Nindya POV
"Kamu gak ke rumah sakit hari ini Nin?"
Mama ikut bergabung bersamaku yang tengah duduk di depan tv. Semalam aku memang pulang kerumah.
"Nanti sore ada jadwal praktek di apotek mah, tapi nanti malem aku langsung ke apartemen” kataku tanpa mengalihkan pandangan dari berita tentang vaksin palsu di tv.
Jarak dari rumahku ke rumah sakit memang agak jauh, kalau jalanan lenggang bisa jadi tigapuluh menit. Padahal itu sangat jarang terjadi, hampir setiap hari jalanan macet, terutama di jam berangkat dan pulang kerja. Menjadikan waktu berangkatku kadang satu jam lebih. Belum lagi karena pulangku terkadang malam.
Jadi untuk lebih efisien aku memilih tinggal di apartemen. Lagi pula bukan aku yang membeli apartemen itu, lebih baik uang disimpan sekalian untuk cicilan rumah daripada apartemen. Salah satu rekan kerja mama di yayasan tidak bisa mengembalikan uang yang dipinjamkannya. Dan justru memberikan apartemen itu pada mama sebagai gantinya. Praktis sudah tiga tahun ini aku yang menempatinya.
Aku bisa melihat mama mengangguk sebentar dan kemudian ikut fokus melihat berita di tv. Sementara waktu kami saling diam dan membiarkan suara tv memenuhi ruangan.
"Mama ketemu papa kamu tadi, nggak sengaja"
Aku masih tidak mengubah pandanganku ke mama, tapi fokusku ke televisi sudah hilang. Tidak benar-benar menatapnya.
Aku mengangguk kecil. Tidak tahu harus berkomentar apa. Kata papa terkadang menjadi pembicaraan sensitif diantara kami.
"Bagaimana kabarnya?” tanyaku setelah jeda beberapa saat.
"Baik, dia bersama istri dan anaknya, yang seusia kamu itu, siapa namanya, Afifa?"
Aku kembali diam, menatap tv tanpa benar-benar menatapnya.
"Kita baik-baik saja ma” kataku entah pada diriku sendiri atau pada mama.
Selalu seperti ini kalau kita sedang membicarakan topik ini. Kaku dan rawan. Yang pasti aku sudah terbiasa hidup tanpa membutuhkan sosok seorang ayah yang harus diemban laki-laki. Kami- aku dan mama- terbiasa melakukan semuanya berdua. Kami bisa hidup sampai sekarang. Kami tidak butuh seorang laki-laki yang tidak berperan seperti laki-laki. Buat apa?
"Ya, kita baik-baik saja. Justru mama memikirkanmu Nin"
Kali ini ucapan mama itu berhasil membuatku menoleh. Menatap seorang wanita yang masih cantik di umurnya yang mendekati kepala lima itu.
"Mama nggak mau karena pernikahan gagal mama membuatmu berpikir tertutup untuk menjalin hubungan serius dengan laki-laki"
Aku sedikit bingung dengan arah pembicaraan mama, mencoba menerka apa maksudnya. Aku memang tidak pernah membawa laki-laki untuk dikenalkan kepada mama secara langsung. Maksudku, beberapa kali menjalin hubungan dengan laki-laki tidak lantas membuatku yakin untuk menuju ke jenjang yang lebih serius.
"Kalau mama khawatir aku tidak akan menikah, itu tidak benar. Aku masih menyukai laki-laki dan akan menikah dengan laki-laki. Sepertinya anak mama ini tidak secantik mamanya yang mampu membuat banyak laki-laki tertarik” kataku mencoba bercanda.
Mama tertawa kecil mendengarku. Aku tahu beberapa laki-laki rekan kerja mama memang mengungkapkan minat pada wanita yang melahirkanku itu. Dan mama tidak pernah menanggapinya serius. Tapi entahlah, aku tidak pernah serius membahas laki-laki dengan mama.
"Siapa bilang anak mama nggak cantik, anak mama yang paling cantik” katanya masih dengan senyum lebar di bibirnya.
Aku mencium pipi mama sekilas,"thank you!"
"Hubungan kamu sama si Reza itu udah berakhir"
Oh baiklah sepertinya mama memang belum mau mengakhiri pembicaraan ini.
"Begitulah, kalau aku nikah sama dia nanti aku bakal terkurung di rumah terus gak boleh keluar” jelasku.
Mama mengangguk pelan,"Apa dia tipe begitu? yang istri mesti dirumah suami yang kerja?"
Giliranku yang mengangguk. Dan aku tahu pasti mama juga tidak akan suka laki-laki seperti itu. Ibuku itu pejuang ibu Kartini. Berpendidikan tinggi, karir cemerlang, dan mandiri. Yang disatu pihak membuat laki-laki kagum, tapi di pihak lain membuat laki-laki minder.
Ya, tidak semua orang berpikiran terbuka benar-benar terbuka dengan kesetaraan gender kupikir. Laki-laki terkadang tidak masalah dengan istri yang berkarir. Tapi jika ditanya apa mereka bersedia jika pendidikan istri lebih tinggi darinya? Bersedia jika posisi karir istri lebih diatas suaminya? Bersedia apabila pendapatan istri lebih besar di atas suami?
Jawabannya mungkin nanti-nanti dulu. Kalau mereka memang bersedia, belum tentu keluarga mereka menerima.
See, mencari suami tidak semudah sebatas bertemu sekali-dijodohkan-menikah pura-pura-lalu jatuh cinta. Tidak sesimpel itu.
Mama sama sekali bukan wanita yang konservatif yang termakan dengan pandangan wanita harus di rumah mengurus suami dan anak, wanita tidak bisa berkarir tinggi dan label perawan tua untuk wanita yang belum menikah di atas usia dua lima.
Aku bersyukur mama bukan termasuk golongan konservatif begitu. Dan satu lagi, mama bukan tipe ibu-ibu yang teracuni sinetron Indonesia. Kadang mama bahkan ikut nonton film barat atau drama korea bersamaku. Hanya di Indonesia dan mungkin beberapa negara lain yang berpendapat wanita selalu identik dengan dapur. Di negara maju seperti Perancis, Inggris wanita tidak menikah bukanlah persoalan. Di Korea Selatan wanita diatas tiga puluh yang belum menikah juga tidak sedikit.
Jadi label ‘perawan tua’ itu hanya konstruksi masyarakat saja. Kami berdua tinggal secara mandiri dalam lingkungan yang terbuka. Dan tidak mempermasalahkan persoalan semacam itu. Mama bagiku adalah segalanya, sahabat, guru, dan papa untukku.
"Kamu kog nggak ajak Ayya main kesini lagi, malah mama pikir kenapa nggak ajak Ayya tinggal bareng, kasian dia sendirian"
Berita di tv beralih ke penangkapan kasus suap yang dilakukan seorang pengacara ternama.
Tanpa menoleh aku menjawab mama,"Aku masih sering ke rumah, kapan juga Ayya aku ajak ke apartemen waktu nggak ada shift pagi, lagian... kakak tirinya Syahna itu udah pulang"
"Yang di luar negeri itu?"
Aku mengangguk sekilas.
"Tapi mereka masih tinggal di rumah lama? Keluarga kakaknya Syahna itu bisa nerima Ayya kan?"
Sedikit banyak aku memang cerita soal surat terakhir Syahna dan permintaannya padaku dan kakak tirinya itu untuk mengasuh Ayya bersama. Karena Syahna dan mama juga dekat, bahkan Syahna dianggap anaknya sendiri.
"Dia belum nikah” jawabku pendek.
"Kakaknya Syahna laki-laki?"
Kembali aku mengangguk sekilas tanpa menoleh ke mama.
"Gimana orangnya?"
Keningku berkerut bingung menatap mama,"gimana apanya?"
"Ya kepribadiannya? Umurnya? Orangnya kayak apa? Kamu kan udah ketemu"
Aku menatap mama sambil menghembuskan nafas pendek.
"Ya nggak gimana-gimana, udah ya aku mau siap-siap berangkat” kataku seraya berdiri meninggalkan mama yang tampak masih ingin bertanya.
***
Selesai praktek aku tidak segera pulang ke apartemen. Sedikit menyesal kenapa tadi nggak bawa mobil. Kondisi hujan begini repot kalau mau pulang. Dan aku malah berakhir dengan duduk di bangku pojok cafe dengan secangkir coklat panas dan roti bakar coklat-keju.
"Lusa dateng nggak ke nikahan Reza?"
Lena duduk di depanku sekembalinya dari toilet. Wanita yang tiga tahun di atasku itu sudah menjadi temanku sejak pertama aku masuk ke Medica.
"Dateng"
Apa aku lupa bercerita. Si Reza. Mantan pacarku dua tahun lalu itu adalah staf keuangan di Rs Medica. Jadi praktis Lena juga kenal dan diundang ke pernikahannya. Sewaktu kami masih bersama dulu, dia kadang menghampiri ke gedung tiga tempat obgyn. Ini menjadikan temanku di obgyn juga cukup mengenalnya.
"Mau bawa siapa?"
Lena menyeruput cappuccino nya.
Keningku yang berkerut sepertinya sudah melontarkan pertanyaan yang belum keluar dari mulutku.
"Kamu nggak berniat dateng sendiri kan?” tanyanya sambil mencondongkan badan.
"Nggak, bareng anak-anak, mereka kan juga diundang"
Lena sedang tidak bisa ikut karena harus ke Surabaya untuk pernahan adik iparnya.
Lena menghembuskan nafas panjang sambil menepuk jidatnya pelan.
"Maksudku pasangan, dateng ke nikahan mantan itu wajib bawa pasangan Nin, kalo enggak dikira kita belum move on” jelasnya seolah menjelaskan betapa pentingnya menggosok gigi pada anak TK.
"Teori siapa itu?"
Kedua kalinya Lena menghembuskan nafas panjang. Kali ini disertai dengan punggungnya yang menyandar di kursi.
Hujan yang terlihat dari kaca di sampingku semakin lebat. Menjadikan cafe ini semakin ramai dengan orang-orang yang enggan menembus hujan untuk pulang. Memilih duduk dan mengobrol ringan dengan temannya. Melupakan sejenak pekerjaan esok hari yang setumpuk.
"Ajak si Ricky aja, gue yakin dia nggak bakal nolak"
Aku menatap sebal wanita di depanku itu. Kupikir dia sudah menghentikan topik ini. Taunya dia tadi diam untuk berpikir siapa pasangan yang mesti kuajak ke nikahan Reza.
"Denger ya nona Lenata Pramitasari, pertama, aku nggak masalah sama sekali dateng tanpa pasangan lagian aku bisa dateng sama anak-anak.
Kedua aku nggak mau ngajak si Ricky karena nggak mau dibilang kasih harapan ke dia, nanti kalau udah begitu malah dikira mainin anak orang.
Ketiga aku juga udah nggak ada perasaan apa-apa sama si Reza, ikhlas lahir batin dia nikah sama orang lain, can we stop this topic please?"
"Sure”
Aku baru saja akan mengomentari wajah cemberut Lena ketika sudut mataku menangkap seorang yang tidak asing bersama gerombolan pria memasuki pintu cafe. Mataku dengan sadar mengikutinya yang berjalan dengan ketiga pria lain. Mereka duduk di pojok yang berseberangan denganku, tapi sepertinya dia tidak melihatku. Aku menggeser dudukku sedikit menyerong, membuatku sedikit terhalang dengan bunga bugenvil setinggi semeter di tengah ruangan.
"Kenapa sih?"
Lena memutar kepalanya, mengikuti arah pandanganku.
"Nggak papa, pulang yuk, besok shift pagi kan"
"Masih ujan di luar Nin, aku juga belom chat suami suruh jemput"
Aku kembali melirik sekilas ke pria yang tengah mengobrol dengan teman-temannya itu.
"Ya udah chat sekarang, kantor suamimu di deretan gedung depan kan, sepuluh menit juga sampe"
Lena mengetikkan sesuatu ke ponselnya. Sedang mataku kembali mengarah ke Abra, dia masih belum melihatku. Tidak tahu kenapa aku sedang tidak ingin bertemu dengannya diluar urusan Ayya. Laki-laki itu bukan jenis yang ingin kuajak mengobrol lama-lama.
"Bareng aja Nin, masih ujan ini” tawar Lena.
"Nggak usah, kan nggak searah, macet gini repot. Udah aku pake taksi aja” tolakku.
"Beneran?"
Aku kembali mengangguk meyakinkannya.
"Ya udah duluan ya"
Aku melambaikan tanganku sekilas ke Lena yang berjalan ke depan, tempat mobil suaminya terparkir.
Aku memilih duduk di kursi panjang di depan cafe yang juga di duduki beberapa orang yang berteduh atau menunggu taksi. Dan ketika taksiku sudah datang. Aku menangkupkan jas dokterku diatas kepala untuk menutupiku dari hujan yang sudah mulai mereda.
Bersamaan dengan jalanku ke arah taksi yang berhenti di tepi jalan. Aku berpapasan dengan seorang wanita dan laki-laki yang baru keluar dari cafe. Karena jalanku yang menunduk, hanya bisa menatap stiletto dan pantofel hitam. Ketika aku mendongakkan kepalaku untuk mengatakan permisi, kata itu justru tidak keluar saat mengetahui siapa yang berpapasan denganku.
Abra bersama seorang wanita dengan setelan kantor, dengan Abra yang memegang payung abu-abu. Laki-laki itu sama terkejutnya denganku. Aku hanya mengangguk sekilas ke wanita disebelahnya yang menatapku dan segera berlalu meneruskan langkahku yang terhenti.
Aku segera menghentikan otakku yang akan berpikir siapa wanita itu. Sama sekali tidak ada urusannya denganku.
***