Chap 71

1032 Words
Tasya dan pak Hartanto sarapan bersama. “Tasya gimana caffe kamu nak?” Tanya pak hartanto “Baik pa, untung nya bulan bulan ini banyak sekali yang mengajak Tasya bekerjasama bareng. “Terus kamu mau?” “Tasya pilah pilah dulu pa, jika menurut Tasya baik untuk caffee Tasya terima jika tidak ya maaf Tasya tolak” “Bagus, papa bangga dengan mu nak” “Terimakasih pa” Sarapan pagi yang penuh dengan cinta dan canda tawa antara cucu dan anak ini berlangsung harmoniis Tasya tak henti henti nya tertawa seaat pak Hartanto menimpali nya dengan lelucon khas pak Hartanto yang menurut Tasya selera humor mereka sama. “Papa pamit ya nak, kalau ada waktu papa boleh mampir lagi bukan?” “Tentu dong pa Tasya dengan senang hati menerima pap” “Syukurlah papa pikir kamu akan mengusir papa karena nggak lucu” “Siapa bilang papa nggak lucu, perut aku aja sudah sampai kram gini” “Syukurlah yaudah papa pamit” ucap Pak Hartanto Tasya mengangguk tak lupa ia berjabat tangan dengan Tasya yang menunduk tanda hormat ia sebagai mantan menantu dan lebih muda dari nya. Pak Hartanto pergi kemudian dengan di sambil kan oleh lambaian tamgam Tasya yang sangat antusias. Setelah mengantar pak Hartanto Tasya kembali masuk ke dalam rumah. Dan bersiap siap untuk ke Caffee. Setelah siap ia pun langsung keluar dari kamar nya dan membalas semyuman bik Mirna. “Tasya pergi bik” “Iya hati hati nya” Tasya masik ke dalam mobil nya lalu pak Roni menjalankannya. Diperjalanan “Nyonya” panggil pak Roni tiba tiba “Iya pak” “Sepeeti nya kita diikuti orang nya” “Siapa?!” Tasya menolej kebelakang dan benar saja ada mobil sedan hitam mengikutitiya. “Nya pegangan bapak mau ngebut” “Baik pak” Tasya mengencangkan seat belt dan melindungi perutnya bantal kecil Pak Roni menaikkan kecepatan mobil nya dan berbelok kemudian namun naas nya mobil dari arah samping nya tapi bisa pak roni elak, ia kembali membating setir nya dan menabrakkan mobil nya ke pohon sekitar. Kecelakaan tersebut membuat Tasya dan pak roni di larikan ke rumah sakit. *** Rega yang sedang rapat bersama para dokter lain nya dikejutkan oleh panggilan telpon nya yang terus berdering awalnya ia enggan menjawab tapi pada dering ke sekian ia mengangkat. Tak butuh waktu lama ia segera meninggalkan rapat. “Maaf saya harus pergi, permisi” ucap nya lalu segera keluar menuju mobil nya. Ia mengendarai mobil nya dengan kecepat tinggi. Sesampainya ia di rumah sakit dimana Tasya di rawat ia buru buru mencari keberadaan Tasya. “Pasien atas nama Tasya mana?” Tanya nya pada perawat yang lalu lalang “Disana pak” tunjuk perawat itu kepada sebuhab tempat yang tertutup oleh hordeng. Rega membuka hordeng tersebut dan nampak lah Tasya yang sedang di infus dan menatap balik ke arah nya. “Rega?” Ucap wanita itu “Sya ... kamu nggak papa? Sini aku periksa” Rega segera memeriksa tubuh Tasya “Aku sudah di periksa tadi” “Sekarang beda, “ “Apa nya?” “Aku yang periksa mungkin saja mereka melewatkan luka” “Regaa..” “Sstt” “Iya iya” “Gimana kandungan kamu aman?” “Untungnya anak ku tidak kenapa kenapa, tapi- “Tapi apa?” “Pak Roni ga.. pak roni luka parah.. sekarang sedang di operasi” “Kita doakan saja semoga pak Roni tak kenapa kenapa” Rega duduk di samping nya “Kamu sudah makan?” “Hm” “Aku serius Tasya” “Sudah dokter Rega” “Syukurlah, jika belum aku akan memaksa mu untuk makan” “Idih maksa” “Kan demi kebaikan anak mu juga” “Iya iya terimakasih dokter Rega, sudah memperhatikan anak ku” “Sama sama, tapi nanti jika dia lahir dia akan ku anggap jadi anak ku juga kok, boleh kan?” “Hmm tentu” “Jadi ayah sambung nya juga boleh kan?” Goda Rega yang membuat pipi Tasya bersemu dan mereka tertawa bersama Tak tau kah mereka dari arah jauh ada seorang pria yang memperhatikan mereka berdua dengan mengepalkan tangan nya kuat. “Aku benci lihat kamu tertawa dengan pria lain, seharusnya aku sya.. tapi aku bodoh melepaskan mu begitu” ucap nya lalu meninggalkan tempat. Ia berjalan ke arah luar dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Tak lama ia masuk ada seseorang yang mengetuk kaca mobil nya. “Sudah ketemu?” “Maaf tuan lagi kami usahakan” “Aku nggak mau dengar !! Yang pokok nya yang pertama mendapatkan bajinngan itu aku!! Aku nggak mau kalah intuk yang ke dua kali nya!!” Perintah Niko “Baik Tuan, tapi kami dapat informasi bahwa yang memerintah orang tersebut nona Alexi” Wajah Niko berubah merah padam ia emosi ketika nama wanita itu terucap kembali dan sekarang bahkan ingin mencelakain Tasya. Apa wanita itu belum puas menyakiti Niko. “Dimana perempuan banjingann itu!!” “Ia menghilang juga tuan, sedang kami cari” “Aku tunggu 1 x 24 jam jika tak ketemu nyawa kalian taruhan nya” ucap Niko lalu ia menutup kaca jendela nya dan melajukan mobilnya kembali. ** “Permisi” ucap perawat wanita saat masuk kedala ruang inap Tasya. Sebab beberapa menit yang lalu ia sudah dipindahkan kemarinatas perintah Rega tentu nya. “Iya ada apa mba?” Jawab Tasya “Ini ada bunga katanya untuk nona” perawat itu memberi Tasya sebuah bunga mawar merah yang di bungkus menjadi sebuah bucket yang cantik “Terimakasih” Tasya menerima nya lalu perawat itu undur diri. Saat Tasya melihat bunga itu tak ada yang aneh menurutnya, namun saat ia mendekatkan wajah ny ingin mencium aroma bung tersebut Rega yang datan dari arah kamar mandi segera menghempas bunga tersebut dari tangan Tasya ke lantai. Tasya kaget dengan kelakuan Rega yang tiba tiba. “Ada apa ?” “Siapa yang kasih kamu bunga itu?” “Perawat tadi..” Rega mengambil telpon nya dan menelpon seseorang. “Cari perawat yang mengantar bunga ker ruangan tasya barusan” ucapnya memerintah lalu mematikan telpon nya. “Kenapa Ga? Ada yang salah dengan bunga itu?” >>>>>>>> To be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD