Chapter 10

1505 Words
“Aunty, aku pulang dulu. Maaf jika kedatanganku mengacaukan suasana makan malam keluarga ini,” pamit Cindy kepada Rachel, Joshua, dan Steve yang sudah menunggunya di ruang tamu. Saat Cindy tiba di ruang tamu mansion Smith, dia tidak perlu bersusah payah mencari para pemilik rumah untuk berpamitan karena kedatangannya telah ditunggu. “Seharusnya kami yang meminta maaf padamu karena jamuan makan malamnya menjadi kacau seperti ini,” pinta Rachel dengan nada menyesal. “Tidak apa-apa, Aunty, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya. Oh iya, aku membawa beberapa cake untuk kalian dan tolong berikan ini pada Tere. Sampaikan juga maafku padanya.” Cindy menunjuk hadiah dan bingkisan yang tadi ditaruhnya di atas meja ruang tamu. “Apa tidak sebaiknya kamu makan malam di sini dulu, Cindy?” tanya Steve menawarkan. “Tidak perlu, Steve,” Cindy menjawabnya sambil mengulas senyum tipis. “Sebenarnya ada permasalahan apa antara kamu dengan Joe?” Steve sudah tidak bisa menahan niatnya untuk bertanya. “Hanya sebuah salah paham saja, Steve,” jawab Cindy lagi. “Makanlah bersama kami, Nak.” Rachel masih mencoba peruntungannya membujuk Cindy supaya mau makan bersama mereka. “Tidak usah, Aunty, aku mau ambil tas di ruang keluarga dulu.” Meskipun terkesan kurang sopan, tapi Cindy saat ini ingin secepatnya meninggalkan mansion keluarga Smith. Setelah kembali dari ruang keluarga, Steve dan orang tuanya masih tetap menunggu Cindy di tempatnya semula. “Semuanya aku pulang dulu ya, sampaikan salamku pada Christy dan Tere,” ucapnya. Saat Cindy hendak berbalik dan menuju pintu keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti karena mendengar teriakan histeris disertai tangisan anak kecil yang lumayan kencang. Mereka semua mencari sumber suara dan ternyata berasal dari Tere yang berlari sambil berteriak menyuruh Cindy berhenti. “Aunty, jangan pergi!” teriak Tere yang berlari berharap langkah kaki kecilnya bisa cepat menghampiri Cindy. “Jangan tinggalkan Tere!” Tere terus menjerit. Cindy tidak tega melihat Tere menangis histeris seperti itu. Tanpa memedulikan tiga orang dewasa di dekatnya, dia langsung berlari menghampiri Tere. Dia sangat takut sekaligus khawatir jika gadis kecil itu terjatuh karena berlari sambil menangis. Steve dan orang tuanya terharu melihat kedekatan Tere dengan Cindy. Tanpa ketiganya sadari, Jonathan juga melihat pemandangan tak biasa tersebut. Tadi dia berlari ke dalam rumah setelah mendengar teriakan histeris anaknya. “Jangan pergi, Aunty. Jangan tinggalkan Tere,” pinta Tere dalam dekapan Cindy yang sudah berjongkok. Tere berbicara sambil terisak. Cindy mencium rambut Tere, seolah tindakannya tersebut bisa menghentikan tangisannya. “Sudah menangisnya, Sayang. Aunty tidak akan ke mana-mana.” Cindy menenangkan Tere sambil menghapus lelehan cairan bening dari mata sipit anak tersebut setelah dia mengurai dekapannya. “A-un-ty jan-ji ti-dak a-kan per-gi?” tanya Tere terputus-putus kepada Cindy karena masih terisak. Cindy mengangguk. “Aunty janji. Jangan menangis lagi ya, Sayang.” Dia kembali menghapus dengan lembut cairan bening yang terus keluar dari mata Tere. Setelah mengangguk Tere kembali menghambur ke pelukan Cindy. Air mata Rachel ikut menetes melihat cucunya seperti itu, begitu juga dengan Steve dan Joshua yang matanya sudah berkaca-kaca. Meskipun Jonathan berada cukup jauh dari mereka, tapi dia bisa melihat tangis putrinya sudah mereda. Dadanya sakit melihat putri kecilnya menangis seperti itu dan dialah yang menjadi penyebabnya. Keheningan cukup lama terjadi karena tidak ada satu orang pun dari mereka yang ingin berhenti melihat moment mengharukan tersebut. Cindy berulang kali mengusap punggung Tere agar tangis anak tersebut benar-benar menghilang. “Nek, Tere lapar,” Tere menyeletuk dengan polosnya setelah melepaskan dirinya dari pelukan nyaman Cindy, sehingga membuat suasana kembali kondusif. Suara tawa pun merespons celetukan polosnya tersebut. “Ayo kita makan kalau begitu. Jam makan malam sebenarnya sudah sangat lewat, tapi untuk hari ini pengecualian,” ucap Rachel lalu berjalan menuju meja makan yang diikuti suaminya. Steve menghampiri sahabat dan keponakannya tersebut. “Ayo, Cindy, aku bantu berdiri. Pasti kakimu kebas dan kesemutan karena terlalu lama pada posisi itu.” Steve dengan cekatan membantu Cindy berdiri. “Tahu saja kamu, Steve.” Cindy tidak menolak bantuan Steve karena dia memang merasakan kakinya sudah mulai kesemutan dan sedikit kebas. “Terima kasih,” ucapnya setelah berdiri dan memberikan senyum manisnya kepada Steve. Jonathan yang melihat senyum itu tiba-tiba perasaannya menjadi tidak menentu. Ada suatu ketidakikhlasan dalam dirinya saat Cindy tersenyum manis kepada adiknya. “Cindy, makan malamlah di sini bersama kami.” Suara Joshua terdengar dari ruang makan. “Steve, panggil istrimu turun,” pintanya juga kepada Steve. “Baik, Pa,” jawab Steve dan langsung melesat menaiki anak tangga menuju kamarnya. “Aunty, suapi Tere ya,” pinta Tere sambil memperlihatkan puppy eyes-nya. Karena Cindy tidak mau mengecewakan Tere dan orang tua sahabatnya, jadi dia putuskan untuk menerima tawaran makan malam tersebut. Apalagi perutnya kini sudah sangat lapar karena tadi siang dia hanya makan sedikit dan saat pulang dirinya tidak sempat makan. *** “Hana, panggil Jonathan di luar,” perintah Joshua kepada asisten rumah tangganya. “Baik, Tuan,” jawab Hana sopan lalu melaksanakan perintah majikannya. Saat ini di meja makan sudah ada Christy yang duduk di sebelah suaminya, dekat dengan Papa mertuanya. Cindy duduk di antara Tere dengan Rachel, dan Joshua sendiri mengambil tempat di ujung. Tak lama kemudian Jonathan datang dan ikut bergabung. Jonathan mengambil tempat duduk di samping Steve. Dia berhadapan dengan Mamanya, anaknya, dan Cindy. “Nikmati makanan kalian masing-masing,” pinta sang kepala keluarga dengan tegas karena dia mulai merasakan aura ketegangan di meja makan tersebut. Selama makan malam berlangsung tidak ada satu pun dari orang-orang dewasa tersebut mengeluarkan sepatah kata, kecuali Tere yang terus-menerus mengajak Cindy berbicara dan menyuruhnya menyuapi. Hal itu tidak luput dari lirikan mata Jonathan yang ternyata diam-diam memerhatikan interaksi anaknya dengan Cindy. Jonathan seperti diabaikan keberadaannya oleh yang lainnya, termasuk anaknya sendiri. “Sayang, berikan kesempatan Aunty Angel makan dulu,” tegur Rachel lembut karena dari tadi dia belum melihat Cindy menikmati makanannya. “Baik, Nek. Sini sekarang giliran Tere yang menyuapi Aunty.” Tere mengambil sendok dari tangan Cindy lalu mengisinya dengan makanan kemudian mulai menyuapi Cindy. “Tidak usah, Sayang. Aunty bisa makan sendiri. Tere juga harus makan,” Cindy menolak secara halus dan kembali mengambil sendoknya dari tangan kecil Tere. *** Setelah makan malam yang sangat terlambat itu selesai, keheningan masih menyelimuti mereka. Khususnya para orang dewasa. Dari tadi hanya ocehan Tere saja yang terdengar. Tere seolah tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di antara para orang dewasa. Christy lebih memilih mengikuti jejak Rachel yang sedang membersihkan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur membantu Mrs. Hana, daripada ikut terjebak dalam keheningan di antara para lelaki Smith. Sebenarnya dia kasihan kepada Cindy karena harus terjebak dalam keadaan tersebut. Sampai akhirnya dia mendengar sahabatnya itu mengucapkan terima kasih dan mohon pamit karena sudah malam. “Uncle, aku pulang dulu. Malam sudah semakin larut,” pinta Cindy kepada Joshua. “Baiklah, Cindy. Hati-hati menyetir, Nak. Jangan ngebut bawa mobil,” saran Joshua. “Baik, Uncle. Steve, aku pamit,” ucap Cindy pada sahabatnya. “Hati-hati, Cindy. Kalau ada apa-apa kabari saja aku,” pinta Steve. Cindy mengangguk lalu pandangannya beralih pada gadis kecil di sampingnya yang matanya masih membengkak. “Sayang, Aunty pulang dulu. Kapan-kapan kita bertemu dan bermain lagi.” Dia berbicara selembut dan sehalus mungkin kepada Tere supaya anak itu tidak kembali menangis. “Sayang, izinkan Aunty pulang dulu. Kasihan Aunty capek dan perlu istirahat.” Rachel dan Christy sudah kembali ke meja makan dan sekarang membantu Cindy membujuk Tere yang tidak menanggapi ucapannya. Apalagi mata Tere pun telah kembali berkaca-kaca. Tere masih tidak menanggapi ucapan Cindy dan Neneknya, akhirnya Joshua pun ikut turun tangan membujuk cucunya tersebut, “Sayang, biarkan Aunty Angel pulang. Lagipula Aunty Angel sudah memberikan hadiah untuk Tere.” “Hadiah?” tanya Tere menoleh ke arah Kakeknya dan Joshua pun mengangguk. Steve berdiri mengambilkan hadiah yang dimaksud Papanya. “Wah! Besarnya,” ucap Tere senang setelah menerima hadiah besar yang diberikan Steve. “Dibukanya nanti saja ya, Sayang,” pinta Cindy sambil tersenyum karena dia senang Tere menyukai hadiah darinya. “Terima kasih, Aunty.” Tere mencium pipi Cindy sebagai ucapan terima kasihnya. “Sama-sama, Sayang. Kalau begitu Aunty pulang dulu,” Cindy kembali membujuk Tere. Tere tampak berpikir sebelum menjawab. “Baiklah. Tere izinkan Aunty pulang, tapi sebelum itu Tere ingin mengatakan bahwa Tere mau Aunty menjadi Mommy-nya Tere. Aunty mau menjadi Mommy-nya Tere?” tanyanya polos sambil menatap penuh harap Cindy. Wajah Cindy memucat setelah mendengar permintaan di luar dugaan dari anak kecil yang kini sedang menatapnya di depannya tersebut. Joshua dan yang lainnya pun terbelalak serta tak kalah terkejut mendengar permintaan polos cucunya. Jantung Jonathan hampir saja meloncat mendengar permintaan ajaib putrinya tersebut, layaknya seperti seorang kekasih yang sedang melamar pasangannya. Christy diam-diam melirik reaksi kakak iparnya melalui sudut matanya. Dalam hati dia ingin tertawa sekaligus merasa kagum kepada Tere yang sangat berani membuat mereka, terutama Jonathan sport jantung. Kini dia menanti jawaban Cindy yang masih terdiam kepada keponakan ajaibnya tersebut. “Anak-anak memang selalu bertindak sesukanya, tanpa memedulikan dampak yang ditimbulkan dari ulahnya tersebut,” ucap Christy dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD