Di pesisir pantai
yang berpasir halus, langkah-langkah mereka
membekas di situ. Udara pantai yang habis turun
hujan dirasa lebih nyaman bagi kulit kedua insan itu.
Tangan Herman memeluk pundak Anita sembari
sebentar-sebentar menatap wajah gadis yang di
dalam pelukannya itu. Ketika tatapan mereka
terpaut menjadi satu, senyum di antara kedua insan
itu saling menghiasi bibirnya masing-masing.
Burung-burung camar yaug beterbangan di langit
turut pula menyaksikan kemesraan kedua insan
yang dilanda bara cinta itu.
Mereka duduk di bawah pohon sambil
menyaksikan ombak yang berderai menjilati pasir-
pasir di sepanjang pinggiran laut. Angin yang
berhembus semilir menerpa rambut Anita hingga
terurai. Herman menepikan rambut Anita yang
sebagian menutupi wajahnya. Dengan hati-hati
sekali Herman mengelus-elus kening Anita,
bagaikan menyimak anak-anak rambut yang
tumbuh di sekitar kening gadis itu.
"Aku sungguh telah jatuh cinta padamu,
Anita." Kata Herman lembut.
Anita terhenyak dan berusaha mengalihkan
pandangan ke laut yang terbentang luas membiru.
Herman yang masih menunggu jawaban gadis itu
terkesima menikmati cantiknya wajah Anita.
"Kenapa kau diam saja Anita?"
Gadis itu menggeleng, tapi memaksa untuk
tersenyum. Herman jadi termangu heran.
"Kau menolak cintaku. Anita?" Desak Herman.
Gadis itu menggeleng lagi. Herman tak habis
mengerti.
"Lantas kau anggap apa aku ini?"
"Aku sendiri tidak tahu apa yang telah
kulakukan ini. Sudah terlalu jauh kutempuh jalan
hidupku tanpa pengertian yang sebenarnya." Sahut
Anita tanpa ujung pangkal yang diketahui Herman.
Jelas saja lelaki itu jadi semakin bodoh dipermain
kan oleh kata-kata Anita.
"Kenapa musti begitu? dan apa yang telah
terjadi atas dirimu."
"Sulit untuk kujelaskan kepadamu, Herman.
Yang jelas aku merasa bahagia bila berada di
dekatmu. Merasa terlindung dalam pelukanmu.
Perasaan yang selama ini menghimpitku dalam
kesepian, kesunyian menuntut banyak untuk
mencari kebahagiaan." Tutur Anita.
"Kalau kau mau membalas cintaku,
percayalah kebahagiaan yang selama ini kau cari
ada pada diriku. Aku ingin membahagiakan dirimu,
Nita. Karena aku mencintaimu dengan tulus dan
suci." Kata Herman sambil menggenggam tangan
Anita dengan hangat dan mesra.
Gadis itu diam, namun sepasang matanya
yang bulat indah menatap wajah Herman dengan
penuh kemesraan. Bagi Anita kata-kata lebih dulu
diucapkan, karena banyak persoalan yang tak ingin
diceritakan kepada Herman.
"Ijinkanlah aku menciummu, Nita. Kau tidak
keberatan bukan?"
Anita memejamkan kedua matanya dengan
bibir yang terkuak siap untuk menerima kecupan
hangat lelaki itu. Wajah Herman semakin mendekat
dan hembusan nafas lelaki itu terasa hangat di pipi
Anita. Bibir merah berwarna merah jambu itu telah
diserkap oleh lumatan hangat dan lembut bibir
Herman. Selama bibir merah kenyal itu dihisap
Herman, Anita senantiasa memejamkan matanya.
Meresapi kenikmatan yang diberikan bibir lelaki
pujaannya. Kalau toh mata Anita terbuka, Ini pun
hanya sekejap saja.
Tangan Herman yang mulai meraba-raba.
meremas dan melilit tubuh Anita, membuat mata
Anita jadi melek merem. Dia bagai terbang ke
angkasa luas nan indah. Gadis itu mendesah,
merintih dan berkali-kali mengeluh manja. Sampai
akhirnya Anita mendorong tubuh Herman karena
tak kuasa lagi untuk menahan serangan lelaki itu.
Pori-pori tubuhnya telah menguapkan sari-sari
birahi yang semakin memuncak.
"Kamu nakal amat sih?," ketus Anita manja
dengan nafas memburu.
Herman tersenyum, tangannya membelai
halus bulu-bulu yang tumbuh meremang di kening
Anita.
"Aku sungguh mencintaimu. Anita. Kau mau
membalasnya bukan?"
Anita selalu diam bila saja Herman mulai
mengungkapkan isi hatinya. Dan dia selalu
mengatupkan bibir tanpa jawaban yang senantiasa
aiha-rapkan oleh Herman. Lelaki itu selalu
menunggu jawaban yang pasti mengenai ungkapan
perasaannya. Paling-paling yang dinanti tak lain
seraut wajah sendu dalam kesayuan. Sehingga
Herman hanya dapat mengeluh dan menghela
nafas berat, setiap kali gadis itu tidak memberikan
kepastian. Mata Anita menatap mata Herman
dengan sejuta keresahan.
"Kau tak percaya kepadaku. Anita?".
Mata Anita seperti bingung.
"Kenapa diam saja Anita?"
"Tak apa-apa."
"Kau telah menyiksaku." Ucap Herman dalam
keluhan.
Mata gadis itu kembali berkaca-kaca,
bibirnya digigit sambil menahan gejola perasaan
yang sulit untuk diuraikan dengan kata-kata.
"Katakanlah, apa karena aku lelaki miskin
yang tak punya apa-apa sehingga kau merasa
keberatan untuk membalas cintaku? Katakanlah
dengan jujur, Anita. Akan kuakui segala kekurangan
yang terdapat dalam diriku. Tapi jangan kau siksa
aku dengan kebisuanmu." Desak Herman setengah
memaksa.
"Jangan bertanya banyak tentang perasaan
ku, Herman. Kau tak akan mampu mengatasinya.
Kurasa kita cukup dengan saling berjumpa disetiap
saat yang kita inginkan." Nafas Anita sesak.
"Bagiku belum cukup Anita. Sebab kepastian
darimu membuatku lebih berani menghadapi
kehidupan yang bagaimanapun peliknya. Kalau kau
mengatakan aku tidak mampu mengatasi
persoalanmu karena aku mungkin belm tahu apa
yang terjadi pada dirimu. Maka katakanlah dengan
segenap kejujuranmu, aku akan berusaha
mengatasi segala problem yang menyulitkan
dirimu."
Suara Herman demikian murung, sehingga
dada Anita bertambah sesak untuk bernafas.
Wajahnya demikian sendu, butir air mata jatuh
perlahan di pipi nya tanpa terdengar isak tangisnya,
Justru hal seperti ini sangat menyiksa dan memberi
tekanan perasaan Anita.
"Herman..." Ucapnya terhenti.
"Akan kubuka sekeping hatiku bagi
kehadiranmu. Tapi jangan kau paksa aku buat
mengatakan alasannya. Juga kau tak boleh datang
ke rumahku, kau mengerti?" Sambung Anita sendu.
Lelaki itu diam murung seraya melayangkan
pandangan ke laut biru yang membentang luas di
depannya. Rambutnya yang gondrong teratur rapi
melambai-lambai dihembus angin laut dan gadis itu
membelalainya penuh kasih sayang. Belaiannya tak
jauh berbeda bagai seorang ibu membelai rambut
anaknya yang dalam kedukaan.
"Kau mengerti Herman?," ulangnya lembut.
"Alangkah kejamnya kenyataan yang
kualami." Keluh Herman.
"Jangan menyesali dirimu sendiri Herman.
Karena di balik semuanya itu kau belum tahu
kepahitan yang bersembunyi di belakangku. Aku
tidak menghendaki dirimu ikut menelan empedu
itu. Cukup dengan kita bisa bersama selalu untuk
melepaskan kerinduan."
Herman menatap wajah teduh Anita yang
dalam kesenduan. Air mata yang menitik dari
kelopak matanya semakin deras membasahi pipi.
Namun isak tangisnya tak terdengar. Tercekam
perasaan Herman menyaksikan linangan butiran air
mata Anita. Tapi dia ingin berbuat lebih banyak tak
mampu. Bagi Heiman perasaan resah meronta-
ronta dalam d**a tanpa mau perduli. Kalau saja dia
seorang gadis, sudah pasti akan menangis.
Meskipun demikian tangis yang disimpan dalam
hatinya akan menjadi batu intan yang abadi.
"Aku akan menerima kenyataan ini dengan
hati sabar Anita. Selama matahari masih tetap
bersinar memanggang bumi, itulah bentuk cintaku
yang membakar jiwa ragaku tanpa mau perduli.
Mungkin saat ini aku belum mampu berbuat apa-
apa, tapi suatu ketika kau harus dapat kurebut dari
semua persoalan yang mungkin membelenggu
dirimu. Sekarang aku tidak mempunyai daya Anita.
Aku mengerti. Dan mengakui kelemahanku untuk
bisa menang." Tandas suara Herman penuh
semangat. Sementara Anita tertunduk sambil
mempermainkan ujung jarinya. Dia mengakui
kelebihan Herman Dia dapat merasakan getaran
cinta Herman yang tulus dan suci. Mungkin saja
baginya belum pernah menemukan seoran lelaki
seperti Herman. Yah... Herman mempunyai
kelebihan tentang cinta dan kasih sayang yang
selama ini belum pernah didapatkan oleh Anita.
Tapi dia tidak ingin melihat diri lelaki itu tu.ut
hangus terbakar oleh persoalan pribadinya yang
sulit untuk dipecahkan.
Senja mulai merayap di langit belahan timur,
sedangkan matahari dengan sedikit malu-malu
kembali ke peraduannya di batas cakrawala.
Sinarnya yang merah keemasan sempat membias di
permukaan laut. Camar yang beterbangan
menambah indahnya panorama senja di pantai.
"Kita pulang Herman." Ajak Anita lembut.
Herman menoleh ke wajah gadis yang duduk di
sampingnya. Dalam jilatan senja keemasan wajah
Anita yang dalam kesenduan nampak lebih anggun
dan cantik. Gelora cinta Herman masih tertahan di
dadanya tanpa bisa tertuang dengan sempurna,
lantaran gadis itu masih belum mau membalasnya
Maka dengan setengah mengeluh, lelaki itu bangkit.