“Daddy!” Tere memanggil ayahnya yang berjalan menuju tempat anggota keluarganya berkumpul. Tere paling pertama menyadari keberadaan Jonathan karena posisi duduknya yang menyamping di pangkuan Cindy.
Tubuh Cindy menegang mendengar anak di pangkuannya sedang memanggil ayahnya, tapi dia tetap mempertahankan posisinya untuk tidak menoleh.
Rachel tersenyum melihat putra sulungnya sudah selesai mandi. Dia pun mengajaknya bergabung bersama mereka, “Kemarilah, Nak.”
“Maaf membuat kalian menunggu lama.” Jonathan berdiri beberapa langkah di belakang sofa yang diduduki Cindy. “Tere, turunlah. Tidak sopan seperti itu dan kasihan juga Aunty yang keberatan memangkumu,” tegurnya dengan lembut kepada Tere.
“Tidak, Dad, Aunty Angel tidak merasa keberatan memangku Tere,” Tere menyanggah teguran Jonathan.
“Aunty Angel?” Jonathan membeo saat anaknya menyebut sosok yang membuatnya belakangan ini penasaran.
“Iya, Sayang, ternyata kami sudah lebih dulu mengenal gadis cantik yang dimaksud Aunty Angel oleh anakmu,” Rachel menimpali. Dia duduk di sofa yang sama dengan Cindy.
Steve dan Christy meskipun sedang asyik mengajak anaknya bercanda, tapi mereka diam-diam memerhatikan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh Cindy. Mereka juga sesekali melirik Jonathan yang terlihat semakin penasaran akan sosok Aunty Angel yang dimaksud oleh Tere. Steve dan Christy saling memandang saat melihat sahabatnya menegang, kemudian mereka tersenyum samar di tengah-tengah aktivitasnya mengajak Fanny bercanda.
“Tere, turun dulu, Sayang, biar Aunty bisa berkenalan dengan Daddy,” pinta Rachel yang langsung dituruti oleh cucu cantiknya tersebut. “Nak, kamu pasti belum tahu bahwa Steve mempunyai seorang kakak,” ucapnya kepada Cindy setelah Tere turun dari pangkuan sahabat anak dan menantunya tersebut.
Cindy hanya menggeleng. Jantungnya berdetak di atas normal, tubuhnya sudah panas dingin menjelang detik-detik dirinya berhadapan dengan laki-laki yang baru diketahui bernama Joe.
“Joe, silakan berkenalan dengan Aunty Angel yang dimaksud oleh putrimu,” pinta Rachel pada putra sulungnya.
Jonathan berjalan dengan senyum menghiasi bibirnya karena dia tidak perlu repot-repot lagi mencari tahu mengenai sosok Aunty Angel tersebut. Mengingat yang ingin dicarinya kini sudah menampakkan diri dengan sendirinya ke rumahnya.
Cindy pun berdiri, tapi masih tetap membelakangi Jonathan dan tubuhnya pun kian menegang.
Kini Jonathan sudah berdiri tepat di sebelah ibunya. Dia menatap perempuan di hadapannya yang wajahnya tertutup rambut tergerainya dari samping.
Tanpa canggung Jonathan langsung mengulurkan tangannya. “Kenalkan aku, Jo ….” Kalimat Jonathan terhenti dan raut wajahnya yang tadinya senang sekaligus ramah berubah menjadi dingin. Bahkan, menahan amarah saat wanita yang disebut Aunty Angel tersebut berbalik dan menghadapnya.
Cindy menelan ludah saat melihat perubahan ekspresi wajah laki-laki di hadapannya yang sedang mengulurkan tangan. “A-aku, Cindy,” jawabnya terbata.
Jonathan langsung memasukkan kembali tangannya ke saku celananya sebelum Cindy berhasil menerimanya. Raut wajah Cindy terlihat kecewa dan perempuan tersebut pun ikut menarik kembali tangannya. Meskipun Jonathan merasakan emosinya hendak meledak saat melihat wanita di depannya ini, tapi dia berusaha sekuat tenaga memendam dan mengontrolnya. Dia tidak ingin membuat orang tuanya ikut campur dalam urusan pribadinya. Dia masih mempersembahkan raut datarnya kepada Cindy. Baik Jonathan maupun Cindy tidak menyadari jika empat pasang mata dewasa sedang ikut memerhatikan gerak-gerik mereka yang tak biasa.
“Wah! Sepertinya kalian sudah saling mengenal.” Christy orang pertama yang menyuarakan komentarnya. “Jangan-jangan kalian pernah menjalin hubu ….” Christy tidak melanjutkan kalimatnya karena Jonathan sudah memberinya tatapan tajam.
Steve yang menyadari istrinya ketakutan ditatap seperti itu, langsung menegur saudaranya, “Hentikan tatapanmu itu, Joe!” Steve tak kalah tajam menatap kakaknya.
Joshua dan Rachel menatap bergantian Cindy serta Jonathan. Cindy terlihat menundukkan kepala, sedangkan Jonathan sudah tidak bisa menyembunyikan emosinya lagi. Apalagi setelah mendengar godaan adik iparnya dan ucapan tajam adiknya.
“Jika benar seperti yang Christy katakan bahwa kalian memang sudah saling mengenal sebelumnya dan mungkin juga pernah menjalin su ….”
“Ma!” bentak Jonathan dengan nada tinggi kepada ibunya, sehingga membuat yang lainnya ikut terkejut. Bahkan, Fanny yang sedang dipangku Christy pun menangis histeris karena kaget.
“Jonathan Alcander Smith!” Joshua mengucapkan nama lengkap anak sulungnya dengan nada yang sangat dingin. Dia juga menatap putranya itu dengan tatapan menusuk tepat di manik matanya.
Steve mengambil alih Fanny dari pangkuan Christy dan membantu istrinya berdiri. Steve menyadari jika tubuh istrinya gemetar setelah mendengar bentakan sang kakak. Dia membawa istri dan anaknya menuju kamarnya supaya tangisan Fanny bisa berhenti. Rachel yang ekspresi wajahnya sarat akan luka karena baru pertama kalinya dibentak, terlebih lagi itu dilakukan oleh anaknya sendiri. Tanpa persetujuan, dia segera mengangkat Tere dan membawanya ke kamar.
“Tidak sepantasnya kamu berucap dengan nada setinggi itu. Bahkan, sampai membentak wanita yang telah mempertaruhkan nyawa agar kamu bisa hadir di dunia ini,” tegur Joshua datar.
“Jika kalian mempunyai permasalahan, sebaiknya selesaikan secara baik-baik. Bukankah kalian berdua sudah dewasa?” Setelah berucap seperti itu Joshua bangun dari sofa empuknya, meninggalkan Cindy yang masih terpaku dan Jonathan yang baru menyadari kesalahan besarnya.
Setelah Joshua tidak terlihat lagi, Jonathan tanpa permisi langsung menarik dengan kasar pergelangan tangan kanan Cindy dan membawanya menuju keluar ruangan.
***
“Apa tujuanmu datang ke sini, hah?!” Jonathan bertanya menusuk.
“Mendekati anakku agar kau bisa mencelakainya juga?!” Jonathan menatap Cindy penuh amarah.
“Jika itu rencanamu, kau sendiri yang akan aku hancurkan terlebih dulu!” Jonathan mengempaskan dengan kasar pergelangan tangan Cindy yang tadi ditariknya.
“Aku datang ke sini untuk memenuhi undangan adikmu dan istrinya,” jawab Cindy sambil sesekali memegangi tangannya yang terasa perih akibat tarikan kuat dan kasar Jonathan. “Aku tidak ada hubungannya dengan meninggalnya mendiang istrimu. Kau hanya salah paham denganku,” imbuhnya dengan memberanikan diri menatap mata laki-laki yang memancarkan aura mengerikan tersebut.
“Salah paham maksudmu? Gara-gara menghindari kaulah, istriku menabrak trotoar karena tidak bisa mengendalikan mobilnya!” Jonathan berteriak sehingga membuat Cindy terkejut.
Cindy memejamkan mata sebelum membalas ucapan laki-laki di hadapannya yang sedang dibalut emosi. “Iya! Kau hanya salah paham denganku. Waktu itu aku memang hendak menyeberang. Namun, saat melihat mobil yang melaju sangat kencang, maka aku pun mengurungkan niatku. Aku juga sudah mendengar dari Christy jika penyebab mobil yang dikendarai mendiang istrimu itu tidak terkendali karena ada seseorang menyabotasenya.” Cindy masih bisa melihat dengan jelas emosi yang terkumpul di sorot mata Jonathan.
“Bukankah pihak kepolisian setempat sudah memberitahukan penyebab kecelakaan mendiang istrimu? Bahkan, mereka juga sudah memberikanmu bukti? Lalu atas dasar apa kau menuduhku?” tanya Cindy dengan tenang.
“Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan para polisi itu. Aku juga tidak mempercayai ucapan mereka! Aku telah menyuruh orang-orangku sendiri untuk menyelidiki kasus ini. Selama ini mereka tidak pernah salah memberiku informasi,” Jonathan menanggapinya sambil tetap menatap nyalang Cindy.
“Jadi, kau menyuruh orang menyelidikinya juga? Kau lebih mempercayai mereka dibandingkan keterangan polisi?” Cindy masih menunjukkan sikap tenangnya menghadapi kakak sahabatnya tersebut. Tindakannya tersebut ternyata malah membuat emosi Jonathan kian memuncak.
“Kau!” Jonathan menunjuk Cindy dengan emosi menggebu-gebu.
“Coba gunakan logika dan kepala dinginmu untuk berpikir! Jika memang aku terlibat, mengapa baru sekarang kau menemukanku? Bukankah katamu tadi orang-orangmu tidak pernah salah dalam memberikan informasi? Pastinya mereka mempunyai gerakan yang gesit untuk menangkap pelakunya. Lalu mengapa kau harus menunggu sampai empat tahun lamanya? Seharusnya kau juga mempertanyakan kinerja orang-orangmu itu,” Cindy mencecar Jonathan dengan pertanyaan yang menurutnya sangat logis.
“Menurutku pribadi bila mengalami masalah sepertimu, aku akan mempertimbangkan bukti yang diberikan polisi dan mencari tahu penyebab mobil tersebut hilang kendali. Jika tetap tidak bisa mempercayai seratus persen keterangan polisi dan ingin menyelidikinya lagi, setidaknya aku mempertimbangkan sedikit keterangan yang dirasa masuk akal. Bukannya malah sibuk mencari penyeberang jalan yang hendak menyeberang saat mobil itu dikemudikan,” jelas Cindy sambil memerhatikan Jonathan yang bergeming mendengar perkataannya.
“Mungkin saat itu kebetulan hanya aku yang hendak menyeberang jalan, jika tidak? Bagaimana jika saat itu aku menyeberang jalan dengan banyak orang? Apakah kamu akan mencarinya satu per satu? Lalu berapa tahun waktu yang kau butuhkan untuk menemukan penyeberang jalan tersebut? Pikirkanlah baik-baik! Aku tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut dan kau menaruh dendam tak jelas pada orang yang tidak bersalah!” Cindy berucap lembut dan memberanikan diri menepuk bahu Jonathan sebelum meninggalkan laki-laki tersebut yang masih berdiri.
“Satu lagi, aku tidak pernah berniat untuk mencelakai Tere. Aku berharap kau mengizinkanku berteman dengan anakmu. Sebaiknya kau juga meminta maaf pada ibumu,” ucap Cindy lagi lalu dia kembali memasuki mansion keluarga Smith untuk berpamitan pulang.
Jonathan masih terpaku mendengar ucapan yang keluar dari mulut perempuan kebanggaan putrinya itu. Otaknya mulai mencerna apa saja yang dirasanya masuk akal dari kalimat-kalimat panjang lebar seorang Cindy. Semua ekspektasinya tentang Cindy yang dia pikirkan dan harapkan selama ini tidak satu pun menjadi kenyataan. Ternyata Cindy orangnya sangat tenang dan santai saat menghadapi luapan emosi yang sudah dipendamnya selama empat tahun ini.
“Argh!” Jonathan berteriak meluapkan emosinya sehingga membuat wajah putihnya berubah menjadi merah padam. “Ada benarnya juga ucapan perempuan itu. Aku harus menghubungi Felly dan menanyakan padanya,” ucapnya lalu menyusul Cindy memasuki mansion orang tuanya.