata gadis itu menjadi hangat, butir-
butir air mata bening mengambang di kelopaknya.
Lalu menetes pelan jatuh ke pipinya.
"Aku masih ingin bertemu denganmu, bisa
selalu bersamamu, maka aku merasa berat untuk
mengatakan semua problem yang kualami. Aku
takut kau pergi dariku Herman." Kata Anita
tersendat-sendat.
"Kau terlalu egois Anita. Kau hanya
memikirkan tentang kepuasan diri sendiri tanpa
mau berpaling pada perasaanku yang seperti
terombang-ambing dalam ketidakpastian. Apakah
kau hanya akan mencencang batinku, sementara
tubuhku kau anggap boneka permainanmu?
Ooooooh... alangkah kejamnya." Desah Herman.
Anita menjatuhkan kepalanya di dada
Herman dan menangis tersedu-sedu. Herman tidak
membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
Rambutnya yang hitam legam terurai itu dibelainya
lembut penuh kasih sayang. Meski hati Herman
keras bagaikan baja, dia merasa terharu mendengar
tangis Anita yang dirasa memilukan. Akankah Anita
mengatakan kenyataan yang sebenarnya?, tapi dia
takut kehilangan lelaki ini. Dia terkatup tak berkata
hanya isak tangisnya yang memecah-keheningan di
situ.
Anita merasa terlindung dan aman dalam
pelukan lelaki itu. Bukankah selama ini Anita
memimpikan kenyataan yang seperti sekarang? Ya,
hidup yang dilaluinya terasa jauh dari hamparan
kasih sayang. Sedangkan apa yang dialami selama
ini hanyalah kemunafikan belaka.
"Air matamu belum cukup untuk memberi
jawaban yang pasti Nita. Jika kau malu untuk
mengatakan, bahwa selama ini yang kau cari
kemewahan dengan berkencan bandot-bandot tua,
aku tidak mau perduli. Yang penting bagiku kau mau
berterus terang dan membalas cintaku dengan
tulus. Itu saja Nita." Tandas Herman.
Anita mendorong tubuh Herman sehingga
pelukan lelaki itu terlepas. Dengan mata yang berli-
nang-linang, Anita menatap Herman tajam-tajam.
"Herman, kata-katamu menyakiti hatiku,"
ketus Anita.
Tangis Anita semakin pilu.
"Aku tidak bermaksud demikian Nita. Justru
aku telah berkata dengan kejujuran yang kumiliki.
Buatku sekalipun kau seorang janda beranak lima,
atau mungkin seorang p*****r jalanan, aku tetap
mencintaimu. Tetap ingin mengawinimu, kau
mengerti Nita?"
Anita membuka rousliting5 gaunnya ke
bawah, sehingga tubuhnya dibagian dada
terpampang menantang di mata Herman.
"Akan ku buktikan jika tubuhku masih suci
Herman." Ujar Anita.
5 resleting