Chap 52

1151 Words
Lagi lagi rumah sakit, baru beberapa menit yang lalu Niko kesana sekarang ia harus berada lagi di tempat bau obat itu. Ia dan Tasya sedang menunggu Bik Mirna di periksa di ruang tunggu VVIP sebab Niko adalah salah satu pemegang saham yang sangat di hormati dan disegani di rumah sakit ini sebab perusahaan nya menanam saham tak main main karena itu ia selalu di utamakan jika masuk ke rumah sakit ini.  "Bik Mirna kenapa?" tanya Niko memecah suasana yang terlalu hampa menurutnya "aku nggak tau mas" jawab Tasya yang mata nya tak lepas dari ruang tempat Bik Mirna di periksa "tenang saja Bik Mirna pasti tak kenapa kenapa" "ini salah ku mas,berapa hari ini aku nggak bantu bik mirna aku selalu keluar dan melimpahkan semua pekerjaan ke Bik Mirna" Niko yang tadi nya duduk bersebrangan dengan Tasya sekarang ia berpidah ke sebelah Tasya, ia menarik Tasya kepelukan nya dan tak lupa menepuk nepuk bahu wanita itu agar tak sedih. "besok kita pekerjakan pengasuh satu lagi untuk mu" ucap Niko  "t-tapi mas" "kenapa? kau bilang kasihan dengan Bik Mirna?"  "iya kalau kamu memperkerjakan satu lagi bukan nya kamu harus memba- ahh iya aku lupa" ujar Tasya lalu menggaruk garuk leher nya yang tak gatal sebab ia lupa jika pria yang ada di hadpan nya ini adalah miliyader. yang tentu saja memperkerjakan 1 orang tak akan buat ia bangkrut. "kau pikir aku akan bangkrut gitu" ucap Niko yang bisa menebak isi pikiran istrinya. "maaf..." Tasya menunduk karena merasa bersalah  "aku maafkan asalkan kau memberiku jatah malam ini" ucap Niko penuh kemenangan dan tak lupa senyum smirk nya. "maaf aku nggak bisa mas" "kenapa? aku masih suami mu Tasya ! nggak baik menolak suami mu!! kau mau masuk neraka?" "bukan gitu- "lalu apa Tasya?" ucap Niko yang seenak nya memotong pembicaraan padahal Tasya belum selesai bicara "aku sedang Dapet mas" Niko tiba tiba hancur mood nya sudah... yang ia inginkan takk ia dapati. "Dapet? jadi yang kemarin gagal?"Nujar Niko pelan namun dapat di dengar oleh Tasya Karena jarak duduk mereka yang sangat dekat. "maksud kamu mas? kamu mau aku hamil?" tanya Tasya yang tak percaya dengan ucapan Niko  "emang kamu nggak mau ngandung anak aku?" tanya Niko balik "untuk apa mas? kita sebentar lagi akan bercerai jadi untuk apa aku hamil anak kamu, aku tidak ingin ada ikatan di antara kita mas" tekan Tasya Ya mereka kembali berantem tentang perceraian lagi , namun kali ini Niko yang bersabar. "baiklah baiklah" ucap Niko  "aku mohon kita harus berhati hati lagi , aku tak akan menolak untuk berhubungan dengan kamu tapi tolong kita harus pakai pengaman" ujar Tasya  Niko kali ini tak terima ia tak suka memakai pengaman apalagi jika bersama Tasya. "TIDAK, kali ini aku tak setuju Tasya" tolak Niko mentah mentah "baiklah jika kamu nggak mau pakai biar aku saja yang pakai" ucap Tasya lalu segera pergi dari hadapan Niko , namun dengan secepat kilat Niko menahan tangan Tasya dan menarik nya kembali alhasil Tasya jatuh tepat di pangkuan nya. "mau kemana? mau kabur? kamu suka banget kalau lagi berantem kabur kaburan! nggak bisa kita bicarakan baik baik tanpa harus kabur kaburan seperti tadi"ucap Niko tegas sambil menatap mata Tasya. "kamu kalau nggak gitu nggak peka mas" "sekarang aku tanya sama kamu, kamu istri aku atau bukan?" "istri kamu mas, sekarang" ucap Tasya dengan penekanan di bagian akhir kalimat  nya "berapa bulan lagi kita akan pisah?"  "7 bulan mas" "7 bulan?" "iya" "selama 7 bulan itu aku nggak mau kamu membatah omongan aku , karena kamu istri aku! setelah kita bercerai kamu terserah mau ngapain aku nggak akan mengganggu kamu!! tapi sekarang bedea Tasya!"  "iya mas, tapi ku mohon aku nggak ingin punya anak" "aku nggak bisa jamin" "mass...." rengek Tasya  Niko menurunkan Tasya dari pangkuan nya. "cukup percakapan kita sampai sini , aku nggak mau lagi berdebat" "kamu egois" Tasya membuang muka nya dari Niko , sebab jika ia pergi ia akan di cap ngambekan dan nggak bisa menyelesaikan masalah. "sudah jangan ngambek ayo lihat bik Mirna" ajak Niko  "hm" tasya berdehem lalu berjalan di belakang Niko. "gandeng aku" perintah Niko dengan wajah dingin nya.  Tasya diam saja ia enggan bergandengan dengan suami nya ditambah habis berantem lagi. "TASYA" panggil Niko sekali lagi  Tasya tetap si keras kepala ia menggubris panggilan Niko. "sekali lagi aku panggil kamu tetap nggak mau, jangan salah kan aku kita bermain habis ini. aku tidak peduli kamu sedang dapet atau tidak..." ancam Niko yang membuat bulu kuduk Tasya merinding. ia cepat cepat menggandengan Niko. dan mereka pun berjalan beriringan ke kamar inap Bik mirna. sebab kata perawat Bik Mirna sudh di pindahkan ke ruang rawat. Sesampai nya di ruang rawat, ternyata di sana sedang ada dokter yang masih memeriksa lanjutan Bik Mirna . saat dokter itu membalikkan tubuh nya .  "Dokter Rega" panggil Tasya yang tak sengaja melepaskan genggaman nya dari Niko, namun pria itu menarik kembali Tasya dan merangkulnya dengan posesif. "hai Tasya.. masih aja manggil dokter Rega ... kan kita teman kamu bisa panggil aku Rega" ujar dokter Rega yang tak memperdulikkan mahkluk di sebelah Tasya.  "ini rumah sakit bukan tempat untuk menggoda istri orang" sindir Niko yang tak terima  "maaf tuan Niko , saya dan Tasya adalah teman jadi saya bukan menddoda istri tuan, benarkan Tasya?"  Tasya ingin menjawab iya namun Niko memperkuat eratan nya di bahu Tasya lahsail membuat wanita itu hanya diam tak bergeming. ia takut jika bahunya remuk jika jawab iya.  Rega mengerti ia segera memohon pamit , jika tidak mungkin bahu wanita yang ia sukai akan retak sebentar lagi walaupun ia bisa memperbaiki nya namun ia tak ingin membuat Tasya terluka. "mas lepas sakitt..." rengek Tasya setelah Dokter Rega dan perawat pergi  "kamu ngak lihat ada aku disini !! bisa bisa nya godai pria lain di depan suami nya sendiri" ucap Niko yang seperti nya enggan melepas tangan nya dari bahu Tasya "mas kamu lupa ya.. kamu sama nona Alexi aja aku nggak cemburu bahkan kalian sampai tidur bareng setelah kita menikah lagi" ujar Tasya yang bosan di anggap negatif di depan Niko padahal ia sendiri lebih buruk dari Tasya. "aku sama Al beda!" "beda apa mas? haa karena kamu lebih berkuasa jadi kita beda?" tanya Tasya yang seperti nya sedang menantang maut. "atau karena kalian akan menikah jadi kalian sesuka nya tidur di belakang aku , padahal kita masih suami istri mas"tambah Tasya. "kamu cemburu?" "kamu bilang jika kita masih suami istri kita bisa melakukan semua hal yang di lakukan suami istri , karena itu aku juga ingin .. aku tak ingin suami ku di jamah perempuan lain selagi aku masih istri nya" ujar Tasya "aku nggak bisa jika itu" "kenapa mas? karena bayi ? atau karena kamu masih cinta dengan wanita itu? jika iya kamu harus merelakan aku jika aku pacaran dengan pria lain di belakang mu.. kamu saja bisa kenapa aku nggak?"  >>>>>>>>>>>>>>>>>>>> To be continue semoga suka dan maaf jika tak sesuai ekspekatsi kalian  salam authir Pearl
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD