Episode 1
Seorang gadis berambut cepol satu berjalan sambil melompat kecil keluar dari toko bunga, dia bersemangat merangkul dua buket bunga di dadaa. Sesekali ia menempelkan hidung pada satu buket bunga paling rimbun untuk menghirup semerbak wangi yang mengingatkannya pada seseorang.
"Wanginya Ayang banget!," ucapnya saat muncul bayangan Kenzo dengan paket ketampanan tiada tara. Wajahnya memiliki visual yang memikat, alis tebal menyerupai dua pedang, tatapan matanya tajam dan dalam, pangkal hidung tinggi, dagu sedikit menonjol, dan bibir tipis yang memberikan warna cerah di kulit putihnya.
Bayangan Kenzo terlukis sempurna seperti terakhir kali mereka berjumpa di gazebo, tepat dua hari lalu saat dia meminta Syairil secara khusus menyambutnya di hari sidang Skripsi besok siang.
"Ayang Iril, Aku bakal marah banget kalo kamu engga datang tepat waktu kali ini." Kenzo mengatakannya dengan wajah ditekuk dan alis tebal yang bertaut.
Syairil mencolek hidung runcing milik pacarnya dan berdalih, "Pasti datang dong Ayang, Kamu kan prioritas kedua setelah kaca mata."
"Kenapa bukan yang pertama?." Kenzo melonggarkan kacamata yang bertengger pada pangkal hidung gadis cantik di depannya.
"Karena tanpa kacamata, Aku engga mungkin bisa menikmati ciptaan Tuhan terindah ini." Ucapnya sembari menumpukan dua telapak tangan pada dagu panjang milik Kenzo.
Syairil segera membenamkan pipi merahnya di bahu bidang Kenzo seusai lelaki itu melayangkan senyum tipis andalan.
Momen yang tersimpan rapi dalam otaknya itu membuat Syairil berjingkrak-jingkrak kesenangan.
Cowok dalam mobil yang terparkir depan toko bunga langsung menggeleng heran memerhatikan tingkah Syairil.
"Tuan Robin yakin sudah menuntaskan masalah kalian di toko bunga tadi?," tanya cowok yang sedang mengendap di balik setir mobil.
"Sudah," jawab singkat cowok satu lagi yang duduk di kursi belakang dengan mata tetap fokus pada tablet di tangan.
Cowok di kursi kemudi itu semakin merunduk saat Syairil berbalik badan dan melihat sekeliling seperti mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Syairil menyeringai begitu menemukan mobil Lamborghini veneno milik sosok yang dia cari.
"Kalau beneran sudah, kenapa cewek gila itu malah lari ke arah kita?"
Robin baru saja mengangkat pandangannya untuk merespon ucapan Kevin barusan, ia tersentak begitu melihat si gadis sudah berdiri di samping mobilnya. Ia memasang ekspresi kaget saat bola mata Syairil mendekat ke kaca pintu mobil, kedua cowok itu menggeleng serentak menyadari dia sudah sampai di dekat mobil mereka dalam hitungan detik.
Syairil mengetuk-ngetukkan jarinya di kaca mobil dengan ritme memburu dan tak beraturan, mendesak kaca mobil terbuka dan menampilkan wajah tersangka yang ia cari sedari tadi.
Syairil menatap orang dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi, ia mengeluarkan selembar kertas tipis dari saku dan berkata, "Karena masalah kita sudah tuntas, Saya kembalikan ID Card ini, Om."
Saat cowok dengan setelan jas hitam itu hendak menjumput ID Card-nya, Syairil berkata lagi "Makasih loh bunganya. Lain kali kalo bersalah, langsung tanggung jawab. Jangan nunggu cekcok dulu, barulah sadar!."
Syairil tersenyum sinis sebelum meninggalkan dua cowok yang masih tertegun mencerna kalimat terakhirnya.
"Dasar anj.. "
"Engga usah kepancing sama omongan anak kecil, kerjaan kita masih banyak." Robin menyela kata-kata mutiara yang hampir lolos dari mulut Kevin.
Sekretaris pribadinya acuh tak acuh dan langsung menginjak pedal gas. Mobil mereka melesat sekencang tornado dan hampir menerbangkan buket bunga beserta tubuh kurus Syairil yang tengah berjalan di trotoar.
Beruntung kali ini tangannya cekatan menangkap buket bunga milik Kenzo, namun nahas buket titipan sahabatnya—Yola tak terselamatkan.
Dengan berat hati, Syairil memungutnya dan saat itu juga ia menyadari pakaiannya telah kotor akibat cipratan air yang menggenang di jalan.
Tidak salah lagi, ia mengenali body dan warna mobil itu jelas milik 2 cowok menyebalkan tadi.
Dengan perasaan kesal bercampur marah, Syairil memaki si empunya mobil yang sudah menghilang di perempatan jalan.
"Woy duo om-om titisan fir'aun!. Beraninya Lo ngotorin baju couple Gue! . Awas aja kalo ketemu lagi, Gue acak-acak itu mobil sekalian orang-orangnya!"
Emosi Syairil meledak-ledak karena ulah dua pria yang datang dari negeri antah berantah. Mereka memang tampan, tapi mungkin tidak untuk sifatnya. Apalagi si pria berbalut tuksedo kelam bak malaikat pencabut nyawa. Tatapan dingin dari bola matanya yang berwarna abu-abu itu hampir membuat Syairil terjerumus pada jurang pesonanya.
Karena sibuk memikirkan pria tampan tadi, ia jadi lupa dengan kekesalannya pada mereka beberapa saat lalu.
Tangannya menahan rasa ingin mencakar wajah kedua cowok menyebalkan itu saat melihat baju bersihnya kini berubah menjadi basah dan kotor.
Beberapa orang yang berlalu lalang terlihat mengalihkan atensinya kepada Syairil yang tampak lusuh dengan pakaian kotornya. Syairil berlari menjauhi orang-orang, ia mengangkat buket untuk menutupi sebagian mukanya.
Gadis itu mempercepat langkahnya, pikirannya sekarang adalah bagaimana cara ia bisa menghilang secepatnya dari tempat ini.
Langkahnya terhenti begitu mendengar suara lantang seseorang, "Neng Syairil!".
Syairil menoleh ke asal suara yang memanggil namanya, tanpa mencarinya ia sudah hafal siapa yang memanggilnya. Setiap hari dia pasti akan memaksa gadis itu untuk mengantongi satu-dua buah gorengan miliknya. Siapa lagi kalau bukan Bimo, si penjual gorengan langganaan penghuni kost "bunga teratai".
Syairil memicingkan mata melihat tingkah Bimo yang kini mirip orang kesetanan, matanya melotot dengan memberi isyarat kepala menyuruh Syairil memerhatikan seseorang di belakangnya.
Ia membenarkan posisi kacamata berminusnya, Syairil tertawa kecil begitu terlihat jelas seorang wanita bertubuh gemuk yang masih mengekor di belakang Bimo.
Duda anak satu ini memang memiliki sekumpulan fans di kalangan ibu-ibu komplek, Mami Ita salah satunya.Tiada hari bagi si ibu pemilik kost "bunga teratai" tanpa mampir ke warung Bimo barang hanya 5 menit saja. Tapi melihat tingkah Bimo yang menggeliat tak nyaman, Ia yakin Mami Ita sudah berada disana terlalu lama.
Syairil memutar bola mata malas saat Bimo memelas meminta pertolongan sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Syairil pun tak mungkin bisa menolak permintaan si Bimo yang selalu berhasil membujuk Mami ita perihal perpanjangan waktu bayar kost. Uang saku bulanan dari tante Maria pun tak pernah cukup baginya, mahasiswa perantauan yang hanya menyewa kost kecil untuk dia huni seorang diri.
Syairil tak punya pilihan lain selain menghampiri mereka, ia melempar senyum dan menyapa, "Selamat sore menjelang maghrib Mami."
tak ada respon apapun dari wanita berdaster merah dengan roll rambut yang masih stay di atas kepalanya. Bimo menatap aneh ke arah Mami, sedangkan yang ditatap malah membalas dengan senyum genit.
"Gimana inii?!," Bimo mengeja tanpa bersuara kepada Syairil.
Syairil menggaruk kepala, kebingungan mencari alasan yang paling dahulu muncul dalam otak untuk mengusir fans akut si Bimo.
Ide cemerlang tiba-tiba muncul di otaknya.
"Assalamu'alaikum ustadz," sapa Syairil pada ustadz usman yang kebetulan melintas disusul Pak Kadir—suami Mami Ita.
"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,"
"Bapak sama Ustadz mau jama'ah maghrib?" ucapnya basa-basi sambil menyikut lengan Bimo, mengisyaratkan agar mundur selangkah ke belakang Mami agar tidak mencolok.
"Iya, nak Syairil. Sudah masuk waktu sholat," kini ustadz beralih memerhatikan Mami Ita yang sedikit merunduk bersembunyi di balik gerobak gorengan, "Eh,ada Bu Ita juga loh, Pak Kadir?"
Pak Kadir langsung mengangkat pandangan, "Mamih!!, masih belum juga pulang?. Sudah masuk waktu sholat!. Sengaja mau bolos kajian lagi, ya?."
"Eh, Papiih. Jelas tidak dong suamikuu. Ini gorengannya baruu aja matang, baruu aja mau pulang."
Mami Ita menelipir keluar dari warung, dia pamit undur diri membawa sekantong kresek gorengan sambil memamerkan senyum masam kepada sang Suami. Begitu juga Ustadz Usman dan Pak Kadir yang melanjutkan berjalan beriringan menuju masjid.
Bimo langsung menempatkan bokongnya di kursi hijau dari plastik, dia bernapas lega karena orang-orang itu sudah pergi.
"Jangan lega dulu, masih ada satu tuh yang belum pergi," celetuk Syairil.
Bimo memasang ekspresi bingung sambil celingukan kesana kemari mencari objek yang dimaksud Syairil, namun tak ada siapapun selain mereka berdua disana.
"Hmmh, masih pura-pura engga tau ya?. oke, lain kali jangan minta bantuanku kalo Mami nempel-nempel Kamu lagi," lugas Syairil lantas berbalik badan hendak melangkah keluar.
Refleks Bimo bangkit dari duduknya, "Tunggu!. Oke, oke. Aku ngaku. 'Dia' memang jin yang kupesan, tapi kirimannya meleset. Bukannya daganganku, malah Aku yang dilarisin."
Syairil menoleh lalu tertawa lepas mendengar kegundahan Bimo yang menurutnya sungguh lucu. Syairil mengangguk paham dan betul saja dugaannya, gelagat ganjil ibu kost akhir-akhir ini bukanlah tanpa sebab.
Setiap hari pasti akan ada sebungkus gorengan dari Mami Ita yang menggantung di gagang pintu semua penghuni kost. Belum lagi Pak Kadir yang selalu kehilangan Mami dan berujung menemukannya di warung Bimo.
Syairil melirik sosok tak kasat mata dengan lirikan ekor mata yang tajam. Gadis itu memejamkan mata beberapa saat untuk mencoba berinteraksi dengannya. Beberapa detik kemudian, Syairil membuka mata dengan nafas tersengal karena terlalu banyak menyerap energi negatif dari makhluk astral yang berada di sudut ruangan itu.
Dengan cekatan Bimo menyodorkan segelas air putih pada Syairil yang berusaha menetralkan nafasnya yang memburu.
"Kamu gapapa, Neng?. Dia udah pergi, kan?" Tanya Bimo hati-hati.
Syairil meneguk segelas air minum itu dan meletakkan gelasnya kembali.
Dia menjawab, "Maaf Bang, Aku engga bisa bantu banyak. Satu-satunya cara, ya cuma minta dukun itu ambil barangnya."
Syairil mengambil buket bunganya yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan keluar sambil berpamitan pada Bimo.
"Kamu sakit, Neng?," tanya Bimo menatap khawatir pada Syairil yang terlihat lesu, kemudian matanya beralih ke baju Syairil yang tampak kotor terkena cipratan air dan meningggalkan bekas pasir.
"Bajumu juga kenapa tuh?, mirip..."
"Stop!. Jangan mancing emosi, Lagi ga mood marah-marah," pungkas Syairil sambil mencoba membersihkan bekas cipratan genangan air di bajunya.
Emosinya kembali muncul. Kekesalan akan peristiwa menyebalkan beberapa menit yang lalu terlanjur membekas di ingatan.
"AMIT-AMIT KETEMU LAGI SAMA DUA COWOK GAK ADA AKHLAK, KELAKUAN KAYAK DAKJAL!," Syairil mengomel dengan semangat berapi-api. Gadis itu lantas melengos pergi meninggalkan Bimo begitu saja.
Syairil menelusuri lorong gang dengan mulut yang terus mengomel. Memang masih belum terlalu gelap, tapi suasana di jalan sudah sepi.
Pergesekan tarian rerumputan dan ranting terhembus angin menghiasi nuansa horror yang lebih kental. Tapi ia tak peduli, raganya sudah terlalu lelah untuk sekedar melirik 'mereka' yang mulai mencari perhatian dengan berbagai cara.
Ada yang bergelantungan di dahan pohon mangga. Sosok berambut panjang menjuntai ke aspal. Tampak juga benda putih yang terselip diantara pohon pisang. Bahkan segerombolan miss. K yang sekedar berterbangan tak beraturan di atas kepalanya, dan masih banyak lagi.
Beruntung Syairil pandai mengontrol diri. Berbekal ilmu yang diturunkan langsung oleh mbah Mawar kepadanya, ia mampu membatasi kemampuannya agar tidak berbicara pada sembarang syetan.
Setelah 15 menit menghabiskan waktu di jalan, akhirnya Syairil tiba di depan pagar sebuah lorong yang menghubungkan rumah Mami Ita dengan kawasan kost miliknya.
Rumah minimalis dan modern itu dikelilingi jajaran besi tinggi semacam pagar pelindung. Halaman rumahnya ramai akan mobil dan motor yang harganya bisa membeli rumah berjajar di perumahan ini.
Pak Kadir adalah seorang kolektor mobil dan motor di komplek Bunga Residence. Empat mobil itu keluaran terbaru, tiga diantaranya jarang digunakan. Seluruh kendaraannya punya sejarahnya masing-masing karena dimiliki oleh Pak Kadir sejak remaja.
"Itu jamannya Bapak masih seger-segernya, famous di kalangan cewek-cewek," bangga Pak Kadir Kepedean.
Syairil hanya senyum sambil manggut-manggut selama mendengar Pak Kadir yang suka tiba-tiba berkisah tentang masa mudanya.
Syairil berjalan melewati lorong dengan sisi kanannya rumah pemilik kost dan sisi kirinya pagar beton yang ditumbuhi tanaman merambat. Sesampainya di halaman kost, Syairil disambut oleh sekantong kresek hitam yang menggantung di gagang pintu kamar.
Ia menengok kanan kiri dan bisa langsung menebak siapa pelakunya dan apa isi bingkisan itu tanpa membukanya sekalipun. Pasalnya, kantong hitam serupa juga bergayut di setiap pintu tetangga kost-nya. Ia yakin 100%, ini pasti perbuatan Mami Ita lagi.
Tanpa membuang waktu, Syairil memutar anak kunci dan beranjak memasuki kamar kost ternyaman miliknya. Ia menaruh dua buket bunga dan sebungkus gorengan itu di meja belajar, lalu menjatuhkan badannya di sofa.
Hilang sudah lelah raga, hati, maupun pikiran selama seharian di luar. Kamar seluas 5x6 ini adalah tempat terbaik untuk pulang selama 2 tahun perantauannya di kota. Ia memejamkan mata, menikmati waktu santai sembari bersandar melemaskan punggung di satu-satunya sofa empuk miliknya.
"Aah~ capeknya," keluh Syairil sambil menyandarkan kepala ke sandaran sofa.