On Fire

928 Words
Tubuhnya lesu tanpa memiliki gairah lagi. Anita tahu betul perasaan yang bergelora di hati lelaki itu. Dia pasti kecewa. Untuk mengurangi iasa kecewa ielaki itu, Anita memeluk tubuh Herman dalam desah cinta yang terpendam. Lelaki itu tanpa membuang kesempatan lagi mengulum bibir Anita dengan lembut dan hangat. Tangannya yang melingkar di leher jenjang gadis itu mendekap erat, sehingga Anita merasa begitu sulit untuk bernafas. Tapi meskipun demikian dia tetap saja pasrah. Tubuh gadis itu mengeliat manja tatkala tangan Herman meremas benda lunak yang membusung di d**a. Seperti pohon cemara yang menggeliat disapu angin laut. Cukup lama ciuman itu berlangsung dan kala berakhir kedua pipi Anita merah merona. Kedua insan itu baru meninggalkan pantai ketika matahari tidak tampak lagi. Berjalan berhimpitan meninggalkan kenangan yang bergumul dengan keresahan. membuat bunga flamboyan tumbuh merata di ranting-ranting pohon yang menaungi kampus. Begitu-pun dengan bunga-bunga lainnya yang tumbuh di taman samping induk universitas. Herman baru meninggalkan kampus sambil memegang map lusuh. Cuaca senja itu sangat cerah. Tapi tidak indah baginya, karena dibalik segala yang teramat mesra Herman ternyata mengalami perasaan-perasaan aneh didalam batinnya, yaitu mengenai hubungannya dengan Anita selama ini masih belum me-nemukan kepastian. Makanya dia sedikit jengkel dengan gadis itu. Padahal dia mencintai Anita sepenuh hatinya. Dan kejengkelan itu rasanya mengganggu bayangan kemesraan yang dibawanya dari pantai tempo hari. Mengganggu gemulungnya hati yang sedang dilanda nikmatnya cinta. Malam pun masih selalu mengganggu, tidur kurang nyenyak makanpun tak enak. Bukan itu saja. Segalanya jadi beringsut. Membuatnya malas membaca dan mengarang. Membuatnya kepingin marah, serba salah dan segala macam yang aneh-aneh. Cuma sayangnya tak ada tempat untuk pelariannya, hingga dapat mengurangi eneg-unegnya. Herman terus melangkah di bawah jembatan penyeberangan. Ketika tampak olehnya sebuah batu di jalan yang akan dilalui, sepatunya menendang kerikil itu hingga melesat jauh. Untung saja tidak mengenai penjual buah dingin yang berjualan di depan toko onderdil mobil danmotor. Sekalipun batu kerikil itu tidak mengenai, penjual buah dingin itu sempat melototkan mata kepada Herman. Rupanya lelaki ini membalas melototkan mata pula. Herman siap menantang penjual buah dingin itu. Barangkali inilah jalan satu-satunya untuk melampiaskan uneg-unegnya. Herman sudah mata gelap. Agaknya penjual buah dingin keder3 melihat mata Herman yang melotot bagaimana ulang. Kembali si buah dingin itu menundukkan muka sambil mengiris pepaya. Herman menghela nafas panjang sembari meneruskan langkahnya. Lantas Herman naik bis kota jurusan Senen. Ada keperluan yang akan dibelinya. Satu pita mesin ketik dan buku phiskologi. Namun ketika dia sampai 3 Istilah betawi untuk : takut, jerih, segan di proyek Senen, bagai terpaku tatkala melihat seorana gadis berjalan dengan bandot setengah baya. Gadis yang berjalan sambil dipeluk bandot setengah baya itu tak lain adalah Anita. Herman bagai disambar petir di siang hari bolong ketika menyaksikan kenyataan itu. Seperti ada getaran mahnit yang membuat gadis itu menoleh kearahnya. Maka terhenti sejenak langkah gadis itu dan memandang Herman dengan kecemasan yang dentum-dentum di d**a. Herman berbuat sama dan mata mereka saling bentrok beberapa saat. "Ada apa Nita?" Tegur lelaki di samping Anita. "Ah!, tidak ada apa-apa." Tergagap jawaban Anita. Lantas gadis itu melangkah lagi dengan diiringi bandot setengah baya yang berada di sisinya. Herman masih saja mengawasi kedua orang itu sampai lenyap di antara sekian banyak orang yang sedang sibuk berbelanja di super market. Herman baru meneruskan langkahnya sambil menoleh kea-rah belakang, di mana Anita dan bandot tua itu menghilang di antara sekian banyak orang. Tanpa disadari oleh Herman, dia menubruk orang yang sedang berjalan. Jelas saja orang yang ditubruk Herman marah-marah. "Jalan tidak lihat ke depan! Dikemanain tuh mata!." Bentak seorang wanita yang tengah berjalan sambil menggandeng anaknya. "Saya taruh di punggung bu." Sahut Herman sembari nyengir kuda. "s****n kau! Biar disambar geledek !" Wanita itu mengomel macam-macam tapi Herman tidak ambil pusing lagi. Dia terus nyelonong pergi seraya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Tahulah sekarang apa yang bersembunyi dibalik ketidak pastian Anita untuk membalas cintanya. Alangkah pandainya dia bersilat lidah hanya sebagai penutup kedoknya belaka. Mulai detik ini aku tidak mau lagi menjadi boneka permainannya. Tidak mau lagi menjadi kambing hitamnya. Persetan dengan segala daya tarik pada dirinya yang telah menyeret aku ke dalam kencan sandiwara yang tak lucu. Demikian rutuk hati Herman yang penuh emosi. Kalau toh Anita hanya sekedar bermain sandiwara, apa artinya harus banyak dipikirkan. Lebih baik bagi Herman menghindar sebelum keparahan itu akan dalam menyiksanya. Dengan hati yang kacau balau lelaki itu membeli keperluannya di sebuah toko alat-alat tulis. Dan semenjak itu Herman berusaha untuk melupakan Anita. Tapi semakin dia berusaha melupakan Anita, semakin sulit baginya untuk berbuat itu. Bayangan gadis itu selalu saja meinenjihj benaknya tanpa mau perduli. Hari-hari yang dilaluinya gampang sekali mendatangkan kemurungan, gampang sekali mendatangkan kesepian yang baginya terasa amat sulit dicerna. Padahal dia tahu gejala itu datang dari seorang gadis yang bernama Anita. Hati dan perasaannya telah terpaut oleh cetusan naluri yang sulit untuk diuraikan dengan kata-kata. Itulah salah satu kalimat CINTA. Hampir setiap manusia pasti akan mengalaminya, dan akan menjadi b***k dari cinta itu sendiri. Manusia tidak akan mampu menentang kehendaknya bila cinta itu sudah mulai bersemi dan membelenggu dirinya. Hal ini telah terbukti bagi diri Herman. Dia tak kuasa mengelak, meski dia tetap berusaha membunuh mati perasaannya yang sedang berbunga cinta. Faktor phiskologis-nya, perasaan rindu membubuhkan cinta itu menjadi lebih berat kadarnya. Selama manusia masih memiliki perasaan rindu, berarti manusia itu masih mempunyai rasa cinta yang sempurna. Herman mengaku, memang terasa sulit untuk melupakan Anita. Gadis itu telah membuahkan bunga mekar pada kalbunya yang selama ini mengharapkan kehadiran seorang gadis seperti Anita. Paling-paling bila rasa jengkelnya datang lantaran ingat Anita berjalan dengan bandot tua itu, ia selalu menendang batu kerikil di jalan yang akan dilaluinya. Gumam yang terlontar dari mulutnya:
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD