Cindy memikirkan jawaban yang tadi dia berikan kepada Tere. Sekilas dia dapat melihat raut wajah kecewa anak manis itu. Namun, dengan pelan dan lembut dia menjelaskan serta memberinya pengertian. Untunglah Tere seorang anak yang tidak keras kepala saat diajak berbicara serius. Cindy sangat hati-hati saat menjawab pertanyaan Tere tadi. Di tengah-tengah Cindy mendengarkan permohonan memelas Tere dan melihat ekspresi wajah-wajah terkejut sekaligus menegang para orang dewasa di ruang makan tadi, dia memikirkan jawaban yang mudah dimengerti oleh anak seusia Tere tanpa harus menyakiti perasaannya.
“Aunty,” panggil Tere dan menyadarkan Cindy yang masih terkejut. “Maukah Aunty menjadi Mommy Tere?” tanyanya mengulang.
Cindy mengembuskan napas pelan sebelum menatap Tere dengan senyum tenangnya. Dia membingkai wajah kecil itu dan berkata dengan lembut, “Sayang, kenapa Tere meminta Aunty agar menjadi Mommy-mu?”
“Karena Tere merasa sangat nyaman saat bersama Aunty. Apalagi jika Aunty ada di samping Tere,” Tere menjawabnya serius. Tere seperti melupakan bahwa di ruang makan itu masih ada keluarganya, terlebih ayahnya.
Cindy tersenyum kemudian mengangkat Tere dan mendudukkan gadis tersebut di pangkuannya. “Sayang, apakah hanya karena rasa nyaman yang membuat Tere meminta Aunty menjadi Mommy-mu?” tanyanya dan Tere langsung menjawabnya dengan anggukan penuh semangat.
“Berarti jika Aunty tidak menjadi Mommy-mu, apakah rasa nyaman Tere kepada Aunty akan memudar atau hilang?” Cindy mencoba meyakinkan dan Tere pun langsung menggeleng.
“Jika jawabannya tidak, kenapa Aunty harus menjadi Mommy-mu kalau rasa nyaman itu tetap ada? Ayo jawab, Sayang?” Cindy memutarbalikkan pertanyaan Tere.
Tere terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Cindy, sedangkan keterkejutan dari wajah-wajah orang dewasa di sana sudah mulai menghilang. Tanpa diketahui siapa pun Jonathan menarik sudut bibirnya ketika melihat Cindy sangat tenang menangani keinginan anaknya.
Tere akhirnya menggeleng, pertanda bahwa dia tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan balik dari Cindy. “Berarti Aunty tidak mau menjadi Mommy Tere?” tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena harapannya tidak akan terwujud.
“Hey, kenapa malah menangis? Aunty bukannya tidak mau, Sayang. Namun, bukankah mau atau tidaknya Aunty menjadi Mommy Tere tidak akan mengurangi dan menghilangkan rasa nyaman di antara kita?” Cindy mencoba bersabar dan tetap tenang menghadapi Tere yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Meskipun Aunty tidak menjadi Mommy Tere, tapi Aunty akan tetap sayang pada Tere seperti Aunty menyayangi Fanny dan anaknya Aunty Cella.” Cindy mencoba memberikan pengertian lagi kepada Tere sambil menjawil dagu anak tersebut. Tidak lupa dia tetap memperlihatkan senyumnya.
“Tapi nanti Aunty akan melupakan Tere, jika Daddy mengajak Tere kembali pulang,” ucap Tere nelangsa sambil memerhatikan wajah Cindy.
“Tidak akan, Sayang. Aunty janji tidak akan pernah melupakan Tere sampai kapan pun.” Cindy memberikan jari kelingkingnya kepada Tere untuk dikaitkan.
“Pinky promise.” Tere langsung mengaitkan jari kelingkingnya. “Aunty nanti juga harus mengunjungi Tere di sana,” pintanya sambil membingkai wajah Cindy.
“Pasti, Sayang,” Cindy menanggapinya sambil mengangguk. Dia membawa Tere ke dalam pelukannya.
Tere membalas pelukan Cindy dengan erat, seolah hari ini adalah pertemuan terakhir mereka dan bisa merasakan dekapan hangat itu.
Christy dan Rachel matanya mulai berembun melihat pemandangan di depannya. Sebagai seorang ibu, mereka sangat bisa merasakan kehampaan yang dirasakan oleh Tere. Meskipun mereka sangat menyayangi Tere, tapi balita malang tersebut tetaplah membutuhkan dan merindukan kasih sayang seorang wanita yang benar-benar menganggapnya anak. Mereka juga sangat berterima kasih kepada Cindy yang sangat sabar dan tenang menyikapi permintaan Tere.
“Cucu Nenek yang cantik, sekarang izinkan dulu Aunty pulang karena sudah malam sekali. Kasihan Aunty lelah dan perlu istirahat,” Rachel menginterupsi kegiatan cucunya.
“Benarkah, Aunty?” Tere menanyakannya langsung kepada Cindy.
“Iya, Sayang. Besok Aunty harus mengawasi anak kembarnya Aunty Cella dan Uncle Albert,” Cindy membenarkan ucapan Rachel.
“Baiklah. Bolehkah boneka kangurunya Tere beri nama Lila?” Tere bertanya sambil turun dari pangkuan Cindy dan mengambil boneka pemberian wanita tersebut.
“Tentu boleh, Sayang,” jawab Cindy tanpa berpikir lama.
“Kenapa namanya harus Lila, Sayang?” Steve yang sedari tadi hanya menjadi penonton sekaligus pendengar, sekarang ikut membuka suaranya.
“Karena boneka ini pemberian Aunty Angel, jadi Tere beri nama Lila. Lila itu berarti Angelica dan Angela. Diambil dari nama tengah kita, Uncle. Li untuk induknya dan La untuk anaknya. Artinya Tere selalu ada dalam pelukan Aunty Angel,” Tere menjawab sambil menatap boneka kanguru di tangannya.
Penjelasan yang keluar dari mulut Tere seketika membuat para orang dewasa termasuk Cindy dan Jonathan takjub. Mereka semua tidak pernah menyangka bahwa Tere sampai mempunyai pikiran sejauh itu, mengingat umurnya yang masih sangat kecil. Sangat jarang anak seusianya yang bisa mempunyai pemikiran sejauh itu. Jonathan dan keluarganya lebih tidak menyangka lagi bahwa Tere sangat mengharapkan Cindy menjadi ibunya. Bahkan, nama tengah mereka pun sampai dihubung-hubungkan dengan keadaan boneka itu.
“Daddy, bagus atau tidak nama bonekanya Lila?” tanya Tere kepada ayahnya yang masih berada dalam zona terkejut.
“Hah? Eh, iya bagus. Namanya bagus, Sayang,” jawab Jonathan bingung, seperti orang linglung.
“Lila, ternyata Daddy suka namamu,” ucap Tere kepada boneka barunya.
“Baiklah, Sayang. Aunty pulang sekarang ya,” pamit Cindy kepada Tere.
“Aunty, sebelum pulang bolehkah Tere memanggil Aunty dengan sebutan Mommy? Sekali saja, Aunty,” pinta Tere memelas dan memperlihatkan puppy eyes-nya.
Cindy terkejut mendengar permintaan Tere, kemudian dia mengalihkan pandangannya dari wajah anak tersebut. Dia menatap satu per satu wajah keluarga Tere, terlebih Jonathan. Walau bagaimana pun kata itu sangat penting dan berarti, jadi dia harus mendapatkan izin dulu dari keluarganya, terutama Jonathan. Mereka semua mengangguk pertanda memberikan izin, kecuali Jonathan yang kembali memasang wajah datarnya. Tidak menggeleng, juga tanpa mengangguk. Tidak mau membuat Tere kecewa lagi, akhirnya Cindy memutuskan membiarkan anak malang itu menyebutnya dengan kata Mommy, meskipun dia merasa lancang kepada Jonathan.
“Mom-Mommy,” ucap Tere terbata. Sedetik kemudian meledaklah tangis anak itu.
“Mommy, Mommy.” Tere terus melafalkan sebutan itu di dalam dekapan Cindy yang tadi dengan spontan memeluknya saat tangisannya meledak.
Rachel dan Christy juga sudah tidak dapat membendung lagi air matanya. Steve dan Joshua menenangkan istrinya masing-masing dengan mata ikut berkaca-kaca. Jonathan menengadahkan wajahnya untuk menghalau air matanya karena melihat putrinya menangis seperti itu merindukan sosok seorang ibu. Cindy masih mengelus-elus punggung putri kecil yang masih terisak di dekapannya dengan lembut sambil mencium puncak kepalanya. Dia juga sangat sedih melihat Tere menangis seperti saat ini. Seolah memberikan privasi untuk Tere dan Cindy, orang dewasa di sekitarnya tidak ada yang mengganggu adegan itu.
Setelah sekian menit Tere menangis, akhirnya isakannya sudah tidak terdengar lagi. Dengan perlahan Cindy sedikit menjauhkan tubuh Tere yang bibirnya sesekali masih mengeluarkan isakan. Cindy tersenyum sekilas setelah melihat keadaan anak tersebut.
“Dia tertidur,” ucap Cindy pelan, kemudian dia mencium kening Tere.
Jonathan bangun dari kursinya, lalu menghampiri tempat duduk Cindy dan Tere. Dengan perlahan Jonathan berusaha mengambil Tere dari dekapan Cindy. Cindy pun pelan-pelan membantu Jonathan agar anak imut itu berpindah ke tangan ayahnya tanpa membuatnya terbangun.
“Tidurkanlah dia,” ucap Cindy kepada Jonathan.
Jonathan langsung mengangguk. Wajahnya sudah tidak memperlihatkan raut tak bersahabatnya lagi kepada Cindy. “Terima kasih. Maaf telah merepotkanmu,” ucapnya tulus. Untuk sementara waktu rasa kebenciannya menguap entah ke mana kepada Cindy. Tanpa membuang waktu dia segera membawa Tere ke kamarnya.
“Terima kasih, Cindy,” ucap Joshua setelah Jonathan membawa Tere menaiki anak tangga.
“Sama-sama, Uncle,” Cindy menjawabnya sambil tersebut. “Kalau begitu aku pulang dulu,” pamitnya dan langsung berdiri.
“Hati-hati, Cindy,” Steve mengingatkan sahabatnya dan langsung ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Cindy.
Cindy keluar diantar oleh Rachel dan Joshua. Sebelum menuju mobilnya, Cindy memeluk Rachel dan Joshua secara bergantian.
Cindy mengembuskan napasnya setelah benaknya usai mengingat kejadian tadi di kediaman Smith. “Anak yang malang,” ucapnya sebelum memasuki alam mimpinya, mengingat malam telah semakin larut.