Anita Di Antara Hujan

964 Words
Mendadak orang-orang saling berlarian guna mencari tempat untuk berteduh karena hujan mulai turun dari langit. Semula titik-titik air hujan itu jatuh rintik-rintik, akan tetapi kemudian bertambah deras. Mata Herman menangkap sesosok tubuh indah berlari kearah peron. Dia hafal betul bahwa gadis itu tiada lain adalah Anita. Ya, Anita. Jantung Herman bergelepar... ya Tuhan, gadis yang mengenakan rok hijau dengan kembang- kembang putih dan kuning itu Anita. Maka Herman bergegas bangkit dan menghampiri Anita yarg baru saja menginjakkan kakinya di ubin peron. "Anita..." Tegur Herman parau. Gadis itu terkesima menatap Herman yang sudah berdiri di sampingnya. Anita dapat menangkap melalui panca indranya, bahwa lelaki yang berdiri disampingnya itu menatap dengan pancaran mata rindu. "Apa yang kau kerjakan di sini?" Tanya Anita sambil melirik. "Apa saja yang bisa membawa rejeki. Siapa tahu aku dapat menemukan dompet orang yang berisi uang jutaan." "Kamu memang benar-benar senewen," sergah Anita. "Barangkali anggapanmu itu benar." "Hm!." Anita berdehem. "Lama tak kelihatan kemana saja?" Tanya Herman lunak. Gadis itu diam saja. Matanya yang indah menatap langit mendung yang meluruhkan air hujan. Anita merasa tidak perlu mengutarakan jalan hidupnya yang ditempuh selama ini. Mungkin hanya untuk mereka yang sudah tahu. baginya meiiBa telah cukup. Sejauh itu langkahnya cukup membawa tekanan perasaan yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata. "Lama tak kelihatan," sambung Herman lagi. "Dua minggu telah berlalu." Tindih Anita basa-basi. "Sakit?" "Yah." Sahut Anita pendek. Dia hanya mengharap dengan berdusta tidak akan memperpanjang pertanyaan lelaki itu. "Sekarang masih sakit?" "Sudah agak mendingan." "Kalau begitu kuantar kau pulang." Anita diam. "Mau kau?" Anita masih diam. "Aku sekalian ingin bermain ke rumahmu, tak apa-apa kan?" Herman seperti membujuk adiknya yang meminta kembang gula. "Enggak keberatan kan?" Anita baru kemudian menggelengkan kepala. "Kenapa?" "Kau tak akan mengerti kehidupanku." "Aku akan berusaha untuk mengerti kehidupanmu, Anita. Percayalah. "Jangan." Desah gadis itu. Herman jadi berubah demikian kecewa. Curahan air hujan yang turun dan langit menjadi pelampiasa rasa kecewanya. Dia memandangnya dengan tatapan hampa. Kau tak boleh tahu rumahku. Siapa pun tak boleh tahu rumanku! Keluh Anita tak bersuara, mulutnya terkatup rapat-rapat. Anita menatap mata lelaki yang berdiri di sampingnya, alangkah hampa dan kecewanya. Tapi... oooh, semua itu tak boleh terjadi. Mata Anita bertambah murung, sementara Herman berdiri dengan bahu yang lesu. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu, jika kau merasa keberatan." Anita menatap wajah Herman sekali lagi. Kecewa, pasti dia amat kecewa atas penolakan itu. Walau pun sesungguhnya perasaan Anita tidak jauh berbeda dengan lelaki itu. Selama ini dia menyekap rasa rindu ingin berjumpa dengan Herman. Sama- sama menelan makna cinta dan oh... mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergerak, tapi ucapan tak jua keluar dari sela-sela bibir itu. Kandas di dalam tenggorokan tanpa bisa terucap dengan sempurna. Ketika Herman menatap mata Anita yang berkaca-kaca jadi terharu. "Maafkanlah aku Anita. Sungguh mati aku tidak memaksamu, janganlah kau menangis. Aku mohon maaf barangkali telah menyakiti hatimu." Anita hanya tertunduk sambil menggigit bibirnya. Herman semakin merasa tertekan oleh perasaan bersalah. Dia jadi bingung tak berketentuan. "Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku Anita? Katakanlah, aku musti berbuat apa?" Desah Herman dalam keresahan. "Kau tidak bersalah Herman." Gumam Anita lirih. "Tapi agaknya kau tersinggung Anita." Gadis itu menggelengkan kepala, Herman mengeluh panjang. Untuk beberapa saat mereka sama-sama bungkam seribu basa. Di antara keheningan itu hanya terdengar suara hujan yang jatuh di genteng peron, di mana mereka berdua dan berpuluh-puluh orang berteduh di bawahnya. Anita menengadahkan muka dan menatap Herman yang sedari tadi tertunduk sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dia berdiri lesu menatap curahan air hujan yang bagaikan tirai kabut menghalangi tegaknya gedung hotel Borobudur. Bagai terkena aliran mahnit Herman menoleh ke wajah Anita. Dan mereka saling bertatapan penuh arti. "Kau tidak marah dan membenciku bukan Anita?" Tanya Herman parau. Anita berusaha untuk tenenyum dan makna dari senyumnya itu penuh dengan kepolosan. Lantas dia menggelengkan kepala pelan. "Terima kasih atas kemurahan hatimu." Lanjut Herman ceria. "Kau mau ke mana Herman?" "Aku tak mempunyai acara. Kau?" Anita menggelengkan kepala pelan. "Kalau begitu kita jalan-jalan ya?" Anita bungkam, tapi wajahnya tetap teduh dan tak ada tanda-tanda menolak ajakan Herman. Meski demikian Herman masih belum mantap. Jangan-jangan dia dikira memaksa dan gadis itu menangis lagi. Dia merasa amat terharu bila melihat Anita menangis, walau wajahnya bertambah sendu dan cantik. Betapapun dia senang bila melihat Anita menangis. "Kau mau kan?," desak Herman dalam keluh. "Masih hujan." Gumam Anita. "Tapi kau mau kan?" Gadis itu mengangguk pelan. Jantung Herman bagai mau meledak ketika Anita bersedia menuruti ajakannya. Keresahan yang bercokol di dadanya buyar seketika dan berubah menjadi berbunga. Girangnya bukan alang kepalang, karena selama ini Herman merindukan ingin pergi berduaan dengan gadis itu. Ingin mencurahkan segenap perasaannya yang selama ini bergelora dalam kalbunya. Herman jadi tersenyum, lagi-lagi tersenyum persis apa yang dikatakan Anita, bahwa lelaki ini senewen. Herman mengharap hujan yang turun dari langit akan segera terhenti. Harap-harap cemas di dada lelaki itu membuat dirinya tak sabar lagi untuk menunggu hujan itu reda. Terlihat sekali jika lelaki itu sering berdecap sambil mengeluh, kenapa hujan ini benar-benar tak tahu diri. Setelah menunggu sekian lama hujan pun telah reda. Orang-orang yang sejak tadi ikut berteduh di bawah atap peron sudah mulai mondar-mandir mencari bis kota jurusan yang tengah dinantikan. Kedua insan yang dilanda cinta itu turut meninggalkan peron dan melangkah keluar dari termiral Banteng. Herman memberanikan diri untuk menggandeng tangan mulus Anita. Gadis itu tidak menempiskan tangan Herman kala memegang jari-jarinya. Bahkan ketika tangan Herman meremas jari-jari Anita, gadis itu hanya mengeluh manja. Rambut Anita yang hitam legam sebatas bahu terurai disapu angin saat berjalan di sisi Herman. "Akan kau bawa aku kemana Herman?" Tanya Anita sambil berlari-lari kecil. Mereka menghindar bis kota yang akan memasuki terminal. "Kita ke pantai saja yuk?" Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Lantas Herman menyetop taxi dan kedua insan bercinta itu bergegas naik ke dalamnya. Taxi itu membawa mereka menuju pantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD