Tuk, Tuk, Tuk
.
.
.
Gayung yang sengaja dimainkan, menimbulkan bunyi yang menggema ke seisi kamar mandi. Kran warna emas khas zaman dulu itu hanya memuntahkan setetes air dari mulutnya. Tetes demi tetesnya nyaris tak terlewatkan oleh kedua manik mata Syairil.
Gadis itu masih bertahan, berdiri dengan menumpukan satu tangan ke sisi bak mandi dan tangan yang lain menggenggam gayung merah. Sesekali tangannya memutar kran hingga putaran penghabisan, lalu mengatupkannya kembali. Namun usahanya tak membuahkan hasil.
Syairil sedari tadi meniup poni rambutnya ke atas. Bosan berkutat dengan kran air yang masih enggan menyala hampir setengah jam lebih.
Syairil yang sudah kehilangan kesabaran pun mengeram emosi, ia lempar gayung merah ke sembarang arah. Ia buka pintu lebar-lebar, keluar kamar mandi dengan mengenakan bathrobe dan rambut berantakan yang masih dipenuhi busa sampo.
"Terserah udah, mau mati, mau nyala, Aku engga peduli!," teriaknya kesal.
Pasalnya, benda mati itu sudah menguji kesabarannya sejak pagi buta. Dirinya nyaris tak mandi, lantas menyemprotkan parfum sebagai senjata andalannya. Kebiasaan ini menjadi rahasia umum bagi warga kost "bunga teratai".
Baik mereka yang rajin bayar uang sewa maupun tidak, pasti merasakan tragedi air kost macet setiap hari. Siapapun sudah mencoba melapor dan sudah pasti Mami Ita jawab begini, "Goyang-goyangin aja paralonnya" atau "Otak-atik saja meterannya", dan puncaknya "Sabar, nanti biar Bapak yang benerin."
Terkadang tips & trik Mami Ita itu manjur juga, walaupun lebih sering gagalnya. Kali ini Syairil sudah mencoba 2 trik itu, namun sama sekali tak berhasil. Malah air dingin menyembur keluar dari paralon yang berlubang karena pukulan keras dari batu di tangannya.
"Anjir, anjir... KENAPA MALAH BOCOR!!!," pekiknya dengan kedua tangan berusaha menghadang semburan air yang mengenai wajahnya.
"Syairil?!?," suara berat Pak Galih mengagetkan Syairil hingga tanpa sengaja matanya terkena busa sampo. Ia merasa perih dan panik. Lelaki itu segera mengguyur wajah Syairil dengan sebotol air mineral dari tas ranselnya. Kemudian dengan cekatan melepas jaket tebalnya dan membalut pipa paralon yang bocor.
"Makasih Pak Galih," Syairil lantas mengalihkan perhatian pada air yang tak mau berhenti mengalir dari balik balutan jaket hitam itu.
"Duh, gimana dong Pak?. Pak Galih jadi basah semua gara-gara saya. Itu jaketnya juga jadi korban dan... pipanya!! ya ampun, pipanya rusak, bocor. Aduh, Mami Ita pasti marah, nih. biaya gantinya, trus... "
"Tenang. Kamu tenang," kata lelaki usia 30-an itu memutus cerocosan Syairil tanpa henti.
"Kamu masuk, langsung ganti pakaian kering sebelum nanti masuk angin. Ini biar saya yang urus," pesan Pak Galih lalu segera beranjak meninggalkan Syairil yang masih mematung tak enak hati menyusahkan lelaki yang tampak lelah sepulang kerja itu.
Syairil tak berkutik hingga tetangganya itu kembali dengan menenteng tool box dan berkata, "Kok masih disini?. Kamu tunggu di dalam saja, bentar lagi airnya nyala, kok."
Mereka sempat berdebat kecil, hingga akhirnya gadis itu mengalah, lantas memundurkan langkah dan berbalik menuju kamar kost. Ia segera mengganti pakaiannya. Setelah itu Syairil menyelubungi rambutnya dengan handuk kecil.
Terdengar suara sedikit berisik dari luar sana. Syairil merampas kaca mata yang tergeletak di nakas, lalu memakainya. Syairil sedikit menyibak gorden kamar, mengintip Pak Galih yang sibuk mengutak-atik perpipaan dengan sejumlah alat yang satu per satu dikeluarkan dari tool box merah.
Lelaki itu seolah ahli dalam segala hal, tak terhitung berapa kali dia membantu setiap problematika kehidupan anak kost seperti Syairil. Mulai dari memasang tabung gas, benerin listrik, angkat galon, benerin air macet, dan masih banyak lagi. Keahliannya itu jelas tak relevan dengan pekerjaannya yang merupakan karyawan kantoran.
Syairil terperanjat ketika tiba-tiba muncul sosok wanita berambut panjang terurai yang sedang menggedor kaca jendela kamarnya dari luar. Dia bukan miss. K atau semacamnya. Namun bagi Syairil, guratan marah yang terpampang jelas di raut wajahnya itu lebih menyeramkan dari hantu.
"Buka! cepat buka pintunya!," teriaknya sambil menggedor pintu terus menerus. Syairil hanya bisa pasrah dan segera membuka pintu sebelum kekuatan tangan tetangganya itu bisa saja merobohkan pintu kamarnya.
Pintu dibuka lebar-lebar, tampak seorang ibu muda tengah berkacak pinggang dengan perut buncitnya. Mata wanita itu melemparkan tatapan tajam pada Syairil, "Udah berapa kali Aku bilang, jangan gatal-gatal sama suami orang!."
"Hah?," Syairil hanya bisa menampilkan ekspresi bingung dan terkejutnya.
"Pake segala modus minta tolong angkat galon lah, benerin pipa air lah, banyak kali maunya."
"Maksud Bu Windah modus itu apa ya?."
"Halaaah, engga usah sok polos. Kamu naksir sama suami saya, kan?. Aku tuh udah lama perhatikan gerak-gerik cewek gatal macam kamu!. Awalnya minta tolong, eh malah keterusan, kebawa perasaan!, terus diam-diam rebut suami orang, deh. Udah paham Aku alurnya!," Wanita hamil muda itu nyerocos sambil terus menunjuk-nunjuk ke arah Syairil.
Kepalanya condong ke depan, seperti siap menubruk lawan bicaranya yang hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Windah.
"Bu Windah, jangan salah paham dulu, Bu," ujar Syairil yang agak ketakutan melihat alis wanita di depannya yang membuat kerutan rendah mendekati mata yang melotot nyaris keluar. Kini bukan hanya kepala, tubuh Windah turut menyongsong sangat dekat pada gadis itu.
"Cih, Aku muak sama kalimat itu!," potongnya membuang muka, seakan ingin memperlihatkan betapa besar tompel berbulu di pipi kirinya.
"Oke, satu dua kali Aku memang pernah minta bantuan. Tapi setelah Bu Windah memperingatkan terakhir kali, Aku enggak ada lagi tuh minta tolong Suami Ibu."
"Oh, jadi maksud Kamu, Suami Aku yang menggatal gitu?, hah?. Dasar BINATANG Kau Ya!!!"
Windah menampar pipi Syairil dengan tangan lainnya yang tidak bertugas menjambak rambut Syairil.
Darah segar mengalir di ujung bibir akibat tamparan yang begitu keras. Matanya sudah berkaca-kaca merasakan sakitnya dijambak dan pipi ditampar.
Kepalanya pusing. Penglihatannya berkunang-kunang menyelisik letak kaca matanya yang ia yakini terjatuh akibat tamparan dari Windah tadi.
ketika Windah mengayunkan tangan siap memukul untuk yang kedua kalinya, ada tangan lain yang menghalangi untuk menampar lawannya itu. Galih dengan sigap memegang tangan istrinya yang ingin melayangkan tamparan pada Syairil. Windah melihat tangannya yang digenggam lelakinya pun langsung menyeringai.
"Benar kata Dia, Aku yang selalu membantunya tanpa diminta," ujar Galih dingin.
"APAAN SIH, Mas?!. Kenapa Kamu malah belain Dia?," ucap Windah dengan ketus sambil melepas genggaman tangan Galih.
"Ini bukan pembelaan. Faktanya memang begitu. Ini bantuan yang wajar antar sesama tetangga, Sayang. Kamu sendiri yang menciptakan dan mempercayai pikiran jahat itu."
Mendengar itu, Windah berbalik memunggunginya sambil melipat tangan di d**a ala istri manja ngambek pada umumnya. Si suami berusaha memberi penjelasan. Sedangkan si istri acuh tak acuh dan menghadap tembok putih sambil berderai air mata. Syairil tak kesulitan menebak dengan rinci alur pertengkaran mereka.
4 kali sudah Windah ngereog dan ngelabrak Syairil, terhitung sejak kehamilan anak pertamanya 1 bulan yang lalu. Emosi Windah semakin tidak stabil, kecemburuannya pada suami tercinta tak kunjung padam.
Namun, kini Syairil tak lagi peduli tentang perseteruan rumah tangga di depannya. Ia sibuk mengucek matanya saat pening mulai menghampiri, pandangannya semakin samar. ia tak bisa berlama-lama melihat tanpa kaca mata, karena dirinya pengidap Astigmatisme dan mata minus sedari lama.
Tangan Syairil tak sampai meraba dinding yang tampak jauh di penglihatannya, kepalanya terasa semakin pusing hingga dia menyadari ada tangan yang menopang tubuhnya yang hampir tumbang.
Lagi-lagi Galih berulah, lelaki itu memilih membopong Syairil untuk duduk di sofa dan tak mengindahkan amukan istrinya.
"Syairil, Kamu gapapa?"
"Sebelumnya Terima kasih, Pak. Tapi tolong selesaikan masalah kalian dulu, secepatnya!. Engga usah peduliin Saya."
Emosi Windah semakin tak tertahankan. melihat sikap suaminya itu Windah mengamuk hebat, ia nangis bombay hentakin kakinya yang selonjoran di lantai. Suara tangisan dan teriakannya yang kencang itu menarik perhatian setiap pasang mata.
Satu per satu penghuni kost berhamburan keluar dari singgasananya, mengalihkan atensi pada keributan yang masih hangat di depan kamar kost Syairil. Mereka pun ikut nimbrung menyaksikan drama pasutri yang terus saja menyeret nama Syairil sebagai orang ketiga.
Si Suami mencoba terus membujuk Windah, alih-alih berhenti, tangisan istrinya semakin menjadi-jadi. Syairil menyadari kejanggalan ketika suara tangisan yang meraung-raung itu diiringi suara tertawa cekikikan.
"Sayang?, Windah? Kamu kenapa, Sayang?," tanya Galih panik melihat istrinya yang tiba-tiba meratap sambil memeluk tembok.
"AaaaaakKkkg!," Windah tiba-tiba menjerit cukup panjang, membuat para penghuni kost histeris ketakutan. Syairil berdecak kesal mendengar jeritan yang melengking dan keras itu menembus telinganya. Dia yang awalnya terpejam bersandar ke sofa, kini memutar kepalanya yang sakit dengan tak nyaman.
Kenapa harus kesurupan di depan kamarku, sih!. Batinnya kesal menatap tingkah wanita berbadan dua yang kini duduk di tengah pintu.
"Aku suka anak ini... Aku suka di dalam perutnya..., Dia harus bertanggungjawab!," ucapnya lirih sambil mengelus perut Windah.
Syairil tertegun mendengar ucapan sosok dalam tubuh Windah. Pikirannya mulai berkelana. Berusaha mencerna maksud kalimat terakhirnya.
Bertanggungjawab?
Siapa?
Kepada Siapa?
Syairil membuang napas kasar, ia pusing sendiri memikirkan apa maksud ucapan hantu barusan.
Suaranya yang sangat berat itu terasa khas di telinga Syairil. Rupanya dia adalah makhluk yang senang mengganggunya setiap malam. Sosok wanita dengan 1 mata berlubang dan berlumuran darah. Di akhir hidupnya, dia terbunuh bersama janinnya, karena itulah sosok itu suka menempel pada wanita hamil dan bahkan mengambil janinnya.
Syairil menarik napas panjang, sebelum gadis itu berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati Windah dengan tubuh sempoyongan menahan pusing hebat di kepalanya.
Dia bersimpuh di samping Windah dan memulai ritual yang diajarkan sesepuhnya untuk mengeluarkan makhluk halus dari tubuh Windah.
Jangan ganggu wanita ini, jangan ganggu kami. Batinnya berinteraksi.
Dia membisikkan do'a-do'a tanpa menyemburkan air pada pasien, jempol tangannya terus menekan tengkuk Windah sekuat tenaga.
Wanita itu sempat memberontak, lalu bergeming untuk beberapa saat.
"Kamu ngapain pegang-pegang Aku?," Syairil terkesiap melihat Windah yang tiba-tiba mengangkat kepala dengan rambut acak-acakan yang membenamkan separuh wajahnya.
Lantas wanita itu beranjak dari duduknya dan diikuti suaminya. Mereka berjalan begitu saja melewati kerumunan tetangga.
Mata Syairil membelalak tatkala mendengar suara pintu yang dibanting keras begitu mereka memasuki kamar.
"hahahhaha, Oke SAMA-SAMA!," ucap Syairil sedikit menekan.
Sungguh, jika kepalanya tidak sakit sekarang Syairil akan membalas perbuatan Windah. Namun ia tidak mampu, dia menutup pintu pelan lalu berjalan menuju sofa sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sangat sakit.
Saat ini yang ia perlukan hanya satu, "kaca mata, dimana Kamu?."
.
.
.