Suara flat shoes terdengar beradu dengan lorong lantai tiga gedung obgyn. Nindya keluar dari ruang bersalin dengan wajah lesu. Berjalan ke nurse station.
"Tumben lama persalinannya dok?” Nita yang berada di balik meja bertanya begitu Nindya sampai di depannya.
Nindya hanya mengangguk kecil lalu mendaratkan tubuhnya ke kursi empuk di depan meja. Sejak semalam dia belum pulang. Dan matanya sudah sangat menuntut untuk di pejamkan.
Seorang suster kemudian menghampiri Nindya yang tengah menumpukan dagunya di meja.
"Inget gajian aja dok, biar semangat"
Nindya mendengus pelan sambil melihat jam dinding yang tergantung di dinding bercat biru tosca. Jam setengah empat. Dan perutnya belum diisi jatah makan siang.
"Akhh, gimana mau hidup sehat, kalo makan nggak pernah teratur gini” omelnya.
"Mau kemana dok? Jadwalnya kan masih setengah jam lagi"
Nita mengingatkan ketika Nindya berbalik dan menuruni tangga.
"Kalo dokter Prabu nanya, bilangin yang setengah jam jatah makan siang” katanya dan segera berlalu.
Setelah berganti pakaian dan mengemasi barangnya, disinilah Nindya sekarang. Menyeruput es tehnya yang tinggal separuh, di depan selatnya yang sudah habis dimakan. Tidak banyak orang yang duduk di kantin ini. Maklum belum jadwal pulang, hanya dia dan dua orang wanita muda yang sepertinya sedang menjalani coas.
Ketika duduk sendirian seperti ini pikirannya tidak bisa tidak untuk kembali mengulang kejadian lima tahun lalu. Saat pertama kali dia bertemu dengan Syahna. Dia masih menjalani coas di rumah sakit ini, setelah jaga malam berlanjut tugas siangnya, sore hari dia selalu makan di kantin ini. Beberapa kali dia melihat Syahna yang duduk diam setengah melamun dengan perut membuncit. Tapi dia tidak pernah melihat kalau wanita itu periksa kandungan.
Suatu sore saat hujan mengguyur sedari siang, dia memutuskan menunggu di kantin sembari reda, karena dia harus pulang naik bus ke kos. Entah apa yang mendorongnya menyapa Syahna waktu itu. Awalnya dia hanya basa-basi menyapa dan menanyakan apa yang bisa dibantu, karena raut Syahna saat itu terlihat pucat seperti sedang sakit.
Dari situlah awal perkenalan keduanya, bermula dari teman, menjadi sahabat, dan sudah seperti saudara baginya. Syahna menceritakan bagaimana kehidupan rumah tangganya, dia bercerai dalam keadaan hamil, dan tidak punya keluarga. Sempat terpikir untuk aborsi saat itu, tapi Nindya terus membujuk dan menemaninya, menyadarkan bahwa Syahna tidak sendirian.
Keduanya semakin dekat, Syahna kemudian mulai memeriksakan kehamilannya. Selepas melahirkan dia bekerja sebagai staff administrasi disini. Sejak pertama kali Ayya lahir Nindya sudah melihatnya, entahlah anak itu sudah seperti bagian dari dirinya. Sering Ayya menginap di tempatnya kalau dia sedang tidak ada shift siang. Mamanya juga mengenal baik Syahna dan Ayya, bahkan menganggap mereka sebagai anak dan cucunya sendiri.
Getaran ponsel di meja menarik Nindya dari lamunannya.
"Halo” katanya tanpa melihat siapa si penelfon.
"Besok kau ada waktu?"
Dilihatnya layar ponselnya setelah mendengar suara laki-laki yang tanpa basa-basi itu. Dia mendengus pelan setelah tahu siapa si penelfon.
"Kenapa memangnya?” tanyanya balik.
"Ayya minta ke kebun binatang"
"Lalu?"
Nindya dapat mendengar decakan kesal di ujung sambungan.
"Jangan berbelit-belit, kujemput besok jam 9 di apartemenmu"
Tutt.
Nindya melihat ponselnya tidak percaya. Bagaimana ada pria tidak sopan begitu. Dia bahkan belum bilang setuju apa tidak. Kenapa Syahna bisa punya kakak tiri menyebalkan begitu, batinnya.
***
Nindya segera keluar dari unit apartemennya ketika pesan keenam dari Abra masuk ke ponselnya, berisi ancaman akan meninggalkannya kalau dalam tiga menit tidak segera turun. Ya Tuhan dia hanya terlambat tidak lebih dari setengah jam.
Memangnya siapa yang menduga kalau siklus haidnya datang dua hari lebih awal. Membuat waktunya di kamar mandi lebih lama dari biasanya. Dia segera berlari kecil ke mobil hitam di seberang jalan gedung apartemennya. Sedetik setelah pantatnya duduk di kursi depan Abra segera melajukan mobilnya tanpa kata.
"Sudah sarapan sayang?” tanyanya pada Ayya setelah meredakan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Udah, makan bubur kacang ijo tadi, di taman kompleks” cerita Ayya.
Gadis cilik itu memakai baju dengan tali spageti selutut bermotif bunga warna pink. Rambutnya dibiarkan tergerai.
"Berdiri sini, tante sisirin rambutnya"
Ayya berdiri diantara kakinya dan memainkan gelang warna-warni di tangan kanannya.
"Kepang dua ya tan, om Abra nggak bisa kucir Ayya tadi"
data-p-id=ba4726e9361b50e32b5b77cfbaf077cd,Nindya dapat melihat Abra menoleh sekilas padanya, masih tidak bersuara dan sibuk mengemudi.
Nindya dan Ayya menunggu sembari Abra mengantri beli tiket. Tak lama kemudian mereka sudah masuk ke kebun binatang yang cukup ramai di weekend seperti ini.
"Aku mau lihat harimau” teriak Ayya kecil sambil berlari ke kandang harimau yang terbuat dari besi. Dengan pagar sejauh satu meter di luarnya.
"Jangan dekat-dekat Ayya” kata Nindya melihat Ayya yang berdiri menempel di pagar pembatas.
Gadis itu justru memekik senang saat seekor harimau berjalan mendekat ke arahnya dan mengaum keras. Membuat beberapa pengunjung yang mendengarnya terlonjak kaget.
Refleks Nindya melangkah mundur dan menabrak Abra yang berdiri di belakangnya dengan kamera menggantung di leher. Laki-laki itu hanya menatapnya sekilas dan kembali sibuk memotret Ayya.
Setelah lima belas menit hanya berdiri di depan kandang harimau akhirnya Ayya mau juga beranjak ke hewan lain. Gadis cilik itu selalu antusias di setiap hewan yang ditemuinya. Ada gajah, kuda nil, buaya, kijang, dan hewan-hewan lain. Tidak ada satupun hewan yang membuat Ayya takut.
Nindya baru saja akan mengajak Ayya melihat kandang yang lain saja saat gadis cilik itu sudah lebih dulu berlari kecil ke arah kandang berukuran tidak terlalu besar itu. Di dalamnya beberapa ular dengan jenis dan ukuran berbeda.
Langkah Nindya berhenti di bawah pohon beringin besar. Membiarkan Ayya dan Abra yang mendekat ke kandang ular. Entah kenapa dia tidak terlalu menyukai hewan itu. Bukan, bukan karena gigitan dan bisanya yang mematikan. Tapi lebih ke bagaimana bentuknya yang panjang dan menggeliat itu.
Nindya bergidik ngeri membayangkan ular itu melilit tubuhnya. Bahkan kalau ular ada yang berwarna pink dan pemakan buah-buahan dia tetap tidak akan suka. Mitos tentang ular yang di dengarnya semakin mengukuhkan dirinya untuk tidak berurusan dengan hewan satu itu.
Ketika membunuh seekor ular kita harus menghancurkan kepalanya, pasalnya beberapa ular pada saat dalam tahap sekarat memiliki kemampuan polaroid pada retinanya. Ini membuatnya mampu melihat gambaran saat dia dibunuh, dan ular dengan jenis yang sama juga mampu melihat bagaimana rekannya itu dibunuh. Inilah yang kemudian menjadi asal mitos ketika membunuh seekor ular maka pasangan ular tersebut kana mencari kita. Dipejamkan matanya menghilangkan bayangan itu.
"Mau foto mbak?”
Nindya refleks menjerit kecil ketika dia membuka mata dan ular panca kuning dengan besar melebihi lengannya tepat berada di depannya tidak lebih dari satu meter, dikalungkan di leher seorang petugas. Pekikannya membuat beberapa pengunjung menoleh padanya sambil tersenyum kecil.
"Ayya mau lihat!” anak itu segera berlari ke arahnya diikuti Abra di belakangnya.
Petugas itu membungkuk sehingga Ayya bisa memegang ular itu dengan tangan mungilnya.
"Mau foto sama ularnya?” tanya petugas itu ke Ayya.
"Gigit?"
"Enggak, ini pegang nggak papa"
"Takut” kata gadis cilik itu.
"Nggak papa, sini sama om"
Kata Abra dan segera menggendong Ayya dengan sebelah tangannya dan membiarkan petugas kembali berdiri dan membantu mengalungkan ular di leher keduanya.
"Ibunya nggak sekalian?"
Petugas itu menoleh ke Nindya yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat. Kakinya tidak bisa digerakkan. Segera dia menggeleng kuat. Dan terlalu kaget untuk mengoreksi kesalahan dia dianggap ibu Ayya dan istri Abra.
"Wajahmu lucu” kata Abra setelah selesai berfoto bersama Ayya dengan ular tadi.
Abra mengarahkan kamera padanya dan berhasil mengambil satu foto. Lalu menunjukkan padanya.
Wajahnya terlihat ... bodoh disana.
"Hapus!"
Segera Abra menjauhkan kamera tersebut dari Nindya,"No"
Laki-laki itu mengaduh pelan saat Nindya mencubit lengannya.
Mereka kembali melihat hewan-hewan lain. Ayya sama sekali tidak terlihat takut dengan berbagai hewan apapun. Dan gadis cilik itu selalu minta difoto baik langsung atau hanya diluar kandang.
"Aku mau foto sama tante Nindya” rengeknya yang sudah duduk berdua dengan orang utan. Sebelah tangan orang utan merangkulnya.
"Sendiri aja ya, tante liat dari sini” bujuk Nindya. Sebenarnya dia tidak terlalu nyaman dengan berbagai hewan, kebalikan dari Ayya yang sangat antusias.
"Mau sama tante Nindya” kata gadis itu dengan mata puppy eyes nya.
"Duduklah disana” kata Abra menginstruksikan duduk disisi satunya orang utan itu.
Dengan enggan dia akhirnya memilih duduk agak jauh.
"Don't!” cegahnya ketika Abra mengalungkan satu tangan orang utan itu di lehernya.
Abra hanya tersenyum geli dan tidak mengindahkan perkataan Nindya. Wajah Nindya terlihat kembali pucat ketika merasakan lengan berambut itu ditengkuknya.
"Auww!"
Jeritan kecil Nindya sontak membuat Abra dan Ayya tertawa geli. Rambutnya ditarik orang utan itu. Dan terlihat enggan melepasnya. Barulah setelah dibujuk petugas penjaganya baru dilepas.
Lain kali dia tidak akan mau ke kebun binatang lagi. Titik.
Mereka memutuskan makan siang dan sekalian menunggu Abra yang salat dzuhur. Di bagian agak belakang kebun terdapat kantin dan mushola juga danau yang tidak terlalu luas. Di sebelahnya akuarium besar dengan segala jenis ikan dan hewan air lain di dalamnya.
"Mana Ayya” tanya Nindya setelah balik dari kamar mandi, mencuci tengkuknya yang dikalungkan lengan orang utan tadi.
"Liat ikan” kata Abra tanpa menoleh, sibuk mengamati hasil fotonya di kamera.
"Kenapa kau biarkan sendiri, disini ramai, gimana kalau Ayya ilang, kau yang tanggung jawab!"
Abra mengangkat kepalanya dan berdecak kesal. Menunjuk ke samping kirinya, membuat Nindya mengikuti arah pandangannya. Disana Ayya tengah menempelkan wajahnya pada kaca akuarium raksasa, asyik mengamati berbagai hewan di balik kaca.
"Kau terlalu parno” kata Abra tanpa ditanggapi Nindya.
Setelah hari mulai sore mereka memutuskan pulang. Kaki Nindya rasanya mau copot setelah seharian berkeliling kebun binatang. Ayya yang digandengnya terlihat capek, dan mengantuk. Gadis cilik itu menguap kecil.
"Capek?” tanya Nindya
"Mau digendong?” kali ini Abra yang bertanya. Laki-laki itu menyerahkan kameranya ke Nindya dan mengangkat Ayya ke dalam gendongannya. Ayya segera meletakkan kepalanya di leher om nya itu.
Keluar dari gerbang utama kebun binatang mereka menuju parkiran luar. Mobil Abra berada di seberang jalan. Beberapa mobil dan motor dari arah parkiran dalam membuat keduanya berhenti untuk menyeberang. Nindya sontak menoleh ke tangannya yang di genggam sebelah tangan Abra yang tidak menggendong Ayya. Laki-laki itu kemudian mengajaknya menyeberang tanpa berkata apapun.
Setelah sampai di samping mobil, Abra melepaskan genggamannya. Lalu menyerahkan Ayya yang tertidur pada Nindya. Membukakan pintu mobil dan membiarkan Nindya yang kini menggendong Ayya masuk, sebelum dirinya memutar dan masuk dibalik kemudi.
Tidak menyadari raut bingung wanita yang duduk di samping kemudi itu.
***