Malam di rumah kecil itu kini berbeda. Udara tidak lagi penuh ketegangan atau kecemasan seperti dulu, melainkan dipenuhi rasa hangat yang tumbuh dari luka-luka lama yang berhasil mereka lewati bersama. Celine duduk di teras dengan segelas teh hangat di tangannya, menatap langit yang dihiasi taburan bintang. Edward baru saja pulang dari perjalanan panjangnya di Singapura. Walau lelah, ia tetap menyempatkan diri untuk duduk di samping istrinya. “Masih suka liatin bintang?” tanya Edward, suaranya serak karena jetlag. Celine tersenyum samar. “Dulu aku lihat bintang buat ngusir sepi. Sekarang… aku lihat buat ngucapin terima kasih.” Edward menoleh, sedikit bingung. “Terima kasih?” “Ya. Karena kamu beneran pulang. Karena kamu nggak bohong lagi. Karena aku masih bisa duduk di sini sama kamu.”

