Pantai Biru

1184 Words
Di pesisir pantai yang berpasir halus, langkah-langkah mereka membekas di situ. Udara pantai yang habis turun hujan dirasa lebih nyaman bagi kulit kedua insan itu. Tangan Herman memeluk pundak Anita sembari sebentar-sebentar menatap wajah gadis yang di dalam pelukannya itu. Ketika tatapan mereka terpaut menjadi satu, senyum di antara kedua insan itu saling menghiasi bibirnya masing-masing. Burung-burung camar yaug beterbangan di langit turut pula menyaksikan kemesraan kedua insan yang dilanda bara cinta itu. Mereka duduk di bawah pohon sambil menyaksikan ombak yang berderai menjilati pasir- pasir di sepanjang pinggiran laut. Angin yang berhembus semilir menerpa rambut Anita hingga terurai. Herman menepikan rambut Anita yang sebagian menutupi wajahnya. Dengan hati-hati sekali Herman mengelus-elus kening Anita, bagaikan menyimak anak-anak rambut yang tumbuh di sekitar kening gadis itu. "Aku sungguh telah jatuh cinta padamu, Anita." Kata Herman lembut. Anita terhenyak dan berusaha mengalihkan pandangan ke laut yang terbentang luas membiru. Herman yang masih menunggu jawaban gadis itu terkesima menikmati cantiknya wajah Anita. "Kenapa kau diam saja Anita?" Gadis itu menggeleng, tapi memaksa untuk tersenyum. Herman jadi termangu heran. "Kau menolak cintaku. Anita?" Desak Herman. Gadis itu menggeleng lagi. Herman tak habis mengerti. "Lantas kau anggap apa aku ini?" "Aku sendiri tidak tahu apa yang telah kulakukan ini. Sudah terlalu jauh kutempuh jalan hidupku tanpa pengertian yang sebenarnya." Sahut Anita tanpa ujung pangkal yang diketahui Herman. Jelas saja lelaki itu jadi semakin bodoh dipermain kan oleh kata-kata Anita. "Kenapa musti begitu? dan apa yang telah terjadi atas dirimu." "Sulit untuk kujelaskan kepadamu, Herman. Yang jelas aku merasa bahagia bila berada di dekatmu. Merasa terlindung dalam pelukanmu. Perasaan yang selama ini menghimpitku dalam kesepian, kesunyian menuntut banyak untuk mencari kebahagiaan." Tutur Anita. "Kalau kau mau membalas cintaku, percayalah kebahagiaan yang selama ini kau cari ada pada diriku. Aku ingin membahagiakan dirimu, Nita. Karena aku mencintaimu dengan tulus dan suci." Kata Herman sambil menggenggam tangan Anita dengan hangat dan mesra. Gadis itu diam, namun sepasang matanya yang bulat indah menatap wajah Herman dengan penuh kemesraan. Bagi Anita kata-kata lebih dulu diucapkan, karena banyak persoalan yang tak ingin diceritakan kepada Herman. "Ijinkanlah aku menciummu, Nita. Kau tidak keberatan bukan?" Anita memejamkan kedua matanya dengan bibir yang terkuak siap untuk menerima kecupan hangat lelaki itu. Wajah Herman semakin mendekat dan hembusan nafas lelaki itu terasa hangat di pipi Anita. Bibir merah berwarna merah jambu itu telah diserkap oleh lumatan hangat dan lembut bibir Herman. Selama bibir merah kenyal itu dihisap Herman, Anita senantiasa memejamkan matanya. Meresapi kenikmatan yang diberikan bibir lelaki pujaannya. Kalau toh mata Anita terbuka, Ini pun hanya sekejap saja. Tangan Herman yang mulai meraba-raba. meremas dan melilit tubuh Anita, membuat mata Anita jadi melek merem. Dia bagai terbang ke angkasa luas nan indah. Gadis itu mendesah, merintih dan berkali-kali mengeluh manja. Sampai akhirnya Anita mendorong tubuh Herman karena tak kuasa lagi untuk menahan serangan lelaki itu. Pori-pori tubuhnya telah menguapkan sari-sari birahi yang semakin memuncak. "Kamu nakal amat sih?," ketus Anita manja dengan nafas memburu. Herman tersenyum, tangannya membelai halus bulu-bulu yang tumbuh meremang di kening Anita. "Aku sungguh mencintaimu. Anita. Kau mau membalasnya bukan?" Anita selalu diam bila saja Herman mulai mengungkapkan isi hatinya. Dan dia selalu mengatupkan bibir tanpa jawaban yang senantiasa aiha-rapkan oleh Herman. Lelaki itu selalu menunggu jawaban yang pasti mengenai ungkapan perasaannya. Paling-paling yang dinanti tak lain seraut wajah sendu dalam kesayuan. Sehingga Herman hanya dapat mengeluh dan menghela nafas berat, setiap kali gadis itu tidak memberikan kepastian. Mata Anita menatap mata Herman dengan sejuta keresahan. "Kau tak percaya kepadaku. Anita?". Mata Anita seperti bingung. "Kenapa diam saja Anita?" "Tak apa-apa." "Kau telah menyiksaku." Ucap Herman dalam keluhan. Mata gadis itu kembali berkaca-kaca, bibirnya digigit sambil menahan gejola perasaan yang sulit untuk diuraikan dengan kata-kata. "Katakanlah, apa karena aku lelaki miskin yang tak punya apa-apa sehingga kau merasa keberatan untuk membalas cintaku? Katakanlah dengan jujur, Anita. Akan kuakui segala kekurangan yang terdapat dalam diriku. Tapi jangan kau siksa aku dengan kebisuanmu." Desak Herman setengah memaksa. "Jangan bertanya banyak tentang perasaan ku, Herman. Kau tak akan mampu mengatasinya. Kurasa kita cukup dengan saling berjumpa disetiap saat yang kita inginkan." Nafas Anita sesak. "Bagiku belum cukup Anita. Sebab kepastian darimu membuatku lebih berani menghadapi kehidupan yang bagaimanapun peliknya. Kalau kau mengatakan aku tidak mampu mengatasi persoalanmu karena aku mungkin belm tahu apa yang terjadi pada dirimu. Maka katakanlah dengan segenap kejujuranmu, aku akan berusaha mengatasi segala problem yang menyulitkan dirimu." Suara Herman demikian murung, sehingga dada Anita bertambah sesak untuk bernafas. Wajahnya demikian sendu, butir air mata jatuh perlahan di pipi nya tanpa terdengar isak tangisnya, Justru hal seperti ini sangat menyiksa dan memberi tekanan perasaan Anita. "Herman..." Ucapnya terhenti. "Akan kubuka sekeping hatiku bagi kehadiranmu. Tapi jangan kau paksa aku buat mengatakan alasannya. Juga kau tak boleh datang ke rumahku, kau mengerti?" Sambung Anita sendu. Lelaki itu diam murung seraya melayangkan pandangan ke laut biru yang membentang luas di depannya. Rambutnya yang gondrong teratur rapi melambai-lambai dihembus angin laut dan gadis itu membelalainya penuh kasih sayang. Belaiannya tak jauh berbeda bagai seorang ibu membelai rambut anaknya yang dalam kedukaan. "Kau mengerti Herman?," ulangnya lembut. "Alangkah kejamnya kenyataan yang kualami." Keluh Herman. "Jangan menyesali dirimu sendiri Herman. Karena di balik semuanya itu kau belum tahu kepahitan yang bersembunyi di belakangku. Aku tidak menghendaki dirimu ikut menelan empedu itu. Cukup dengan kita bisa bersama selalu untuk melepaskan kerinduan." Herman menatap wajah teduh Anita yang dalam kesenduan. Air mata yang menitik dari kelopak matanya semakin deras membasahi pipi. Namun isak tangisnya tak terdengar. Tercekam perasaan Herman menyaksikan linangan butiran air mata Anita. Tapi dia ingin berbuat lebih banyak tak mampu. Bagi Heiman perasaan resah meronta- ronta dalam d**a tanpa mau perduli. Kalau saja dia seorang gadis, sudah pasti akan menangis. Meskipun demikian tangis yang disimpan dalam hatinya akan menjadi batu intan yang abadi. "Aku akan menerima kenyataan ini dengan hati sabar Anita. Selama matahari masih tetap bersinar memanggang bumi, itulah bentuk cintaku yang membakar jiwa ragaku tanpa mau perduli. Mungkin saat ini aku belum mampu berbuat apa- apa, tapi suatu ketika kau harus dapat kurebut dari semua persoalan yang mungkin membelenggu dirimu. Sekarang aku tidak mempunyai daya Anita. Aku mengerti. Dan mengakui kelemahanku untuk bisa menang." Tandas suara Herman penuh semangat. Sementara Anita tertunduk sambil mempermainkan ujung jarinya. Dia mengakui kelebihan Herman Dia dapat merasakan getaran cinta Herman yang tulus dan suci. Mungkin saja baginya belum pernah menemukan seoran lelaki seperti Herman. Yah... Herman mempunyai kelebihan tentang cinta dan kasih sayang yang selama ini belum pernah didapatkan oleh Anita. Tapi dia tidak ingin melihat diri lelaki itu tu.ut hangus terbakar oleh persoalan pribadinya yang sulit untuk dipecahkan. Senja mulai merayap di langit belahan timur, sedangkan matahari dengan sedikit malu-malu kembali ke peraduannya di batas cakrawala. Sinarnya yang merah keemasan sempat membias di permukaan laut. Camar yang beterbangan menambah indahnya panorama senja di pantai. "Kita pulang Herman." Ajak Anita lembut. Herman menoleh ke wajah gadis yang duduk di sampingnya. Dalam jilatan senja keemasan wajah Anita yang dalam kesenduan nampak lebih anggun dan cantik. Gelora cinta Herman masih tertahan di dadanya tanpa bisa tertuang dengan sempurna, lantaran gadis itu masih belum mau membalasnya Maka dengan setengah mengeluh, lelaki itu bangkit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD