"b*****t!."
Seperti siang itu Herman berjalan menuju ke
halte bis yang terpampang iklan pasta gigi
pepsodent. Langkahnya yang gontai membawanya
lebih dekat kearah halte bis itu. Mendadak
jantungnya menggelepar kencang. Mendadak
matanya menanar menatap sesosok tubuh gadis
yang berdiri anggun dibawah naungan halte bis itu.
Ya... Tuhan gadis yang berdiri anggun itu adalah
Anita. Gadis itu menatap Herman dengan pancaran
mata rindu dan gelisah. Lantas gadis itu
menundukkan muka ketika melihat mata Herman
menatapnya dengiin sinis. d**a Anita terasa Sesak
untuk bernafas dan sikapnya jadi berubah
canggung.
Herman berdiri di sisinya tanpa mau
menegur. Diam tegak bagai batu cadas yang kokoh.
Sementara Anita hanya berani melirik seperti anak
kecil yang dimarahi ayahnya. Dengan ditekan
berjuta perasaan, Anita memberanikan diri untuk
menegur Herman.
"Baru pulang kuliah Her?" Suara Anita serak.
"Yah." Jawab Herman singkat.
"Kau membenci aku?"
"Yah."
Anita mengeluh panjang. Herman melirik Anita
sinis.
"Seharusnya kau tak boleh membenci aku."
Kata Anita parau.
"Karena kau telah membodohi aku." Hanya
itu sahutan Herman.
"Aku tidak bermaksud demikian Herman."
"Kau terlalu pandai membawakan peranan
mu. Aku tahu, aku orang yang tak mampu
memberikan apa-apa kepadamu selain sekeping
hati yang peruh dengan cinta kasih. Kalau mungkin
yang kau cari dalam hidupmu segala bentuk
kemewahan, aku akan mundur teratur. Sekali lagi,
aku orang yang tak mampu membahagiakanmu
dengan berdasarkan kemewahan!" Tutur Herman
beremosi.
"Kenapa jadi begini?...kenapa?" desah Anita
tersiksa.
Herman tercenung selesai mendengar
keluhan Anita yang tersiksa. Dia sendiri tak habis
mengerti kenapa gadis ini demikian tertekan
perasaannya. Tak sanggup melepaskan siksaan yang
jelas dalam sikapnya terlalu dibeienggu oleh ketidak
wajaran. Lalu apa gerangan yang telah terjadi pada
dirinya? Sayang kau tidak mau berterus terang.
"Herman... kalau kau mau mengerti,
segalanya akan berjalan secara wajar. Kita hidup di
atas dunia ini hanya sebagai pelaku yang memperan
kan berbagai macam watak dan pembawaan. Kita
tak ubahnya seperti menjalankan alur kehidupan
yang tak tahu apa yang dikehendaki Tuhan
sebenarnya terhadap takdir. Aku pasrah kepada-
NYA. Kalau takdir menghendaki aku harus
menerima kenyataan yang sama sekali tak
kuharapkan, aku tak bisa menolaknya." Demikian
ungkapan kata hati Anita yang panjang. Walau
sesungguhnya perasaannya dililit kepedihan dan
Herman melihat kedua mata gadis itu berlinang air
mata.
Kemudian gadis itu melangkah pergi tanpa
mau menoleh lagi kearah Herman yang mas.ih
tegak sendirian di bawah halte bis. Alangkah
sombongnya, alangkah angkuhnya mentang-
mentang memliki wajah cantik. Pikir Herman
setengah memaki. Sempat mata Herman melihat
saat Anita naik ke dalam Taxi dan taxi itu melaju
pergi. Langkah-langkah Herman gontai dengan
disertai wajah murung meninggalkan halte bis itu.
Hatinya benar-benar sakit. Betapapun demikian
cinta di dadanya masih berjelora bagai nafasnya
yang belum terhenti. Kapan lagi dia bisa bertemu
dengan gadis itu dan mau mengungkapkan problem
pribadinya. Kalau segala latar belakangnya sudah
terungkap jelas, Herman baru bisa mengambil
kesimpulan kenapa Anita seangkuh itu, macam
gunung yang tak bisa tergeser.
***
Anita sadar sepenuhnya dengan apa yang dialami
selama ini. Bayangan wajah Herman yang selalu
melintas di dalam benaknya, menjadikan soie pun
menjadi sepi. Sebab Herman tak pernah muncul
lagi, sejak perjumpaan terakhir di halte bis tempo
hari. Lelaki itu tak pernah nampak berdiri dibawahi
halte bis, setiap pulang kuliah sore. Juga sore ini
kesepian yang dirasakan Anita terlampau
menyekam. Dia mengharapkan kehadiran lelaki itu
kembali. Barangkali dia marah, barangkali dia
membenciku, aaah Anita berdiri dengan keluhan.
Sehingga senja yang begitu indah terasa baginya
amat mencekam dilanda kesepian. Tak tahulah
akan makna apa sepi yang melilit relung hatinya itu.
Yang jelas Anita senang pada lelaki seperti Herman
tampan, jantan dan figur seorang lelaki yang sejak
dulu diimpi-impikan Anita. Dua pulun tahun usianya
telah lebih empat bulan, dari mulai dia mengerti
apa fungsi lelaki bagi kehidupannya,
Hermanlah yang sekaligus menggoncangkan
kalbunya. Berarti cinta yang mulai memutik di
hatinya tumbuh dengan wajar dan merupakan
benih cinta yang pertama. Aaaaah... sepi itu
sekarang mulai dirasakan menghimpit, bahkan lebih
kuat karena Anita ingin berjumpa dengan Herman.
Lantas sepi macam apa ini? Aku mengharap dia
hadir di depanku dan sama-sama saling b******u,
tapi aku tak boleh menyatakan cinta terhadapnya.
Bukankah itu lebih baik jika dirinya tidak menjadi
korban kenyataan? Lebih baik kecewa awal dari
pada di hari kemudian kekecewaan itu akan
semakin parah dialami. Biar dia menganggapku
tidak mau berterus terang dan polos. Sekalipun dia
mengatakan aku menipunya dengan permainan
yang kujalani, aku akan menerima dengan ikhlas.
Aku tidak akan membencinya. Dia seorang lelaki
yang merupakan cahaya dalam kegelapan hidupku,
merupakan embun yang membungakan kuncup
hatiku untuk mengenal arti cinta yang sebenarnya.
Terus terang aku sangat membutuhkan dia,
membutuhkan kenikmatan b******a yang secara
wajar dan bukan paksaan. Tercetusnya hati
nuraniku buat mencintainya karena ada sesuatu
yang kuinginkan dalam dirinya. Seandainya aku
harus berterus terang kepadamu, aku takut
menganggapmu remeh. Kau akan menilai dirimu
lebih tak berdaya. Padahal kalau kau tahu
perasaanku, padahal kalau kau tahu problemku,
sungguh...sungguh kau akan menaruh belas kasihan
yang amat besar. Kekecewaan yang mungkin
selama ini menekan perasaanmu akan sirna. Lalu
bagaimana ini...? Apa yang musti aku lakukan?
Demikianlah keresahan yang senantiasa
berdentum-dentum dalam d**a Anita. Baginya
Herman sungguh berarti.
Dan keesokan harinya Anita mendatangi
universitas. Dimana Herman menempuh bangku
kuliah di situ. Anita tak tahan akan gelora rindu yang
menggelora di hatinya. Dia sendiri bingung saat
berdiri di depan induk universitas, apa sih
sebenarnya kemauannya menemui lelaki itu?
Rindunya, apakah lantaran cinta yang menggebu-
gebu?, aah!... tidak! Lantas apa? Gadis itu belum
mendapatkan jawaban yang tetap pada dirinya
sendiri. Apakah berarti Anita telah kehilangan
kepercayaan terhadap diri sendiri?, yah...sejak
problem itu menekan jiwanya, Anita seperti
kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Dia
merasa telah terombang-ambing oleh nasib yang
tak berketentuan.
Kemudian Anita memberanikan diri untuk
bertanya kepada seorang pemuda yang baru saja
keluar dari fakultas sastra. Ternyata pemuda yang
ditanya oleh Anita itu tak lain adalah Didik.