Selamat membaca dan welcome to the Halu WORLD made by Author Pearl :)
.......................................
Di kamar ruang inap Tasya
"pisah? siapa bilang?" tantang Niko
"kamu , surat pernjanjian itu"
"surat perjanjian? aku nggak pernah buat"
"Tuan Niko ... tolong jangan bermain main dengan ini"
"aku tak pernah main main"
"jadi yang kemarin apa? terus kamu mau nya apa sih? menjadi kan aku sebagai istri pajangan terus kamu bisa puas bermain dengan wnaita lain di luar sana !"
"aku tak akan menceraikan kamu" ucap nya dengan tegas
"kenapa ? ada angin badai apa lagi sampai sampai kamu tak jadi menceraikan aku ? ahh karena kamu sudah tak suka dengan wanita itu atau kamu malah suka dengan ku ?"
"pede sekali kamu"
"terus apa alasan nya? ahh kamu nggak mau kasih aku alasan lagi kan sama seperti saat kita akan menikah" ucap Tasya yang sengaja memancing emosi Niko
"TASYA" geram Niko sambil memperat genggaman nya di bahu Tasya
"kenapa ? kenapa ? apa aku terlalu mudah bagimu sampai seenak mu menyakiti aku !!" ucap wanita itu tanpa takut ia menantang Niko dengan mata nya yang menyalang bagai api yang sudah mengepul dan siap untuk membakar benda yang ada di hadapan nya
Niko yang menyadari bahwa ia sudah terlalu kelewatan segera melepaskan genggaman nya di bahu Tasya lalu segera pergi keluar.
"aku keluar, nanti kita bicara lagi saat kamu sudah tak emosi" ucap nya sebelum menutup pintu
"siapa yang emosi !! yang emosi kamu !! dasar pria nggak tau diri !! nyakiti wanita saja bisa nya !! si4la4n" umpat nya sambil melempar lempar kan bantal nya ke arah pintu dan tiba tiba saja pintu nya kembali terbuka dan bantal yang di lempar Tasya malah mengena tepat ke waja pria yang baru saja masuk.
"oww maaf" ucap Tasya tulus
"kenapa ini ... kenapa bantal di lempar lempar?' tanya nya sambil memungut bantal bantal yang sudah berserak di lantai kamar
"Kamu kenapa kemari ??" ucap Tasya ketus karena hati nya masih dalam mode marah
"kamu lupa oh iya kamu kan nggak tau , kenali aku dokter di sini" ucap pria itu sambil menjulurkan tangan nya di depan Tasya
"dokter? seja kapan? bukan ny- pikir Tasya sejenak sebellum ia melanjutkan omongan nya
"bukan nya apa?" tanya Varo , pria yang dulu semasa SMA menjadi alasan bagi Tasya untuk semangat belajar dan sekolah serta pria yang juga mengenalkan bagaimana sakit nya cinta pertama dan di tolak.
"nggak nggak jadi" cepat cepat Tasya menggeleng ia tak ingin pria di depan nya menganggap nya masih mencintainya.
"maksud kamu kenapa aku tak jadi pilot bukan? dan malah menjadi dokter"
Tasya mengangguk malu malu
"wah hebat ya kamu masih ingat cita cita ku"
Tasya yang baru sadar di pancing pun langsung malu seketika, padahal awal nya ingin tak terlalu kentara eh malah jadi bego.
Varo mengelus elus kepala Tasya yag membuat wanita itu mengandah kepala nya ke arah Varo.
"maaf" ucap pria itu dan langsung menarik tanganya dari kepala Tasya
Tasya hanya mengangguk angguk
Varo menarik kursi yang berada di sebelah Tasya lalu duduk disana.
"mau dengar ceritaku?" tanya pria itu
"bukan kah kamu sibuk?"
"nggak tenang saja jam sekarang aku sedang kosong jadi aku bisa temani kamu disini"
"tapi aku tak minta untuk ditemani"
"aku hanya menawarkan kalau kamu ngga-
"iya kamu bisa cerita sekarang" Tasya segera memotong omongan Varo
"jadi dulu aku kan mau jadi pilot tu sama seperti papa tapi mama nggak ngizinin"
"kenapa?"
"mama nggak ma kehilangan aku"
"ha?"
"papa ku kecelakaan saat mengudarain pesawat nya, kamu nggak tau berita nya ya?"
"iya kah? maaf aku nggak tau" ucap Tasya tulus dan merasa sedih dengan cerita Varo
"pantes, waktu itu aku dan mama benar benar di masa sulit kami .. semua orang menyalah kan ku dan mama dan akhirnya aku tau gimana rasanya di kucilkan di sekolahan . maaf ya" ucap nya tulus
"aku pikir seburuk apapun masalah mu kamu tak akan pernah di kucilkan"
"buktinya waktu itu aku benar benar tak punya teman"
"apa karena kecelakaan itu kamu mau jadi dokter?" tanya Tasya yang sudah masuk ke dalam cerita Varo.
"Nggak.. malahan saat itu aku hanya mau hidup ku bahagia dan tenang saja karena terllau banyak orang yang menggunjigkan kami"
"lalu kenapa kamu bisa jadi dokter?"
"karena mama..."
"wah hebat.. kamu punya lasan untuk hidup"
"Hm?" Varo mengerutkan dahi nya
"kamu kuliah disini?"
"nggak aku kuliah di luar, setelah lulus baru aku kembali"
"selamat ya.. kamu sudah jadi dokter yang hebat" ucap Tasya yang bangga akan prestasi Varo
"aku nggak hebat Tasya" Varo bersyukur Tasya sudah mau bicara dengan nya tanpa marah dan kesal
"aku kan sudah selesai cerita aku mau dengar cerita dari kamu" tambah nya
"cerita aku? hm aku nggak punya cerita"
"kamu sedang hidup Tasya nggak mungkin selama kamu hidup ini kamu tak punya cerita"
"hidup aku terlalu hambar jadi aku bingung mau cerita apa"
"oke kalau gitu aku yang tanya sama kamu"
"apa?" tanya Tasya
"kenapa waktu kelas 12 kamu sudah jarang masuk bahkan waktu ujian pun kamu ambil jam terakhir"
"waktu itu aku sudah mau siap kabur dari panti , jadi tiap hari nya aku harus cari uang untuk menghidupi diri aku saat sudah keluar dari panti"
"bukan nya kamu anak kesayangan orang panti?"
"kamu tau dari mana?"
"hmm banyak yang bilang" jawab Varo sambil menggaru garukan kepala nya
"gila ya sampai kehidupan panti pun terkenal di SMA itu"
"kamu kan tau anak anak gimana"
"tapi mereka keterlaluan"
"maaf ya" ucap Varo penuh penyesalan
"ahh sudah lah itu sudah berlalu, oh iya gimana kabar kawan kawan yang lain"
"mereka? hm aku nggak tau karena kamu kan dengar cerita aku yang awal tadi gimana"
"oh iya aku lupa hehe maaf ya"
"nggak papa, oh iya kamu suda makan?"
"belum" ucap Tasya yang kembali menggaruk garukan kepala nya yang tidak gatal
"serius ? what!! gilak kamu tunggu disini aku akan ambil nasi untuk mu" ucap Pria itu lalu segera pergi dari hadapan Tasya
"ehh Varo nggak perlu .... " Teriak Tasya namun pria itu sudah pergi dari ruangannya seperti kecepatan cahaya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Bersambung
Alhamdulillah bisa Update dua chapter lagi semoga pada suka dengan cerita nya dan maaf masih banyak typo di sana sini karena Autho masih pemula .
dan yang Typo akan segera di perbaiki ...