"ada apa dengan bunga nya Ga?" Tanya Tasya yang masih penasaran sebab bunga yang di lempar oleh Rega tadi masih tergeletak di lantai ruang inap nya.
"jangan terima hadiah dari siapapun Tasya" peringat Rega yang seperti nya enggan menjelaskan sebab ia melarang Tasya.
"emang kenapa? kamu harus kasih aku kejelasan juga supaya aku ngerti"
"kamu sudah besar kan jadi tak perlu aku jelasin"
"ya sudah aku nggak mau ikut kata kata kamu barusan, aku akan terima semua hadiah tak terkecuali pun"
"terima saja, jika kamu kenapa kenapa jangan salahkan aku" ancam Rega yang membuat Tasya merasa seperti di khianati. maklum Bumil
"kok kamu gitu sih" dan ya ia menahan air mata nya
"kamu kan nggak mau dengarin aku"
"iya aku salah!" ucap tasya lalu menutupi dirinya dengan selimut
Rega tau betul sikap tasya, ia yakin bahwa wanita hamil di depan nya ini sedang ngambek.
"sya..." panggil Rega pelan
Tasya tak menjawab.
"jangan tutup gini nanti pengap" Rega menarik selimut dari wajah Tasya perlahan namun di tarik kembali oleh Tasya.
"kamu pergi saja sana, aku mau sendiri"
"jangan marah dong, kek anak kecil tau padahal kan mau jadi ibu bentar lagi" ucap Rega yang tak berperasaan tak tau kah ia bahwa wanita di depan nya ini sedang sensitif.
Tasya membuka selimut yang tadi nya menutupi full tubuh nya lalu duduk dan melipat tangan nya didepan d**a sambil menatap lurus ke arah Rega.
"iya aku tau aku masih anak anak dan nggak bisa bedain suasana !! aku emang nggak cocok jadi ibu !! iya !!" ucap Tasya penuh penekanan dan air mata yang mulai mencucur deras di pipi nya.
Rega kelabakan melihat Tasya yang mulai menangis, ia menyesali dirinya yang asal bicara dengan ibu hamil ini.
"maaf sya .. maaf bukan gitu maksud aku"
"iya.. hikks... iya aku tau.. hikss" ucap nya yang di selingi dengan tangis nya yang sudah tak tertahan
"jangan nangis dong aku minta maaf ya.. sya.. aku salah maafin aku ya"
Rega terus meminta maaf dengan Tasya namun sepertinya Tasya tak ada tanda tanda ingin berhenti menenangis. dirinya begitu sensitif.
"Sya jangan nangis terus nanti anak kamu sedih juga loo" tidak ada cara lain untuk buat Tasya berhenti menangis selain menggunakan jurus anak nya sendiri dan betul saja Tasya langsung menyeka air mata nya dan ingus nya sendiri.
"maaf ya nak, bunda buat kamu sedih.. bunda janji nanti nggak lagi" ucap nya sambil mengelus elus perut buncit nya.
"sudah jangan nangis lagi ya, kamu sudah makan?' tanya Rega sambil mengelus elus rambut Tasya penuh kasih.
"aku sudah kenyang"
"kapan kamu makan sya?"
"tadi sebelum kamu kesini"
Handphone Rega berdering dan pria itu langsung mengangkat nya di depan Tasya tanpa ragu.
"baik aku kesana" ucap nya lalu mematikan panggilan telpon nya.
"maaf sya ada pasien yang butuh aku , kamu nggak papa kan aku tinggal?"
"iya nggak papa , pasien kamu lebih butuh kamu kan sekarang.. udah sana pergi "
"maaf ya, nanti kalau sudah aku kesini lagi nemani kamu"
"iya"
"oh iya jangan pegang bunga itu sampai perawat datang" peringat Rega
"iya iya"
Rega segera pergi setelah mendegar ucapan dari tasya, dengan terburu buru .
sekarang tinggal lah Tasya seorang diri di kamarnya.
ia menatap bunga mawar merah yang tergeletak di lantai kamar nya. masih ada rasa penasaran kenapa Rega meminta nya untuk tak mendekati bunga itu.
"padahal kamu cantik tapi kenapa Rega tak boleh aku mendekati mu, aneh ya.." ucapnya sambil menatap nanar bunga mawar yang tergeletak di lantai kamar nya.
dan beberapa menit kemudian perawat datang.
"mau ngambil bunga itu ya mba?" tanya Tasya pada perawat yang datang
"iya nona"
"boleh aku tanya?"
"apa nona"
"ada apa dengan bunga mawar itu kenapa saya tidak boleh memegang nya?"
"maaf saya tidak tau nona, tapi ini perintah dari dokter Rega."
"ohh ya sudah terimakasih"
"sama sama nona"
Perawat itu pergi.
**
"SIAPA YANG MEMBAYAR MU HA !!" Bentak Niko kepada pria yang kini sudah babak belur setelah di pukuli oleh pengawal nya.
"maaf tuan.."
"aku tidak butuh maaf mu !! beri tau aku siapa yang membayar mu !!" bentak nya kembali
"no .. no ... nonaa A a ale alexi" ucap pria itu dengan susah payah karena wajah nya yang sudah kesakitan dan sulit untuk bicara.
"Bajingann .. kurang ajar .. apa mau wnaita sialann itu !! berano berani nya dia menyentuh Tasya dengan tangan kotor nya !!" Niko penuh amarah membanting seluruh barang yang ada di dekat nya. dan pengawal yang berada di samping nya hanya melihat nya.
"tangkap dan bawa wanita itu kemari !!" perintah Niko telak.. dan segera dilaksanakan oleh para pengawal nya.
"bagaimana dengan dia tuan?" tanya salah satu pengawal nya
"biarkan saja" ucap Niko lalu setelah itu meninggalkan ruangan dan memasuki mobil nya.
***
"maaf tuan sperti nya orang yang mmebuat nona Tasya terluka sudah di tangkap oleh pihak lain"
"APA !! siapa dia? kenapa kalian bisa telat?"
"maaf tuan kami kalah cepat"
"baiklah tapi aku mau kali ini kalian lebih cepat dan cari tau siapa yang memerintah pria itu untuk menyakiti Tasya. kali ini aku tidak mau kalah lagi!" perinta Rega sambil membenarkan Jas Dokternya.
"Baik tuan" ucap pria berjas kulit hitam itu lalu segera meninggalkan ruangan
"maaf Sya tapi kali ini aku tak mau kalah ,dan aku akan membuat mu menjadi milik ku seutuh nya" ucap Rega sambil menyisap kopi di tangan nya.
***
Niko kembali kekantor nya dengan pakaian na yang sudah berantakan , yang membuat nya menjadi bahan gunjingan dari karyawan nya.
"lihat pak Niko sekarang ia seperti sudah tak terurus nya semenjak cerai dengan nyonya tasya"
"iya kasihan ya"
"padahala ku bisa loh jadi pengganti nyonya Tasya"
"husttt kamu kalau ngomong nggak mikir dulu napa ya.."
"ya kan sekali kali haluin atasan nggak papa juga kali , kalau kejadian aku juga nggak nolak.. heheeh"
Niko mendengar semua nya, ia bersikap acuh dan terus memantapkan langkah nya menuju lift yang dirancang khusus untuk dirinya.
sesampainya di lantai teratas yaitu ruangan nya, ia melihat papa nya yang sedang berbincang dengan Yoga.
"papa.." panggil Niko
Pak Hartanto dan Yoga menatap kea rah nya.
"baru datang?" ucap pak hartanto dingin
"nggak pa tadi ada urusan makanya Niko keluar" elak Niko sambil menyalami papanya. benar ia adalah CEO yang ditakuti oleh karyawan nya namun di depan orang tuan nya ia hanyalah anak kecil mereka yang diajarkan sopan santun sedari kecil.
"ada apa papa ke kantor ,tumben nggak telpon Niko dulu"
"papa mencari mu, dan yang ketemu malah Yoga" ucap Pak Hartanto sambil melirik ke arah Yoga, yang membuat yoga salah tingkah
"maaf pa, papa masuk aja dulu kita bicara di dalam"
"mama mu sudah nelpon ia sudah ngomel sejak 1 jam yang lalu mencari papa, nanti saja kita lanjutin di rumah lagian tadi papa kesini hanya melihat lihat saja"
"ya sudah sampai jumpa dirmah pa" ucap Niko tak lupa ia menyalami kembali papa nya.
"hm." pak Hartantoo masuk ke dalam Lift bersama bodyguard nya.
"kemana saja si bos dari tadi aku telpon nggak diangkat, sudah panas dingin gue dari tadi kalau lo nggak datang mungkin serangan jatung mendadak gue.." cerocos Yoga
"yaelah lo kan sudah kenal papa dari dulu kenapa masih gugup aja si"
"aura bokap lo tu beda tau .. takut gue"
"yaelah sama nyokap gue aja lo nggak takut, padahal bokap gue takut banget sama nyokap "
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
To be Continue