bc

Suami Sahabatku Mengajak Selingkuh Demi Balas Dendam

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
forbidden
love-triangle
HE
friends to lovers
neighbor
boss
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
brilliant
office/work place
cheating
enimies to lovers
affair
assistant
like
intro-logo
Blurb

"Aku masih mencintainya" Tiga kata.

Hanya itu yang diperlukan untuk menghancurkan dunia yang telah kubangun dengan susah payah selama lima tahun terakhir hingga berkeping-keping di kakiku.

Zane bahkan tidak punya cukup hati untuk mengalihkan pandangan saat mengatakannya. Selama dua puluh tahun, akulah orang ketiga. Bayangan setia bagi matahari Jovienne yang cemerlang.

Aku telah mengubur perasaanku sendiri pada Zane begitu dalam hingga hampir lupa bahwa perasaan itu pernah ada, dan hanya berani menggalinya kembali lalu mengungkapkannya setelah Jovi pergi ke luar negeri dan menghancurkan hatinya. Kami membangun sebuah kehidupan. Sebuah pernikahan. Dengan hati bodohku yang penuh harapan, aku sungguh percaya bahwa itu adalah akhir bahagia untukku.

Sekarang Jovienne telah kembali, dan ilusi itu pun lenyap. Cinta dalam hidupku memandangku tak lebih dari sekadar hadiah hiburan.

Saat duniaku runtuh, orang terakhir yang kuharapkan memberiku penghiburan adalah suaminya - pria yang sedingin dan sehalus penampilannya, sekaligus sekuat pengaruhnya.

Vance melihat pengkhianatan yang sama di mataku seperti yang ia lihat dari istrinya. Sambil mencondongkan tubuh, dengan suara lirih yang berbahaya, ia mengajukan sesuatu yang tak terpikirkan: "Mereka hidup di masa lalu. Mari menjadi balas dendam bagi satu sama lain. Bagaimana, Nerissa?"

Seharusnya aku menghindarinya bagaimanapun caranya. Ini adalah permainan yang bisa membakar dunia kami yang telah hancur hingga menjadi abu. Namun saat aku menatap matanya dan melihat pengkhianatan yang sama - telanjang dan memalukan - terpantul kembali kepadaku, jawaban yang tertahan di bibirku bukanlah "tidak."

Melainkan sebuah pertanyaan yang mengerikan sekaligus mendebarkan.

"Apa," bisikku, suaraku lebih mantap daripada yang kurasakan, "yang ada dalam pikiranmu?"

chap-preview
Free preview
Istrimu Bersama Suamiku
Hari jadi pernikahanku yang kelima adalah hari ketika aku akhirnya menyadari bahwa suamiku tak pernah benar-benar berhenti mencintainya. Belakangan ini aku sering melihatnya menerima telepon larut malam. Awalnya kupikir itu urusan pekerjaan. Namun nada suaranya terdengar terlalu lembut, terlalu akrab, untuk sekadar berbicara dengan rekan bisnis. Hingga suatu malam, aku mendengar nama itu keluar dari bibirnya. Jovi. Sahabat kami sejak kecil. Lima tahun lamanya aku berusaha berpura-pura bahwa nama itu tidak pernah berdiri di antara pernikahan kami. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Menjadi perempuan yang memahami segala kebutuhannya. Menjadi rumah tempat ia pulang. Menjadi seseorang yang sabar menunggu hingga ia selesai berduka karena kehilangan cinta pertamanya. Menjadi istri yang ia nikahi... ...tetapi tak pernah benar-benar ia cintai. Jovi dan Zane telah berpacaran sejak SMA. Mereka adalah pasangan yang selalu membuat semua orang iri. Sementara aku hanyalah sahabat yang diam-diam mencintai Zane dari balik bayang-bayang, menyaksikan kebahagiaan mereka tanpa pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Namun kisah cinta mereka tidak berakhir seperti dongeng. Tujuh tahun lalu, Jovi memilih menikah dengan pewaris keluarga konglomerat Blackwood. Hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu pria yang membuatnya meninggalkan Zane. Vance Blackwood. Aku berdiri di samping Jovi sebagai pendamping pengantin, menyaksikannya mengucapkan janji suci kepada pria yang menatapnya seolah ia hanyalah sebuah kontrak bisnis, bukan perempuan yang dicintai. Saat itu aku mengira Jovi adalah perempuan paling beruntung di dunia. Aku tidak tahu bahwa keberuntungan juga bisa berubah menjadi penjara yang menenggelamkan seseorang sedikit demi sedikit, setiap hari. Pagi tadi aku kembali bertemu Vance Blackwood. Ia baru dipindahkan dari kantor pusat luar negeri ke divisi tempatku bekerja. Atasan baruku. Kami berpapasan di lobi Astera Spire. Ia hanya mengangguk singkat. Hampir tak terlihat. Aku membalas anggukan itu. Formal. Dingin. Berjarak. Dua orang asing yang tanpa sadar dihubungkan oleh perempuan yang sama. Saat itu aku sama sekali tidak menyangka... bahwa sebelum malam berakhir, hidup kami akan berubah selamanya. Botol sampanye di tanganku masih terasa dingin. Aku sudah membelinya beberapa minggu lalu dan menyembunyikannya di sudut paling belakang kulkas. Berkali-kali kubayangkan ekspresi Zane saat kuberikan kejutan untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kelima. "Lima tahun, Zane... siapa sangka kita bisa sejauh ini." Begitulah yang ingin kukatakan. Namun ketika membuka pintu rumah, yang menyambutku justru suara ranjang kami yang berderit pelan. Berulang. Berirama. Suara yang begitu kukenal. Di sela-selanya terdengar erangan lirih seorang wanita. Suara yang juga sangat kukenal. Lalu suara Zane. Rendah. Terengah. Penuh pemujaan. Nada yang dulu sering kudengar saat ia bersama Jovi di dalam mobil mereka semasa SMA. Saat aku menunggu sendirian di luar. Aku ingin berteriak. Ingin melempar botol sampanye itu hingga pecah berkeping-keping. Namun aku tidak melakukan apa pun seperti yang sering kulihat di film. Aku hanya melangkah menuju pintu kamar. Lututku gemetar. Pintunya tidak tertutup rapat. Hanya terbuka sedikit. Namun celah sekecil itu sudah cukup untuk menghancurkan seluruh hidupku. Punggung telanjang Zane. Tahi lalat kecil di bahu kirinya bergerak mengikuti irama tubuh mereka. Kaki perempuan itu melingkar di pinggangnya. Jari-jari kaki dengan kuteks merah mencengkeram seprai yang kami pilih bersama. Rambut pirangnya terurai di atas bantal milikku. Lalu... mata perempuan itu terbuka. Tatapan kami bertemu. "Waduh... Nerissa!" Ia buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya. Zane langsung menoleh. Wajahnya yang semula memerah karena gairah seketika berubah pucat. Panik. Tatapan itu... persis seperti tujuh tahun lalu. Hari ketika Jovi mengatakan bahwa ia akan menikahi Vance Blackwood. Hari ketika aku memeluk Zane yang menangis hancur karena ditinggalkan perempuan yang paling ia cintai. Seharusnya saat itu aku berteriak. Aku ingin mencakar wajah mereka. Aku ingin mereka merasakan sepersekian dari rasa sakit yang sedang menghancurkanku. Namun aku tidak mampu. Aku bahkan tidak bisa menangis. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku hanya berbalik dan berjalan meninggalkan kamar itu. Suara mereka mengejarku dari belakang. "Nerissa, tunggu!" "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" "Tolong... biarkan aku menjelaskan!" Menjelaskan apa? Dua puluh tahun kebohongan? Di dapur, mataku menangkap botol sampanye lain yang sudah terbuka. Botol yang rupanya dibuka Zane pagi tadi... sebelum pesan dari Jovi datang. "Aku sedang dalam masalah." "Dia sahabat kita." "Kamu pasti mengerti." Ya. Kini aku benar-benar mengerti. Kubuka botol sampanye yang kubawa. Lalu kutuangkan seluruh perayaan ulang tahun pernikahan kami ke dalam wastafel. Kuberi kesempatan terakhir bagi lima tahun pernikahan kami untuk mengalir pergi bersama buih-buih itu. Botol kosong itu kulempar ke bak cuci. Menghantam stainless steel dengan suara nyaring. Namun tidak pecah. Sama seperti aku. Kunci mobilku masih tergantung di dekat pintu. Kuambil tanpa berkata apa pun. Lalu kututup pintu rumah dengan pelan. Bunyi klik itu terus bergema di dalam kepalaku. Aku mengemudi tanpa tujuan. Satu jam. Mungkin dua. Lampu-lampu jalan berubah menjadi garis-garis buram di balik air mataku. Namun ada satu hal yang terus teringat dengan sangat jelas. Beberapa jam sebelumnya... Vance Blackwood pernah bertanya apakah aku mengetahui keberadaan istrinya. Tatapan mata abu-abunya datar. Tak ada emosi. Ia hanya mencari jawaban. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan. Tanganku gemetar. Namun suaraku tetap tenang saat menghubungi kantor. "Lydia? Ini Nerissa Sullivan dari divisi R&D. Aku memegang data final proyek Harrington untuk rapat dewan Pak Blackwood. Berkasnya bersifat rahasia. Aku butuh nomor pribadi beliau agar bisa langsung kukirim." "Maaf, Bu Nerissa. Sesuai prosedur, semua dokumen harus dikirim melalui sistem perusahaan." "Kalau mengikuti prosedur, pengiriman akan terlambat. Pak Blackwood sendiri bilang beliau tidak punya waktu untuk itu. Apa Anda siap bertanggung jawab atas keterlambatan tersebut?" Aku tetap berbicara sopan. Tegas. Dengan nada seseorang yang memahami aturan perusahaan lebih baik daripada siapa pun. Beberapa detik kemudian... Lydia akhirnya menyerah. Nomor itu muncul di layar ponselku. Sebuah senjata. Karena jika hidupku harus hancur... aku tidak akan membiarkan diriku hancur sendirian. Jariku sempat menggantung di tombol Panggil. Namun mendengar suara Vance terasa terlalu nyata. Aku belum siap. Akhirnya aku membuka kolom pesan. Lalu mengetik perlahan. Pak Blackwood. Istri Anda sedang berada di rumah saya bersama suami saya. Saya pikir Anda berhak mengetahui hal ini. — Nerissa Sullivan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
753.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
986.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
363.6K
bc

Not just, the Beta

read
350.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook