Pada pukul delapan malam di suatu tempat. Angin berhembus kencang menerbangkan bunga Kamboja dan dedaunan yang berguguran. Daun-daun kering itu pasrah mengikuti kemana arah angin membawanya pergi, melewati batu-batu nisan yang bermunculan diatas beberapa gundukan tanah merah yang kering sebab lama tak disapa hujan.
Tak jauh tampak seorang gadis duduk sambil menunduk di tengah kegelapan dengan hanya disinari cahaya senter smartphone yang diletakkan di atas sebuah gundukan tanah. Gadis itu tak menghiraukan kakinya yang mulai terasa kebas dan kesemutan karena entah berapa lama dirinya berdiam merenung di pinggir salah satu makam.
Dia mengangkat pandangannya, menatap kosong pada nama seseorang di batu nisan yang mulai tertutupi oleh lumut.
Mbah Mawar, batinnya membaca nama itu seraya mengelus lembut puncak batu nisan tersebut sebagaimana yang pernah mbah Mawar lakukan dulu. Wanita tua itu membelainya, menyeka setiap tetes air mata yang tak terbendung ketika dirinya meluapkan keluh kesah sebagai anak indigo, dan juga menjadi tempat ternyaman untuk berbagi kebahagiaan sebagai sesama orang yang peka pada hal ghaib.
Syairil tak mengalihkan pandangannya barang sedetikpun dari batu nisan itu.
"Assalamu'alaikum, Mbah." Sapa Syairil dengan suara bergetar tak mampu menahan air matanya.
"Mbah inget engga, cowok yang pernah Aku kenalin ke Mbah dulu?," gadis itu mendongak, menahan air matanya agar tak tumpah lagi.
"Ternyata dia sama aja kayak mereka, Mbah. Orang yang paling kucintai pun engga percaya sama kemampuanku. Aku cuma cewek gila di matanya," tuturnya lalu kembali terisak setelah berhenti sejenak dari tangisnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.
Syairil masih terngiang-ngiang ucapan Kenzo ketika ia bertanya tentang alasan lelaki itu memutuskannya.
"Aku bosan denger problem keteledoran Kamu sama kaca mata yang katamu prioritas itu. Aku muak sama imajinasi tinggi Kamu tentang hal-hal aneh yang engga ada ujungnya itu"
"Imajinasi?"
"Ya. Sepertinya selama ini Aku salah, seharusnya Aku nyaranin Kamu ke psikiater bukannya memaksakan akal sehat buat percaya sama kehaluanmu!"
Syairil tertawa hambar karena mengingat kebodohannya yang terlalu percaya pada ucapan manis dan sikap lembut sosok mantan pacar sekaligus penyelamatnya itu.
Lima tahun lalu, Kenzo telah mengentaskan Syairil yang hampir tenggelam dalam jurang kematian, kemudian menariknya jauh ke permukaan hingga mendapatkan kembali rasa percaya dan semangat untuk melanjutkan hidup.
Namun kini, tiba-tiba Dia menjerumuskannya lagi, membuat ketakutannya untuk hidup kembali mencuat. Membuatnya ingin mengurung diri, tak mengenal siapapun dan tak perlu bertemu siapapun, sehingga dirinya tak akan pernah dianggap gila.
Aku takut hidup menjadi Indigo. Aku takut dikucilkan lagi.
Aku takut dianggap gila lagi.
Berputar di kepala, Kalimat itu terus terfikirkan dalam pikirannya. Di tengah sesenggukannya, Syairil merasakan hawa dingin tiba-tiba yang mengitari dirinya. Dia juga merasakan ada yang mengusap pelan rambutnya yang tergerai acak-acakan.
Samar-samar terdengar bisikan di telinga kirinya yang mengatakan, "Cah Ayu, urip kuwi dilakoni guduk gawe sopo-sopo. Mung gawe awak dewe. Mung gawe nyenengake awak dewe ben semangat ibadah dateng pengeran. Ojo bergantung nang manungsa sing hakikate meninggalkan atau ditinggalkan. Wes, ojo nangis. Ndang muleh ya, sing tenang, sing sabar ya."
(Nak Cantik, hidup itu dijalani bukan untuk siapapun. Hanya untuk diri sendiri. Hanya untuk membahagiakan diri sendiri agar semangat beribadah kepada Tuhan. Jangan bergantung kepada manusia yang hakikatnya meninggalkan atau ditinggalkan. Segera pulang ya. Kamu harus tenang, harus sabar, ya)
Pecah sudah tangisnya mendengar suara familiar yang sontak mendamaikan hati dan pikirannya. Ia tak ingin menoleh ke sumber suara, karena makhluk itu hanya jin yang menyerupai Mbah Mawar. Pikirannya sendiri yang menarik perhatian makhluk lain di sekitarnya untuk meniru wujud wanita beruban yang sangat ia rindukan itu.
Setelah kepergiannya yang genap setahun, makam ini menjadi tempat favoritnya untuk mencurahkan segala isi hati.
Syairil menghapus setetes bening yang luruh dari pelupuk matanya menggunakan lengan berbalut jaket denim, lalu membersihkan tangan dan lututnya yang kotor oleh tanah. Suasana hatinya sedikit membaik setelah mendengar wejangan sosok Mbah Mawar, sehingga ia memutuskan untuk beranjak dan segera pulang.
Syairil melangkah meninggalkan makam itu sembari berpamitan dalam hati, "Mbah, Syairil pulang dulu, ya. Semoga Mbah Mawar diberi kelapangan kuburnya dan senantiasa tenang disana. Amiin"
Saat sampai di pintu keluar area pemakaman, Syairil disambut oleh seorang tukang ojek yang meneliti penampilannya dari kepala hingga ujung kaki. Membuat Syairil merasa sedikit tidak nyaman dan memilih melanjutkan langkahnya.
"Permisi kak, dengan akun 54k4M? Kakak yang pesan ojol ya?"
Kali ini Syairil benar-benar tak mengacuhkannya, ia tak ingin ambil pusing menanggapi sosok yang entah manusia atau hantu itu. Sedangkan lelaki berhelm itu bersikukuh mengejarnya dan menepuk bahunya ~Ah, ternyata manusia, batin Syairil kemudian.
Bapak ojol itu berdeging dengan pertanyaannya, "Kak, beneran Kakaknya engga mesen ojol?."
Syairil hanya menggeleng lemah, matanya terlihat sayu.
"Udah, bapak pulang aja. Bapak kena prank orang iseng itu"
"Haduh, jelas bukan orang ini Kak. Dasar setaan!. Padahal udah 5x saya di-Prank, tetep aja kena. Kek terhipnotis aja gitu," jelasnya dengan terus mengutak-atik smartphone lawas di tangannya.
Bapak ojol itu melanjutkan, "Ya sudah kak, makasih ya, permisi."
Syaril menatap iba pada punggung bungkuk tukang ojek online yang menaiki motornya dan langsung tancap gas pergi.
Syairil menghembuskan napas kasar melihat kelakuan jail hantu perempuan yang duduk santai sambil cekikikan sepuasnya di atas cabang pohon besar yang berada tepat diatas kepalanya.
Syairil memandangnya dengan tatapan menantang.
"Beruntung kemampuanku cuma sebatas ngeliat dan berkomunikasi, kalo engga, udah kubuang ke neraka Kau kunti nakal!," omel Syairil yang dibalas suara tawa melengking dan wanita berwujud menyeramkan itu lenyap begitu saja seusai menembus batang pohon besar.
Kini Syairil dapat dengan tenang berjalan pulang menuju kost-nya. Namun pikiran itu segera diurungkan ketika suasana aneh kembali terasa. Baru berjalan beberapa langkah, Syairil merasakan berat di punggungnya. Tangannya reflek memijat sekitar tulang punggungnya yang tiba-tiba terasa kaku, seakan ada beban berat yang sedang dipikul.
Sejenak Syairil melirik ke belakang punggung melalui ekor matanya, lalu ia menghela napas panjang bagaikan ia sudah sangat lelah dengan gangguan makhluk sekitar yang tak ada habisnya.
Firasat buruk gadis itu menjadi kenyataan tatkala melihat anak kecil tengah nemplok di punggung dengan tidak sopannya. Wajah sosok anak kecil itu begitu pucat, air matanya menetes bersamaan dengan tetesan darah yang mengalir di bawah pelipisnya.
Terdengar suara ringisan kesakitan seraya berbisik, "Tolong..., Kak..., Tolong..., Tolong Kak..."
Syairil tak menanggapinya, ia sudah jemu mendengar kata yang selalu terucap ketika orang berkemampuan khusus sepertinya mengindahkan keberadaan 'mereka'.
Hampir semua makhluk ghaib meminta tolong kepadanya saat 'mereka' menampakkan diri, berharap manusia membantu untuk menuntaskan urusan yang tak terselesaikan sewaktu hidup di dunia. Entah persoalan cinta, keluarga, teman, bahkan misteri kematian para arwah gentayangan pun pernah ditanganinya.
Syairil bukanlah tipe orang yang dengan mudah mengabaikan permintaan tolong 'mereka'. Lebih-lebih penampakan 'mereka' yang serupa dengan korban kecelakaan maupun kekerasan, karena sangat menyakitkan baginya membayangkan penderitaan yang dialami diujung kematiannya.
Namun, hantu anak kecil ini datang di waktu yang tidak tepat. Saat ini, ia tak bisa memikirkan apapun selain cara menghadapi hari esok tanpa kacamata dan juga pacarnya—Kenzo.
Tak peduli bagaimana reaksi kalian ketika membaca ini, tapi bagi Syairil, dua hal itulah yang paling berarti yang ia miliki di dunia ini. Pacar yang selalu menyemangati dan menunjukkan manisnya kehidupan, serta kacamata yang membantunya mengindra semua itu. Akan tetapi, keduanya musnah tak tersisa dalam waktu bersamaan.
Syairil tetap teguh pendirian untuk acuh tak acuh pada hantu yang kini beratnya terasa dua kali lipat dari bobot si babon Chylla—anak tante Maria yang selalu usil menaiki punggungnya. Alhasil, Syairil harus menempuh 1 jam perjalanan untuk bisa sampai di kawasan kost yang seharusnya hanya berjarak 15 menit dari TPU (Tempat Pemakaman Umum).
Gadis itu membuang napas lega saat akhirnya tampak puncak pohon mangga pak Kadir setelah berjalan terbungkuk-bungkuk sekian lama. Artinya, ia hanya butuh beberapa langkah saja untuk sampai di kost-nya.
Tangan Syairil meraih pegangan pagar besi dan berupaya membukanya, "Ish, kekunci!."
"Pantes aja, udah jam segini!," responnya seusai melihat jam tangannya menunjukkan pukul 9 malam.
Ia pun berjinjit menggapai kunci yang ditempatkan di bagian atas tembok pagar rumah pemilik kost. Syairil menggerakkan tangannya membuka kunci pagar, kemudian menyusuri gang menuju kost yang hanya muat untuk satu pejalan kaki maupun satu pengendara motor saja.
"Eh, bentar," langkahnya terhenti, kemudian menggerakkan punggung yang mendadak terasa ringan dan dengan mudah berdiri tegap, "Kok anak kecil itu tiba-tiba ngilang?," sambungnya.
"Aku yang mengusirnya," sahut mbak kunti penghuni pohon mangga diiringi ketawa khas yang bikin sebel pendengarnya.
"Sekarang mana imbalanku?," kali ini dengan suara sedikit keras.
"Dih, nolong kok engga tulus?. Lagian, Aku engga minta tolong sama Kamu tuh!," kata Syairil dengan wajah kesal dan nada tinggi yang justru dibalas tangisan bombay oleh mbak kunti pembawa gunting yang tak pernah berhenti memotong rambut panjangnya.
Biasanya, hantu cenderung berpenampilan seperti wujudnya saat sekarat dan bertingkah sesuai kebiasaan semasa hidupnya. Kalau Mbak Kunti satu ini, dulunya adalah seorang penata rambut di sebuah salon kecantikan. Dia disiksa oleh rekan kerjanya hingga meninggal di usianya yang baru menginjak 19 tahun.
Dari sini, sudah paham kan Seberapa dekat dua makhluk beda dimensi ini?
"Aku yg lagi galau putus cinta, malah Kamu yang nangis brutal. Iya deh, mau imbalan apa?.
"Carikan Aku pacar, hihihi," jawabnya manja sambil tersenyum kecil.
"Dasar setaaan generasi micin! udah mati masih aja mikirin pacar!," Syairil memaki karena tak percaya mendengar ucapannya barusan.
"Ya, kan, Aku kesepian. Bosen ngobrol sama Kamu terus, tapi yang bisa diajak ngobrol cuma Kamu."
"Dih, najis. Emangnya cuma Kamu yang bosan?, justru Aku yang lebih bosan. Kalau aja masih hidup, udah kucincang juga daging kau setaan!," Syairil menjawabnya dengan kasar.
"Kalau engga dicariin pacar, Aku bakal ngambek, nih"
"Iiih, Masbomat anjir!. Pergi sana!, dan jangan pernah balik lagi!"
"Ah yang bener?. Kamu kan cuma bisa leluasa ngobrol kayak gini sama Aku"
Syairil termenung sejenak, ia membenarkan ucapan mbak kunti itu. Selama ini, ia hidup penuh sandiwara di depan orang-orang, tak terkecuali Yola—sahabat kampusnya.
Bertingkah dan bertutur kata sopan juga ceria seperti tak ada beban, ia bersusah payah membangun image ini sedari lama agar memiliki banyak teman dan terlihat seimbang di sisi orang hebat seperti Kenzo.
Namun mungkin ini saatnya ia kembali ke setelan pabrik, menjadi Syairil yang dulu, jauh sebelum mengenal lelaki bernama Kenzo Zavian itu.
"Ya, udaah. Aku pergi, nih. BYE!"
Baru saja Syairil berkedip, mbak kunti itu sudah menghilang. Syairil tak khawatir akan kepergiannya, karena entah nanti malam atau besok pagi pun dia pasti sudah nongkrong di pohon depan kamar kost-nya itu.
Syairil berbalik badan menuju pintu kamar kost dan hendak membuka pintu memasuki kamar, tetapi sebuah tangan menahan bagian bawah pintu itu untuk terbuka.
Tampak hantu pria dengan tuksedo hitam dan kemeja putih bersimbah darah yang tergeletak di sisi pintu, tepat di bawah kakinya.
"Tolong...," pintanya 3 kali dengan suara payau sambil merintih. Membuat kadar emosi Syairil bertambah begitu mendengarnya.
"Astagaa, apa lagi ini?. Hilang satu muncul yang lain lagi, minta tolong lagi. Emangnya Aku mbah dukun? Seenaknya minta tolong terus!. Pergi sana, pergi!" Seru Syairil putus asa dengan cobaan per-hantuan yang tak kunjung usai meminta pertolongannya.
"Tolong,,, Saya"
Syairil mendekat sembari mengendus-endus bau anyir yang ia yakini berasal dari sosok hantu pria itu, "Ish, baru meninggal, ya?. Baunya menyengat banget."
"Tolong," tak henti-hentinya kata itu diucapkan. Kali ini hantu pria itu bernasib baik, dia akhirnya dapat meluluhkan hati Syairil.
Ia tak bisa sekeji itu mencampakkan hantu dengan fisik mengenaskan seperti itu. Apapun yang terjadi pada hantu itu, Syairil yakin dia meninggal karena dibunuh. Ia dapat menebaknya dari luka di sekujur tubuh dan wajah berlumuran darah yang tergores sana-sini.
Penat dengan segala permasalahan hidup yang menyerbunya hari ini, membuat Syairil tak ingin larut berhadapan dengannya. Syairil mendorong keras pintu itu hingga terbuka lebar, kemudian berjalan masuk melangkahi tubuh hantu pria yang kini terkapar di tengah pintu.
Syairil berdiri membelakangi hantu itu, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Oke, Aku maklumin karena Kamu baru meninggal dan beradaptasi sebagai hantu arwah gentayangan. Aku tolong Kamu cuma malam ini aja!. Kamu boleh disini cuma 1 malam!. Inget!. Cuma 1 malam."
Syairil menyabet handuk yang tergantung dan lekas pergi mandi, namun ia berhenti di depan pintu kamar mandi ketika terdengar suara pintu kamar terdorong perlahan hingga tertutup sempurna.
Ia menoleh ke sumber suara, mencari sosok yang baru saja menjadi lawan bicaranya.
"Oh, udah ngilang?. Aah~ akhirnya dia sudah menyadari kodratnya sebagai hantu," ucap Syairil seraya melanjutkan langkahnya untuk ke kamar mandi.
Syairil tak mengetahui bahwa di balik sofa tosca itu terdapat sosok yang dicarinya, dia tengah berjuang mati-matian mendorong pintu dengan kakinya dan kini hanya bisa terbaring tak berdaya di pualam dingin.
Pria berlumuran darah itu berusaha bangkit, merayap semampunya dengan sisa tenaga yang dimiliki. Dia berjalan tertatih-tatih mengambil posisi duduk di sofa, lalu membaringkan tubuh secara perlahan sembari berhati-hati menekan luka tusukan di perutnya.
Beruntung luka itu tak terlalu dalam seperti biasanya, sehingga ia tak perlu ke rumah sakit untuk mengobatinya. Hanya butuh operasi kecil dan obat seadanya, ia yakin bisa bertahan untuk beberapa jam ke depan.
Ia harus tetap terjaga selama berada di tempat persembunyiannya sementara ini. Di kediaman gadis aneh yang dengan bodohnya menganggap dirinya sebagai hantu.
"Bodoh..."
"Dasar cewek bodoh," ulang pria itu.
Pria itu meringis menahan sakit sambil tertawa kecil. Dengan tetap memejamkan mata dia bergumam, "Terima kasih ya, cewek bodoh. Terima kasih. Jangan sembuh dulu dari kebodohanmu, sebelum Aku melarikan diri."
"Secepatnya Aku akan pergi... dan kita tidak perlu bertemu lagi."