Chap 89

1181 Words
Matahari kembali menampakkan dirinya dengan indah. Ia menyinari tiap tiap permukaan bumi yang patut ia sinari. Keindahan matahari itu tak membuat hari Niko Hartanto juga indah, pria yang memiliki segudang luka setelah ditinggalkan istri dan anak kembar nya itu selalu mengurung dirinya di kamar namun ia tak meninggalkan kewajiban nya untuk tetap bekerja. Seluruh kekuatan sudah ia lakukan untuk menemukan sang belahan jiwa namun ia masih gagal. Doa doa pun sudah ia rapalkan tiap hari nya. Dia yang dulu tak pernah meminta atau percaya dengan tuhan sekarang ia tak pernah meninggalkan kewajiban nya. “Pagi pak Niko” ucap salah satu sekretarisnya, Rini. Saat ia masuk ke dalam ruang kerja Niko. “Hm” “Pagi ini bapak ada meeting dengan pimpinan dewata group” “Iya saya tau” “Baiklah saya permisi pak, 30 menit lagi saya kembali” Setelah berpamitan Rini keluar dari ruangan Niko. Perasaan wanita itu campur aduk, dulu ia sangat mengagumi Pimpinan nya itu dan bahkan ada setitik perasaan suka yang menghindap di hati nya. Namun sekarang perasaan itu tlah berubah menjdi iba setelah ia tau betapa cinta nya pimpinan nya itu pada sang mantan istri nya. “Semangat bos” ucap Rini dalam hati. **** “Ma, Via kapan sekolah?” Tanya Via saat mereka sedang makan bersama di meja makan. “Via mau sekolah?” “Iya ma” Tasya berpikir sejenak anak gadisnya sudah besar dan beranjak umur 5 tahun, bukan kah di umur segitu ia sudah bisa sekolah di Playgroup. “Baiklah, besok kita daftar sekolah ya” “Yeay ...” teriak via dengan semangat “Hari ini kita mau ngapain ma?” “Via hari ini main sendiri dulu ya, mama mau beres beres lagi” jelas Tasya pada anak semata wayang nya. “Okey siap ma...” Setelah makan bersama Tasya dan anak nya sama sama membersihkan meja makan. “Good morning” teriak seseorang di depan pintu rumah mereka. “Ohh siapa itu ma?” Tanya via “Coba Via lihat” Via bergegas keluar rumah, dan saat sampai di depan pintu rumah ia melihat Rega yang sedang tersenyum menatap nya. “Oom Rega” “Hai Via... good morning” “Morning om” “Siapa vi?” Teriak Tasya dari dalam “Om Rega ma...” teriak Via pula “Ajak om Rega masuk vi” “Oke ma” “Ayok om masuk” ajak Via lalu ia menarik tangan Rega agar masuk ke dalam rumah. “Pagi Ga” sapa Tasya saat Rega dan Via sudah masuk ke dalam rumah. “Hai sya” “Sudah sarapan Ga?” “Belum si, kalau di tawarin nggak nolak juga” “Yudah duduk gih nanti aku ambilin nasi goreng kamu” “Siappp” Rega duduk di meja makan dan Via kembali ke ruang keluarga, ia tak ingin ketinggalan tontonan nya. Apalagi kalau bukan kucing berwarna biru yang bisa mengeluarkan apa saja dalam kantongnya. “Pagi pagi gini mau ngapain kesini Ga? Kamu nggak kerja “Kerja dong sya, jadi Aku nggak boleh kesini ya ?” “Bukan gitu maksud aku, tapi kan aneh aja dokter spesialis muda handal kebanggaan Indonesia pagi pagi sudah kerumah janda anak satu, kamu nggak malu di ejek orang orang” “Kenapa aku malu, kan aku dekat nya sama janda cantik dan anak nya juga cantik” “Kalau aku jelek kamu nggak mau kesini” “Bukan gitu Tasya, dih jangan jangan kamu hamil lagi ya? Sensi amat” “Yaelah emang aku sensi pas hamil aja apa!!” Gerutu Tasya “Kan dulunya gitu” “Hm” Tasya meletakkan nasi goreng ke piring milik Rega lalu duduk di depan nya. “Dimakan” ucap Tasya “Iya” Rega mengambil suapan pertama “Enak nggak ?” Tanya Tasya “Hm boleh aku sarapan disini tiap hari?” “Lah di baik in melunjak niii” “Pelit amat sya, itung itung kamu bayar karna sudah kabur tanpa kabar selama 5 tahun, kamu nggak tau apa gimana aku selama 5 tahun ini” “Tau lah, kamu semakin jaya dan terkenal bahkan sudah di cap dokter spesialis kebanggaan indonesia” “Itu diluar nya aja sya, kamu nggak lohat betapa rapuh nya aku” “Lebai ya .. kalau kamu aku rekam mungkin cap dokter dingin akan hilang” Ya Rega adalah dokter yang sikap nya sangat dingin di rumah sakit, perawat dan dokter dokter muda sangat takut jika berhadapan dengan nya. Namun sikap nya itu seakan hilang jika bersama Tasya. “Aku nggak dingin sya, aku berdarah panas loh” “Ular dong berarti” “Ahh aneh aneh aja kamu” gerutu Rega *** Niko yang sudah siap keluar dari rungan nya, dan saat ia hendak keluar sudah ada Rini asisten nya yang hendak membuka pintu ruangan nya. Wanita itu hampir jatuh jika tak cepat di tangkap oleh Niko. Mata mereka saling tatap, detak jantung Rini sudah tak kembali normal jika ia berada di dekat pimpinan nya ini. Niko melepaskan tangan nya dari pinggang Rini setelah ia memastikan bahwa asisten nya sudah bisa berdiri. “Ma makasih bos” ucap Rini gugup, ia tak berani menatap Niko. Niko yang tak mempersalahkan itu segera meninggalkan tempat dan berjalan menjauh dari tempat ia tadi berdiri. Di perjalanan suasana sepi kembali terasa, jiwa nya yang hampa pun terus bergejolak. Air mata nya bahkan sudah sangat sulit untuk keluar. Sesampainya ia di tempat meeting. Ia di kejutkan karena kedatangan Bella, wanita yang dulu hampir menjadi istrinya. Namun gagal karena Niko memilih menikahi Tasya,Gadis yang ia jumpa di Club. Mereka memulai meeting seperti biasa, asisten nya memaparkan materi dan ia menambahkan sedikit poin poin penting lalu dilanjutkan dengan sesi negosiasi dengan klient. Meeting itu berjalan kurabg lebih 1 jam. Setelah meeting selesai Niko hendak meninggalkan ruangan namun di tahan oleh Bella. “Niko” “Iya bel?” “Syukur deh lo masih ingat gue” Niko tak membalas ia hanya menatap wajah bellah yang sedang terheran heran melihat nya. “Lo sakit?” “Nggak” “Wajah lo pucat” “Gue baik” “Ngobrol bentar yuk” “Gue sibuk” “Bentar doang” “Hm” Niko di tarik bella ke ruang makan yang ada di lantai bawah. “Gimana kabar lo?” Tanya bella membuka suara “Seperti yang lo lihat” “Lagi rapuh lo” “Hm” “Lo nggak mau tanya kabar gue?” “Lo gimana?” “Anak gue ninggal yang kemarin” “Hm?” Ucapan Bella mampu menaikan atensi Niko untuk bertanya. “Iya, padahal gue sudah sayang banget sama dia sudah nerima dia, tapi tuhan seperti nya lebih sayang dia deh. Makanya diambil dari gue” “Sakit?” “Nggak, setelah gue lahirin tak lama setelah itu ia meninggal karena kelainan jantung yang dia punya, kesalahan gue juga si waktu gue hamil dia banyak banget kan obat yang gue makan. Dan itu ngaruh ke janin gue” “Gue turut berduka” “Kalau lo?” >>>>> To be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD