Musim Hujan Di Februari

941 Words
"b*****t!." Seperti siang itu Herman berjalan menuju ke halte bis yang terpampang iklan pasta gigi pepsodent. Langkahnya yang gontai membawanya lebih dekat kearah halte bis itu. Mendadak jantungnya menggelepar kencang. Mendadak matanya menanar menatap sesosok tubuh gadis yang berdiri anggun dibawah naungan halte bis itu. Ya... Tuhan gadis yang berdiri anggun itu adalah Anita. Gadis itu menatap Herman dengan pancaran mata rindu dan gelisah. Lantas gadis itu menundukkan muka ketika melihat mata Herman menatapnya dengiin sinis. d**a Anita terasa Sesak untuk bernafas dan sikapnya jadi berubah canggung. Herman berdiri di sisinya tanpa mau menegur. Diam tegak bagai batu cadas yang kokoh. Sementara Anita hanya berani melirik seperti anak kecil yang dimarahi ayahnya. Dengan ditekan berjuta perasaan, Anita memberanikan diri untuk menegur Herman. "Baru pulang kuliah Her?" Suara Anita serak. "Yah." Jawab Herman singkat. "Kau membenci aku?" "Yah." Anita mengeluh panjang. Herman melirik Anita sinis. "Seharusnya kau tak boleh membenci aku." Kata Anita parau. "Karena kau telah membodohi aku." Hanya itu sahutan Herman. "Aku tidak bermaksud demikian Herman." "Kau terlalu pandai membawakan peranan mu. Aku tahu, aku orang yang tak mampu memberikan apa-apa kepadamu selain sekeping hati yang peruh dengan cinta kasih. Kalau mungkin yang kau cari dalam hidupmu segala bentuk kemewahan, aku akan mundur teratur. Sekali lagi, aku orang yang tak mampu membahagiakanmu dengan berdasarkan kemewahan!" Tutur Herman beremosi. "Kenapa jadi begini?...kenapa?" desah Anita tersiksa. Herman tercenung selesai mendengar keluhan Anita yang tersiksa. Dia sendiri tak habis mengerti kenapa gadis ini demikian tertekan perasaannya. Tak sanggup melepaskan siksaan yang jelas dalam sikapnya terlalu dibeienggu oleh ketidak wajaran. Lalu apa gerangan yang telah terjadi pada dirinya? Sayang kau tidak mau berterus terang. "Herman... kalau kau mau mengerti, segalanya akan berjalan secara wajar. Kita hidup di atas dunia ini hanya sebagai pelaku yang memperan kan berbagai macam watak dan pembawaan. Kita tak ubahnya seperti menjalankan alur kehidupan yang tak tahu apa yang dikehendaki Tuhan sebenarnya terhadap takdir. Aku pasrah kepada- NYA. Kalau takdir menghendaki aku harus menerima kenyataan yang sama sekali tak kuharapkan, aku tak bisa menolaknya." Demikian ungkapan kata hati Anita yang panjang. Walau sesungguhnya perasaannya dililit kepedihan dan Herman melihat kedua mata gadis itu berlinang air mata. Kemudian gadis itu melangkah pergi tanpa mau menoleh lagi kearah Herman yang mas.ih tegak sendirian di bawah halte bis. Alangkah sombongnya, alangkah angkuhnya mentang- mentang memliki wajah cantik. Pikir Herman setengah memaki. Sempat mata Herman melihat saat Anita naik ke dalam Taxi dan taxi itu melaju pergi. Langkah-langkah Herman gontai dengan disertai wajah murung meninggalkan halte bis itu. Hatinya benar-benar sakit. Betapapun demikian cinta di dadanya masih berjelora bagai nafasnya yang belum terhenti. Kapan lagi dia bisa bertemu dengan gadis itu dan mau mengungkapkan problem pribadinya. Kalau segala latar belakangnya sudah terungkap jelas, Herman baru bisa mengambil kesimpulan kenapa Anita seangkuh itu, macam gunung yang tak bisa tergeser. *** Anita sadar sepenuhnya dengan apa yang dialami selama ini. Bayangan wajah Herman yang selalu melintas di dalam benaknya, menjadikan soie pun menjadi sepi. Sebab Herman tak pernah muncul lagi, sejak perjumpaan terakhir di halte bis tempo hari. Lelaki itu tak pernah nampak berdiri dibawahi halte bis, setiap pulang kuliah sore. Juga sore ini kesepian yang dirasakan Anita terlampau menyekam. Dia mengharapkan kehadiran lelaki itu kembali. Barangkali dia marah, barangkali dia membenciku, aaah Anita berdiri dengan keluhan. Sehingga senja yang begitu indah terasa baginya amat mencekam dilanda kesepian. Tak tahulah akan makna apa sepi yang melilit relung hatinya itu. Yang jelas Anita senang pada lelaki seperti Herman tampan, jantan dan figur seorang lelaki yang sejak dulu diimpi-impikan Anita. Dua pulun tahun usianya telah lebih empat bulan, dari mulai dia mengerti apa fungsi lelaki bagi kehidupannya, Hermanlah yang sekaligus menggoncangkan kalbunya. Berarti cinta yang mulai memutik di hatinya tumbuh dengan wajar dan merupakan benih cinta yang pertama. Aaaaah... sepi itu sekarang mulai dirasakan menghimpit, bahkan lebih kuat karena Anita ingin berjumpa dengan Herman. Lantas sepi macam apa ini? Aku mengharap dia hadir di depanku dan sama-sama saling b******u, tapi aku tak boleh menyatakan cinta terhadapnya. Bukankah itu lebih baik jika dirinya tidak menjadi korban kenyataan? Lebih baik kecewa awal dari pada di hari kemudian kekecewaan itu akan semakin parah dialami. Biar dia menganggapku tidak mau berterus terang dan polos. Sekalipun dia mengatakan aku menipunya dengan permainan yang kujalani, aku akan menerima dengan ikhlas. Aku tidak akan membencinya. Dia seorang lelaki yang merupakan cahaya dalam kegelapan hidupku, merupakan embun yang membungakan kuncup hatiku untuk mengenal arti cinta yang sebenarnya. Terus terang aku sangat membutuhkan dia, membutuhkan kenikmatan b******a yang secara wajar dan bukan paksaan. Tercetusnya hati nuraniku buat mencintainya karena ada sesuatu yang kuinginkan dalam dirinya. Seandainya aku harus berterus terang kepadamu, aku takut menganggapmu remeh. Kau akan menilai dirimu lebih tak berdaya. Padahal kalau kau tahu perasaanku, padahal kalau kau tahu problemku, sungguh...sungguh kau akan menaruh belas kasihan yang amat besar. Kekecewaan yang mungkin selama ini menekan perasaanmu akan sirna. Lalu bagaimana ini...? Apa yang musti aku lakukan? Demikianlah keresahan yang senantiasa berdentum-dentum dalam d**a Anita. Baginya Herman sungguh berarti. Dan keesokan harinya Anita mendatangi universitas. Dimana Herman menempuh bangku kuliah di situ. Anita tak tahan akan gelora rindu yang menggelora di hatinya. Dia sendiri bingung saat berdiri di depan induk universitas, apa sih sebenarnya kemauannya menemui lelaki itu? Rindunya, apakah lantaran cinta yang menggebu- gebu?, aah!... tidak! Lantas apa? Gadis itu belum mendapatkan jawaban yang tetap pada dirinya sendiri. Apakah berarti Anita telah kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri?, yah...sejak problem itu menekan jiwanya, Anita seperti kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Dia merasa telah terombang-ambing oleh nasib yang tak berketentuan. Kemudian Anita memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang pemuda yang baru saja keluar dari fakultas sastra. Ternyata pemuda yang ditanya oleh Anita itu tak lain adalah Didik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD