Part 6

942 Words
Nindya pov Pukul setengah sebelas terlihat dari jam tangan mocca di tangan kananku ketika sampai di depan rumah Syahna. Bik Nah membukakan pintu dan segera menyuruhku masuk. Keningku otomatis mengkerut melihat Ayya yang duduk di depan ruang tv sendirian, masih dengan baju tidur.  Didepannya ada sepiring mie goreng yang tinggal separuh dan juga semangkuk sereal. Kenapa menu sarapan dicampur-campur begitu. Dia segera tersenyum manis begitu melihatku. "Ayya kok belum mandi? Kenapa sarapannya mie, hmm?" Aku ikut duduk di sebelahnya yang menonton Doraemon. "Ayya gak mau mandi sama Bik Nah” katanya dengan mata puppy eyesnya padaku. Kuusap lembut kepalanya sebelum menghampiri Bik Nah di dapur. Membiarkan Ayya menghabiskan s**u coklatnya. "Ayyanya nggak mau mandi Bik?" Bik nah yang tengah memasukkan sayur ke dalam kulkas menoleh padaku. "Iya mbak, nggak mau saya mandiin tadi, udah dibujuk tetep nggak mau" Aku mengangguk kecil,"Kenapa Ayya sarapannya mie goreng?" Nggak baik sarapan mie, tidak, mie memang tidak pernah baik untuk dimakan kapanpun. "Tadi sudah saya kasih nasi sup, tapi neng Ayya nggak mau, minta mie, bibi takutnya neng Ayya nangis kalo nggak dikasih mbak, tadi aja udah mau nangis” jelas Bik Nah yang menatapku bingung. Aku hanya kembali mengangguk kecil. Ayya masih terlalu kecil untuk tahu apa yang baik dan tidak untuk kesehatannya. "Lain kali sebisa mungkin jangan dikasih mie apa junk food lain ya bik” kataku akhirnya. "Iya mbak" Sebenarnya Ayya juga tidak terlalu menurut pada Bik Nah, karena Bibi biasanya memberikan apa yang dia mau, karena kalau tidak Ayya akan menangis. Kebiasaan seperti itu secara tidak langsung membentuk kepribadiannya. Ini membuatnya jadi manja. Awalnya bik Nah juga tidak tinggal disini. Dulu waktu Syahna masih ada, bibi akan datang pagi sekali dan pulang setelah Syahna pulang kerja. Rumahnya ada di pojok gang. Tidak terlalu jauh dari sini. Dan sekarang sepertinya masih sama, bibi akan pulang setelah Abra kembali. Entah jam berapa laki-laki itu tiba di rumah. Dan sekarang dimana laki-laki itu saat weekend begini. Bukannya menjaga Ayya. "Om-nya Ayya kemana bik?" Bik Nah kembali menatapku, kali ini dengan berjalan mendekat. Dan berkata dengan setengah berbisik padaku. "Masih tidur mbak, kalo weekend biasanya bangunnya siang. Tadi malem aja pulangnya tengah malem, bibi jadi nginep disini" Man and his life. Laki-laki itu benar-benar. Apa dia tidak tahu maksud ‘merawat’ yang dikatakan Syahna di suratnya. Tidak hanya sebatas tinggal serumah dengan Ayya. Dan dia sudah cukup dewasa untuk diwejangi hal-hal seperti itu. Aku akan bicara padanya nanti soal Ayya. Kalau memang dia tidak bisa merawat Ayya dengan sebenarnya merawat, biar Ayya ikut tinggal bersamaku dan mama dirumah. Meluangkan waktu lebih lama dari rumah ke Medica tidak masalah buatku. Aku akan keluar apartemen dan merawat Ayya di rumah. Ayya juga sering menginap di rumah Mama bersama Syahna dulu. Dan aku juga yakin Ayya nggak akan menolak jika aku mengajaknya tinggal bersamaku disana. *** "Hai, cucu nenek yang cantik” Ayya segera menghambur berlari ke arah mama. Memeluk mama yang memang sudah dianggap neneknya sendiri. Setelah membujuk Ayya untuk mandi, aku mengajaknya ke rumah. Tidak meminta ijin lebih dulu ke Abra. Laki-laki itu masih belum keluar dari kamarnya. Sudah agak lama setelah Syahna meninggal Ayya tidak kemari. "Ayya kangen sama nenek” katanya di pelukan mama. "Uh cucu nenek udah makin gede, nginep sini aja ya, besok masih libur kan" Mama dan Ayya sudah duduk di depan tv. Ayya sibuk berceloteh tentang apa saja, mulai dari kegiatan di sekolah, temannya sampai Doraemon yang tadi pagi ditontonnya. Mama tentu saja menanggapi dengan antusias. Dari dulu mama sudah kepingin punya cucu, biar rumah ini rame, begitu katanya. Dan setelah kelahiran Ayya hal itu dapat terwujud. Gadis cilik itu senang sekali bercerita apa saja. Paling anti kalau diam. Aku memilih ke dapur, mencari bahan apa yang kiranya bisa dibuat camilan. Kalau Ayya disini aku suka membuatkannya makanan ringan. Sekalian mencoba eksperimen dengan makanan baru. Entah itu cuman roti, atau es jus yang ku bekukan seperti es krim. Atau lebih sering puding, seperti kali ini. "Ayya mau puding nggak?” tanyaku dari dapur. "Mauuu” gadis cilik itu segera berlari ke dapur diikuti mama. Ada buah apel, melon, dan stroberi ketika aku membuka kulkas. Kuputuskan membuat puding buah. "Ayya bisa nginep sini kan Nin?” tanya mama padaku yang sedang memasak air. "Nggak tahu Ma” jawabku agak ragu. "Kenapa?" Kulihat Ayya sekilas, anak itu kuyakin tidak menolak kalau disuruh menginap tapi aku tidak yakin dengan om-nya apa akan mengijinkan. Mengingat waktu mau menginap di apartemenku saja tidak boleh. "Kenapa Nin? Ayya mau kok nginep sini" Anggukan Ayya terlihat antusias saat mama bertanya padanya. Gadis cilik itu sedang sibuk memakan stroberi yang sudah ku keluarkan dari kulkas. "Aku belum bilang ke omnya” kataku kemudian. "Ya udah telpon aja kan bisa" Sesudahnya aku tidak lagi menjawab mama, menyibukkan diri dengan mengaduk puding yang mulai mendidih. "Stroberinya mau dicampur ke puding nggak?" Ayya kembali mengangguk antusias sambil kembali memasukkan satu buah lagi ke dalam mulutnya. Membuat bibirnya menjadi merah. "Kalau gitu jangan dihabisin, nanti dicampur sama kiwi dan melonnya di puding" Segera Ayya mengurungkan tangannya yang akan mengambil sebuah stroberi lagi. Anak itu sangat suka dengan buah stroberi dibanding buah lain. Aku tersenyum kecil mengingat Syahna waktu hamil juga suka sekali makan stroberi. Sepertinya Ayya memang sudah suka sejak dalam kandungan. Deringan ponsel menghentikan adukanku pada puding berhenti sebentar. "Mam, bisa gantiin sebentar" Mama segera mengambil alih adukanku. Menunggu puding mendidih tidak bisa ditinggal, karena harus terus diaduk. Setelah tahu siapa yang menelpon, aku menjauh sebentar dari dapur. "Kenapa kau suka sekali membawa Ayya tanpa memberitahuku?" Kalimat itu bahkan terdengar lebih dulu sebelum aku mengucapkan halo. "Kau masih tidur kalau kau lupa” kataku dengan nada menyindir yang tidak ku sembunyikan. Kudengar Abra berdecak kesal diujung sana. Dan sebelum laki-laki itu kembali bicara aku lebih dulu menyela. "Ayya akan menginap di rumahku malam ini, . . ." "Ak..." "dan aku berhak mengajaknya menginap karena aku juga memegang separuh hak asuh Ayya” selalu saat Abra mau menolak. Tidak menunggu balasannya aku segera mematikan sambungan. Enggan berdebat dengannya lebih jauh. Sulit sekali bicara dengan laki-laki itu tanpa emosi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD