Chapter 12

1430 Words
“Felly, hari ini aku dan Tere akan kembali ke Jenewa. Penerbanganku nanti sore,” beri tahu Jonathan kepada Felicia melalui telepon. Dia sengaja memberi kabar kepada sekretarisnya agar dijemput di bandara tepat waktu. “Jadi pulang hari ini, Joe?” tanya Steve yang berdiri di belakang Jonathan. “Hm,” Jonathan hanya menjawabnya dengan gumaman. “Tere juga ikut?” Steve kembali bertanya dan mengabaikan gumaman sang kakak. “Pasti, Steve. Aku tidak akan bisa berpisah dari putri kecilku,” balas Jonathan menegaskan. “Aku mengerti. Aku pun kini sudah menjadi seorang ayah.” Steve sangat mengetahui bagaimana perasaan kakaknya itu. “Joe, kamu tahu bahwa selama ini saat aku mengalami masalah, aku akan lebih sering sharing padamu selain dengan sahabat-sahabatku.” Steve memulai obrolan serius dengan saudaranya. Jonathan sangat mengerti akan mengarah ke mana pembicaraan adiknya ini. “Jika kamu ingin menanyakan tentang kejadian kemarin malam antara aku dengan sahabatmu itu, kami mempunyai urusan yang sifatnya sangat pribadi,” jawabnya agar adiknya tidak bertanya lebih lanjut. Dia mengetahui karakter adiknya yang tidak suka ikut campur dalam urusan orang, apalagi jika sifatnya sangat pribadi. Steve mulai menyimpulkan maksud dari jawaban yang kakaknya berikan. “Ya, Tuhan! Berarti kalian memang pernah menjalin sebuah hubungan? Berarti benar tebakan istriku sehingga kamu marah dan menatapnya dengan tajamnya? Bahkan, dengan lancangnya kamu berani membentak Mama?” tanyanya bertubi-tubi setelah mengaitkan satu per satu kejadian kemarin malam, layaknya menyusun kepingan-kepingan puzzle. Sekarang giliran Jonathan yang menatap horor sekaligus geram kepada adiknya. Dari mana adiknya bisa menyimpulkan seperti itu dan mengaitkannya pada hubungan pribadi seperti kekasih. Ke mana pikiran waras seorang Steve. Belum sempat Jonathan menjawab pertanyaannya, Steve kembali berbicara, “Pantas saja selama ini Cindy tidak pernah membicarakan kisah asmaranya. Dia juga tidak pernah terlihat berkencan dengan seorang laki-laki lain. Apakah karena dia belum move on darimu? Kasihan sekali dia karena harus kembali bertepuk sebelah tangan. Poor, Cindy.” Dia tidak memerhatikan ekspresi Jonathan yang wajahnya telah memerah ingin menyumpal mulutnya. “Steve, mulutmu itu bisa berhenti bicara yang aneh-aneh?” Jonathan bertanya dengan nada dingin kepada adiknya. Steve tidak mengindahkan pertanyaan Jonathan. Sekarang dia malah memandang iba kakaknya tersebut. “Apa pun masalah kalian dulu, saranku selesaikan sebelum kamu kembali pulang,” sarannya sambil menepuk bahu Jonathan sebelum berlalu memasuki rumah. Jonathan mengacak rambutnya setelah mendengar ucapan asal adiknya. Jonathan melihat arloji di tangannya. “Sudah jam delapan ternyata. Tere belum juga bangun,” ucapnya sambil menghela napas. Jonathan ingin kembali ke kamar untuk membangunkan anaknya. Saat membalikkan badan, dia melihat ibunya sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Ingatan akan ucapan Cindy kemarin kembali memenuhi pikirkannya. Tanpa menunggu lagi, Jonathan langsung menghampiri sang ibu. “Ma, maafkan sikapku kemarin,” pinta Jonathan dan langsung memeluk Rachel dari belakang. Rachel terkejut karena tiba-tiba ada lengan kekar memeluk lehernya. Rachel sengaja tidak merespons permintaan maaf anaknya. Rachel kembali melanjutkan kegiatannya membaca, sampai akhirnya dia mendengar lagi anaknya meminta maaf dengan nada lirih sekaligus memberitahukan mengenai kepulangannya. Mendengar itu Rachel langsung menoleh ke arah Jonathan yang masih setia memeluknya. “Ma, aku dan Tere akan pulang hari ini. Tepatnya nanti sore,” beri tahu Jonathan. “Ma, aku juga minta maaf karena kemarin telah lancang membentak Mama. Maafkan aku, Ma,” imbuhnya. “Iya, Mama maafkan. Mengapa pulangnya mendadak? Apakah Tere sudah mengetahuinya? Apakah karena kejadian kemarin?” Rachel memberondong anaknya dengan pertanyaan-pertanyaan setelah mendengar Jonathan akan kembali ke Jenewa. Jonathan melepaskan pelukannya, lalu duduk di samping Rachel. “Tidak, Ma. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian kemarin malam. Banyak pekerjaan yang sudah menungguku di sana,” jawabnya dengan setengah kebohongan. “Mama mau membantuku membujuk Tere agar mau ikut pulang bersamaku? Mama tahu sendiri jika aku tidak akan tenang apabila Tere tidak berada di bawah pengawasanku,” pintanya memelas. Rachel mengerti perasaan putra sulungnya. Dia menjawabnya dengan anggukan. “Mama akan coba membantumu membujuk Tere. Namun, Mama tidak mau memaksa jika Tere tidak mau pulang denganmu sekarang, Sayang,” tegasnya. Jonathan mengangguk. “Terima kasih, Ma.” Dia memeluk Rachel. “Ya sudah. Perlengkapanmu sudah selesai dikemas? Oh iya, mengapa Tere jam segini belum bangun?” Rachel baru menyadari jika sedari tadi dia tidak mendengar celotehan cucunya. “Sudah semua termasuk punya Tere juga, Ma. Tere sangat lelap tidurnya, apalagi boneka Lila selalu dipeluknya,” beri tahu Jonathan. “Biarkan saja dulu. Jangan membuang boneka itu, meskipun kamu dan Cindy ada masalah pribadi. Cindy tulus memberikannya untuk anakmu, bukan kamu. Mengerti?!” Rachel mengingatkan anaknya dengan tegas. “Siap, Nyonya Smith.” Jonathan memberi hormat kepada Rachel pertanda siap menjalankan perintah. *** Di belahan bumi lain, seorang wanita dengan angkuhnya sedang memberikan perintah kepada beberapa pekerja di sebuah mansion bergaya minimalis. Setelah selesai menerima telepon dari laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak dan memberitahukan mengenai kepulangannya, wanita itu bergegas menuju mansion milik pujaannya tersebut. Dia ingin memberikan penyambutan yang spesial saat laki-laki tersebut menapakkan kembali kakinya di tempat tinggalnya selama ini. Dia ingin menunjukkan bahwa memang dirinya yang paling pantas menjadi pendampingnya karena bisa memahaminya. “Alyssa! Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk mengganti warna gorden itu, mengapa kau belum juga mengerjakannya? Dan apa ini? Kau masih menggunakan warna-warna ini? Kau berani membantah perintahku, hah?!” Wanita itu sangat marah pada kepala asisten di mansion milik Jonathan tersebut. “Maafkan atas kelancangan saya, Nona. Tapi Tuan selalu berpesan pada saya, bahwa saya harus tetap menggunakan warna-warna yang sudah ditentukan oleh Tuan sendiri. Karena selama ini Tuan yang menggaji saya, jadi saya harus selalu menuruti perintah beliau.” Alyssa–wanita berumur 50 tahunan yang tadi dimarahi karena tidak menuruti perintah, menjawab dengan tenang wanita angkuh dan suka mengatur di hadapannya saat ini. “Kau! Aku akan bilang pada Tuan-mu agar segera memecatmu!” ancam wanita itu sambil menuding wanita yang jauh lebih tua darinya. “Silakan saja, Nona Watson. Jika memang Tuan memecat saya hanya karena saya tidak menuruti perintah Nona, dengan senang hati saya menerimanya,” Alyssa kembali menanggapi dengan tenang ancaman wanita di depannya. “Argh!” geram wanita itu karena seorang asisten rumah tangga berani menentang perintahnya. Dia meninggalkan Alyssa yang masih tenang berdiri di tempat semula. “Mrs. Muller, mengapa Anda berani sekali melawan perintah Nona Felly? Apakah nanti Anda tidak takut dipecat oleh Tuan Smith?” Sophia–pengasuh Tere menghampiri wanita paruh baya itu setelah Felly tidak terlihat lagi. Alyssa tersenyum mendengar pertanyaan bernada khawatir dari salah satu pekerja di mansion milik Tuannya–Jonathan. “Tidak. Jika Tuan memecatku hanya karena masalah sepele seperti ini, maka itu sama saja akan menyulitkan beliau sendiri. Tuan sangat susah percaya pada orang untuk menjaga Nona Tere,” jawabnya. Sophia mengangguk. “Ngomong-ngomong, membicarakan tentang Nona Tere, saya jadi kangen. Sudah sangat lama Nona pergi berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya,” ungkapnya. “Sama. Aku juga sudah merindukannya. Mungkin besok pagi mereka baru tiba di sini, tadi Nona Felly bilang bahwa Tuan dan Nona Tere mengambil penerbangan sore hari waktu setempat. Itu pun jika pesawat yang mereka tumpangi tidak transit,” Alyssa membagi informasi yang didapatnya dari Felly kepada Sophia. “Baiklah kalau begitu, saya mau melanjutkan membersihkan kamar Nona Tere. Setibanya di sini besok, Nona agar bisa langsung beristirahat dengan nyaman,” ucap Sophia dan menuju kamar Nona Kecilnya setelah diizinkan Alyssa. “Jangan kira aku tidak mengetahui niat licikmu, Felicia! Bukankah dari dulu kau memang sudah mengincar Tuanku? Sayangnya, malah sahabatmu yang lebih beruntung memilikinya. Sekarang kau mulai melancarkan aksimu lagi dengan dalih ingin menjadi ibu dari putri secantik Nona Tere. Aku bersumpah akan melindungi dengan segenap jiwa dan ragaku Nona Kecilku dari semua rencana licikmu!” Alyssa dengan sangat yakin dan penuh tekad berkata seperti itu, meski tidak ada yang mendengar. *** “Wanita tua itu sudah mulai berani menentangku rupanya,” geram Felly saat berada di halaman depan mansion milik Jonathan. “Tunggu saja sebentar lagi, kau akan aku buat angkat kaki dari tempat ini dengan sangat tidak terhormat.” Seringai jahat tercetak dari bibir wanita berwajah angkuh itu. “Hm, kira-kira bagaimana reaksi Jonathan setelah melihat secara langsung wajah wanita tertuduh yang menyebabkan sahabat malangku meninggal? Apalagi wanita itu sangat dekat dengan keluarganya. Terlebih wanita itu adalah sahabat dekat dari adik dan adik iparnya sendiri,” Felly bertanya pada dirinya sendiri mengenai reaksi Jonathan. “Bagaimana pula reaksi seorang Cindy setelah dituduh menjadi penyebab meninggalnya seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Bahkan, merupakan kakak ipar dari sahabatnya? Sudah habis masa tenang yang dimiliki oleh orang sepertimu, Cindy Angelica Wilson. Akulah yang akan memutus masa tenang milikmu itu,” Felly menambahkan. Dia mengucapkannya dengan sorot mata berkilat sekaligus memancarkan dendam terpendam.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD