Episode 3

1730 Words
Detak jam dinding pagi ini terdengar lebih nyaring dari biasanya. Tiap detik ke detik jarum jam senada dengan degup jantung Syairil. Gadis itu merangkak sembari meraba permukaan lantai yang terasa kasar oleh beberapa helaian rambut rontok dan debu halaman yang terbawa angin dari lubang bawah pintu. Dia tak sempat beberes kamar, waktunya tersita semalaman untuk mencari satu benda Keramat yang hingga kini tak nampak wujudnya. "Aku yakin kemarin jatuh di sekitar sini deh," desisnya sambil menoleh kesana kemari, mencari keberadaan kaca mata yang entah dimana. Masih segar dalam ingatannya, bagaimana kaca mata itu terjun bebas menghantam ubin ketika satu tamparan keras dilayangkan di pipi kanannya. Bahkan, sakit di ujung bibir yang sobek pun langsung terasa begitu otaknya memutar kembali memori tentang kejadian semalam. Syairil menunduk, melihat ke kolong meja belajar dan sekitar bawah jendela, lalu berpindah memeriksa ke sekeliling sofa. Kemudian ia bergerak mendekati kasur, menyingkap sprei biru yang menjuntai ke lantai. Kepalanya melongok ke bawah ranjang, matanya menjelajahi setiap sudut yang diterangi dengan senter hp di tangan. Syairil membuang nafas lelah, pencariannya sia-sia, tak ada apapun yang ia temukan disana. "Aku harus mencari kemana lagi?," Gumam Syairil dalam hati. Gadis itu terduduk lemas bersandar sambil memeluk lututnya. Ia menengadahkan kepala, menatap kosong pada motif bintang di langit-langit kamar yang terlihat buram di matanya. Syairil mengedipkan mata berkali-kali, rasanya pandangannya semakin kabur. Syairil teringat momen ketika ia kehilangan kaca mata untuk yang pertama kalinya. Sebuah kenangan pahit di masa SMP yang menjadi momok paling menakutkan bagi Syairil, kala menjadi hidup terasa lebih menyeramkan dibandingkan kematian. Ia tak pernah bisa menghapus ingatan tentang bagaimana semua orang mengucilkannya seperti kucing yang tak lagi diharapkan. Mereka menjauhi Syairil seiring tersebarnya rumor yang mengatakan bahwa dirinya 'gila'. Ia dianggap tidak waras semenjak berteman dengan siswi tak kasat mata yang membantunya menemukan kaca mata yang hilang. Masa lalu itulah yang membuat Syairil menempatkan kaca mata sebagai harta paling berharga, karena tanpanya, ia sukar membedakan antara manusia dengan hantu. Wajah orang-orang tampak blur di penglihatannya, sedangkan fisik 'mereka' terlampau serupa lazimnya manusia biasa. Di tengah lamunannya, Syairil dikejutkan oleh helaian rambut panjang yang jatuh menerpa wajahnya. Tampak sosok wanita yang bergelantungan di bohlam lampu tepat di atas kepalanya. Wanita itu mengenakan baju putih lusuh, rambutnya memanjang acak-acakan, matanya merah besar, dan wajahnya dipenuhi luka bernanah. Segera ia memalingkan wajah untuk berpura-pura tak mengetahui keberadaan wanita mengerikan itu. Syairil tak perlu memandang lamat-lamat pada makhluk yang bentukannya begini, sedetik melihat pun ia sudah tahu kalau 'dia' itu hantu. Syairil tak sengaja melihat jam di atas nakas menunjukkan 10.30, melihat itu Syairil pun sontak menjerit. "ASTAGA!!!, udah jam segini. Mampuslah Kau, Iril! Mampus!." Seharusnya 30 menit yang lalu ia sudah berada di depan ruang sidang, memberi buket bunga dan pelukan hangat untuk menyambut Kenzo seusai melaksanakan Seminar Proposal Skripsi. Tanpa basa-basi, Syairil bergegas memakai kaos putih yang dipadukan rok floral berwarna peach diatas lutut dan mengenakan jaket denim. Kemudian Syairil sedikit merias wajah, menyisir rambutnya, dan memakai wewangian yang menyerbak sebadan karena Syairil tak mau tubuhnya beraroma tak sedap. Lantas Syairil keluar kamar dengan kaos kaki putih dan sneakers putih, menyampirkan totebag di salah satu bahu, juga tak lupa menenteng buket bunga di tangan kanan. Pintu yang terdengar terbanting cukup keras, membuat beberapa orang yang sedang ngobrol santai di bawah pohon mangga itu menoleh ke arahnya. "Permisi Pak, Buk, berangkat ke kampus dulu," ucap Syairil cengengesan sambil berlalu melewati mereka. Sedangkan pak Kadir hanya melongo keheranan lalu menoleh ke arah ustadz Usman di samping kirinya, "Perasaan engga ada ibu-ibu disini, Ustadz." Di sisi lain, Syairil melangkah buru-buru menuju depan pagar kost, ojek online yang dia pesan sudah menunggu disana. Syairil merebut helm yang digantung di bagian pengemudi dan langsung menaiki kendaraan itu, "Mas, ayo berangkat." "Sesuai aplikasi ya, mbak. Syairil Labibah, tujuan ke RB Financial" "Hah?. Kok kesana?" "Disini tertulis Jl. Veteran Randulima No. 51, titiknya di RB Financial" Ah, salah nulis nomor jalannya lagi, pikirnya. Syairil mendengus kesal untuk typo yang kesekian kalinya. "Maaf Mas, typo tadi. Bisa anterin ke Universitas Jayanegara, engga?. Perusahaan itu deket fakultas Saya, kok. Jadi, searah." Syukurlah abang ojek itu setuju dan langsung melajukan motornya. Butuh 15 menit untuk sampai di kampus dengan jalan kaki, itulah mengapa sekarang Syairil memilih berangkat menggunakan ojek online. Setelah sampai di depan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Syairil bergegas lari sekencang-kencangnya menuju lift. Begitu pintu lift terbuka, Syairil pun langsung masuk menekan nomor lantai di angka 6. Ting... Terdengar bunyi lift cukup nyaring, akhirnya Syairil telah sampai di lantai yang dituju. Syairil tergesa keluar dari lift dan berlari melewati lorong menuju ruang sidang skripsi. Syairil hendak masuk ke dalam ruang sidang, namun langkahnya terhenti kala melihat ruangan yang sedang kosong saat ini. "Mau ke Seminarnya Kenzo yang ganteng itu, ya?," tanya tukang bersih-bersih yang baru saja masuk itu dan dibalas anggukan oleh Syairil. "Seminarnya sudah selesai setengah jam yang lalu, dek. Tadi papasan keluar lift di lantai satu, rame banget sama temen-temennya," ujarnya seraya mencelupkan alat pel ke ember dan mulai mengepel lantai. "Sepertinya dia cewek ke 20 yang ketinggalan seminar cowok ganteng itu," gumam tukang bersih-bersih itu yang terdengar samar di telinga Syairil. Kenzo Zavian. Siapa yang tidak mengenal cowok berparas tampan dengan tubuh atletis yang selalu menjadi idaman wanita ini?. Selain pernah menjabat sebagai ketua BEM, dia juga bisa menjadi mapres kesayangan dosen di tengah kesibukan oraganisasinya. Syairil tak percaya cowok dengan sederet gelar positif itu menjadikan dirinya—mahasiswa Kupu-kupu dengan IQ 90–sebagai pacar. "Oh, terimakasih informasinya, Pak." Syairil berpamitan keluar ruangan. Syairil memacu langkahnya berlari menuju lift. Saat lift terbuka, Syairil sedikit kecewa karena lift sudah terisi penuh. Menunggu lift berikutnya hanya akan membuang-buang waktu, ia pun memilih melewati tangga darurat untuk sampai di lantai satu. Sedangkan di tempat lain, seorang pria jangkung dengan mengenakan almamater navy nampak murung walaupun dikelilingi banyak hadiah dan gadis-gadis cantik kampus Jayanegara. Cowok itu duduk di salah satu bangku gazebo sambil menyugar rambutnya kesal, lalu memasang wajah murung. "Kamu kemana sih, Iril sayang?" Tak tahan melihat ekspresi itu, cewek cantik yang sedari tadi duduk di sebelahnya pun beranjak dan berjalan ke tengah-tengah kerumunan para penggemar Kenzo. "Temen-temen, Aku mewakili Kenzo, mau ngucapin banyak terima kasih udah nyempetin dateng dan bawa hadiah juga. Tapi sayang banget nih, kita harus udahan dulu karena Kenzo mau istirahat. Makasih banyak semuanya!," Dia mengakhiri ucapannya dengan senyum manis. Para gadis itu melenguh enggan untuk membubarkan diri dan mulai berbisik-bisik. "Heol~ andai saja Aku secantik dia, pasti Aku bisa lebih lama di sisi my baby Ken" "Kita bubar, kenapa Dia engga?. Memangnya Dia siapa?, pacar Ken?" "Sekarang sih, bukan. Bisa jadi nanti. Mana mungkin sih ada cowok yang engga luluh sama cewek spek dewi kek Irene?. Selain selebgram, dia juga model dan terpilih jadi Putri Jayanegara, loh. Mereka cocok banget sih." "Tapi anehnya, Kenzo masih setia pacaran sama cewek biasa, temen satu SMA-nya. Padahal, katanya pacar Ken tuh jelek, sampai-sampai Ken malu posting dia di medsos-nya" "Siapa bilang pacarku malu?," Tanya Syairil tiba-tiba muncul diantara dua orang yang tengah asyik menggunjing dirinya. "ASTAGA!," keduanya terbelalak seketika. "Lain kali kalo mau ngegosip, usahakan jangan sampai ketahuan orangnya ya, cantik." Ujar Syairil tersenyum kecut dan berlalu meninggalkan mereka, membuat keduanya spontan menunduk dan meminta maaf. Kemudian Syairil beralih berjalan mendekati pacarnya yang sedang berdiam dengan mata terpejam. Sepertinya dia sedang kesal pada kekasihnya yang akhirnya kini tiba di hadapannya. Sebenarnya Syairil agak cemburu melihat Dewi kampus yang menggandeng lengan pacarnya, ia tersenyum tipis membalas lambaian tangan Irene kemudian beralih fokus pada Kenzo. "Congratulations, Sayang" pekik Syairil ceria seraya menyodorkan buket bunga dengan senyum mengembang, namun Kenzo hanya melirik buket itu sebentar, lalu kembali melempar tatapan tajam. "Siapa itu Dylon?" Kenzo bertanya dengan dengusan napas teratur, Sedangkan yang ditanya menunjukkan ekspresi bingung ketika mendengar pertanyaan iitu "Tatap mataku!" Perintah Kenzo kembali bicara, lalu melanjutkan "Jawab Aku!. Siapa Dylon Abyaska, S.K.H?." Kenzo terus menanyakan nama yang asing di telinganya itu. Syairil yang semakin tak faham pun hanya mengangkat satu alisnya bingung, "mana ku tahu, kenapa Kamu nanya Aku, Sayang?." Syairil mencoba mengalihkan pembicaraan, "Ah, iya. Aku minta maaf, sayang. Aku telat karena kaca mataku hilang lagi. Kali ini beneran bukan karena teledor, Sayang. Jadi tadi malem, tuh... " "CUKUP!!!" Gertak lelaki itu memotong cerita Syairil. "Bisa engga, sih Kamu bikin alasan lain yang lebih masuk akal dari kaca mata hilang?. Telat karena harus menyambut sempronya Dylon, misal." "Wait, Dylon, Dylon, dan Dylon lagi. Kenapa dari tadi kamu nyebut nama itu, sih?. Siapa itu Dylon?. Ada apa dengan nama Dylon?" "Tanya sama diri Kamu sendiri!." Kenzo berlalu begitu saja, namun Syairil malah menarik lengannya dan Kenzo pun langsung menghentikan langkahnya. "Lepasin tangan pacar Aku!," Pinta Syairil membuat Irene segera melepas genggaman tangannya. "Aku bilang lepasin tangan pacarku!, Aku udah cukup sabar ya, Aku diemin Kamu di samping Dia dari tadi. Jangan ngelunjak megang-megang pacarku!" Syairil bersungut-sungut ke arah mereka berdua seraya mengerutkan kening. Irene menghela napas menanggapi Syairil, "Biasa aja, dong, Sya!. Kalem. Liat nih, udah kulepasin PACAR KAMU dari tadi." "Aku udah tahu, Aku engga buta!. Jangan kege-eran, Aku ngobrol sama cewek ini, bukan Kamu," ujar Syairil dengan menunjuk sosok di sampingnya yang jelas tak nampak oleh mata mereka berdua. "Ken, kayaknya rumor itu bener deh. Dia bakal menggila dan suka ngobrol sendiri saat sakit hati. Pantesan dulu temen-temen pada nyuruh Kamu mutusin Dia, takut hal-hal kayak gini bakal kejadian." Bisik Irene pada Kenzo yang keheranan menatap pacarnya masih terus berbicara sendiri hingga mengamuk gak karuan. Setelah membereskan urusannya dengan sosok wanita itu, Syairil kembali menatap Kenzo. "Syairil, ada yang mau Aku omongin" "Iya, Sayang. Ada apa?." "Sepertinya, lebih baik Kita..." "Eh, tunggu...," Syairil menyela ketika sosok pengemis kini datang menghampiri mereka, ia kemudian memberikan uang kepada anak kecil itu. Namun tiba-tiba sosok anak kecil itu lenyap menyisakan satu koin emas yang terjatuh ke tanah, Saat itu juga Syairil mulai menyadari mereka bukan manusia. Kenzo dan Irene bersamaan mengerjapkan matanya. Hal itu sontak membuat Syairil gelagapan sekaligus panik, "Mmm... Sa.. Sayang, ta-tadi kamu mau ngomong apa, ya?." Kenzo menarik napas dalam, lalu dengan suara pelan Dia berkata, "Aku ingin putus... " Deg. Ucapan Kenzo bagaikan petir di siang bolong. Syairil sungguh terkejut dan kakinya terasa lemas, sehingga ia terduduk begitu saja di bangku gazebo. Ia belum siap mental, batin, dan pikiran untuk mendengar kalimat itu. Ia tak menyangka hari yang dikhawatirkan akan benar-benar terjadi. Pada akhirnya, tibalah hari dimana satu kata itu terucap dari bibir Kenzo dan kali ini mereka benar-benar berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD