Udara malam terasa lebih lembut ketika Edward menutup pintu rumah dan memastikan gembok terpasang dengan baik. Di ruang tamu, Celine masih duduk di sofa dengan selimut tipis menutupi bahunya. Lampu bohlam redup membuat wajahnya tampak tenang, tapi matanya masih menyimpan sisa air mata dari pelukan tadi. Edward berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Sesaat, hanya suara jam dinding yang terdengar. “Cel,” ucap Edward pelan, seolah takut memecahkan ketenangan itu. “Aku tahu aku sering gagal menepati kata-kata. Tapi kali ini, aku mau kita benar-benar mulai dari awal. Aku nggak mau lagi lihat kamu takut sendirian.” Celine menoleh, matanya mencari kejujuran di wajah suaminya. Ada garis lelah di sekitar mata Edward, tapi juga ada sesuatu yang dulu jarang ia lihat—ketulusan yang dalam. “Ak

