Mendadak orang-orang saling berlarian guna
mencari tempat untuk berteduh karena hujan mulai
turun dari langit. Semula titik-titik air hujan itu jatuh
rintik-rintik, akan tetapi kemudian bertambah
deras. Mata Herman menangkap sesosok tubuh
indah berlari kearah peron. Dia hafal betul bahwa
gadis itu tiada lain adalah Anita. Ya, Anita.
Jantung Herman bergelepar... ya Tuhan,
gadis yang mengenakan rok hijau dengan kembang-
kembang putih dan kuning itu Anita. Maka Herman
bergegas bangkit dan menghampiri Anita yarg baru
saja menginjakkan kakinya di ubin peron.
"Anita..." Tegur Herman parau.
Gadis itu terkesima menatap Herman yang sudah
berdiri di sampingnya.
Anita dapat menangkap melalui panca
indranya, bahwa lelaki yang berdiri disampingnya
itu menatap dengan pancaran mata rindu.
"Apa yang kau kerjakan di sini?" Tanya Anita
sambil melirik.
"Apa saja yang bisa membawa rejeki. Siapa
tahu aku dapat menemukan dompet orang yang
berisi uang jutaan."
"Kamu memang benar-benar senewen,"
sergah Anita.
"Barangkali anggapanmu itu benar."
"Hm!." Anita berdehem.
"Lama tak kelihatan kemana saja?" Tanya
Herman lunak.
Gadis itu diam saja. Matanya yang indah
menatap langit mendung yang meluruhkan air
hujan. Anita merasa tidak perlu mengutarakan jalan
hidupnya yang ditempuh selama ini. Mungkin hanya
untuk mereka yang sudah tahu. baginya meiiBa
telah cukup. Sejauh itu langkahnya cukup
membawa tekanan perasaan yang tak bisa
diuraikan dengan kata-kata.
"Lama tak kelihatan," sambung Herman lagi.
"Dua minggu telah berlalu." Tindih Anita
basa-basi.
"Sakit?"
"Yah." Sahut Anita pendek. Dia hanya
mengharap dengan berdusta tidak akan
memperpanjang pertanyaan lelaki itu.
"Sekarang masih sakit?"
"Sudah agak mendingan."
"Kalau begitu kuantar kau pulang."
Anita diam.
"Mau kau?"
Anita masih diam.
"Aku sekalian ingin bermain ke rumahmu, tak
apa-apa kan?"
Herman seperti membujuk adiknya yang meminta
kembang gula.
"Enggak keberatan kan?"
Anita baru kemudian menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Kau tak akan mengerti kehidupanku."
"Aku akan berusaha untuk mengerti
kehidupanmu, Anita. Percayalah.
"Jangan." Desah gadis itu.
Herman jadi berubah demikian kecewa.
Curahan air hujan yang turun dan langit menjadi
pelampiasa rasa kecewanya. Dia memandangnya
dengan tatapan hampa. Kau tak boleh tahu
rumahku. Siapa pun tak boleh tahu rumanku! Keluh
Anita tak bersuara, mulutnya terkatup rapat-rapat.
Anita menatap mata lelaki yang berdiri di
sampingnya, alangkah hampa dan kecewanya.
Tapi... oooh, semua itu tak boleh terjadi. Mata Anita
bertambah murung, sementara Herman berdiri
dengan bahu yang lesu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu, jika
kau merasa keberatan."
Anita menatap wajah Herman sekali lagi.
Kecewa, pasti dia amat kecewa atas penolakan itu.
Walau pun sesungguhnya perasaan Anita tidak jauh
berbeda dengan lelaki itu. Selama ini dia menyekap
rasa rindu ingin berjumpa dengan Herman. Sama-
sama menelan makna cinta dan oh... mata gadis itu
mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergerak, tapi ucapan
tak jua keluar dari sela-sela bibir itu. Kandas di
dalam tenggorokan tanpa bisa terucap dengan
sempurna. Ketika Herman menatap mata Anita
yang berkaca-kaca jadi terharu.
"Maafkanlah aku Anita. Sungguh mati aku
tidak memaksamu, janganlah kau menangis. Aku
mohon maaf barangkali telah menyakiti hatimu."
Anita hanya tertunduk sambil menggigit bibirnya.
Herman semakin merasa tertekan oleh perasaan
bersalah. Dia jadi bingung tak berketentuan.
"Apa yang bisa kulakukan untuk menebus
kesalahanku Anita? Katakanlah, aku musti berbuat
apa?" Desah Herman dalam keresahan.
"Kau tidak bersalah Herman." Gumam Anita lirih.
"Tapi agaknya kau tersinggung Anita."
Gadis itu menggelengkan kepala, Herman
mengeluh panjang. Untuk beberapa saat mereka
sama-sama bungkam seribu basa. Di antara
keheningan itu hanya terdengar suara hujan yang
jatuh di genteng peron, di mana mereka berdua dan
berpuluh-puluh orang berteduh di bawahnya. Anita
menengadahkan muka dan menatap Herman yang
sedari tadi tertunduk sambil memasukkan kedua
tangannya ke dalam saku celananya. Dia berdiri lesu
menatap curahan air hujan yang bagaikan tirai
kabut menghalangi tegaknya gedung hotel
Borobudur. Bagai terkena aliran mahnit Herman
menoleh ke wajah Anita. Dan mereka saling
bertatapan penuh arti.
"Kau tidak marah dan membenciku bukan
Anita?" Tanya Herman parau. Anita berusaha untuk
tenenyum dan makna dari senyumnya itu penuh
dengan kepolosan. Lantas dia menggelengkan
kepala pelan.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu."
Lanjut Herman ceria.
"Kau mau ke mana Herman?"
"Aku tak mempunyai acara. Kau?"
Anita menggelengkan kepala pelan.
"Kalau begitu kita jalan-jalan ya?"
Anita bungkam, tapi wajahnya tetap teduh
dan tak ada tanda-tanda menolak ajakan Herman.
Meski demikian Herman masih belum mantap.
Jangan-jangan dia dikira memaksa dan gadis itu
menangis lagi. Dia merasa amat terharu bila melihat
Anita menangis, walau wajahnya bertambah sendu
dan cantik. Betapapun dia senang bila melihat Anita
menangis.
"Kau mau kan?," desak Herman dalam keluh.
"Masih hujan." Gumam Anita.
"Tapi kau mau kan?"
Gadis itu mengangguk pelan. Jantung
Herman bagai mau meledak ketika Anita bersedia
menuruti ajakannya. Keresahan yang bercokol di
dadanya buyar seketika dan berubah menjadi
berbunga. Girangnya bukan alang kepalang, karena
selama ini Herman merindukan ingin pergi
berduaan dengan gadis itu. Ingin mencurahkan
segenap perasaannya yang selama ini bergelora
dalam kalbunya. Herman jadi tersenyum, lagi-lagi
tersenyum persis apa yang dikatakan Anita, bahwa
lelaki ini senewen.
Herman mengharap hujan yang turun dari
langit akan segera terhenti. Harap-harap cemas di
dada lelaki itu membuat dirinya tak sabar lagi untuk
menunggu hujan itu reda. Terlihat sekali jika lelaki
itu sering berdecap sambil mengeluh, kenapa hujan
ini benar-benar tak tahu diri.
Setelah menunggu sekian lama hujan pun
telah reda. Orang-orang yang sejak tadi ikut
berteduh di bawah atap peron sudah mulai
mondar-mandir mencari bis kota jurusan yang
tengah dinantikan. Kedua insan yang dilanda cinta
itu turut meninggalkan peron dan melangkah keluar
dari termiral Banteng. Herman memberanikan diri
untuk menggandeng tangan mulus Anita. Gadis itu
tidak menempiskan tangan Herman kala
memegang jari-jarinya. Bahkan ketika tangan
Herman meremas jari-jari Anita, gadis itu hanya
mengeluh manja. Rambut Anita yang hitam legam
sebatas bahu terurai disapu angin saat berjalan di
sisi Herman.
"Akan kau bawa aku kemana Herman?"
Tanya Anita sambil berlari-lari kecil. Mereka
menghindar bis kota yang akan memasuki terminal.
"Kita ke pantai saja yuk?"
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
Lantas Herman menyetop taxi dan kedua insan
bercinta itu bergegas naik ke dalamnya. Taxi itu
membawa mereka menuju pantai.