Tubuhnya lesu tanpa memiliki gairah lagi. Anita
tahu betul perasaan yang bergelora di hati lelaki itu.
Dia pasti kecewa. Untuk mengurangi iasa kecewa
ielaki itu, Anita memeluk tubuh Herman dalam
desah cinta yang terpendam.
Lelaki itu tanpa membuang kesempatan lagi
mengulum bibir Anita dengan lembut dan hangat.
Tangannya yang melingkar di leher jenjang gadis itu
mendekap erat, sehingga Anita merasa begitu sulit
untuk bernafas. Tapi meskipun demikian dia tetap
saja pasrah. Tubuh gadis itu mengeliat manja
tatkala tangan Herman meremas benda lunak yang
membusung di d**a. Seperti pohon cemara yang
menggeliat disapu angin laut. Cukup lama ciuman
itu berlangsung dan kala berakhir kedua pipi Anita
merah merona. Kedua insan itu baru meninggalkan
pantai ketika matahari tidak tampak lagi. Berjalan
berhimpitan meninggalkan kenangan yang
bergumul dengan keresahan.
membuat bunga flamboyan tumbuh merata di
ranting-ranting pohon yang menaungi kampus.
Begitu-pun dengan bunga-bunga lainnya yang
tumbuh di taman samping induk universitas.
Herman baru meninggalkan kampus sambil
memegang map lusuh. Cuaca senja itu sangat cerah.
Tapi tidak indah baginya, karena dibalik segala yang
teramat mesra Herman ternyata mengalami
perasaan-perasaan aneh didalam batinnya, yaitu
mengenai hubungannya dengan Anita selama ini
masih belum me-nemukan kepastian.
Makanya dia sedikit jengkel dengan gadis itu.
Padahal dia mencintai Anita sepenuh hatinya. Dan
kejengkelan itu rasanya mengganggu bayangan
kemesraan yang dibawanya dari pantai tempo hari.
Mengganggu gemulungnya hati yang sedang
dilanda nikmatnya cinta. Malam pun masih selalu
mengganggu, tidur kurang nyenyak makanpun tak
enak. Bukan itu saja. Segalanya jadi beringsut.
Membuatnya malas membaca dan mengarang.
Membuatnya kepingin marah, serba salah dan
segala macam yang aneh-aneh. Cuma sayangnya
tak ada tempat untuk pelariannya, hingga dapat
mengurangi eneg-unegnya.
Herman terus melangkah di bawah jembatan
penyeberangan. Ketika tampak olehnya sebuah
batu di jalan yang akan dilalui, sepatunya
menendang kerikil itu hingga melesat jauh. Untung
saja tidak mengenai penjual buah dingin yang
berjualan di depan toko onderdil mobil danmotor.
Sekalipun batu kerikil itu tidak mengenai, penjual
buah dingin itu sempat melototkan mata kepada
Herman. Rupanya lelaki ini membalas melototkan
mata pula. Herman siap menantang penjual buah
dingin itu. Barangkali inilah jalan satu-satunya
untuk melampiaskan uneg-unegnya. Herman sudah
mata gelap. Agaknya penjual buah dingin keder3
melihat mata Herman yang melotot bagaimana
ulang. Kembali si buah dingin itu menundukkan
muka sambil mengiris pepaya. Herman menghela
nafas panjang sembari meneruskan langkahnya.
Lantas Herman naik bis kota jurusan Senen.
Ada keperluan yang akan dibelinya. Satu pita mesin
ketik dan buku phiskologi. Namun ketika dia sampai
3 Istilah betawi untuk : takut, jerih, segan
di proyek Senen, bagai terpaku tatkala melihat
seorana gadis berjalan dengan bandot setengah
baya. Gadis yang berjalan sambil dipeluk bandot
setengah baya itu tak lain adalah Anita. Herman
bagai disambar petir di siang hari bolong ketika
menyaksikan kenyataan itu. Seperti ada getaran
mahnit yang membuat gadis itu menoleh
kearahnya. Maka terhenti sejenak langkah gadis itu
dan memandang Herman dengan kecemasan yang
dentum-dentum di d**a. Herman berbuat sama
dan mata mereka saling bentrok beberapa saat.
"Ada apa Nita?" Tegur lelaki di samping Anita.
"Ah!, tidak ada apa-apa."
Tergagap jawaban Anita. Lantas gadis itu
melangkah lagi dengan diiringi bandot setengah
baya yang berada di sisinya.
Herman masih saja mengawasi kedua orang
itu sampai lenyap di antara sekian banyak orang
yang sedang sibuk berbelanja di super market.
Herman baru meneruskan langkahnya sambil
menoleh kea-rah belakang, di mana Anita dan
bandot tua itu menghilang di antara sekian banyak
orang. Tanpa disadari oleh Herman, dia menubruk
orang yang sedang berjalan. Jelas saja orang yang
ditubruk Herman marah-marah.
"Jalan tidak lihat ke depan! Dikemanain tuh
mata!." Bentak seorang wanita yang tengah
berjalan sambil menggandeng anaknya.
"Saya taruh di punggung bu." Sahut Herman
sembari nyengir kuda.
"s****n kau! Biar disambar geledek !"
Wanita itu mengomel macam-macam tapi
Herman tidak ambil pusing lagi. Dia terus nyelonong
pergi seraya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Tahulah sekarang apa yang bersembunyi dibalik
ketidak pastian Anita untuk membalas cintanya.
Alangkah pandainya dia bersilat lidah hanya sebagai
penutup kedoknya belaka. Mulai detik ini aku tidak
mau lagi menjadi boneka permainannya. Tidak mau
lagi menjadi kambing hitamnya. Persetan dengan
segala daya tarik pada dirinya yang telah menyeret
aku ke dalam kencan sandiwara yang tak lucu.
Demikian rutuk hati Herman yang penuh emosi.
Kalau toh Anita hanya sekedar bermain sandiwara,
apa artinya harus banyak dipikirkan. Lebih baik bagi
Herman menghindar sebelum keparahan itu akan
dalam menyiksanya. Dengan hati yang kacau balau
lelaki itu membeli keperluannya di sebuah toko
alat-alat tulis.
Dan semenjak itu Herman berusaha untuk
melupakan Anita. Tapi semakin dia berusaha
melupakan Anita, semakin sulit baginya untuk
berbuat itu. Bayangan gadis itu selalu saja
meinenjihj benaknya tanpa mau perduli. Hari-hari
yang dilaluinya gampang sekali mendatangkan
kemurungan, gampang sekali mendatangkan
kesepian yang baginya terasa amat sulit dicerna.
Padahal dia tahu gejala itu datang dari
seorang gadis yang bernama Anita. Hati dan
perasaannya telah terpaut oleh cetusan naluri yang
sulit untuk diuraikan dengan kata-kata. Itulah salah
satu kalimat CINTA. Hampir setiap manusia pasti
akan mengalaminya, dan akan menjadi b***k dari
cinta itu sendiri. Manusia tidak akan mampu
menentang kehendaknya bila cinta itu sudah mulai
bersemi dan membelenggu dirinya. Hal ini telah
terbukti bagi diri Herman. Dia tak kuasa mengelak,
meski dia tetap berusaha membunuh mati
perasaannya yang sedang berbunga cinta. Faktor
phiskologis-nya, perasaan rindu membubuhkan
cinta itu menjadi lebih berat kadarnya. Selama
manusia masih memiliki perasaan rindu, berarti
manusia itu masih mempunyai rasa cinta yang
sempurna.
Herman mengaku, memang terasa sulit
untuk melupakan Anita. Gadis itu telah
membuahkan bunga mekar pada kalbunya yang
selama ini mengharapkan kehadiran seorang gadis
seperti Anita. Paling-paling bila rasa jengkelnya
datang lantaran ingat Anita berjalan dengan bandot
tua itu, ia selalu menendang batu kerikil di jalan
yang akan dilaluinya. Gumam yang terlontar dari
mulutnya: